Fallacy Appeal to Pity

Appeal to Pity Fallacy

Dipublikasikan: 25 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 25 Oktober 2026

Seorang mahasiswa menemui dosennya setelah menerima nilai ujian yang rendah. Ia berkata, “Pak, tolong naikkan nilai saya. Saya harus merawat ibu yang sakit sambil bekerja paruh waktu, dan kalau tidak lulus, beasiswa saya akan dicabut.” Kondisi mahasiswa itu memang memprihatinkan, tetapi permintaannya tidak menyinggung kualitas jawaban ujiannya. Yang dijadikan dasar hanyalah rasa kasihan.

Itulah gambaran appeal to pity, kekeliruan penalaran ketika seseorang berusaha meyakinkan orang lain dengan membangkitkan rasa iba, dan bukan dengan menyajikan alasan dan bukti yang relevan terhadap klaim atau keputusan yang dipersoalkan. Pola ini efektif karena manusia pada dasarnya memiliki empati. Kita cenderung tersentuh oleh penderitaan orang lain dan ingin membantu, sehingga rasa iba mudah menggeser pertimbangan yang lebih objektif.

Kekeliruan ini sering muncul dalam permohonan keringanan, pembelaan di pengadilan, penggalangan dana, negosiasi di tempat kerja, hingga hubungan pribadi. Memahaminya membantu kita membedakan antara empati yang wajar dan penggunaan rasa iba untuk menggantikan alasan yang seharusnya dinilai.

Pengertian Appeal to Pity Fallacy

Appeal to pity adalah kekeliruan penalaran logika ketika seseorang menyimpulkan bahwa suatu klaim benar atau suatu permintaan harus dikabulkan karena penutur atau pihak yang dibela layak dikasihani, tanpa menunjukkan bahwa kondisi tersebut relevan dengan pokok persoalan. Dalam literatur, bentuk ini juga dikenal sebagai argumentum ad misericordiam, appeal to sympathy, atau sob story. Ia merupakan salah satu varian dari appeal to emotion.

Pola penalarannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Orang A berada dalam keadaan yang memilukan atau menyedihkan.
  2. Keadaan tersebut membangkitkan rasa iba pada audiens.
  3. Karena itu, klaim A benar atau permintaan A harus dikabulkan.
Baca juga :  Appeal to Fear Fallacy

Kekeliruannya terletak pada langkah ketiga. Penderitaan seseorang tidak menentukan benar atau salahnya klaim yang ia ajukan. Seorang mahasiswa yang menghadapi kesulitan hidup tetap bisa menjawab ujian dengan keliru, dan terdakwa yang menyedihkan tetap bisa bersalah. Sebuah klaim dinilai dari bukti dan alasannya, bukan dari seberapa besar belas kasihan yang ditimbulkannya.

Kekeliruan ini perlu dibedakan dari ad hominem yang menyerang pribadi. Pada appeal to pity, perhatian dialihkan melalui simpati terhadap penutur atau pihak yang dibela, bukan melalui serangan terhadapnya. Keduanya sama-sama mengalihkan fokus dari isi argumen ke keadaan pribadi.

Dalam kerangka pragma-dialektika, pola ini dianggap menghambat diskusi kritis karena menekan lawan bicara secara emosional, sehingga menolak permintaan tersebut terasa kejam dan tidak berperasaan.

Beberapa ciri yang membantu mengenali appeal to pity:

  • Penderitaan atau kesulitan pribadi ditonjolkan sebagai alasan utama.
  • Kondisi yang disebutkan tidak berkaitan langsung dengan pokok persoalan.
  • Bukti dan alasan substantif tidak diajukan atau dihindari.
  • Penolakan dianggap sebagai tanda tidak berperasaan.
  • Kalimat khas seperti “Kasihanilah saya” atau “Tegakah Anda melihat saya begini?”

Perlu dibedakan dari penggunaan yang sah. Kondisi yang memilukan bisa relevan ketika persoalannya memang menyangkut kebijakan kemanusiaan atau pertimbangan keringanan yang secara aturan memungkinkan hal tersebut, misalnya pengadilan yang mempertimbangkan keadaan pribadi terdakwa dalam menentukan berat ringannya hukuman, bukan dalam menentukan bersalah atau tidaknya. Dalam kasus seperti itu, empati dipakai pada tahap yang tepat dan tidak menggantikan pembuktian.

Contoh Appeal to Pity Fallacy

Contoh 1: Akademik

“Pak, tolong naikkan nilai saya. Saya harus merawat ibu yang sakit, jadi tidak sempat belajar.”

Kesulitan mahasiswa itu nyata, tetapi tidak mengubah kualitas jawabannya. Penilaian tetap harus berdasarkan standar yang berlaku.

Baca juga :  Subjektivisme

Contoh 2: Pengadilan

“Terdakwa ini sudah menderita, ia hidup miskin dan memiliki tiga anak kecil. Karena itu, ia tidak mungkin bersalah.”

Kemiskinan dan tanggungan keluarga tidak membuktikan tidak adanya tindak pidana. Pembuktian harus didasarkan pada fakta perkara.

Contoh 3: Tempat kerja

“Saya sudah bekerja keras dan sekarang sedang kesulitan keuangan. Tolong jangan beri saya peringatan atas kesalahan ini.”

Kesulitan keuangan tidak menghapus kesalahan kerja yang terjadi. Keduanya dapat dipertimbangkan secara terpisah.

Contoh 4: Penjualan

“Belilah dagangan saya, Pak. Sudah seharian belum ada yang laku dan anak saya sedang sakit.”

Kondisi penjual memilukan, tetapi tidak menunjukkan bahwa dagangannya berkualitas atau sesuai kebutuhan pembeli.

Contoh 5: Hubungan pribadi

“Kalau kamu meninggalkan aku, aku tidak akan sanggup hidup. Tegakah kamu melihatku menderita?”

Penderitaan yang dibayangkan dipakai untuk menahan keputusan orang lain, tanpa membahas alasan hubungan tersebut layak dipertahankan.

Contoh yang bukan appeal to pity

“Terdakwa telah dinyatakan bersalah berdasarkan bukti. Dalam menentukan hukuman, majelis hakim mempertimbangkan bahwa ia adalah tulang punggung keluarga dan baru pertama kali melakukan pelanggaran.”

Keadaan pribadi terdakwa dipertimbangkan setelah kesalahan dibuktikan dan hanya untuk menentukan berat ringannya hukuman. Rasa iba tidak menggantikan pembuktian.

Cara Mengatasi Appeal to Pity Fallacy

Cara paling efektif agar tidak menjadi sasaran appeal to pity adalah menetapkan kriteria penilaian yang jelas dan terbuka sejak awal. Ketika standar penilaian, aturan, atau persyaratan sudah diketahui semua pihak, permohonan yang hanya mengandalkan rasa iba lebih mudah dikenali dan ditempatkan secara proporsional. Jelaskan pula bahwa keputusan diambil berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku, sehingga tidak ada kesan bahwa penolakan bersifat pribadi.

Selanjutnya, pisahkan antara empati dan keputusan. Akui secara tulus kesulitan yang dialami lawan bicara, tetapi tegaskan bahwa kesulitan tersebut dipertimbangkan melalui jalur yang sesuai, misalnya mekanisme keringanan resmi atau bantuan lain yang tersedia, dan bukan dengan mengubah penilaian atas pokok persoalan. Sikap ini menunjukkan kepedulian tanpa mengorbankan keadilan dan konsistensi. Tawarkan pula alternatif yang konkret, seperti kesempatan perbaikan atau rujukan ke pihak yang dapat membantu.

Baca juga :  Appeal to Novelty Fallacy

Apabila lawan bicara menjadikan rasa iba sebagai satu-satunya dasar, tanggapi dengan hangat namun tegas. Misalnya, “Saya turut prihatin dengan keadaan Anda. Namun, terlepas dari itu, apa dasar yang mendukung permintaan ini, dan bagaimana kita bisa menyelesaikannya sesuai ketentuan?” Pertanyaan ini menghargai perasaan lawan bicara sekaligus mengarahkan diskusi kembali pada substansi. Dengan cara itu, Anda tetap manusiawi tanpa membiarkan rasa iba menggantikan penilaian yang seharusnya didasarkan pada bukti dan alasan yang relevan.

Referensi

  • Bowell, T., & Kemp, G. (2015). Critical thinking: A concise guide (4th ed.). Routledge.
  • Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2014). Introduction to logic (14th ed.). Pearson.
  • Damer, T. E. (2013). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Wadsworth Cengage Learning.
  • Hamblin, C. L. (1970). Fallacies. Methuen.
  • Hansen, H. (2020). Fallacies. In E. N. Zalta (Ed.), The Stanford encyclopedia of philosophy (Summer 2020 ed.). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
  • Hurley, P. J. (2015). A concise introduction to logic (12th ed.). Cengage Learning.
  • van Eemeren, F. H., & Grootendorst, R. (2004). A systematic theory of argumentation: The pragma-dialectical approach. Cambridge University Press.
  • Walton, D. (1997). Appeal to pity: Argumentum ad misericordiam. State University of New York Press.

Citation

Previous Article

Arrow of Time Paradox

Next Article

Jostein Gaarder - Dunia Sophie | Review & Ebook

Citation copied!