Filsafat David Hume

David Hume

Dipublikasikan: 3 April 2026

Terakhir diperbarui: 4 April 2026

Pontianak – Pemikiran David Hume merupakan salah satu titik balik penting dalam filsafat modern karena secara radikal mempertanyakan dasar-dasar pengetahuan manusia. Berangkat dari empirisme, Hume menegaskan bahwa seluruh isi pikiran berasal dari pengalaman, namun ia tidak berhenti di situ—ia justru menunjukkan bahwa pengalaman itu sendiri tidak mampu memberikan kepastian yang mutlak.

Biografi David Hume

David Hume lahir pada 7 Mei 1711 di Edinburgh, Skotlandia. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang cukup terdidik, namun tidak kaya. Ayahnya meninggal saat Hume masih kecil, sehingga ia dibesarkan oleh ibunya yang sangat menekankan pendidikan. Sejak usia muda, Hume sudah menunjukkan minat besar pada bidang sastra dan filsafat, meskipun awalnya ia sempat diarahkan untuk belajar hukum di Universitas Edinburgh. Namun, ia merasa tidak cocok dengan bidang tersebut dan memilih menekuni filsafat secara mandiri.

Pada usia sekitar dua puluh tahun, Hume mengalami apa yang ia sebut sebagai “krisis intelektual,” yaitu periode tekanan mental akibat pencarian filosofis yang intens. Untuk memulihkan diri, ia sempat tinggal di Prancis, khususnya di La Flèche, tempat ia menulis karya besarnya, A Treatise of Human Nature (1739–1740). Karya ini dimaksudkan sebagai fondasi baru bagi ilmu tentang manusia, mencakup pengetahuan, emosi, dan moralitas. Namun, saat pertama kali diterbitkan, buku ini tidak mendapat perhatian luas dan bahkan dianggap gagal secara publik.

Meskipun Treatise kurang berhasil, Hume tidak berhenti berkarya. Ia kemudian menulis versi yang lebih ringkas dan populer, yaitu An Enquiry Concerning Human Understanding (1748) dan An Enquiry Concerning the Principles of Morals (1751). Melalui karya-karya ini, pemikirannya mulai mendapatkan pengakuan. Ia dikenal karena pendekatannya yang empiris dan skeptis, terutama dalam membahas kausalitas, induksi, dan batas rasio manusia.

Selain sebagai filsuf, Hume juga aktif sebagai penulis esai dan sejarawan. Karyanya The History of England (1754–1762) justru lebih populer pada masanya dibanding tulisan filsafatnya. Buku ini menjadi salah satu karya sejarah paling berpengaruh di Inggris pada abad ke-18 dan memberikan Hume reputasi luas sebagai sejarawan. Ia juga menulis berbagai esai tentang politik, ekonomi, dan estetika yang menunjukkan keluasan minat intelektualnya.

Dalam kehidupan profesionalnya, Hume pernah bekerja sebagai pustakawan di Edinburgh, yang memberinya akses luas ke literatur dan membantu penelitiannya. Ia juga sempat menjabat dalam berbagai posisi diplomatik, termasuk sebagai sekretaris di Kedutaan Inggris di Paris. Di sana, ia bergaul dengan banyak tokoh penting Pencerahan Prancis dan dikenal sebagai intelektual yang dihormati.

Pemikiran Hume sering kali kontroversial, terutama karena kritiknya terhadap agama dan metafisika. Ia meragukan kemampuan rasio untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan menolak banyak klaim teologis yang dianggapnya spekulatif. Karena pandangan-pandangan ini, ia tidak pernah mendapatkan posisi akademik tetap di universitas, meskipun pengaruh intelektualnya sangat besar.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Hume tetap produktif menulis dan merevisi karyanya. Salah satu karyanya yang penting tentang agama, Dialogues Concerning Natural Religion, diterbitkan secara anumerta pada tahun 1779 karena dianggap terlalu sensitif untuk diterbitkan saat ia masih hidup. Hume meninggal dunia pada 25 Agustus 1776 di Edinburgh dengan reputasi sebagai salah satu filsuf terbesar dari tradisi empirisme Inggris.

Pemikiran – Pemikiran David Hume

Empirisme & Teori Persepsi

David Hume berangkat dari keyakinan radikal bahwa seluruh isi pikiran manusia bersumber dari pengalaman. Hume menggunakan istilah perceptions untuk mencakup semua yang hadir dalam kesadaran, lalu membaginya menjadi dua jenis utama: impressions dan ideas.

Impressions adalah pengalaman langsung yang kuat, hidup, dan jelas, seperti melihat warna, merasakan panas, atau mengalami emosi. Sebaliknya, ideas adalah salinan yang lebih lemah dari impressions, seperti ketika kita mengingat atau membayangkan sesuatu.

Perbedaan ini bukan sekadar klasifikasi, tetapi fondasi bagi seluruh teori pengetahuan Hume: pikiran tidak menciptakan isi secara mandiri, melainkan hanya mereproduksi dan mengolah pengalaman yang telah diberikan oleh indera.

Dari sini muncul prinsip terkenal Hume yang sering disebut sebagai copy principle, yaitu bahwa setiap ide harus dapat ditelusuri kembali pada kesan inderawi yang mendahuluinya. Jika suatu konsep tidak memiliki asal-usul dalam pengalaman, maka konsep tersebut dianggap tidak bermakna atau setidaknya patut diragukan.

Prinsip ini menjadi alat kritis yang sangat kuat untuk membongkar klaim-klaim metafisika tradisional. Banyak konsep seperti “substansi”, “hakikat”, atau “entitas spiritual murni” dianggap problematis karena tidak dapat dilacak ke pengalaman konkret. Hume tidak hanya membangun teori pengetahuan, tetapi juga menetapkan batas-batas yang ketat bagi apa yang bisa dipikirkan secara sah.

Lebih jauh, Hume menolak gagasan tentang ide bawaan yang sebelumnya dipertahankan oleh filsuf rasionalis seperti René Descartes. Menurut Hume, semua ide, bahkan yang tampak kompleks dan abstrak, pada akhirnya berasal dari pengalaman sederhana.

Pikiran memang memiliki kemampuan untuk menggabungkan, memisahkan, dan memodifikasi ide-ide tersebut, tetapi bahan dasarnya tetap berasal dari kesan inderawi. Contoh klasik yang ia berikan adalah konsep “gunung emas”. Kita mungkin tidak pernah melihat gunung yang terbuat dari emas, tetapi kita memiliki pengalaman tentang “gunung” dan “emas”, lalu menggabungkannya dalam imajinasi. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas pikiran tetap bergantung sepenuhnya pada materi yang diberikan oleh pengalaman.

Walaupun semua ide berasal dari pengalaman, pikiran manusia tidak bekerja secara acak. Hume menjelaskan bahwa terdapat prinsip-prinsip asosiasi yang mengatur bagaimana ide-ide saling terhubung. Ia mengidentifikasi tiga hukum utama: kemiripan (resemblance), kedekatan dalam ruang atau waktu (contiguity), dan hubungan sebab-akibat (cause and effect).

Melalui kemiripan, kita mengaitkan hal-hal yang serupa; melalui kedekatan, kita menghubungkan hal-hal yang muncul bersama dalam pengalaman; dan melalui sebab-akibat, kita mengaitkan peristiwa yang tampak berurutan secara teratur. Prinsip-prinsip ini menjelaskan mengapa pikiran dapat bergerak secara teratur dari satu ide ke ide lain tanpa memerlukan struktur rasional yang kaku. Dengan kata lain, asosiasi ide adalah mekanisme psikologis yang menggantikan peran rasio sebagai penghubung utama dalam pikiran manusia.

Dalam kerangka ini, Hume juga membedakan dua jenis pengetahuan yang sangat penting, yaitu relations of ideas dan matters of fact. Relations of ideas mencakup kebenaran yang bersifat logis dan pasti, seperti matematika dan definisi konseptual. Kebenaran jenis ini tidak bergantung pada pengalaman dan tidak dapat disangkal tanpa kontradiksi.

Sebaliknya, matters of fact berkaitan dengan dunia empiris dan selalu bergantung pada pengalaman. Pernyataan seperti “matahari akan terbit besok” termasuk dalam kategori ini, dan meskipun sangat mungkin benar, ia tidak memiliki kepastian mutlak.

Pembagian ini menunjukkan batas antara kepastian logis dan pengetahuan faktual: yang satu pasti tetapi tidak memberi informasi baru tentang dunia, sedangkan yang lain informatif tetapi tidak pernah sepenuhnya pasti.

Salah satu kontribusi penting Hume adalah kritiknya terhadap pembedaan antara kualitas primer dan sekunder yang sebelumnya dikemukakan oleh John Locke. Locke berpendapat bahwa kualitas primer seperti bentuk, ukuran, dan gerak benar-benar ada dalam objek, sementara kualitas sekunder seperti warna dan rasa hanya ada dalam persepsi kita.

Hume menolak pembedaan ini dengan menunjukkan bahwa semua kualitas, tanpa kecuali, hanya dapat diketahui melalui persepsi. Bahkan bentuk dan ukuran pun tidak pernah kita alami secara langsung di luar pikiran; kita hanya mengalami representasi mentalnya. Dengan demikian, tidak ada dasar kuat untuk menganggap bahwa sebagian kualitas lebih “objektif” daripada yang lain. Semua kualitas pada akhirnya bersifat mental dalam arti bahwa mereka hanya hadir dalam pengalaman subjek.

Baca juga :  Jean-Paul Sartre

Dari sini, Hume sampai pada kesimpulan yang lebih radikal tentang hubungan kita dengan dunia luar. Ia berpendapat bahwa kita tidak pernah benar-benar mengalami objek eksternal secara langsung, melainkan hanya representasi atau kesan tentang objek tersebut. Ketika kita melihat pohon, misalnya, yang kita alami sebenarnya adalah kesan visual—warna, bentuk, dan tekstur—yang muncul dalam kesadaran kita. Kita kemudian secara alami mengasumsikan bahwa ada objek eksternal yang menjadi penyebab kesan tersebut, tetapi asumsi ini tidak pernah dapat dibuktikan secara rasional. Posisi ini sering disebut sebagai representasionalisme, yaitu pandangan bahwa pikiran hanya berhubungan dengan representasi, bukan dengan realitas itu sendiri secara langsung.

Implikasi dari teori ini sangat luas dan mendalam. Pertama, ia meruntuhkan keyakinan bahwa manusia memiliki akses langsung dan pasti terhadap dunia eksternal. Kedua, ia menunjukkan bahwa banyak struktur yang kita anggap rasional sebenarnya berakar pada kebiasaan psikologis. Ketiga, ia membatasi secara ketat ruang lingkup pengetahuan yang sah, sekaligus membuka jalan bagi skeptisisme yang terukur. Empirisme Hume bukan sekadar teori tentang asal-usul pengetahuan, tetapi juga kritik terhadap pretensi akal manusia yang ingin melampaui pengalaman.

Secara keseluruhan, empirisme dan teori persepsi Hume menggambarkan pikiran manusia sebagai sistem yang sepenuhnya bergantung pada pengalaman, bekerja melalui asosiasi, dan terbatas pada representasi. Dunia yang kita kenal bukanlah dunia sebagaimana adanya secara independen, melainkan dunia sebagaimana ia muncul dalam kesadaran kita. Dengan pendekatan ini, Hume menggeser fokus filsafat dari pencarian hakikat metafisik menuju analisis pengalaman manusia itu sendiri, sekaligus menandai salah satu titik paling penting dalam perkembangan filsafat modern.

Kausalitas, Induksi dan Kebiasaan

Dalam filsafat David Hume, persoalan kausalitas, induksi, dan kebiasaan merupakan inti dari kritiknya terhadap rasionalitas manusia. Hume berusaha menunjukkan bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai hubungan sebab-akibat yang pasti ternyata tidak memiliki dasar rasional yang kuat. Ia memulai dengan menolak gagasan bahwa kausalitas dapat diketahui a priori, yakni melalui akal semata tanpa pengalaman.

Menurutnya, tidak ada analisis logis terhadap suatu peristiwa yang dapat mengungkapkan akibatnya. Jika seseorang belum pernah melihat api sebelumnya, ia tidak akan bisa menyimpulkan hanya dengan berpikir bahwa api akan membakar. Pengetahuan tentang sebab-akibat selalu datang setelah pengalaman, bukan sebelumnya.

Dari sini Hume melangkah lebih jauh dengan mengkritik konsep “necessary connection” atau hubungan niscaya dalam objek. Dalam pandangan tradisional, sebab dianggap mengandung kekuatan tertentu yang secara pasti menghasilkan akibat.

Namun Hume menunjukkan bahwa ketika kita mengamati dua peristiwa, misalnya bola biliar yang satu menabrak yang lain, kita hanya melihat urutan kejadian: gerakan pertama diikuti oleh gerakan kedua. Kita tidak pernah benar-benar melihat “kekuatan” atau “daya” yang menghubungkan keduanya. Apa yang disebut sebagai hubungan niscaya ternyata tidak pernah muncul dalam pengalaman inderawi. Dengan demikian, konsep tersebut bukan fakta objektif, melainkan konstruksi pikiran.

Sebagai pengganti gagasan hubungan niscaya, Hume mengusulkan konsep constant conjunction. Menurutnya, kita menyebut sesuatu sebagai sebab hanya karena kita terbiasa melihat dua jenis peristiwa muncul bersama secara berulang. Jika setiap kali api muncul disertai panas, kita mulai mengaitkan keduanya sebagai sebab dan akibat.

Namun hubungan ini sebenarnya tidak lebih dari pola pengulangan. Tidak ada jaminan logis bahwa pola tersebut akan terus berlanjut. Dengan kata lain, kausalitas bukanlah hubungan yang ditemukan di dunia, melainkan pola yang dikenali oleh pikiran berdasarkan pengalaman berulang.

Peran utama dalam proses ini dimainkan oleh kebiasaan (custom atau habit). Hume berpendapat bahwa setelah sering mengamati dua peristiwa yang berurutan, pikiran kita secara otomatis mengharapkan bahwa peristiwa kedua akan mengikuti peristiwa pertama.

Harapan ini tidak lahir dari penalaran logis, melainkan dari kecenderungan psikologis yang terbentuk melalui pengulangan. Kebiasaan inilah yang membuat kita merasa seolah-olah ada hubungan sebab-akibat yang pasti. Keyakinan kita terhadap kausalitas sebenarnya berakar pada mekanisme psikologis, bukan pada dasar rasional atau metafisik.

Masalah ini mencapai puncaknya dalam apa yang dikenal sebagai problem induksi. Induksi adalah proses penalaran dari kasus-kasus khusus di masa lalu menuju generalisasi tentang masa depan. Kita percaya bahwa matahari akan terbit besok karena selalu terbit di masa lalu. Namun Hume menunjukkan bahwa keyakinan ini tidak dapat dibuktikan secara rasional.

Setiap upaya untuk membenarkan induksi justru menggunakan induksi itu sendiri, sehingga jatuh ke dalam lingkaran. Kita tidak bisa secara logis membuktikan bahwa masa depan akan menyerupai masa lalu, karena pernyataan tersebut tidak bersifat kontradiktif jika disangkal. Secara rasional, selalu mungkin bahwa pola yang kita amati selama ini tiba-tiba berubah.

Meskipun demikian, Hume tidak menyangkal bahwa manusia tetap menggunakan induksi dalam kehidupan sehari-hari. Ia justru menekankan bahwa asumsi bahwa masa depan akan menyerupai masa lalu adalah sesuatu yang tak terhindarkan.

Pikiran manusia secara alami membentuk ekspektasi berdasarkan pengalaman sebelumnya. Ketika kita melihat awan gelap, kita mengharapkan hujan; ketika kita makan, kita mengharapkan rasa kenyang. Semua ini bukan hasil pembuktian rasional, melainkan hasil pembiasaan. Dengan kata lain, keyakinan terhadap keteraturan alam bukanlah kesimpulan logis, melainkan kecenderungan alami manusia.

Konsekuensi penting dari analisis ini adalah bahwa semua inferensi tentang dunia faktual tidak didasarkan pada logika yang ketat, melainkan pada kebiasaan. Berbeda dengan relations of ideas yang dapat dibuktikan secara deduktif, matters of fact selalu bergantung pada pengalaman dan ekspektasi. Ketika kita menyimpulkan bahwa suatu peristiwa akan terjadi karena peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya, kita sebenarnya tidak melakukan pembuktian, melainkan mengikuti pola kebiasaan mental. Rasio hanya berperan terbatas dalam mengenali pola, tetapi tidak mampu memberikan jaminan kepastian.

Teori Hume tentang kausalitas, induksi, dan kebiasaan mengguncang fondasi kepercayaan tradisional terhadap ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Ia menunjukkan bahwa bahkan hukum-hukum alam yang tampak paling pasti sekalipun tidak memiliki dasar rasional yang absolut.

Namun alih-alih membawa kita pada keputusasaan total, Hume justru mengarahkan kita pada pemahaman yang lebih realistis tentang kondisi manusia. Kita adalah makhluk yang berpikir dan bertindak bukan semata-mata berdasarkan logika, tetapi juga berdasarkan kebiasaan yang terbentuk dari pengalaman.

Dunia yang kita pahami sebagai teratur dan dapat diprediksi pada akhirnya adalah hasil dari cara kerja pikiran kita sendiri dalam menghadapi pengulangan pengalaman.

Skeptisisme dan Batas Rasio

Skeptisisme bukanlah sikap destruktif yang menolak seluruh pengetahuan, melainkan hasil konsekuen dari analisis kritis terhadap kemampuan rasio manusia. Hume berangkat dari keyakinan bahwa rasio memiliki batas yang tegas, dan ketika rasio berusaha melampaui batas tersebut—terutama dalam menjelaskan realitas eksternal, kausalitas, atau metafisika—ia justru terjerumus ke dalam ilusi. Skeptisisme Hume muncul bukan karena keinginan untuk meragukan segalanya secara radikal, tetapi karena kesadaran bahwa banyak klaim filosofis tidak memiliki dasar yang memadai.

Salah satu titik utama dalam skeptisisme Hume adalah ketidakmampuan rasio untuk membuktikan keberadaan dunia eksternal secara pasti. Kita secara alami percaya bahwa objek-objek di sekitar kita benar-benar ada secara independen dari persepsi kita.

Namun, menurut Hume, kepercayaan ini tidak dapat dibenarkan melalui argumen rasional. Semua yang kita miliki hanyalah kesan-kesan dalam pikiran, dan tidak ada cara logis untuk melompat dari kesan tersebut ke keberadaan objek eksternal yang independen.

Rasio tidak mampu menjembatani kesenjangan antara pengalaman subjektif dan realitas objektif. Kepercayaan terhadap dunia luar akhirnya lebih merupakan kebiasaan alami daripada kesimpulan rasional.

Meskipun demikian, Hume tidak menganut skeptisisme ekstrem yang sepenuhnya menolak pengetahuan atau kehidupan praktis. Ia justru mengembangkan apa yang sering disebut sebagai skeptisisme moderat atau mitigated scepticism.

Sikap ini mengakui keterbatasan rasio, tetapi tetap menerima bahwa manusia harus hidup, bertindak, dan berpikir berdasarkan pengalaman dan kebiasaan. Skeptisisme moderat berfungsi sebagai koreksi terhadap kepercayaan berlebihan pada akal, bukan sebagai penolakan total terhadap pengetahuan. Ia mendorong sikap kehati-hatian, kerendahan hati intelektual, dan kesadaran bahwa banyak hal yang kita yakini tidak memiliki kepastian mutlak.

Baca juga :  Jean-Paul Sartre

Dari sudut pandang ini, Hume menolak gagasan bahwa ada prinsip-prinsip pengetahuan yang sepenuhnya pasti dan tak tergoyahkan. Bahkan keyakinan yang tampak paling kuat sekalipun—seperti hukum alam atau keberlanjutan dunia—tidak memiliki dasar rasional yang absolut.

Semua pengetahuan faktual bergantung pada pengalaman, dan pengalaman itu sendiri tidak pernah menjamin kepastian. Selalu ada kemungkinan, meskipun kecil, bahwa apa yang kita yakini ternyata salah. Dengan demikian, kepastian absolut hanya mungkin dalam ranah logika atau matematika (relations of ideas), tetapi tidak dalam pengetahuan tentang dunia nyata.

Skeptisisme Hume juga diarahkan secara tajam terhadap metafisika spekulatif, yaitu upaya filsafat untuk menjelaskan realitas di luar pengalaman. Ia menganggap banyak konsep metafisika sebagai hasil permainan kata-kata yang tidak memiliki makna empiris.

Dengan menggunakan prinsip bahwa setiap ide harus berasal dari kesan, Hume menunjukkan bahwa banyak istilah metafisika tidak memiliki referensi yang jelas dalam pengalaman. Oleh karena itu, perdebatan metafisik sering kali tidak menghasilkan pengetahuan, melainkan hanya kebingungan. Kritik ini menjadi salah satu serangan paling kuat terhadap tradisi metafisika dalam sejarah filsafat modern.

Pada akhirnya, perjalanan filosofis Hume membawa pada suatu kesadaran reflektif tentang kondisi manusia itu sendiri. Filsafat tidak lagi dipahami sebagai jalan menuju kepastian mutlak, melainkan sebagai sarana untuk memahami keterbatasan kita. Ketika rasio didorong sampai batasnya, ia justru mengungkap kelemahannya sendiri. Namun alih-alih berakhir dalam keputusasaan, Hume melihat bahwa manusia secara alami kembali pada kehidupan sehari-hari, mempercayai dunia, bertindak, dan membuat keputusan. Skeptisisme, dalam arti ini, menjadi penyeimbang antara refleksi filosofis dan kebutuhan praktis manusia.

Skeptisisme Hume menegaskan bahwa pengetahuan manusia selalu bersifat terbatas dan tidak pasti. Rasio tidak mampu memberikan fondasi absolut bagi keyakinan kita, dan banyak hal yang kita anggap pasti sebenarnya bergantung pada kebiasaan dan pengalaman.

Namun justru melalui pengakuan terhadap keterbatasan ini, filsafat memperoleh fungsi yang lebih realistis: bukan untuk memberikan kepastian mutlak, tetapi untuk menuntun manusia memahami dirinya sendiri dan dunia secara lebih rendah hati dan kritis.

Diri (Self) dan Pikiran

Persoalan tentang diri (self) merupakan salah satu kritik paling radikal terhadap tradisi metafisika klasik. Berbeda dengan pandangan yang melihat diri sebagai substansi tetap—seperti yang diajukan oleh René Descartes dengan konsep cogito—Hume justru menyangkal adanya inti diri yang permanen.

Ia berpendapat bahwa ketika kita meneliti diri melalui introspeksi, kita tidak pernah menemukan “aku” yang tetap, melainkan hanya menemukan serangkaian pengalaman yang silih berganti: sensasi, emosi, pikiran, dan ingatan. Bahwa apa yang kita sebut sebagai diri bukanlah entitas tunggal, melainkan kumpulan persepsi yang terus berubah.

Pandangan ini dikenal sebagai teori bundle of perceptions. Menurut Hume, pikiran manusia ibarat sebuah panggung di mana berbagai persepsi muncul dan menghilang tanpa henti. Tidak ada aktor tetap di balik panggung tersebut; yang ada hanyalah aliran peristiwa mental. Persepsi-persepsi ini berbeda-beda dalam intensitas dan jenis, tetapi tidak pernah membentuk substansi yang stabil.

Kita mungkin merasa bahwa ada “sesuatu” yang menyatukan semua pengalaman ini, tetapi perasaan tersebut tidak pernah dapat dibuktikan melalui pengalaman langsung. Dengan kata lain, diri bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang dibayangkan.

Ketika Hume menolak keberadaan diri yang tetap, ia juga menegaskan bahwa introspeksi tidak pernah mengungkapkan apa pun selain persepsi. Setiap kali kita mencoba melihat ke dalam diri, kita hanya menemukan pengalaman tertentu—misalnya rasa sakit, kenangan, atau pikiran tertentu—tetapi tidak pernah menemukan subjek yang memiliki pengalaman tersebut.

Tidak ada kesan inderawi yang dapat menjadi dasar bagi ide tentang “self” sebagai substansi. Karena dalam kerangka empirisme Hume setiap ide harus berasal dari kesan, maka ketiadaan kesan tentang diri berarti ketiadaan dasar bagi konsep diri yang tetap.

Meskipun demikian, manusia tetap memiliki keyakinan kuat bahwa mereka adalah individu yang sama dari waktu ke waktu. Hume menjelaskan bahwa keyakinan ini terbentuk melalui peran memori dan asosiasi.

Memori memungkinkan kita mengingat pengalaman masa lalu dan mengaitkannya dengan pengalaman sekarang, sehingga menciptakan kesan kesinambungan. Selain itu, prinsip asosiasi—seperti kemiripan dan sebab-akibat—membantu menghubungkan berbagai persepsi menjadi suatu rangkaian yang tampak terpadu. Dari proses inilah muncul apa yang kita anggap sebagai identitas personal.

Namun, menurut Hume, kesinambungan diri ini pada dasarnya adalah ilusi psikologis. Ia tidak memiliki dasar ontologis yang kuat, melainkan hanya hasil dari cara kerja pikiran dalam mengorganisasi pengalaman. Kita cenderung menganggap rangkaian persepsi yang saling berkaitan sebagai satu kesatuan, sama seperti kita menganggap sebuah sungai tetap sama meskipun airnya terus berubah.

Analogi ini menunjukkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang benar-benar tetap, melainkan sesuatu yang diproyeksikan oleh pikiran untuk memberikan stabilitas pada pengalaman yang sebenarnya berubah-ubah.

Lebih jauh lagi, Hume menjelaskan bahwa pikiran menghubungkan pengalaman melalui prinsip kausalitas. Persepsi-persepsi tidak hanya muncul secara acak, tetapi sering kali tampak saling berkaitan sebagai sebab dan akibat.

Hubungan ini memperkuat kesan bahwa ada struktur yang mengikat pengalaman menjadi satu kesatuan. Ketika suatu pikiran atau perasaan tampak “menyebabkan” yang lain, kita cenderung melihatnya sebagai bagian dari satu diri yang berkelanjutan. Padahal, seperti dalam analisis Hume tentang kausalitas, hubungan ini sendiri merupakan hasil kebiasaan mental, bukan bukti adanya substansi yang mendasarinya.

Implikasi dari pandangan ini sangat mendalam. Pertama, ia menantang gagasan tradisional tentang jiwa sebagai entitas tetap dan tidak berubah. Kedua, ia mengubah cara kita memahami identitas personal, dari sesuatu yang bersifat esensial menjadi sesuatu yang bersifat konstruktif.

Ketiga, ia membuka kemungkinan bahwa apa yang kita anggap sebagai “aku” hanyalah narasi yang dibentuk oleh ingatan dan asosiasi. Dengan demikian, identitas bukanlah fakta yang ditemukan, melainkan hasil dari proses mental yang terus berlangsung.

Pada akhirnya, teori Hume tentang diri dan pikiran menegaskan bahwa manusia bukanlah substansi yang stabil, melainkan aliran pengalaman yang dinamis. Diri tidak memiliki inti yang tetap, tetapi terbentuk dari hubungan antar persepsi yang terus berubah.

Kesinambungan yang kita rasakan adalah produk dari memori, asosiasi, dan kebiasaan pikiran. Dengan pendekatan ini, Hume tidak hanya merombak konsep diri dalam filsafat, tetapi juga memberikan dasar bagi pemahaman modern tentang kesadaran sebagai proses, bukan sebagai entitas.

Etika, Emosi, dan Tindakan

Dalam filsafat David Hume, etika tidak dibangun di atas rasio murni, melainkan pada perasaan manusia. Hume secara tegas menolak pandangan rasionalis yang menganggap bahwa moralitas dapat ditentukan melalui akal semata.

Salah satu pernyataannya yang paling terkenal adalah bahwa rasio adalah “budak dari hasrat” (slave of the passions). Maksudnya, rasio tidak memiliki kekuatan untuk menggerakkan tindakan; ia hanya berfungsi sebagai alat untuk membantu mencapai tujuan yang sudah ditentukan oleh keinginan, emosi, atau dorongan afektif manusia. Dengan kata lain, rasio bersifat instrumental, bukan motivasional.

Pandangan ini memiliki implikasi langsung terhadap asal-usul moralitas. Hume berpendapat bahwa penilaian moral—seperti menyebut suatu tindakan “baik” atau “buruk”—tidak berasal dari proses penalaran logis, melainkan dari sentiment, yaitu perasaan atau respon emosional yang muncul dalam diri kita. Ketika kita melihat tindakan yang penuh kasih, kita merasakan persetujuan; ketika melihat kekejaman, kita merasakan ketidaksenangan.

Perasaan inilah yang menjadi dasar penilaian moral. Rasio mungkin membantu kita memahami fakta atau konsekuensi suatu tindakan, tetapi ia tidak menentukan nilai moralnya. Moralitas, dalam arti ini, lebih dekat dengan rasa daripada dengan logika.

Salah satu kontribusi penting Hume dalam etika adalah apa yang kemudian dikenal sebagai problem “is–ought”. Ia menunjukkan bahwa tidak mungkin secara logis menurunkan pernyataan normatif (“seharusnya”) dari pernyataan deskriptif (“adalah”) tanpa tambahan premis normatif. Banyak teori moral, menurut Hume, secara diam-diam melakukan lompatan dari fakta ke nilai tanpa penjelasan yang memadai.

Baca juga :  Jean-Paul Sartre

Misalnya, dari fakta bahwa suatu tindakan menghasilkan manfaat, tidak otomatis mengikuti bahwa tindakan itu “harus” dilakukan, kecuali kita sudah memiliki sikap atau nilai tertentu terhadap manfaat tersebut. Dengan demikian, moralitas tidak dapat didasarkan semata-mata pada fakta objektif, tetapi memerlukan dimensi evaluatif yang berasal dari perasaan manusia.

Meskipun menekankan perasaan, Hume tidak mengabaikan aspek sosial dalam moralitas. Ia berpendapat bahwa kebajikan (virtue) berkaitan erat dengan utilitas, yaitu manfaat yang dihasilkan bagi individu maupun masyarakat.

Tindakan atau sifat karakter dianggap baik karena mereka berguna, menyenangkan, atau menguntungkan—baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Misalnya, kejujuran dihargai karena mendukung kepercayaan sosial, sementara kemurahan hati dihargai karena meningkatkan kesejahteraan bersama. Dalam hal ini, pemikiran Hume sering dianggap sebagai salah satu pendahulu teori utilitarianisme, meskipun ia tetap menekankan peran sentimen sebagai dasar penilaian.

Lebih jauh, Hume menegaskan bahwa tindakan manusia pada dasarnya didorong oleh emosi, bukan oleh akal. Rasio dapat memberi informasi tentang bagaimana mencapai tujuan, tetapi tidak dapat menentukan tujuan itu sendiri.

Seseorang tidak bertindak karena ia mengetahui sesuatu sebagai benar, melainkan karena ia menginginkan sesuatu. Bahkan keputusan yang tampak rasional sekalipun pada akhirnya berakar pada preferensi atau keinginan tertentu. Dengan demikian, pemahaman tentang tindakan manusia harus berangkat dari psikologi emosi, bukan dari logika formal.

Dalam konteks tanggung jawab moral, Hume mengaitkannya dengan karakter dan disposisi individu. Kita memuji atau menyalahkan seseorang bukan semata-mata karena tindakan tertentu, tetapi karena tindakan tersebut mencerminkan sifat batin yang relatif stabil. Tanggung jawab moral hanya masuk akal jika tindakan berasal dari karakter seseorang, bukan dari paksaan eksternal semata. Di sini Hume juga menghubungkan etika dengan pandangannya tentang kausalitas dan kebiasaan: tindakan manusia dipahami sebagai bagian dari pola sebab-akibat dalam karakter, sehingga penilaian moral menjadi mungkin.

Keseluruhan teori etika Hume menunjukkan pergeseran besar dari rasionalisme menuju pendekatan yang lebih empiris dan psikologis. Moralitas tidak lagi dilihat sebagai sistem prinsip universal yang diturunkan dari akal, melainkan sebagai fenomena yang berakar pada sifat manusia—khususnya pada emosi dan kecenderungan sosialnya. Penilaian moral muncul dari bagaimana manusia secara alami merespons tindakan dan karakter, serta dari bagaimana tindakan tersebut memengaruhi kesejahteraan bersama.

Pada akhirnya, inti pemikiran Hume dalam bidang ini adalah bahwa moralitas berbasis pada emosi dan kegunaan, bukan pada rasionalitas murni. Rasio tetap memiliki peran penting, tetapi hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber nilai. Dengan demikian, untuk memahami etika, kita harus memahami manusia sebagai makhluk yang merasakan, bukan sekadar makhluk yang berpikir.

Agama, Tuhan & Kritik Metafisika

Dalam pemikiran David Hume, persoalan agama dan Tuhan ditempatkan dalam kerangka empirisme yang ketat dan skeptisisme yang hati-hati. Hume menolak klaim bahwa keberadaan Tuhan dapat dibuktikan secara rasional dengan kepastian mutlak.

Baginya, semua pengetahuan yang sah harus berakar pada pengalaman inderawi. Karena Tuhan sebagai entitas transenden tidak pernah menjadi objek pengalaman langsung, maka setiap upaya untuk membuktikan keberadaan-Nya secara rasional akan selalu melampaui batas kemampuan akal manusia. Dengan demikian, keyakinan religius tidak dapat disamakan dengan pengetahuan yang memiliki dasar empiris yang kuat.

Hume secara sistematis mengkritik tiga argumen klasik dalam teologi natural, yaitu ontologis, kosmologis, dan teleologis. Terhadap argumen ontologis, ia menolak bahwa eksistensi dapat diturunkan dari konsep semata. Sesuatu tidak menjadi ada hanya karena kita dapat memikirkannya sebagai ada.

Kritik ini kemudian diperdalam oleh Immanuel Kant yang menegaskan bahwa eksistensi bukanlah predikat yang menambah isi konsep. Dengan demikian, gagasan tentang Tuhan sebagai makhluk sempurna tidak cukup untuk membuktikan bahwa Tuhan benar-benar ada.

Terhadap argumen kosmologis, Hume mempertanyakan kebutuhan akan “sebab pertama” yang bersifat mutlak. Ia berpendapat bahwa tidak ada alasan rasional untuk menganggap bahwa keseluruhan alam semesta harus memiliki sebab yang berbeda dari rangkaian sebab-akibat di dalamnya. Bahkan jika kita menerima adanya sebab pertama, tidak ada dasar untuk mengatributkan sifat-sifat ilahi seperti kemahakuasaan atau kesempurnaan padanya. Argumen ini, menurut Hume, melompat terlalu jauh dari pengalaman terbatas menuju kesimpulan metafisis yang luas.

Kritik Hume terhadap argumen teleologis (argumen desain) menjadi salah satu yang paling berpengaruh. Ia menolak analogi antara dunia dan artefak buatan manusia. Menurutnya, kita tidak memiliki cukup pengalaman tentang “penciptaan dunia” untuk membuat perbandingan semacam itu. Bahkan jika dunia menunjukkan keteraturan, hal tersebut tidak secara otomatis membuktikan adanya perancang yang sempurna. Dunia yang penuh ketidaksempurnaan, penderitaan, dan kekacauan justru lebih sulit dijelaskan jika diasumsikan berasal dari Tuhan yang maha baik dan tak terbatas. Oleh karena itu, pengalaman tentang dunia tidak cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan yang sempurna (infinite being).

Dalam pembahasan tentang mukjizat, Hume kembali menekankan standar pembuktian empiris. Mukjizat didefinisikan sebagai pelanggaran terhadap hukum alam, sementara hukum alam didukung oleh pengalaman yang konsisten dan berulang. Karena itu, untuk mempercayai mukjizat, seseorang memerlukan bukti yang lebih kuat daripada bukti yang mendukung hukum alam itu sendiri. Namun, menurut Hume, kesaksian manusia tidak pernah cukup kuat untuk memenuhi standar tersebut. Oleh sebab itu, secara rasional, lebih masuk akal untuk meragukan laporan tentang mukjizat daripada mempercayainya sebagai peristiwa nyata.

Selain kritik epistemologis, Hume juga menawarkan penjelasan psikologis mengenai asal-usul konsep Tuhan. Ia berpendapat bahwa manusia cenderung memproyeksikan sifat-sifatnya sendiri ke dalam alam semesta. Dalam menghadapi fenomena alam yang tidak dipahami, manusia membayangkan adanya agen-agen yang memiliki kehendak dan kecerdasan seperti dirinya. Dari sini berkembang konsep tentang Tuhan sebagai makhluk yang memiliki sifat-sifat manusiawi yang diperbesar dan disempurnakan. Dengan demikian, konsep Tuhan lebih mencerminkan struktur psikologis manusia daripada realitas objektif yang dapat dibuktikan.

Keseluruhan analisis Hume menunjukkan bahwa agama tidak memiliki dasar rasional yang pasti, melainkan lebih merupakan hasil dari kebiasaan, emosi, dan kecenderungan psikologis manusia. Ia tidak sepenuhnya menolak keberadaan Tuhan, tetapi ia menolak klaim bahwa Tuhan dapat diketahui dengan kepastian melalui akal. Kritiknya terhadap metafisika spekulatif memperlihatkan bahwa banyak pernyataan teologis melampaui batas pengalaman dan karenanya tidak dapat diverifikasi secara rasional.

Karya David Hume

  • A Treatise of Human Nature (1739–1740)
  • Essays Moral and Political (1741–1742)
  • An Enquiry Concerning Human Understanding (1748)
  • An Enquiry Concerning the Principles of Morals (1751)
  • Political Discourses (1752)
  • The History of England (1754–1762)
  • A Dissertation on the Passions (1757)
  • The Natural History of Religion (1757)
  • Of the Standard of Taste (1757)
  • Dialogues Concerning Natural Religion (1779, anumerta)

Referensi

  • Garrett, D. (2015). Hume on reason and passion. Philosophy Compass, 10(8), 551–562.
  • Baier, A. (1991). Hume’s account of social virtues. Ethics, 101(4), 821–836.
  • Fogelin, R. J. (1997). Hume’s skepticism. Philosophy and Phenomenological Research, 57(4), 899–920.
  • Loeb, L. E. (2002). Stability and justification in Hume’s Treatise. Journal of the History of Philosophy, 40(2), 209–226.
  • Owen, D. (1999). Hume’s theory of belief. History of Philosophy Quarterly, 16(3), 321–338.
  • Kail, P. J. E. (2007). Projection and the objects of belief in Hume. European Journal of Philosophy, 15(3), 319–339.
  • Wright, J. P. (2000). Hume’s causal realism: Recovering a traditional interpretation. The Philosophical Quarterly, 50(199), 330–347.

FAQ

Apa inti utama filsafat David Hume?

Inti filsafat Hume adalah empirisme dan skeptisisme. Ia berpendapat bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi, dan manusia tidak pernah mencapai kepastian absolut.

Mengapa Hume meragukan konsep sebab-akibat (kausalitas)?

Hume berargumen bahwa kita tidak pernah benar-benar melihat hubungan sebab-akibat secara langsung. Yang kita amati hanyalah peristiwa yang terjadi berulang kali secara berurutan (constant conjunction).

Bagaimana Hume memandang agama dan keberadaan Tuhan?

Hume skeptis terhadap klaim rasional tentang Tuhan. Ia mengkritik argumen-argumen klasik (ontologis, kosmologis, teleologis) dan menyatakan bahwa tidak ada bukti empiris yang cukup untuk membuktikan Tuhan secara pasti.

Citation

Previous Article

Bertrand Russell

Next Article

Ludwig Feuerbach

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Citation copied!