Dipublikasikan: 26 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 27 Oktober 2026
Dipublikasikan: 26 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 27 Oktober 2026
Dalam sebuah rapat, seorang staf mengusulkan agar perusahaan mengurangi jumlah rapat mingguan karena data menunjukkan waktu kerja produktif banyak terbuang. Seorang rekan menanggapi sambil tertawa, “Oh, jadi kita sebaiknya kerja sendiri-sendiri saja, tidak usah bertemu, begitu? Mau sekalian bubarkan perusahaan?” Beberapa orang ikut tertawa, dan usulan itu pun dilupakan. Data yang diajukan tidak pernah dibahas.
Itulah gambaran appeal to ridicule, kekeliruan penalaran ketika sebuah argumen ditolak dengan cara diolok-olok, ditertawakan, atau digambarkan secara konyol, dan bukan dengan dijawab menggunakan alasan dan bukti. Pola ini efektif karena tawa menciptakan suasana yang membuat pihak yang diejek merasa malu, sementara audiens cenderung menganggap sesuatu yang lucu sebagai sesuatu yang keliru.
Kekeliruan ini sering muncul dalam debat politik, komentar di media sosial, rapat kerja, hingga percakapan sehari-hari. Memahaminya membantu kita membedakan antara humor yang sah sebagai bagian dari komunikasi dan olok-olok yang dipakai untuk menggantikan pembuktian.
Daftar Isi
Appeal to ridicule adalah kekeliruan penalaran logika ketika seseorang menolak suatu klaim atau argumen dengan menampilkannya sebagai sesuatu yang menggelikan, absurd, atau patut ditertawakan, tanpa menunjukkan bahwa klaim tersebut memang keliru berdasarkan alasan dan bukti. Dalam literatur, bentuk ini juga dikenal sebagai appeal to mockery, ad absurdum dalam pengertian yang keliru, horse laugh, atau reductio ad ridiculum. Ia sering beririsan dengan straw man dan ad hominem abusif.
Pola penalarannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kekeliruannya terletak pada langkah ketiga. Sesuatu yang bisa ditertawakan tidak otomatis salah. Banyak gagasan yang awalnya diejek ternyata benar, sementara banyak pernyataan keliru yang terdengar serius dan meyakinkan. Selain itu, ejekan sering dilakukan dengan memelintir klaim asli menjadi versi yang berlebihan, sehingga yang ditertawakan sebenarnya bukan klaim yang diajukan.
Perlu dibedakan dari reductio ad absurdum, yaitu teknik penalaran yang sah. Pada reductio ad absurdum, seseorang menunjukkan secara logis bahwa suatu klaim, jika diterima, mengarah pada kesimpulan yang bertentangan atau mustahil. Pada appeal to ridicule, tidak ada penelusuran logis semacam itu, yang ada hanya olok-olok.
Dalam kerangka pragma-dialektika, pola ini dianggap menghambat diskusi kritis karena membuat pihak yang diejek enggan menyampaikan atau mempertahankan pandangannya, sehingga ruang diskusi menjadi tidak aman.
Beberapa ciri yang membantu mengenali appeal to ridicule:
Perlu dibedakan dari penggunaan yang sah. Humor dan satire dapat menjadi sarana kritik yang efektif, terutama bila disertai argumen yang jelas dan relevan. Selain itu, menunjukkan bahwa suatu klaim bertentangan dengan dirinya sendiri atau mengarah pada konsekuensi yang tidak masuk akal adalah langkah yang sah, selama dilakukan dengan penalaran yang dapat diperiksa dan tidak memelintir klaim aslinya.
Contoh 1: Tempat kerja
A: “Data menunjukkan rapat mingguan kita menghabiskan banyak waktu produktif. Bagaimana kalau frekuensinya dikurangi?”
B: “Oh, jadi kita tidak usah bertemu sama sekali dan kerja sendiri-sendiri? Sekalian saja bubarkan perusahaan!”
B mengubah usulan pengurangan rapat menjadi penghapusan total, lalu mengejeknya. Data A tidak ditanggapi.
Contoh 2: Politik
A: “Kita perlu memperbanyak jalur sepeda untuk mengurangi kemacetan.”
B: “Hebat sekali, nanti semua pejabat dan pekerja kantoran bersepeda ke tempat kerja sambil membawa map. Pemandangan yang indah!”
Sindiran B menggambarkan usulan secara konyol tanpa membahas data kemacetan atau efektivitas jalur sepeda.
Contoh 3: Kesehatan
A: “Bukti menunjukkan bahwa tidur kurang dari enam jam secara rutin meningkatkan risiko gangguan kesehatan.”
B: “Ah, jadi kita semua harus tidur seperti bayi sepanjang hari? Pantas saja tidak ada yang bekerja.”
B memelintir klaim A menjadi versi yang berlebihan lalu menertawakannya, bukan menanggapi buktinya.
Contoh 4: Media sosial
A: “Saya rasa pengelolaan sampah plastik perlu diatur lebih ketat.”
B: “Wah, nanti kita belanja pakai daun pisang semua ya? Selamat kembali ke zaman batu! 😂”
Komentar B memakai karikatur dan humor, bukan argumen yang menjawab usulan A.
Contoh 5: Pendidikan
A: “Sebaiknya jam masuk sekolah dimundurkan karena penelitian menunjukkan remaja butuh tidur lebih lama.”
B: “Oh, nanti sekalian saja sekolahnya mulai siang dan pulang malam, ya? Murid tinggal bawa bantal.”
B menertawakan usulan dengan membesar-besarkannya, tanpa menanggapi penelitian yang disebutkan.
Contoh yang bukan appeal to ridicule
“Jika kita menerima aturan bahwa setiap pendapat yang tidak kita sukai harus dilarang, maka pendapat Anda sendiri pun bisa dilarang suatu hari nanti. Aturan itu mengarah pada hasil yang bertentangan dengan tujuan Anda sendiri.”
Argumen ini menelusuri konsekuensi logis dari suatu prinsip tanpa memelintir atau mengolok-olok. Ini adalah penggunaan reductio ad absurdum yang sah.
Cara paling efektif agar tidak menjadi sasaran appeal to ridicule adalah menyampaikan klaim Anda dengan rumusan yang jelas, tepat, dan sulit dipelintir. Sebutkan batas usulan Anda sejak awal, misalnya bahwa yang diusulkan hanyalah pengurangan rapat dan bukan penghapusannya. Sertakan data dan alasan yang mendukung agar audiens menilai isi argumen dan bukan hanya kesan lucu yang ditimbulkan. Semakin jelas rumusan Anda, semakin sulit orang membuat karikatur darinya.
Selanjutnya, jaga sikap tenang dan jangan terpancing membalas dengan ejekan serupa. Membalas olok-olok dengan olok-olok hanya memperburuk suasana dan menjauhkan diskusi dari substansi. Bila ada bagian dari ejekan yang mengandung kritik yang sah, akui bagian itu dengan terbuka. Sikap ini menunjukkan kepercayaan diri dan kesediaan menimbang masukan, sehingga audiens melihat bahwa Anda berpegang pada alasan dan bukan pada emosi.
Apabila lawan bicara menjawab dengan ejekan, kembalikan diskusi pada pokok persoalan dengan sopan namun tegas. Misalnya, “Itu lelucon yang menarik, tetapi bukan itu yang saya usulkan. Usulan saya adalah mengurangi rapat, dan ini data pendukungnya. Bagian mana yang menurut Anda keliru?” Tanggapan seperti ini meluruskan klaim yang dipelintir sekaligus mengajak lawan bicara menjawab isi argumen. Dengan cara itu, Anda tidak membiarkan tawa menggantikan pembuktian.