Paradoks Problem of Personal Identity

Problem of Personal Identity

Dipublikasikan: 22 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2026

Problem of Personal Identity (Masalah Identitas Personal) adalah salah satu topik paling lama dibahas dalam metafisika dan filsafat pikiran. Pembahasan modernnya dimulai oleh John Locke dalam An Essay Concerning Human Understanding (edisi kedua, 1694), Bab “Of Identity and Diversity” (Buku II, Bab 27). Joseph Butler menanggapinya dalam lampiran The Analogy of Religion (1736), dan Thomas Reid mengajukan keberatan pada abad ke-18. David Hume membahas kesatuan diri dalam A Treatise of Human Nature (1739).

Pada abad ke-20, perdebatan mengalami kebangkitan besar. Bernard Williams menerbitkan “Personal Identity and Individuation” pada 1956–1957, dan Sydney Shoemaker menulis tentang identitas personal dan ingatan pada 1959. Derek Parfit menerbitkan artikel “Personal Identity” pada 1971 dan buku Reasons and Persons pada 1984, yang dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam bidang ini. John Perry, Mark Johnston, Eric Olson, dan banyak lainnya melanjutkan perdebatan itu, termasuk dengan munculnya pandangan yang disebut animalisme.

Topik ini juga dibahas di luar filsafat murni. Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas tindakan masa lalu, siapa yang berhak atas warisan, dan apa artinya bertahan hidup, memiliki akibat dalam etika, hukum, dan bioetika. Karena itu, para ahli kerap menyebut persoalan ini bukan satu masalah tunggal, melainkan sekumpulan persoalan yang saling berkaitan secara longgar.

Pengertian Problem of Personal Identity

Masalah identitas personal adalah sekumpulan pertanyaan filosofis tentang apa yang membuat seseorang pada satu waktu merupakan orang yang sama dengan seseorang pada waktu lain, dan lebih luas lagi tentang hakikat diri kita sebagai pribadi. Pertanyaan yang paling banyak dibahas adalah pertanyaan keberlangsungan (persistence): dalam kondisi apa seseorang di masa depan adalah Anda, dan seseorang di masa lalu adalah Anda?

Setiap orang berubah banyak selama hidupnya, baik secara biologis, psikologis, sosial, maupun fisik. Anda hari ini sangat berbeda dari Anda pada tahun lalu, dua puluh tahun lalu, atau pada hari kelahiran Anda. Namun tampaknya hanya satu orang yang bertahan melalui seluruh perubahan itu. Masalahnya adalah menjelaskan apa yang membuat hal itu benar.

Baca juga :  Baruch Spinoza

Beberapa istilah kunci perlu dipahami.

  • Identitas numerik: keadaan ketika dua hal yang tampak berbeda sebenarnya hanya satu hal, berbeda dari kemiripan kualitatif.
  • Kriteria identitas: syarat yang menentukan kapan seseorang pada satu waktu identik dengan seseorang pada waktu lain.
  • Pandangan psikologis (Lockean): pandangan bahwa kita bertahan selama ada kesinambungan psikologis, yaitu rantai tumpang tindih hubungan ingatan, keyakinan, keinginan, dan niat.
  • Animalisme: pandangan bahwa kita adalah hewan manusia dan bertahan dalam kondisi yang sama dengan organisme biologis lain.
  • Fisi (fission): skenario ketika satu orang membelah menjadi dua orang yang masing-masing memiliki kesinambungan psikologis dengan orang asal.

Dalam pandangan psikologis modern, seseorang terhubung secara psikologis dengan Anda sekarang bila keadaan psikologisnya sebagian besar disebabkan oleh keadaan psikologis Anda sekarang melalui jalur kausal yang tepat. Kesinambungan psikologis adalah rantai tumpang tindih hubungan semacam itu. Pandangan ini bertumpu pada gagasan Locke, tetapi menggantikan ingatan dengan ketergantungan kausal yang lebih umum.

Pertanyaan keberlangsungan hanyalah salah satu dari beberapa persoalan. Pertanyaan lain menyangkut apakah kita termasuk jenis makhluk apa (hewan, jiwa, atau yang lain), dan apa yang penting bagi kita dalam bertahan hidup. Karena itu tidak ada satu masalah identitas personal, tetapi serangkaian pertanyaan yang saling terkait.

Argumen Problem of Personal Identity

Pandangan Psikologis

Pandangan psikologis berakar pada Locke, yang mengaitkan identitas personal dengan kesadaran dan ingatan. Dalam abad ke-20, Shoemaker membahas hubungan antara identitas personal dan ingatan, dan menunjukkan bahwa ingatan sendiri tidak cukup. Jalan keluar yang lebih baik, menurut perkembangan berikutnya, adalah mengganti ingatan dengan konsep ketergantungan kausal yang lebih umum, sehingga muncul pembedaan antara keterhubungan psikologis dan kesinambungan psikologis.

Pandangan semacam ini dibela oleh banyak filsuf, termasuk Parfit, Perry, Lewis, dan Johnston. Sebagian besar filsuf yang menulis tentang identitas personal sejak awal abad ke-20 menganut versi tertentu dari pandangan ini.

Keberatan Fisi dan Percabangan

Keberatan utama terhadap pandangan psikologis adalah masalah fisi. Jika seseorang membelah menjadi dua orang yang masing-masing memiliki kesinambungan psikologis dengan orang asal, kedua orang itu tidak dapat sama-sama identik dengan orang asal, karena identitas bersifat transitif. Namun tampaknya tidak ada alasan untuk memilih salah satunya.

Baca juga :  Marxisme–Leninisme

Parfit memakai skenario ini untuk menyimpulkan bahwa identitas bukan yang penting. Ia mengusulkan agar identitas dipandang sebagai kesinambungan psikologis tak bercabang (non-branching). Pada kasus fisi, pertanyaan identitas tidak punya jawaban mendalam dan hanya soal bagaimana kita memutuskan memakai bahasa identitas. Perry menanggapi masalah fisi dalam artikel berjudul “Can the Self Divide?”, yang dalam tinjauan disebut sebagai tanggapan yang cukup teknis terhadap kasus fisi. Kajian lain membahas kasus pembelahan otak (brain bisection) sebagai bahan pemikiran serupa.

Animalisme dan Pandangan Biologis

Pandangan lawan dari pandangan psikologis adalah animalisme. Para animalis menyatakan bahwa kita adalah hewan manusia dan bertahan melalui waktu dan perubahan dalam kondisi yang sama dengan organisme biologis lain. Karena kapasitas psikologis tidak esensial bagi hewan, dan kondisi keberlangsungan hewan bukan bersifat psikologis, animalisme berlawanan langsung dengan pandangan Lockean.

Mark Johnston menulis artikel berpengaruh tentang manusia sebagai makhluk yang bertahan melalui waktu, dan belakangan menerbitkan lanjutan yang berjudul “Human Beings Revisited: My Body Is Not an Animal”. Keberatan penting terhadap animalisme adalah masalah terlalu banyak pemikir (too-many-thinkers problem): jika organisme manusia dapat berpikir dan sekaligus ada orang yang berpikir, tampak ada dua pemikir di tempat yang sama.

Pandangan Naratif

Pandangan ketiga menekankan narasi. Menurut pandangan naratif, makhluk di masa lalu adalah Anda hanya bila Anda sekarang memiliki narasi dengan jenis yang tepat yang mengidentifikasi Anda dengan dia sebagaimana dahulu, dan makhluk di masa depan adalah Anda bila narasi yang ia miliki saat itu mengidentifikasinya dengan Anda sekarang. Mengingat sebuah peristiwa mungkin diperlukan agar peristiwa itu masuk dalam narasi pembentuk identitas, tetapi tidak cukup, dan inilah yang membedakan pandangan naratif dari pandangan kesinambungan psikologis.

Marya Schechtman dikenal sebagai penganut pandangan naratif. Eric Olson dan Kathleen Witt menulis kritik atas pandangan ini dalam artikel tentang narasi dan keberlangsungan.

Apa yang Penting dalam Bertahan Hidup

Parfit membawa persoalan ini ke arah lain. Menurutnya, identitas sendiri tidak memiliki arti praktis. Kesinambungan psikologis dengan sebab apa pun yang andal menjadi hal yang penting dalam bertahan hidup. Karena identitas personal tidak terdiri atas kesinambungan psikologis dengan sebab apa pun, identitas personal bukan yang penting dalam bertahan hidup. Ia membahas gagasan ini lebih jauh dalam artikel yang menanggapi pandangan bahwa identitas diri penting.

Baca juga :  Appeal to Popularity Fallacy

Pandangan ini tidak diterima semua orang. Sebagian filsuf berargumen bahwa identitas memang penting, dan perdebatan itu berlanjut hingga kini. Bernard Williams, dalam “The Self and the Future”, mengajukan skenario yang menimbulkan pertanyaan tentang kaitan antara kepedulian diri dan identitas. Bahkan pertanyaan bahwa apakah eksperimen pikiran seperti itu dapat dipercaya menjadi bahan perdebatan metodologis.

Batasan dan Kritik

Beberapa catatan perlu diingat. Pertama, tidak ada konsensus tentang kondisi keberlangsungan, dan setiap pandangan menghadapi kasus yang sulit. Kedua, argumen sering bertumpu pada eksperimen pikiran yang menimbulkan intuisi berbeda pada orang berbeda, dan keandalan intuisi itu sendiri dipersoalkan. Ketiga, pembedaan antara pertanyaan keberlangsungan, hakikat diri, dan apa yang penting sering tercampur sehingga memunculkan salah paham. Keempat, jawaban berbeda memiliki akibat praktis yang berbeda dalam etika dan hukum, sehingga perdebatan tidak hanya bersifat akademis.

Meski demikian, topik ini tetap penting. Ia mendorong refleksi tentang apa artinya menjadi diri yang sama sepanjang waktu, dan menjadi dasar perdebatan tentang tanggung jawab, kepedulian terhadap masa depan, dan bertahan hidup.

Referensi

  • Johnston, M. (1987). Human beings. The Journal of Philosophy, 84(2), 59–83.
  • Olson, E. T., & Witt, K. (2019). Narrative and persistence. Canadian Journal of Philosophy, 49(3), 419–434.
  • Parfit, D. (1971a). Personal identity. The Philosophical Review, 80(1), 3–27.
  • Parfit, D. (1971b). On “The importance of self-identity.” The Journal of Philosophy, 68(20), 683–690.
  • Perry, J. (1972). Can the self divide? The Journal of Philosophy, 69(16), 463–488.
  • Puccetti, R. (1973). Brain bisection and personal identity. The British Journal for the Philosophy of Science, 24(4), 339–355.
  • Shoemaker, S. (1959). Personal identity and memory. The Journal of Philosophy, 56(22), 868–882.
  • Williams, B. (1957). Personal identity and individuation. Proceedings of the Aristotelian Society, 57, 229–252.
  • Williams, B. (1970). The self and the future. The Philosophical Review, 79(2), 161–180.

Citation

Previous Article

Mikhail Bakunin

Next Article

Sugiyono - Statistika untuk Penelitian | Review & Ebook

Citation copied!