Dipublikasikan: 5 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2026
Dipublikasikan: 5 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2026
Seorang ayah menasihati anaknya agar berhenti merokok demi kesehatan. Sang anak menjawab, “Ayah sendiri merokok bertahun-tahun, jadi tidak usah menceramahi saya.” Nasihat tentang bahaya merokok tidak dibahas sama sekali. Yang dipersoalkan hanyalah ketidakkonsistenan si penasihat.
Itulah gambaran tu quoque, istilah Latin yang berarti “kamu juga”. Kekeliruan ini muncul ketika seseorang menangkis kritik atau argumen dengan menuding bahwa pihak yang mengkritik juga melakukan hal yang sama atau pernah bersikap bertentangan. Tuduhan balik tersebut sering terasa adil secara moral, sehingga mudah diterima tanpa disadari bahwa persoalan awalnya belum dijawab.
Tu quoque sering muncul dalam debat politik, perselisihan rumah tangga, diskusi di media sosial, hingga pembelaan diri atas kesalahan. Memahaminya membantu kita membedakan antara menunjukkan kemunafikan seseorang, yang bisa jadi benar, dan menjawab tuduhan atau argumen yang sebenarnya diajukan.
Daftar Isi
Tu quoque adalah kekeliruan penalaran logika, yang merupakan salah satu bentuk ad hominem, ketika seseorang menolak argumen atau kritik dengan menunjukkan bahwa penuturnya sendiri tidak konsisten, yakni melakukan hal yang ia kritik atau pernah mengatakan hal yang bertentangan, tanpa menilai isi argumen itu sendiri. Dalam literatur, bentuk ini juga dikenal sebagai you-too argument atau appeal to hypocrisy.
Pola penalarannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kekeliruannya terletak pada langkah ketiga. Ketidakkonsistenan penutur hanya menunjukkan adanya kemunafikan atau kelemahan karakter, bukan bukti bahwa klaimnya salah. Kebenaran sebuah pernyataan tidak bergantung pada apakah penuturnya mampu menjalankannya. Perokok yang menasihati orang lain tentang bahaya rokok tetap menyampaikan fakta yang benar.
Selain itu, tu quoque kerap dipakai sebagai pembelaan diri: “Kamu juga melakukannya, jadi saya tidak bersalah.” Ini keliru karena kesalahan pihak lain tidak menghapus kesalahan sendiri. Dua orang bisa sama-sama bersalah.
Dalam kerangka pragma-dialektika, serangan ini dianggap menghambat diskusi kritis karena mengalihkan fokus dari pokok perbedaan pendapat ke perilaku penutur.
Beberapa ciri yang membantu mengenali tu quoque:
Perlu dibedakan dari kritik yang sah. Menunjukkan ketidakkonsistenan bisa relevan ketika klaim memang bergantung pada konsistensi penuturnya, misalnya menilai kredibilitas seseorang yang mengaku menjalankan prinsip tertentu tetapi terbukti melanggarnya. Ketidakkonsistenan juga sah dipakai untuk menguji ketulusan atau keandalan penutur, selama tidak disimpulkan bahwa isi klaimnya otomatis salah.
Contoh 1: Keluarga
A: “Merokok sangat berbahaya bagi paru-paru, sebaiknya kamu berhenti.”
B: “Kamu sendiri perokok, jadi ucapanmu tidak perlu didengar.”
Status A sebagai perokok mungkin menunjukkan ketidakkonsistenan, tetapi fakta tentang bahaya merokok tidak berubah.
Contoh 2: Politik
A: “Pemerintah daerah ini perlu transparan soal penggunaan anggaran.”
B: “Pemerintahan Anda dulu juga tidak transparan, jadi tidak pantas mengkritik kami.”
B tidak menjawab tuntutan transparansi. Ia hanya membalas dengan tudingan atas masa lalu A.
Contoh 3: Lingkungan kerja
A: “Kamu terlambat menyerahkan laporan, ini mengganggu jadwal tim.”
B: “Bulan lalu kamu juga terlambat, jadi jangan menyalahkan saya.”
Keterlambatan A sebelumnya tidak membenarkan keterlambatan B sekarang.
Contoh 4: Isu lingkungan
A: “Kita perlu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.”
B: “Kamu kan masih sering pesan makanan pakai kemasan plastik, jadi usulanmu omong kosong.”
Pola konsumsi A tidak menentukan apakah pengurangan plastik sekali pakai itu perlu atau tidak.
Contoh yang bukan tu quoque
“Pejabat ini berkampanye bahwa ia anti-korupsi, tetapi ia sendiri terbukti menerima suap. Karena itu, klaim integritasnya tidak dapat dipercaya.”
Di sini, klaim yang dipersoalkan adalah soal integritas pribadi penuturnya, sehingga ketidakkonsistenannya relevan langsung. Pernyataan ini tidak menyimpulkan bahwa antikorupsi itu sendiri salah.
Cara paling efektif agar tidak menjadi sasaran tu quoque adalah menjaga konsistensi antara ucapan dan tindakan Anda sejauh mungkin. Ketika perilaku Anda sejalan dengan pendapat yang disampaikan, lawan bicara kehilangan bahan untuk menuding kemunafikan. Bila Anda menyadari ada ketidakkonsistenan, lebih baik mengakuinya sejak awal, misalnya dengan mengatakan bahwa Anda sendiri sedang berusaha memperbaiki diri. Sikap jujur seperti ini mengurangi daya serang tuduhan balik karena tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Selanjutnya, bangun argumen yang berdiri sendiri tanpa bergantung pada teladan pribadi Anda. Sampaikan data, alasan, dan sumber yang dapat diperiksa siapa pun, sehingga kebenaran klaim tidak bertumpu pada kredibilitas Anda sebagai penutur. Dengan begitu, meskipun perilaku Anda dipersoalkan, audiens tetap dapat menilai isi gagasan secara langsung.
Apabila tuduhan balik tetap datang, akui hal yang memang benar tanpa membiarkan diskusi berpindah topik. Misalnya, “Anda benar, saya juga belum sepenuhnya konsisten, tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah merokok berbahaya bagi kesehatan?” Tanggapan ini menunjukkan kerendahan hati sekaligus menegaskan bahwa kebenaran klaim tidak bergantung pada kesempurnaan penuturnya. Dengan cara itu, Anda mengembalikan fokus pada substansi dan mendorong lawan bicara untuk menjawab pokok persoalan.