Filsafat Claude Lévi-Strauss

Claude Lévi-Strauss

Dipublikasikan: 5 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 6 Oktober 2026

Claude Lévi-Strauss (1908-2009), antropolog Prancis kelahiran Brussel yang dikenal sebagai pendiri antropologi struktural dan salah satu arsitek utama strukturalisme abad kedua puluh. Berangkat dari pendidikan filsafat di Universitas Paris, Lévi-Strauss meninggalkan jalur akademik konvensional itu setelah menerima tawaran mengajar sosiologi di Universitas São Paulo, Brasil, pada 1935, sebuah keputusan yang membawanya pada pengalaman lapangan langsung bersama suku-suku pribumi Amazon, termasuk Nambikwara dan Bororo, dan yang menjadi titik balik yang mengubah arah intelektualnya secara permanen dari filsafat menuju antropologi.

Sumbangan paling mendasar Lévi-Strauss adalah penerapan metode linguistik strukturalis, yang ia pelajari langsung dari Roman Jakobson ketika keduanya sama-sama mengungsi di New York selama Perang Dunia Kedua, ke dalam analisis kebudayaan manusia secara luas. Dalam karya-karya seperti Les structures élémentaires de la parenté (1949), Tristes tropiques (1955), Anthropologie structurale (1958), dan proyek empat jilid Mythologiques (1964-1971), ia berargumen bahwa di balik keragaman kebudayaan manusia yang tampak di permukaan, baik sistem kekerabatan, mitos, sistem klasifikasi totemik, maupun praktik memasak, tersembunyi struktur-struktur universal yang bersumber dari cara kerja pikiran manusia itu sendiri, yang beroperasi melalui logika oposisi biner sebagaimana ditemukan Saussure dan Jakobson dalam bahasa. Lewat pendekatan ini, Lévi-Strauss menolak pandangan evolusionis yang menempatkan masyarakat “primitif” di tangga lebih rendah dibandingkan masyarakat modern, dan sebaliknya menunjukkan bahwa yang disebutnya “pikiran liar” (la pensée sauvage) memiliki kerumitan logis yang setara dengan pikiran ilmiah modern, hanya beroperasi dengan prinsip yang berbeda.

Pengaruh Lévi-Strauss meluas jauh melampaui disiplin antropologi, membentuk arah pemikiran strukturalis dan pascastrukturalis Prancis secara keseluruhan, termasuk memberi kerangka konseptual yang kemudian dipinjam dan dimodifikasi oleh Jacques Lacan dalam psikoanalisis, Roland Barthes dalam semiotika sastra, dan Louis Althusser dalam teori Marxis. Ia menduduki kursi Antropologi Sosial di Collège de France dari 1959 hingga pensiun pada 1982, terpilih sebagai anggota Académie Française pada 1973, sebuah kehormatan langka bagi seorang antropolog, dan meninggal di Paris pada usia hampir seratus satu tahun, dikenang sebagai salah satu intelektual paling berpengaruh pada abad kedua puluh dalam membentuk kembali cara disiplin kemanusiaan memahami pikiran dan kebudayaan manusia.

Biografi Claude Lévi-Strauss

Gustave Claude Lévi-Strauss lahir pada 28 November 1908 di Brussel, Belgia, tempat kedua orang tuanya yang berkebangsaan Prancis tinggal sementara karena ayahnya, Raymond Lévi-Strauss, bekerja sebagai pelukis potret. Keluarganya berasal dari tradisi Yahudi Prancis dengan latar belakang seni yang kuat, dan ia dibesarkan di Paris, tepatnya di sebuah jalan di distrik 16 yang elegan, dinamai dari pelukis Claude Lorrain yang kelak ia kagumi dan tuliskan. Selama Perang Dunia Pertama, dari usia enam hingga sepuluh tahun, ia tinggal bersama kakek dari pihak ibu, seorang rabi di Versailles, sebuah pengalaman yang menempatkannya dekat dengan tradisi keagamaan meski di masa dewasanya ia menjadi ateis atau agnostik. Pendidikan menengahnya ditempuh di Lycée Janson de Sailly, Paris, dari 1918 hingga 1925, dan pada tahun terakhirnya di sekolah itu ia mulai diperkenalkan pada filsafat, termasuk karya Marx dan Kant, yang mendorongnya condong ke arah politik kiri meski ia tidak pernah bergabung dengan Partai Komunis.

Lévi-Strauss melanjutkan studi hukum dan filsafat di Universitas Paris (Sorbonne). Ia meninggalkan jalur hukum setelah memperoleh lisensinya, dan pada 1931, di usia dua puluh dua tahun, lulus ujian agregasi filsafat (agrégation de philosophie), sebuah ujian kompetitif yang sangat ketat untuk menjadi pengajar tingkat tinggi di Prancis, dengan peringkat ketiga sekaligus menjadi yang termuda di angkatannya. Masa Depresi Besar yang melanda Prancis saat itu memaksanya untuk turut menanggung kebutuhan ekonomi orang tuanya. Ia kemudian mengajar selama dua tahun di sekolah menengah di Mont-de-Marsan dan Laon, dengan rekan sejawat yang kelak juga menjadi tokoh besar filsafat Prancis, Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, yang mengajar di sekolah yang sama.

Titik balik penting dalam hidupnya terjadi pada 1935, ketika ia menerima tawaran mendadak untuk bergabung dalam misi kebudayaan Prancis ke Brasil sebagai profesor tamu sosiologi di Universitas São Paulo yang baru didirikan. Pada 1932 ia telah menikahi Dina Dreyfus, seorang etnolog terlatih yang juga menjadi profesor tamu etnologi di universitas yang sama, dan pasangan ini bersama-sama menjalankan ekspedisi etnografis ke wilayah pedalaman Brasil, termasuk Mato Grosso dan kawasan Amazon, antara 1935 hingga 1939. Dalam ekspedisi-ekspedisi inilah Lévi-Strauss melakukan satu-satunya kerja lapangan etnografis langsungnya, mengunjungi dan mencatat kehidupan suku-suku seperti Nambikwara, Bororo, dan Caduveo. Kontribusi Dina Dreyfus dalam penelitian bersama ini, menurut catatan sejarah, kemudian banyak terlupakan, sebagian karena Lévi-Strauss sendiri hanya menyebut namanya sekali dalam buku memoarnya yang terkenal, Tristes Tropiques, dan pernikahan keduanya berakhir dengan perceraian setelah mereka kembali ke Prancis.

Lévi-Strauss kembali ke Prancis pada 1939 untuk ikut serta dalam upaya perang, namun setelah kekalahan Prancis dan pendudukan Jerman, sebagai keturunan Yahudi ia terpaksa melarikan diri. Pada 1941 ia berangkat ke Amerika Serikat dan mengajar di sayap Prancis dari New School for Social Research di New York, sebuah institusi yang dibiayai Rockefeller Foundation dan menjadi tempat pengungsian bagi banyak intelektual Eropa yang melarikan diri dari fasisme. Di New York inilah ia berkenalan dan menjalin persahabatan intelektual yang menentukan dengan Roman Jakobson, linguis strukturalis Rusia yang juga mengungsi di sana. Pertemuan dengan Jakobson inilah yang memperkenalkan Lévi-Strauss secara mendalam pada linguistik strukturalis, dan menjadi fondasi metodologis bagi seluruh proyek antropologi strukturalnya kemudian. Selama periode ini ia juga turut mendirikan École Libre des Hautes Études di New York bersama sejumlah intelektual Prancis lain yang mengungsi, dan sempat dipanggil kembali ke Prancis pada 1944-1945 sebagai penasihat kebudayaan Kedutaan Besar Prancis, sebelum akhirnya menetap kembali di tanah airnya setelah perang berakhir.

Kembali di Prancis, Lévi-Strauss memperoleh gelar doktor sastra dari Universitas Paris pada 1948 dengan disertasi yang kelak diterbitkan sebagai Les structures élémentaires de la parenté (1949), karya besar pertamanya yang menganalisis sistem kekerabatan di berbagai masyarakat sebagai sistem pertukaran dan komunikasi yang mengikuti kaidah-kaidah struktural tertentu. Pada 1949 ia diangkat sebagai kurator madya di Musée de l’Homme, Paris, dan pada 1950 menjadi direktur studi di École Pratique des Hautes Études, memegang kursi kajian agama-agama masyarakat tanpa aksara. Antara 1953 hingga 1960 ia juga menjabat sekretaris jenderal Dewan Ilmu Sosial Internasional di bawah UNESCO. Kehidupan pribadinya turut berubah pada masa ini: setelah bercerai dari Dina Dreyfus, ia menikahi Rose-Marie Ullmo pada 1946, yang memberinya seorang putra bernama Laurent, sebelum pernikahan itu pun berakhir, dan kemudian menikahi Monique Roman pada 1954, yang memberinya putra kedua bernama Matthieu.

Puncak pengakuan akademisnya datang pada 1959, ketika atas dukungan kuat dari filsuf Maurice Merleau-Ponty, Lévi-Strauss terpilih menduduki kursi Antropologi Sosial di Collège de France, lembaga akademik paling bergengsi di Prancis, setelah dua kali gagal dicalonkan sebelumnya pada 1949 dan 1950. Ia memegang posisi ini hingga pensiun pada 1982, sembari mendirikan dan memimpin Laboratorium Antropologi Sosial sejak 1960 serta jurnal L’Homme pada tahun yang sama, dua institusi yang berperan besar dalam meletakkan fondasi antropologi sebagai disiplin akademik yang mapan di Prancis. Sepanjang masa jabatannya di Collège de France inilah ia menerbitkan karya-karya paling berpengaruh dalam kariernya, termasuk Tristes Tropiques (1955), memoar perjalanan yang sekaligus menjadi renungan filosofis tentang peradaban Barat dan yang membawanya pada ketenaran luas di luar kalangan akademik, Anthropologie structurale (1958), La Pensée sauvage (1962), dan proyek monumental empat jilid Mythologiques (1964-1971) yang menganalisis ratusan mitos dari berbagai masyarakat asli Amerika.

Pengakuan atas karyanya terus mengalir pada dekade-dekade berikutnya. Pada 1973 ia terpilih sebagai anggota Académie Française, kehormatan tertinggi bagi seorang intelektual Prancis yang jarang diberikan kepada antropolog. Lévi-Strauss terus menulis dan menerbitkan karya hingga usia lanjut, dan pada masa tuanya menjadi salah satu intelektual Prancis paling dihormati dan dianggap sebagai “dekan” para pemikir Prancis yang masih hidup. Ia meninggal di Paris pada 30 Oktober 2009, hanya kurang dari sebulan sebelum usianya genap seratus satu tahun, mengakhiri sebuah karier yang membentang hampir sepanjang abad kedua puluh dan yang secara mendasar mengubah cara disiplin ilmu kemanusiaan memahami hubungan antara pikiran, bahasa, dan kebudayaan manusia.

Pemikiran Claude Lévi-Strauss

Dari Fungsionalisme ke Strukturalisme: Pengaruh Linguistik Saussure dan Jakobson

Ketika Lévi-Strauss mulai menekuni antropologi pada pertengahan 1930-an, disiplin ini masih didominasi oleh dua aliran besar yang, meski berbeda metode, sama-sama menolak pendekatan yang kelak ia rintis. Di Inggris, fungsionalisme Bronisław Malinowski dan strukturalisme-fungsional A. R. Radcliffe-Brown memahami setiap unsur kebudayaan, baik ritual, sistem kekerabatan, maupun kepercayaan, sebagai sesuatu yang memiliki fungsi tertentu bagi keberlangsungan masyarakat secara keseluruhan, sebuah logika yang meminjam analogi organisme biologis: setiap organ ada karena menjalankan fungsi yang menopang kehidupan tubuh secara utuh. Di Amerika, aliran historikal-partikularis yang dirintis Franz Boas menolak generalisasi lintas budaya dan menekankan kekhasan sejarah masing-masing kebudayaan, dengan tiap kebudayaan dipahami sebagai hasil proses difusi dan akumulasi historis yang unik, tidak dapat direduksi menjadi hukum universal. Lévi-Strauss menghormati kedua tradisi ini, dan secara eksplisit mengakui utang intelektualnya kepada Boas, yang karyanya ia baca intensif ketika mengajar di New York pada awal 1940-an. Namun ia menilai keduanya berhenti pada level yang salah: fungsionalisme terlalu sibuk menjelaskan “untuk apa” suatu unsur kebudayaan ada, sementara partikularisme historis terlalu sibuk menelusuri “dari mana” ia berasal, dan keduanya melewatkan pertanyaan yang menurutnya paling mendasar, yaitu bagaimana unsur-unsur kebudayaan itu tersusun secara internal, sebagai sebuah sistem yang memiliki logikanya sendiri, terlepas dari fungsi praktis atau asal-usul historisnya.

Titik balik yang mengarahkan Lévi-Strauss pada jawaban atas pertanyaan ini terjadi di New York pada awal 1940-an, ketika ia, sebagai pengungsi Prancis yang melarikan diri dari pendudukan Jerman, berkenalan dengan Roman Jakobson, linguis Rusia yang juga mengungsi di kota yang sama dan mengajar di École Libre des Hautes Études, institusi yang turut didirikan Lévi-Strauss sendiri bersama sejumlah intelektual Prancis lain. Jakobson, salah satu tokoh utama Lingkaran Linguistik Praha, memperkenalkan Lévi-Strauss secara mendalam pada fonologi struktural, cabang linguistik yang dipelopori Nikolai Trubetzkoy dan dikembangkan Jakobson sendiri, yang menganalisis bunyi-bunyi bahasa (fonem) bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai unsur-unsur yang hanya memperoleh nilai dan identitasnya melalui hubungan oposisi dengan fonem-fonem lain dalam sistem. Pertemuan intelektual ini begitu menentukan sehingga Lévi-Strauss sendiri kelak menyebutnya sebagai pengalaman yang mengubah seluruh arah kariernya, dan dalam esai programatiknya “L’analyse structurale en linguistique et en anthropologie” (1945), yang ditulis tidak lama setelah pertemuan tersebut, ia untuk pertama kalinya merumuskan secara eksplisit program metodologis yang akan menjadi fondasi seluruh karyanya selanjutnya: meminjam metode fonologi struktural dan menerapkannya pada analisis fenomena sosial, terutama sistem kekerabatan.

Fondasi teoretis yang diwarisi Lévi-Strauss, baik secara langsung dari Jakobson maupun melalui pembacaannya atas Ferdinand de Saussure, bertumpu pada sejumlah prinsip kunci yang dirumuskan Saussure dalam Cours de linguistique générale (1916), kumpulan catatan kuliahnya yang disusun murid-muridnya setelah kematiannya. Prinsip pertama adalah pembedaan antara langue (bahasa sebagai sistem abstrak kaidah dan konvensi yang dimiliki bersama suatu komunitas penutur) dan parole (ujaran konkret yang diucapkan individu tertentu pada momen tertentu). Lévi-Strauss memetakan pembedaan ini langsung ke dalam antropologi: sebagaimana linguis tidak tertarik mencatat setiap ujaran individual, melainkan menyingkap tata bahasa abstrak yang memungkinkan ujaran-ujaran itu dipahami, antropolog struktural tidak semata mencatat perilaku dan kepercayaan individu dalam suatu masyarakat, melainkan berusaha menyingkap struktur abstrak, semacam “tata bahasa” kebudayaan, yang menjadi dasar tak disadari bagi perilaku dan kepercayaan tersebut. Prinsip kedua, yang bahkan lebih fundamental bagi metode struktural, adalah tesis Saussure bahwa nilai sebuah tanda bersifat diferensial dan relasional: makna sebuah kata tidak berasal dari hubungan positifnya dengan suatu benda atau konsep yang diacunya secara langsung, melainkan dari jaringan perbedaan dengan kata-kata lain dalam sistem yang sama. Kata “hitam” memperoleh maknanya bukan karena ada hubungan alamiah antara bunyi “hitam” dan warna tertentu, melainkan karena posisinya dalam sistem warna yang membedakannya dari “putih”, “merah”, dan seterusnya.

Dari prinsip relasional dan diferensial inilah Lévi-Strauss menyusun klaim metodologis sentralnya: unsur-unsur kebudayaan, sebagaimana unsur-unsur bahasa, tidak memiliki makna intrinsik jika dipisahkan dari sistem tempat mereka berada, dan karena itu tugas analisis struktural bukan mempelajari unsur-unsur kebudayaan satu per satu secara terisolasi, melainkan memetakan hubungan-hubungan di antara unsur-unsur tersebut dalam keseluruhan sistem. Prinsip ini menjadi dasar bagi penolakannya terhadap fungsionalisme: suatu aturan perkawinan atau praktik ritual, baginya, tidak dapat dipahami semata dengan menanyakan fungsi apa yang dijalankannya bagi masyarakat (pendekatan fungsionalis), melainkan harus dipahami melalui posisinya dalam jaringan relasi dengan aturan-aturan dan praktik-praktik lain dalam sistem kebudayaan yang sama, sebagaimana fonem /b/ hanya dapat dipahami melalui oposisinya dengan /p/, /d/, dan fonem-fonem lain dalam sistem bunyi suatu bahasa, bukan melalui sifat akustik intrinsiknya semata.

Dari Jakobson secara lebih spesifik, Lévi-Strauss juga mewarisi konsep oposisi biner (opposition binaire) sebagai mekanisme dasar yang menghasilkan makna dalam sistem fonologis. Jakobson dan rekannya Morris Halle berargumen bahwa seluruh sistem fonem dalam bahasa manusia, betapapun beragamnya bahasa-bahasa di dunia, dapat dianalisis sebagai kombinasi dari sejumlah terbatas ciri pembeda biner (distinctive features), seperti bersuara-tak bersuara, nasal-oral, dan seterusnya. Lévi-Strauss mengambil alih logika oposisi biner ini dan menjadikannya, sebagaimana akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya, prinsip universal yang menurutnya mendasari bukan hanya bahasa, melainkan seluruh cara kerja pikiran manusia dalam menyusun kebudayaan, termasuk sistem kekerabatan, mitos, dan klasifikasi totemik. Keyakinan ini membawanya pada klaim yang jauh lebih ambisius daripada sekadar meminjam metode linguistik sebagai alat analisis: bagi Lévi-Strauss, kesamaan struktural antara bahasa dan fenomena sosial lain bukan kebetulan metodologis, melainkan petunjuk bahwa keduanya sama-sama bersumber dari struktur dasar pikiran manusia yang bersifat tidak disadari (inconscient), sebuah pikiran yang beroperasi di bawah ambang kesadaran para pelaku kebudayaan itu sendiri, sebagaimana penutur suatu bahasa dapat berbicara dengan lancar dan tata bahasa yang benar tanpa mampu merumuskan secara eksplisit kaidah-kaidah gramatikal yang mereka terapkan.

Pergeseran dari fungsionalisme menuju strukturalisme ini juga membawa konsekuensi penting bagi status antropologi sebagai disiplin ilmu. Jika fungsionalisme dan partikularisme historis cenderung memandang antropologi sebagai ilmu yang mendeskripsikan keunikan masing-masing kebudayaan, Lévi-Strauss, terinspirasi ambisi saintifik linguistik struktural yang berhasil menemukan hukum-hukum formal yang berlaku universal pada seluruh bahasa manusia, bercita-cita menjadikan antropologi sebagai ilmu yang serupa: sebuah disiplin yang, melalui pembandingan sistematis berbagai kebudayaan, dapat menyingkap struktur-struktur universal yang mendasari keragaman kebudayaan manusia yang tampak di permukaan. Cita-cita inilah yang kelak diwujudkannya secara paling sistematis dalam karya pertamanya yang menerapkan metode struktural secara penuh, Les structures élémentaires de la parenté (1949), yang akan dibahas pada bagian berikutnya, serta dalam proyek monumentalnya menganalisis mitos-mitos masyarakat asli Amerika dalam Mythologiques. Penting dicatat bahwa penerapan model linguistik ke ranah sosial ini bukan tanpa kritik, bahkan dari kalangan strukturalis sendiri: sejumlah antropolog seperti Edmund Leach dan Rodney Needham kelak mempertanyakan apakah analogi antara struktur bahasa dan struktur sosial benar-benar tepat, mengingat bahasa beroperasi dengan satuan-satuan dasar yang jumlahnya terbatas dan kombinasinya diatur kaidah yang relatif ketat (fonem, morfem), sementara fenomena sosial seperti sistem kekerabatan jauh lebih kompleks dan melibatkan pertimbangan historis, ekonomi, dan politik yang tidak selalu dapat direduksi menjadi oposisi biner semata, sebuah keberatan yang terus menjadi bahan perdebatan dalam menilai batas dan kekuatan metode struktural Lévi-Strauss.

Struktur Elementer Kekerabatan dan Larangan Inses sebagai Transisi Alam ke Budaya

Les structures élémentaires de la parenté (1949), yang berasal dari disertasi doktoral Lévi-Strauss dan diterbitkan pada usianya yang keempat puluh satu, adalah karya pertama yang menerapkan secara penuh dan sistematis metode struktural yang baru ia rumuskan dalam esai programatik 1945, sekaligus karya yang mengokohkan reputasinya sebagai figur antropologi terkemuka. Buku ini berangkat dari sebuah teka-teki yang telah lama membingungkan para antropolog sebelumnya: mengapa hampir setiap masyarakat manusia, betapapun beragam kebudayaannya, memiliki larangan terhadap perkawinan inses, yaitu larangan menikah dengan kerabat dekat tertentu? Jawaban-jawaban sebelumnya, baik yang menekankan bahaya biologis perkawinan sedarah (degenerasi genetik) maupun yang menekankan naluri psikologis bawaan untuk menghindari kerabat dekat sebagaimana diusulkan Edward Westermarck, dinilai Lévi-Strauss tidak memadai, sebab penjelasan-penjelasan tersebut gagal menerangkan mengapa definisi “kerabat dekat” yang dilarang untuk dinikahi sangat bervariasi antarkebudayaan, dan mengapa larangan itu selalu disertai, secara positif, oleh aturan yang mewajibkan atau menganjurkan perkawinan dengan kerabat jenis tertentu lainnya, misalnya perkawinan sepupu silang (cross-cousin marriage) yang ditemukan secara luas di berbagai masyarakat.

Kontribusi paling orisinal Lévi-Strauss terletak pada pembalikan cara memandang persoalan ini: alih-alih bertanya mengapa inses dilarang, ia mengajukan pertanyaan terbalik, mengapa pertukaran perempuan antarkelompok menjadi begitu universal, dengan larangan inses dipahami bukan sebagai larangan itu sendiri yang menjadi inti persoalan, melainkan sebagai konsekuensi negatif dari sebuah imperatif positif yang jauh lebih mendasar: kewajiban untuk memberi. Di sini Lévi-Strauss meminjam secara langsung kerangka konseptual Marcel Mauss dalam Essai sur le don (1925), karya klasik antropologi Prancis yang menganalisis sistem pertukaran hadiah di berbagai masyarakat sebagai fenomena sosial total yang mengikat individu dan kelompok melalui siklus memberi, menerima, dan membalas. Lévi-Strauss memperluas logika pertukaran Maussian ini ke ranah perkawinan: jika suatu kelompok kekerabatan menahan perempuan-perempuannya untuk dinikahkan hanya di dalam kelompok itu sendiri (perkawinan endogami murni), tidak akan pernah terbentuk ikatan sosial yang mengikat kelompok tersebut dengan kelompok-kelompok lain. Larangan inses, dalam pembacaan ini, pada dasarnya adalah mekanisme yang memaksa setiap kelompok kekerabatan untuk “memberikan” perempuannya kepada kelompok lain, dan sebagai gantinya menerima perempuan dari kelompok lain pula, sehingga tercipta jaringan pertukaran yang mengikat berbagai kelompok sosial menjadi satu sistem sosial yang lebih besar. Perempuan, dalam kerangka struktural ini, diperlakukan Lévi-Strauss sebagai “tanda” tertinggi yang dipertukarkan antarkelompok, mengikuti logika pertukaran simbolik yang sama dengan pertukaran kata-kata dalam komunikasi linguistik, sebuah analogi yang kelak menjadi salah satu titik paling banyak dikritik dari seluruh teorinya, terutama oleh para antropolog feminis yang menilai kerangka ini mereduksi perempuan menjadi objek pasif dalam sistem yang sepenuhnya diatur oleh dan untuk kepentingan laki-laki.

Baca juga :  Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Untuk memformalkan logika pertukaran ini, Lévi-Strauss membedakan dua tipe dasar sistem perkawinan yang ia temukan dalam data etnografis lintas budaya: pertukaran terbatas (échange restreint) dan pertukaran umum (échange généralisé). Dalam pertukaran terbatas, dua kelompok kekerabatan saling bertukar perempuan secara langsung dan simetris, misalnya kelompok A memberikan perempuan kepada kelompok B, dan sebagai imbalannya kelompok B memberikan perempuan kepada kelompok A, sebuah pola yang secara struktural setara dengan perkawinan sepupu silang bilateral. Dalam pertukaran umum, pola pertukaran tidak bersifat simetris dan langsung antara dua kelompok, melainkan melibatkan rantai yang lebih panjang: kelompok A memberikan perempuan kepada kelompok B, kelompok B memberikan kepada kelompok C, dan seterusnya, hingga pada akhirnya rantai tersebut kembali melingkar ke kelompok A, sebuah pola yang secara struktural setara dengan perkawinan sepupu silang matrilateral yang ditemukan Lévi-Strauss secara luas pada masyarakat-masyarakat di Asia Tenggara, Siberia, dan sejumlah wilayah lain. Lévi-Strauss berargumen bahwa pertukaran umum, meski secara struktural lebih kompleks dan menuntut tingkat kepercayaan sosial yang lebih tinggi (sebab kelompok A harus percaya bahwa rantai pertukaran pada akhirnya akan kembali kepadanya, bukan sekadar bertukar langsung dengan mitra yang sudah pasti), pada akhirnya menghasilkan integrasi sosial yang jauh lebih luas dan lebih kokoh dibandingkan pertukaran terbatas, sebab ia mengikat lebih banyak kelompok ke dalam satu jaringan pertukaran yang saling bergantung.

Di balik seluruh analisis teknis tentang sistem kekerabatan ini, Lévi-Strauss mengangkat sebuah klaim filosofis yang jauh lebih luas jangkauannya: larangan inses, baginya, menempati posisi yang unik dan paradoksal sebagai satu-satunya fenomena manusia yang sekaligus bersifat universal (ditemukan di seluruh kebudayaan manusia tanpa kecuali, sehingga tampak seperti fakta alamiah) dan bersifat normatif (ia adalah sebuah aturan, kaidah yang dapat dilanggar, sehingga tampak seperti produk budaya). Sifat ganda inilah yang menjadikan larangan inses, bagi Lévi-Strauss, sebagai titik pertemuan atau jembatan antara dua ranah yang selama ini dipahami secara terpisah dalam filsafat dan ilmu sosial Barat, yaitu Alam (Nature), ranah yang diatur hukum biologis dan universal, dan Budaya (Culture), ranah yang diatur konvensi sosial dan karena itu bervariasi antarmasyarakat. Larangan inses adalah momen di mana Alam, melalui universalitasnya, memaksa dirinya untuk melangkah ke dalam Budaya, dan sekaligus momen di mana Budaya, melalui bentuk normatifnya sebagai aturan yang dapat dipatuhi atau dilanggar, pertama kali menegaskan dirinya terpisah dari determinisme biologis murni. Dengan kata lain, larangan inses, bagi Lévi-Strauss, adalah peristiwa pendirian kebudayaan itu sendiri, titik asali tempat spesies manusia pertama kali beralih dari eksistensi yang semata diatur naluri menuju eksistensi yang diatur oleh sistem simbolik dan aturan sosial.

Gagasan tentang larangan inses sebagai titik transisi Alam-Budaya ini memberi Lévi-Strauss dasar untuk merumuskan tesis yang jauh lebih luas tentang hakikat kebudayaan manusia secara umum: bahwa kriteria yang membedakan Budaya dari Alam bukanlah isi atau kandungan spesifik dari suatu praktik, melainkan keberadaan kaidah (règle) itu sendiri sebagai prinsip pengorganisasian. Di mana pun ada kaidah yang mengatur perilaku, betapapun kaidah itu bervariasi isinya antarkebudayaan, di situlah ranah Budaya telah bermula, berbeda dari Alam yang diatur keteraturan tanpa kaidah normatif dalam pengertian sosial. Kerangka Alam-Budaya ini menjadi salah satu pasangan oposisi biner paling fundamental dalam seluruh korpus pemikiran Lévi-Strauss, dan akan terus muncul kembali dalam analisisnya tentang totemisme, sistem klasifikasi, dan terutama dalam proyek besar Mythologiques, di mana oposisi antara yang mentah (alamiah) dan yang dimasak (budaya) menjadi kerangka utama analisis mitos, sebagaimana akan dibahas pada bagian-bagian berikutnya.

Penting dicatat bahwa Les structures élémentaires de la parenté menuai kritik tajam sejak awal penerbitannya, terutama dari kalangan antropolog Inggris yang berpijak pada tradisi empiris lapangan yang lebih ketat. Rodney Needham dan Edmund Leach, meski keduanya mengakui kebesaran ambisi teoretis buku ini, mempertanyakan apakah data etnografis yang digunakan Lévi-Strauss benar-benar mendukung model-model formal yang ia susun, dan menuding bahwa Lévi-Strauss kerap menyesuaikan data lapangan agar cocok dengan skema struktural yang telah ia tetapkan sebelumnya, ketimbang membiarkan data tersebut membentuk teori secara induktif. Kritik lain, yang muncul lebih kemudian dari kalangan antropologi feminis seperti Gayle Rubin dalam esainya “The Traffic in Women” (1975), mempertanyakan secara lebih mendasar asumsi di balik seluruh kerangka “pertukaran perempuan” itu sendiri: dengan memperlakukan perempuan sebagai objek yang dipertukarkan (meminjam posisi struktural yang sama dengan kata dalam komunikasi linguistik), Lévi-Strauss, menurut kritik ini, secara tidak sengaja menaturalisasi posisi subordinat perempuan dalam sistem kekerabatan patriarkal sebagai sesuatu yang struktural dan karena itu seolah tak terhindarkan, alih-alih mempertanyakan mengapa sistem pertukaran itu secara konsisten menempatkan perempuan sebagai yang dipertukarkan, bukan sebagai pihak yang turut mempertukarkan. Meski demikian, terlepas dari berbagai kritik ini, kerangka dasar tentang larangan inses sebagai mekanisme pertukaran yang menjembatani Alam dan Budaya tetap menjadi salah satu kontribusi paling berpengaruh dan paling banyak dirujuk dalam seluruh sejarah antropologi struktural, dan menjadi fondasi metodologis bagi seluruh pengembangan teori Lévi-Strauss pada dekade-dekade berikutnya.

Oposisi Biner sebagai Logika Dasar Pikiran Manusia

Jika larangan inses menjadi titik tolak empiris yang memperkenalkan Lévi-Strauss pada logika pertukaran dan sistem, konsep oposisi biner (opposition binaire) adalah mesin konseptual yang menggerakkan hampir seluruh analisisnya sesudahnya, dari kekerabatan hingga totemisme dan mitos. Sebagaimana telah disinggung pada pembahasan pengaruh Saussure dan Jakobson, gagasan ini berakar langsung pada fonologi struktural, khususnya kerja Nikolai Trubetzkoy dan Roman Jakobson yang menunjukkan bahwa seluruh sistem bunyi dalam bahasa manusia, betapapun jumlah fonemnya berbeda-beda antarbahasa, dapat dianalisis sebagai kombinasi dari sejumlah ciri pembeda yang bersifat biner: bersuara lawan tak bersuara, nasal lawan oral, dan seterusnya. Lévi-Strauss mengambil model ini dan mengajukan klaim yang jauh lebih ambisius daripada sekadar analogi metodologis: bahwa oposisi biner bukan semata ciri khas bahasa, melainkan struktur dasar yang menjadi cara kerja pikiran manusia (l’esprit humain) secara universal, berfungsi sebagai mekanisme kognitif paling mendasar yang digunakan manusia di mana pun dan kapan pun untuk mengolah, menata, dan memberi makna pada pengalaman mereka tentang dunia.

Klaim ini bertumpu pada pengaruh penting lain yang sering kurang mendapat sorotan dibandingkan Saussure dan Jakobson, yaitu strukturalisme linguistik dan antropologi Amerika yang diwakili Franz Boas, serta, secara lebih jauh, warisan filsafat Immanuel Kant tentang kategori-kategori pemahaman (Verstandeskategorien) sebagai struktur bawaan pikiran yang mengorganisasi pengalaman inderawi. Lévi-Strauss, meski tidak pernah secara eksplisit mendeklarasikan dirinya sebagai pengikut Kant, mewarisi intuisi Kantian bahwa pikiran manusia tidak menerima dunia secara pasif sebagaimana adanya, melainkan secara aktif menyusun dan mengkategorikan pengalaman melalui struktur-struktur tertentu yang mendahului pengalaman itu sendiri. Perbedaannya dengan Kant terletak pada sifat struktur tersebut: bagi Kant, kategori-kategori pemahaman bersifat transendental dan dapat ditemukan melalui refleksi filosofis murni, sementara bagi Lévi-Strauss, struktur oposisi biner yang mengorganisasi pikiran manusia bersifat tidak disadari (inconscient) dan hanya dapat ditemukan melalui penelitian empiris atas berbagai sistem kebudayaan, terutama mitos, kekerabatan, dan klasifikasi totemik, yang menjadi “data” tempat struktur tersembunyi pikiran manusia menampakkan dirinya secara tidak langsung.

Dalam praktik analisisnya, oposisi biner beroperasi sebagai alat untuk menyingkap bagaimana berbagai kebudayaan menata pengalaman mereka tentang dunia ke dalam pasangan-pasangan konsep yang saling berlawanan dan saling mendefinisikan: Alam lawan Budaya (sebagaimana telah dibahas dalam konteks larangan inses), mentah lawan masak, segar lawan busuk, tinggi lawan rendah, kering lawan basah, langit lawan bumi, dan ribuan pasangan oposisi lain yang ia temukan berulang kali dalam analisisnya atas mitos-mitos masyarakat asli Amerika dalam proyek Mythologiques. Penting ditekankan bahwa oposisi-oposisi ini, bagi Lévi-Strauss, tidak pernah berdiri sebagai pasangan yang terisolasi, melainkan selalu terjalin dalam sistem yang lebih besar, di mana satu oposisi dapat dipetakan atau “ditransformasikan” (istilah teknis yang sering digunakan Lévi-Strauss, dipinjam dari matematika struktural) ke dalam oposisi lain melalui kaidah-kaidah tertentu. Sebagai contoh, dalam analisisnya atas mitos-mitos tentang asal mula masakan, oposisi antara “mentah” dan “masak” sering kali berpadanan secara struktural dengan oposisi antara “alam” dan “budaya”, yang pada gilirannya berpadanan dengan oposisi antara “basah” (busuk secara alami melalui fermentasi) dan “kering” (diawetkan melalui teknik budaya), membentuk jaringan oposisi yang saling berkorespondensi dan saling memperkuat makna satu sama lain.

Fungsi oposisi biner dalam kerangka Lévi-Strauss tidak sekadar deskriptif, melainkan juga secara mendalam bersifat mediatif: baginya, salah satu fungsi utama mitos dan sistem klasifikasi kebudayaan adalah untuk menjembatani atau memediasi kontradiksi-kontradiksi yang muncul dari oposisi-oposisi fundamental yang dihadapi pikiran manusia, terutama kontradiksi yang paling mendasar antara kehidupan dan kematian. Dalam esainya yang sangat berpengaruh tentang mitos Oedipus dalam Anthropologie structurale (1958), Lévi-Strauss menunjukkan bagaimana berbagai episode dalam mitos tersebut, yang tampak tidak berkaitan jika dibaca secara naratif berurutan, sesungguhnya dapat dikelompokkan ke dalam kolom-kolom tematik yang masing-masing mewakili satu kutub oposisi tertentu, dengan keseluruhan mitos berfungsi sebagai upaya logis untuk mendamaikan kontradiksi antara kepercayaan bahwa manusia berasal dari bumi (autoktoni, sebagaimana diceritakan dalam mitos kelahiran manusia pertama dari tanah) dengan pengetahuan empiris bahwa manusia sesungguhnya lahir dari hubungan seksual antara dua orang tua. Mitos, dalam pembacaan ini, bukan sekadar cerita hiburan atau penjelasan naif tentang asal-usul dunia sebagaimana sering dianggap sebelumnya, melainkan sebuah mesin logis yang bekerja untuk mengatasi, meski tidak pernah sepenuhnya menyelesaikan, kontradiksi-kontradiksi eksistensial yang tidak dapat dipecahkan secara langsung oleh pikiran manusia.

Klaim universalitas oposisi biner ini membawa Lévi-Strauss pada posisi yang secara eksplisit menentang gagasan evolusionis tentang hierarki kognitif antara masyarakat “primitif” dan masyarakat “beradab”, sebuah tema yang akan dikembangkan lebih jauh dalam pembahasan tentang La pensée sauvage pada bagian berikutnya. Jika oposisi biner adalah struktur universal pikiran manusia, maka logika yang beroperasi dalam mitos-mitos masyarakat yang disebut “primitif” secara fundamental sama canggihnya, secara struktural, dengan logika yang beroperasi dalam pemikiran ilmiah modern, meski keduanya menerapkan logika itu pada materi dan tujuan yang berbeda. Perbedaan antara kedua bentuk pikiran ini, bagi Lévi-Strauss, bukanlah perbedaan dalam kapasitas atau kerumitan logis, melainkan perbedaan dalam orientasi: pikiran mitis cenderung bekerja dengan tanda-tanda konkret yang diambil langsung dari pengalaman inderawi (hewan, tumbuhan, fenomena alam), sementara pikiran ilmiah modern cenderung bekerja dengan konsep-konsep abstrak yang telah dipisahkan dari pengalaman inderawi langsung, sebuah perbedaan metode, bukan perbedaan tingkat kecerdasan atau rasionalitas.

Konsep oposisi biner Lévi-Strauss tidak luput dari kritik serius, baik dari dalam maupun luar tradisi strukturalis. Sejumlah kritikus, termasuk di antaranya tokoh-tokoh yang kelak dikaitkan dengan pascastrukturalisme seperti Jacques Derrida dalam esainya “La structure, le signe et le jeu dans le discours des sciences humaines” (1966), mempertanyakan apakah pemetaan realitas kebudayaan yang begitu kompleks dan cair ke dalam pasangan-pasangan oposisi yang rapi dan simetris tidak menyederhanakan secara berlebihan fenomena yang dianalisis, serta mempertanyakan status epistemologis oposisi-oposisi tersebut: apakah mereka benar-benar ditemukan dalam data, ataukah justru diproyeksikan ke dalam data oleh peneliti yang telah terlebih dahulu berangkat dari asumsi bahwa oposisi biner adalah struktur universal yang harus ditemukan. Kritik lain, yang lebih bersifat empiris, dilontarkan sejumlah antropolog lapangan yang menilai bahwa penekanan berlebihan pada oposisi biner cenderung mengabaikan unsur-unsur dalam kebudayaan yang bersifat gradual, kontinu, atau mendua, yang tidak dapat dengan mudah dipaksakan ke dalam skema biner yang tegas. Terlepas dari kritik-kritik ini, kerangka oposisi biner tetap menjadi salah satu warisan metodologis paling bertahan lama dari Lévi-Strauss, membentuk cara berpikir generasi strukturalis dan pascastrukturalis Prancis berikutnya jauh melampaui disiplin antropologi itu sendiri, termasuk, sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan Lacan sebelumnya, memengaruhi cara Lacan merumuskan struktur bahasa dalam alam bawah sadar.

Totemisme dan Sistem Klasifikasi

Totemisme, yaitu praktik berbagai masyarakat yang mengaitkan kelompok sosial tertentu (klan, marga, atau kelompok kekerabatan) dengan spesies hewan, tumbuhan, atau unsur alam tertentu sebagai lambang identitas kolektif, telah lama menjadi topik yang membingungkan dan diperdebatkan dalam sejarah antropologi sejak abad kesembilan belas. Sir James Frazer dalam Totemism and Exogamy (1910) memandangnya sebagai fenomena magis-religius primitif yang mencerminkan kepercayaan literal masyarakat “primitif” bahwa mereka secara mistis berasal dari atau berkerabat dengan spesies totem mereka. Émile Durkheim, dalam Les formes élémentaires de la vie religieuse (1912), memperlakukan totemisme sebagai bentuk paling murni dan paling sederhana dari agama, tempat masyarakat secara tidak sadar menyembah dirinya sendiri lewat lambang totem yang merepresentasikan kekuatan kolektif kelompok. Lévi-Strauss, dalam dua karya pendek namun sangat berpengaruh, Le totémisme aujourd’hui (1962) dan La pensée sauvage (1962, terbit di tahun yang sama), membongkar secara radikal seluruh kerangka yang diwarisi dari Frazer dan Durkheim ini, dengan argumen yang kelak dianggap sebagai salah satu sumbangan paling tajam dan paling berpengaruh dalam sejarah antropologi agama.

Tesis utama Lévi-Strauss dalam Le totémisme aujourd’hui adalah bahwa “totemisme”, sebagaimana dipahami dan diperlakukan sebagai satu kategori fenomena yang koheren oleh para pendahulunya, sesungguhnya adalah sebuah ilusi, sebuah konstruksi artifisial para antropolog Barat yang menyatukan secara keliru sejumlah fenomena yang pada dasarnya berbeda-beda dan tidak berkaitan secara substansial satu sama lain, sekadar karena kemiripan dangkal pada permukaannya, yaitu adanya asosiasi antara kelompok sosial dan spesies alam. Ia menyamakan status epistemologis “totemisme” dengan status “histeria” dalam psikiatri abad kesembilan belas, sebuah kategori diagnostik yang pada masanya tampak koheren dan dapat diidentifikasi dengan jelas, namun yang kemudian terbukti sesungguhnya menghimpun berbagai gejala yang berasal dari penyebab-penyebab yang sangat berbeda, sehingga kategori itu sendiri lebih mencerminkan prasangka dan kebutuhan klasifikasi para pengamat Barat ketimbang realitas yang dianalisisnya. Dengan menyingkap “totemisme” sebagai ilusi semacam ini, Lévi-Strauss secara efektif membongkar fondasi bagi seluruh teori yang dibangun di atasnya, termasuk gagasan Frazer tentang kepercayaan mistis literal maupun gagasan Durkheim tentang penyembahan diri kolektif masyarakat.

Sebagai gantinya, Lévi-Strauss mengajukan pembacaan yang sepenuhnya berbeda: hubungan antara kelompok sosial dan spesies totem bukanlah hubungan magis atau mistis dalam pengertian substansial (seolah-olah kelompok tersebut sungguh-sungguh percaya “menjadi” atau “berasal dari” spesies totemnya), melainkan hubungan logis dan klasifikatoris. Spesies-spesies alam yang dipilih sebagai totem, menurutnya, dipilih bukan karena kegunaan praktisnya sebagai sumber makanan (sebagaimana diasumsikan sejumlah teori fungsionalis sebelumnya yang menyebut totem sebagai spesies yang “baik untuk dimakan”, good to eat), melainkan karena kecocokan strukturalnya sebagai sistem tanda yang “baik untuk dipikirkan” (bon à penser), sebuah frasa yang menjadi salah satu rumusan paling terkenal dari seluruh karyanya. Logikanya berjalan sebagai berikut: dunia alam menawarkan kepada manusia sebuah sistem perbedaan yang sudah tersedia dan dapat diamati secara langsung, yaitu perbedaan antarspesies (elang berbeda dari beruang, beruang berbeda dari serigala, dan seterusnya, masing-masing dengan ciri dan kebiasaan khasnya). Sistem perbedaan alamiah ini kemudian “dipinjam” oleh masyarakat manusia dan dipetakan secara homolog ke sistem perbedaan sosial yang ingin mereka tandai dan pertahankan, yaitu perbedaan antarkelompok kekerabatan (klan A berbeda dari klan B, klan B berbeda dari klan C). Dengan kata lain, bukan karena klan tertentu secara substansial menyerupai atau berasal dari elang, melainkan karena hubungan “klan A : klan B” secara struktural analog dengan hubungan “elang : beruang”, yaitu kedua pasangan sama-sama merupakan hubungan diferensial dalam sistem oposisi masing-masing. Totemisme, dengan demikian, pada dasarnya adalah operasi logis-klasifikatoris yang memanfaatkan perbedaan alamiah sebagai alat konseptual untuk berpikir dan menata perbedaan sosial, bukan kepercayaan religius substansial tentang hubungan mistis antara manusia dan hewan.

Rumusan “baik untuk dipikirkan” ini secara langsung membalikkan premis fungsionalisme yang telah dibahas sebelumnya sebagai salah satu sasaran kritik Lévi-Strauss sejak awal kariernya. Jika fungsionalisme Malinowski dan sejenisnya cenderung menjelaskan unsur-unsur kebudayaan melalui kegunaan praktisnya bagi kelangsungan hidup atau keteraturan sosial, Lévi-Strauss menegaskan bahwa manusia, bahkan dalam masyarakat yang disebut “primitif” sekalipun, tidak semata-mata digerakkan oleh kebutuhan praktis, melainkan juga, dan bahkan terutama, oleh kebutuhan intelektual untuk memahami, mengklasifikasikan, dan menata dunia di sekitar mereka ke dalam sistem yang masuk akal dan koheren. Observasi etnografis yang mendukung klaim ini, yang banyak dikumpulkan Lévi-Strauss dari berbagai laporan lapangan, menunjukkan bahwa masyarakat-masyarakat yang mempraktikkan totemisme sering kali memiliki pengetahuan taksonomis yang sangat rinci dan canggih tentang flora dan fauna di lingkungan mereka, jauh melampaui apa yang diperlukan untuk sekadar kepentingan praktis bertahan hidup, sebuah kekayaan pengetahuan yang bagi Lévi-Strauss menjadi bukti bahwa dorongan untuk mengklasifikasikan dan menyusun sistem tanda adalah kebutuhan intelektual fundamental manusia, setara pentingnya dengan kebutuhan material.

Dalam La pensée sauvage, yang akan dibahas lebih mendalam pada bagian tersendiri, Lévi-Strauss memperluas analisis tentang sistem klasifikasi ini jauh melampaui totemisme semata, menunjukkan bahwa dorongan untuk mengklasifikasikan dunia secara sistematis dan terperinci adalah ciri universal pikiran manusia yang ditemukan di seluruh kebudayaan, apa pun tingkat kerumitan teknologinya. Ia mengutip secara luas berbagai sistem klasifikasi etnobotani dan etnozoologi dari berbagai masyarakat di seluruh dunia yang menunjukkan ketelitian taksonomis yang mengagumkan, sering kali sebanding atau bahkan melampaui ketelitian sistem klasifikasi biologi ilmiah Barat dalam cakupan tertentu, meski menggunakan kriteria pengelompokan yang berbeda. Fenomena ini menjadi bukti kunci bagi tesis besarnya tentang kesetaraan struktural antara “pikiran liar” masyarakat tanpa aksara dan “pikiran jinak” (la pensée domestiquée) masyarakat modern yang telah dibentuk ilmu pengetahuan, sebuah tema sentral yang akan dibahas secara lebih mendalam pada bagian berikutnya tentang kritiknya terhadap hierarki pikiran “primitif” dan modern.

Sumbangan Lévi-Strauss dalam membongkar kategori totemisme memberi dampak yang bertahan lama dalam antropologi agama dan antropologi simbolik secara umum, mengubah secara fundamental cara disiplin ini memahami hubungan antara manusia dan alam dalam berbagai sistem kepercayaan. Alih-alih memperlakukan kepercayaan “primitif” sebagai tahap awal yang belum matang dalam evolusi linear menuju agama-agama besar dan akhirnya sains modern, sebagaimana diandaikan kerangka evolusionis Frazer, Lévi-Strauss menunjukkan bahwa sistem klasifikasi totemik mengandung logika internal yang koheren dan canggih setara dengan sistem pemikiran lain mana pun, hanya beroperasi dengan prinsip pengorganisasian yang berbeda. Meski demikian, sejumlah antropolog belakangan, termasuk mereka yang melakukan kerja lapangan lebih intensif pada masyarakat-masyarakat yang mempraktikkan totemisme, mencatat bahwa pembacaan Lévi-Strauss yang sepenuhnya intelektualis dan logis-klasifikatoris ini kadang mengabaikan dimensi afektif, ritual, dan pengalaman religius yang tetap menyertai praktik totemik di banyak masyarakat, sebuah keberatan yang menunjukkan bahwa penekanan khas Lévi-Strauss pada struktur logis pikiran, meski membuka wawasan baru yang penting, juga membawa risiko mereduksi kekayaan pengalaman hidup keagamaan menjadi semata permainan oposisi dan klasifikasi formal.

Pikiran Liar (La Pensée Sauvage) dan Kritik terhadap Hierarki Pikiran “Primitif” Modern

La Pensée sauvage (1962) adalah karya yang paling luas pengaruhnya di luar disiplin antropologi itu sendiri, sekaligus karya yang membuat Lévi-Strauss terlibat dalam salah satu perdebatan intelektual paling terkenal di Prancis pascaperang, yaitu konfrontasinya dengan Jean-Paul Sartre. Judul buku ini memainkan permainan kata ganda dalam bahasa Prancis yang sulit sepenuhnya dipertahankan dalam terjemahan: pensée sauvage secara harfiah berarti “pikiran liar” atau “pikiran yang belum dijinakkan”, namun pensée sauvage juga merupakan nama umum bagi bunga violet liar (pansy dalam bahasa Inggris, Viola tricolor), sebuah permainan kata yang tercermin pada sampul edisi pertama buku ini yang justru menampilkan gambar bunga tersebut, bukan citra eksotis masyarakat “primitif” sebagaimana lazim diharapkan pembaca. Permainan kata ini sendiri sudah menjadi pernyataan tesis: pikiran yang disebut “liar” bukanlah sesuatu yang asing, eksotis, atau primitif dalam pengertian merendahkan, melainkan sesuatu yang tumbuh di mana-mana, termasuk, sebagaimana akan ditunjukkan Lévi-Strauss, dalam pikiran manusia modern sekalipun.

Baca juga :  Ad Hominem Fallacy

Bab pembuka buku ini mengembangkan secara lebih mendalam tema yang telah disinggung pada pembahasan totemisme: kekayaan dan ketelitian sistem klasifikasi yang ditemukan dalam berbagai masyarakat tanpa aksara. Lévi-Strauss mengumpulkan bukti dari berbagai laporan etnografis yang menunjukkan bahwa masyarakat-masyarakat ini sering kali memiliki kosakata yang sangat terperinci untuk membedakan ratusan spesies tumbuhan dan hewan, lengkap dengan sistem klasifikasi hierarkis yang menyerupai, dalam logika dasarnya, sistem taksonomi biologi modern yang dirumuskan Carl Linnaeus. Dari bukti ini Lévi-Strauss menyimpulkan bahwa yang disebutnya “ilmu pengetahuan konkret” (science du concret), yaitu pengetahuan yang beroperasi langsung dengan kualitas-kualitas inderawi benda-benda alam (warna, bentuk, tekstur, bau, rasa) sebagai unsur-unsur tanda yang dapat dikombinasikan dan disusun menjadi sistem, bukanlah tahap primitif atau belum matang yang mendahului “ilmu pengetahuan abstrak” modern dalam sebuah garis evolusi linear, melainkan sebuah mode pengetahuan yang berdiri sendiri, memiliki kekuatan dan presisinya sendiri, dan yang beroperasi secara paralel, bukan secara hierarkis, dengan ilmu pengetahuan modern.

Dari observasi ini, Lévi-Strauss menyusun argumen filosofis yang jauh lebih luas jangkauannya, yang secara eksplisit menantang narasi evolusionis yang mendominasi pemikiran Barat sejak Pencerahan, baik dalam bentuknya yang positivis (Auguste Comte dengan hukum tiga tahapnya: teologis, metafisis, positif) maupun dalam bentuknya yang Marxis-historis materialis. Bagi Lévi-Strauss, pikiran “liar” dan pikiran ilmiah modern bukanlah dua tahap yang berurutan dalam sebuah proses evolusi kognitif tunggal, dengan yang kedua menggantikan dan mengungguli yang pertama, melainkan dua strategi intelektual yang secara struktural setara dalam kecanggihan logisnya, namun berbeda dalam titik masuk dan orientasinya. Pikiran ilmiah modern, menurutnya, beroperasi secara “dari atas”, dimulai dari struktur-struktur dan hukum-hukum abstrak (teori, model matematis) yang kemudian diterapkan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa konkret. Pikiran liar, sebaliknya, beroperasi secara “dari bawah”, dimulai dari unsur-unsur konkret dan inderawi yang tersedia di sekitar manusia, yang kemudian disusun dan dikombinasikan untuk menghasilkan struktur-struktur makna yang kompleks. Keduanya, bagi Lévi-Strauss, sama-sama merupakan upaya pikiran manusia untuk mencapai pengetahuan yang sistematis dan koheren tentang dunia, hanya menempuh jalur yang berlawanan arah.

Konsep yang paling berpengaruh dari keseluruhan buku ini, dan yang akan dibahas lebih mendalam pada bagian tersendiri karena cakupan pengaruhnya yang meluas jauh melampaui antropologi, adalah metafora bricolage yang digunakan Lévi-Strauss untuk mencirikan cara kerja pikiran liar, dikontraskan dengan sosok insinyur (ingénieur) yang mencirikan cara kerja pikiran ilmiah modern. Namun yang perlu ditekankan dalam konteks pembahasan hierarki pikiran ini adalah bahwa Lévi-Strauss secara eksplisit menolak menempatkan bricolage sebagai versi inferior dari rekayasa teknik modern. Baginya, bricolage bukan kegagalan untuk menjadi insinyur karena keterbatasan sumber daya atau pengetahuan, melainkan sebuah strategi intelektual tersendiri yang memiliki kekuatan dan keluwesannya sendiri, mampu menghasilkan solusi-solusi kreatif dan tak terduga justru karena kesediaannya bekerja dengan bahan-bahan yang sudah tersedia dan mengombinasikannya dengan cara-cara baru, berbeda dari insinyur yang bekerja dengan merancang alat dan bahan yang sepenuhnya baru untuk setiap tujuan spesifik.

Konfrontasi Lévi-Strauss dengan Jean-Paul Sartre mencapai puncaknya dalam bab terakhir La Pensée sauvage, berjudul “Histoire et dialectique” (Sejarah dan Dialektika), yang secara langsung menyerang kerangka filsafat eksistensialis-Marxis yang dirumuskan Sartre dalam Critique de la raison dialectique (1960). Sartre, dalam karya tersebut, mengangkat sejarah manusia, khususnya sejarah perjuangan kelas dan praksis kolektif manusia dalam membentuk dunianya, sebagai bentuk pengetahuan dan makna yang paling privilesed, sebuah pandangan yang menempatkan masyarakat-masyarakat yang disebut “tanpa sejarah” (dalam pengertian tidak memiliki tradisi historiografi tertulis dan narasi kemajuan linear, sebagaimana masyarakat-masyarakat yang diteliti Lévi-Strauss) dalam posisi yang implisit lebih rendah dibandingkan masyarakat Barat yang memandang dirinya sebagai subjek sejarah yang terus bergerak maju. Lévi-Strauss, dengan nada yang tajam dan sengaja provokatif, membalikkan tuduhan ini: baginya, kesadaran historis Barat yang begitu dibanggakan Sartre bukanlah bentuk pengetahuan yang lebih superior secara objektif, melainkan hanya satu di antara sekian banyak cara manusia mengorganisasi pengalaman mereka tentang waktu dan perubahan, dan sejarah, sebagaimana dipahami dan dinarasikan oleh Barat modern, pada dasarnya juga merupakan sebuah konstruksi mitis, sebuah “mitos” dalam pengertian struktural yang sama dengan mitos-mitos masyarakat yang disebut “tanpa sejarah”, hanya saja mitos tersebut mengambil bentuk narasi kemajuan linear yang kebetulan sangat dipercaya dan diistimewakan oleh kebudayaan Barat modern.

Argumen ini membawa Lévi-Strauss pada posisi filosofis yang lebih luas yang sering disebut sebagai “anti-humanisme” strukturalis, sebuah istilah yang perlu dipahami secara hati-hati agar tidak disalahpahami sebagai sikap bermusuhan terhadap manusia. Yang ditentang Lévi-Strauss bukanlah manusia itu sendiri, melainkan humanisme dalam pengertian filsafat tertentu, terutama eksistensialisme Sartrean, yang menempatkan subjek manusia yang sadar dan bebas, yang membuat sejarah melalui praksisnya sendiri, sebagai pusat dan sumber utama makna. Bagi Lévi-Strauss, pendekatan struktural justru menuntut kita untuk melihat melampaui subjek sadar individual menuju struktur-struktur tidak disadari yang mengondisikan dan memungkinkan kesadaran serta tindakan subjek itu sendiri, baik struktur itu berupa sistem kekerabatan, bahasa, maupun logika mitos. Dalam pengertian inilah, meski tidak pernah secara formal mengidentifikasi dirinya dengan gerakan filosofis tertentu di luar antropologi, Lévi-Strauss kerap dikelompokkan sebagai salah satu arsitek utama dari apa yang kemudian disebut “kematian subjek” dalam wacana intelektual Prancis, sebuah tema yang kelak dikembangkan dengan caranya masing-masing oleh para pemikir yang mengikutinya, termasuk Michel Foucault, yang dalam Les mots et les choses (1966) secara eksplisit mengutip Lévi-Strauss (bersama Lacan) sebagai salah satu disiplin yang menunjukkan jalan keluar dari apa yang disebutnya “manusia” sebagai kategori epistemologis yang baru muncul dan mungkin akan segera lenyap kembali, sebagaimana gambar di tepi pantai yang terhapus ombak.

Perdebatan Lévi-Strauss dengan Sartre ini, meski berlangsung terutama di ranah akademik dan intelektual, memiliki gaung yang jauh lebih luas dalam konteks politik dekolonisasi Prancis pada masa itu, khususnya seputar Perang Aljazair yang berlangsung hingga 1962, tahun yang sama dengan penerbitan La Pensée sauvage. Dengan mendekonstruksi hierarki antara masyarakat “dengan sejarah” dan “tanpa sejarah”, serta antara pikiran “primitif” dan pikiran “beradab”, Lévi-Strauss secara tidak langsung turut menggugat justifikasi intelektual yang sering digunakan untuk membenarkan proyek kolonial Eropa, yaitu klaim bahwa peradaban Barat membawa “kemajuan” dan “rasionalitas” kepada masyarakat-masyarakat yang dianggap masih tertinggal dalam tahap perkembangan kognitif dan sosial yang lebih rendah. Meski Lévi-Strauss sendiri cenderung menghindari pernyataan politik eksplisit dalam karya-karya akademiknya, dampak intelektual dari argumennya tentang kesetaraan struktural segala bentuk pikiran manusia memberi sumbangan penting bagi gerakan kritik pascakolonial yang berkembang pesat pada dekade-dekade berikutnya, meski ia sendiri kelak juga menjadi sasaran kritik dari generasi pascakolonial tersebut karena dianggap tetap mempertahankan posisi sebagai pengamat Barat yang menganalisis masyarakat “lain” dari luar, tanpa sepenuhnya mempertanyakan struktur kekuasaan yang memungkinkan posisi pengamatan tersebut.

Bricolage versus Rekayasa: Dua Mode Berpikir

Metafora bricolage adalah salah satu konsep Lévi-Strauss yang paling banyak dipinjam dan diadaptasi ke berbagai disiplin di luar antropologi, dari teori sastra, studi desain, hingga ilmu komputer dan teori organisasi, melebihi popularitas hampir semua konsep lain dalam korpusnya kecuali mungkin oposisi biner itu sendiri. Istilah ini diperkenalkan Lévi-Strauss pada bab pertama La Pensée sauvage (1962) untuk mencirikan cara kerja khas “pikiran liar” dalam mengolah dan menyusun pengetahuan, dan ia secara sengaja memilih kata yang berasal dari kosakata sehari-hari Prancis, bukan istilah teknis baru yang ia ciptakan sendiri. Dalam bahasa Prancis, bricoleur merujuk pada sosok yang akrab dikenal sebagai “tukang serba bisa” atau “tukang otodidak”, seseorang yang memperbaiki, membangun, atau mengerjakan proyek-proyek kecil di rumah tanpa pelatihan teknis formal, menggunakan apa pun alat dan bahan yang kebetulan tersedia di tangannya, berbeda dari tukang profesional yang bekerja dengan alat dan bahan yang dirancang khusus untuk tujuan tertentu.

Lévi-Strauss membangun kontras tegas antara dua figur ini, bricoleur dan ingénieur (insinyur), sebagai representasi dua mode berpikir yang berbeda secara fundamental dalam cara mereka berhubungan dengan bahan dan alat kerja mereka. Insinyur, dalam gambarannya, beroperasi melalui proyek yang telah direncanakan terlebih dahulu secara abstrak, kemudian mencari atau menciptakan alat dan bahan yang secara spesifik dirancang untuk mewujudkan proyek tersebut; hubungan antara tujuan dan sarana bersifat searah dan subordinatif, dengan sarana sepenuhnya ditentukan oleh tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Bricoleur, sebaliknya, memulai bukan dari proyek abstrak yang jelas, melainkan dari kumpulan bahan dan alat yang kebetulan sudah tersedia di tangannya, sebuah kumpulan heterogen hasil akumulasi dari berbagai pekerjaan sebelumnya yang Lévi-Strauss sebut sebagai “perbendaharaan” (trésor) atau “yang tersisa dari peristiwa-peristiwa sebelumnya” (résidus et débris d’événements). Bricoleur kemudian menyusun proyeknya dengan cara “berdialog” dengan perbendaharaan yang tersedia ini, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan kombinasi yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang sudah ada, sehingga proyek akhir yang dihasilkan sebagian ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai, namun sebagian lain ditentukan dan dibatasi oleh apa yang kebetulan tersedia dalam perbendaharaannya.

Perbedaan mendasar lain antara kedua mode ini terletak pada hubungan mereka dengan konsep (concept) dan tanda (signe), sebuah pembedaan yang secara langsung menghubungkan metafora ini kembali ke kerangka linguistik Saussurean yang telah dibahas sebelumnya. Insinyur, menurut Lévi-Strauss, beroperasi dengan konsep, yaitu kategori-kategori abstrak yang secara ideal transparan dan terbuka sepenuhnya, dapat dipakai untuk merujuk pada apa pun sejauh logikanya konsisten, tidak terikat pada konteks atau sejarah penggunaan sebelumnya. Bricoleur, sebaliknya, beroperasi dengan tanda, yaitu unsur-unsur yang selalu membawa muatan dan keterikatan tertentu dari konteks penggunaannya sebelumnya, sehingga setiap unsur dalam perbendaharaan bricoleur sudah “sarat” dengan kemungkinan dan batasan makna tertentu akibat riwayat penggunaannya di masa lalu, meski tetap terbuka untuk dipakai kembali dalam kombinasi dan konteks baru. Perbedaan inilah yang menjelaskan mengapa Lévi-Strauss memandang mitos sebagai produk khas bricolage intelektual: mitos tidak pernah disusun dari unsur-unsur yang sepenuhnya baru dan abstrak, melainkan selalu didaur ulang dan disusun ulang dari unsur-unsur naratif, gambar, dan tema yang sudah ada sebelumnya dalam tradisi lisan suatu masyarakat, dikombinasikan dengan cara-cara baru untuk menjawab persoalan dan kontradiksi yang dihadapi pada momen penceritaan tertentu, sebuah proses yang akan dibahas lebih rinci pada pembahasan proyek Mythologiques.

Poin filosofis yang paling ditekankan Lévi-Strauss, dan yang menjadi inti dari kontribusi konsep ini terhadap keseluruhan argumennya dalam La Pensée sauvage, adalah penolakan tegas untuk memperlakukan bricolage sebagai bentuk berpikir yang inferior atau sekadar versi primitif dari rekayasa teknis modern yang lebih maju. Kesalahpahaman semacam ini, menurutnya, berasal dari kecenderungan untuk menilai bricolage semata dari sisi keterbatasan sumber dayanya (bahwa bricoleur “terpaksa” bekerja dengan apa yang ada karena tidak memiliki akses pada bahan dan alat yang dirancang khusus), tanpa memperhitungkan kekuatan intelektual tersendiri yang justru dihasilkan oleh cara kerja ini. Bricolage, bagi Lévi-Strauss, memiliki keunggulan dalam kelenturan dan kapasitas improvisasinya: karena bricoleur tidak terikat pada rencana tunggal yang kaku sejak awal, ia mampu menemukan solusi-solusi kreatif dan tak terduga yang muncul justru dari keterbatasan dan kebetulan susunan bahan yang tersedia, sebuah proses kreativitas yang berbeda sifatnya, namun tidak lebih rendah, dari kreativitas insinyur yang merancang dari nol. Bahkan, Lévi-Strauss menyiratkan bahwa dalam praktiknya, pembedaan murni antara kedua mode ini jarang ditemukan secara absolut; ilmuwan modern sekalipun, dalam praktik penelitian konkretnya sehari-hari, sering kali juga bertindak sebagai bricoleur, bekerja dengan alat, data, dan teori yang kebetulan tersedia dan mengombinasikannya secara kreatif, ketimbang selalu merancang segala sesuatu dari prinsip abstrak murni sebagaimana digambarkan dalam citra ideal insinyur.

Penerapan metafora ini dalam analisis mitos menjadi contoh paling jelas bagaimana bricolage beroperasi sebagai mode berpikir yang canggih, bukan sekadar kegiatan praktis sehari-hari. Lévi-Strauss menunjukkan bahwa penutur mitos dalam berbagai masyarakat, ketika menghadapi persoalan atau kontradiksi baru yang perlu dijelaskan atau dimediasi (sebagaimana telah dibahas pada pembahasan oposisi biner), tidak menciptakan narasi baru dari ketiadaan, melainkan menyusunnya dari unsur-unsur naratif, karakter, dan tema yang telah tersedia dalam tradisi mitologis yang diwarisi, mengombinasikan dan menyusun ulang unsur-unsur lama tersebut dengan cara-cara baru untuk menghasilkan makna yang relevan dengan konteks dan persoalan yang sedang dihadapi. Proses inilah yang menjelaskan mengapa Lévi-Strauss, dalam proyek Mythologiques, dapat menunjukkan bahwa ratusan mitos dari berbagai suku di Amerika, yang pada pandangan pertama tampak sebagai kumpulan cerita yang sangat beragam dan tidak berkaitan, sesungguhnya dapat dipetakan sebagai varian-varian dari sejumlah tema dasar yang sama, ditransformasikan dan dikombinasikan ulang melalui proses yang persis menyerupai cara kerja bricoleur yang menyusun kembali bahan-bahan lama menjadi konfigurasi baru.

Konsep bricolage ini kemudian diadopsi secara luas dan sering ditransformasikan maknanya oleh berbagai pemikir di luar antropologi, sebuah proses adopsi yang ironisnya mencerminkan cara kerja bricolage itu sendiri, yaitu pengambilan konsep dari konteks aslinya dan penyusunannya kembali untuk tujuan baru. Jacques Derrida, dalam esainya “La structure, le signe et le jeu dans le discours des sciences humaines” (1966) yang telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, secara eksplisit mengangkat konsep bricolage Lévi-Strauss sebagai titik tolak untuk argumennya sendiri tentang ketidakmungkinan mencapai pusat atau struktur yang sepenuhnya stabil dalam pemikiran manusia, dengan berargumen bahwa jika bricolage adalah ciri universal pikiran manusia sebagaimana diklaim Lévi-Strauss sendiri, maka bahkan wacana ilmiah yang mengklaim dirinya sebagai “rekayasa” murni pun, termasuk wacana strukturalis Lévi-Strauss sendiri, pada akhirnya juga merupakan bentuk bricolage, sebab tidak ada wacana manusia yang benar-benar dapat memulai dari titik nol yang sepenuhnya bebas dari warisan konseptual sebelumnya, sebuah argumen yang menjadi salah satu titik tolak penting bagi perkembangan dekonstruksi. Di luar filsafat, konsep ini juga diadaptasi secara luas dalam studi desain, inovasi teknologi, dan teori organisasi untuk menggambarkan proses kreativitas yang bekerja dengan sumber daya terbatas dan sudah tersedia, meski adaptasi-adaptasi ini sering kali melepaskan konsep tersebut dari kerangka struktural-antropologis aslinya yang berkaitan erat dengan teori tanda, mitos, dan oposisi Alam-Budaya yang menjadi konteks kelahirannya dalam pemikiran Lévi-Strauss.

Analisis Struktural Mitos dan Proyek Mythologiques

Analisis struktural mitos adalah proyek yang menyerap sebagian terbesar energi intelektual Lévi-Strauss sepanjang hidupnya, berpuncak pada Mythologiques, sebuah karya empat jilid yang ditulis selama kurang lebih dua belas tahun (1964-1971) dan yang ia sendiri anggap sebagai karya terbesar dan paling penting dalam seluruh kariernya. Fondasi metodologis bagi proyek raksasa ini telah ia letakkan lebih dari satu dekade sebelumnya, dalam esai pendek namun sangat berpengaruh, “La structure des mythes”, yang pertama kali diterbitkan dalam jurnal Journal of American Folklore pada 1955 dan kemudian dimasukkan ke dalam Anthropologie structurale (1958). Dalam esai inilah Lévi-Strauss pertama kali merumuskan secara eksplisit metode yang akan ia terapkan secara konsisten dalam seluruh analisisnya atas mitos: bahwa mitos, sebagaimana bahasa, dapat dan harus dianalisis pada dua tingkat sekaligus, tingkat langue dan tingkat parole yang telah dibahas pada pembahasan pengaruh Saussure sebelumnya, namun dengan satu kekhasan penting yang membedakan mitos dari bahasa biasa.

Kekhasan itu terletak pada unit analisis dasar yang diajukan Lévi-Strauss untuk mitos, yang ia sebut “mitem” (mythème), dipinjam secara langsung dari istilah “fonem” dalam linguistik struktural namun diterapkan pada satuan yang jauh lebih besar dan lebih kompleks. Jika fonem adalah satuan bunyi terkecil yang membedakan makna dalam suatu bahasa, mitem, bagi Lévi-Strauss, adalah satuan naratif terkecil dalam mitos yang memiliki makna struktural, biasanya berupa suatu relasi atau peristiwa yang dinyatakan dalam bentuk kalimat pendek, misalnya “Oedipus membunuh ayahnya” atau “Cadmus mencari saudarinya”. Poin krusial yang diajukan Lévi-Strauss adalah bahwa mitem-mitem ini tidak dapat dipahami maknanya secara terisolasi, dan yang lebih penting lagi, tidak dapat dipahami maknanya hanya dengan mengikuti urutan naratif mitos tersebut secara linear, sebagaimana lazim dilakukan pembacaan mitos pada umumnya. Sebaliknya, Lévi-Strauss mengusulkan agar mitem-mitem yang berbagi fungsi struktural serupa, meski muncul pada titik-titik berbeda dalam urutan naratif mitos, dikelompokkan bersama ke dalam “paket relasi” (faisceaux de relations) atau yang biasa digambarkan sebagai kolom-kolom tematik, sehingga mitos dapat dibaca secara “diakronis” (mengikuti urutan cerita dari awal hingga akhir, seperti partitur musik yang dibaca dari kiri ke kanan) sekaligus “sinkronis” (membaca mitem-mitem yang tergolong pada tema atau fungsi struktural yang sama secara bersamaan, seperti membaca akor-akor yang dimainkan serentak dalam sebuah simfoni, mengikuti metafora musikal yang sangat disukai Lévi-Strauss sendiri untuk menjelaskan metodenya).

Prinsip metodologis lain yang sangat penting, dan yang membedakan pendekatan Lévi-Strauss secara radikal dari studi mitologi sebelumnya, adalah penolakannya terhadap gagasan “versi asli” atau “versi otentik” suatu mitos. Studi mitologi klasik, misalnya dalam tradisi filologi Yunani-Romawi, cenderung mencari versi mitos yang dianggap paling tua, paling murni, atau paling mendekati bentuk aslinya, dengan versi-versi lain yang beredar dianggap sebagai korupsi atau penyimpangan dari versi asli tersebut. Lévi-Strauss menolak keras premis ini. Baginya, suatu mitos tidak pernah “dimiliki” oleh satu versi tunggal yang privilesed, melainkan terdiri atas keseluruhan himpunan varian-variannya yang ditemukan di berbagai komunitas dan periode, dengan setiap varian memiliki status yang sama sahnya sebagai bagian dari mitos tersebut. Sebagaimana ia tegaskan secara terkenal, mitos adalah mitos di seluruh versinya; tidak ada versi yang lebih “asli” dibandingkan versi lain. Prinsip ini membawa konsekuensi metodologis yang sangat ambisius: untuk memahami suatu mitos secara struktural, seorang analis harus mengumpulkan sebanyak mungkin varian mitos tersebut dari seluruh wilayah dan komunitas yang mengenalnya, kemudian menganalisis bagaimana varian-varian tersebut saling bertransformasi satu sama lain, dengan setiap transformasi mengikuti kaidah-kaidah logis tertentu yang dapat diformalkan, mirip dengan cara ahli matematika menganalisis bagaimana suatu rumus bertransformasi ke dalam rumus lain melalui operasi-operasi tertentu.

Ambisi metodologis inilah yang diwujudkan secara penuh dalam proyek Mythologiques, yang dimulai dari satu mitos tunggal masyarakat Bororo di Brasil tengah tentang asal-usul api dan memasak, yang kemudian secara bertahap meluas melalui analisis ratusan mitos terkait dari berbagai suku di seluruh benua Amerika, dari Amerika Selatan hingga Amerika Utara bagian Arktik, mengikuti apa yang disebut Lévi-Strauss sebagai metode “bola salju” (boule de neige): setiap mitos baru yang dianalisis membuka pertanyaan atau kontradiksi yang menuntunnya pada mitos lain yang relevan untuk dibandingkan, menghasilkan jaringan transformasi yang terus meluas tanpa titik henti yang jelas, sehingga keempat jilid karya ini pada akhirnya menganalisis sekitar delapan ratus mitos berbeda. Jilid pertama, Le Cru et le cuit (1964), akan dibahas secara khusus pada bagian berikutnya mengingat posisinya yang sentral dalam membuka seluruh kerangka oposisi yang menggerakkan proyek ini. Jilid kedua, Du miel aux cendres (1966), memperluas analisis pada oposisi antara madu (yang alami dan manis, namun juga berpotensi membusuk dan meracuni) dan abu atau tembakau (yang telah melalui proses budaya pembakaran). Jilid ketiga, L’origine des manières de table (1968), menelusuri mitos-mitos tentang asal-usul tata krama makan dan sopan santun di meja. Jilid keempat dan terakhir, L’homme nu (1971), mengembalikan keseluruhan analisis pada pertanyaan reflektif tentang hakikat mitos dan hubungannya dengan musik, seni, dan struktur pikiran manusia secara umum.

Baca juga :  Theodor W. Adorno

Dalam mengembangkan metode analisis transformasi antarmitos ini, Lévi-Strauss mengajukan sebuah rumus formal yang menjadi salah satu bagian paling diperdebatkan sekaligus paling sering dikutip dari seluruh karyanya, yang disebutnya “rumus kanonik mitos” (formule canonique du mythe), pertama kali diperkenalkan dalam esai 1955 dan terus dikembangkan sepanjang Mythologiques. Rumus ini, yang ditulis dalam notasi mirip aljabar [Fx(a) : Fy(b)] ≈ [Fx(b) : Fa⁻¹(y)], berupaya memformalkan secara matematis pola transformasi yang berulang kali ditemukan Lévi-Strauss ketika membandingkan berbagai varian mitos: bahwa sebuah fungsi tertentu yang dijalankan satu unsur dalam suatu mitos dapat, dalam varian lain, dijalankan oleh unsur yang berlawanan, sementara unsur yang semula pasif berubah menjadi aktif, dan sebaliknya, menghasilkan semacam pembalikan atau inversi struktural yang sistematis antarversi mitos. Rumus ini, meski sangat ambisius dalam formalismenya, tetap menjadi bahan perdebatan intens di kalangan antropolog dan matematikawan tentang signifikansi dan validitas operasionalnya, dengan sejumlah kritikus mempertanyakan apakah rumus tersebut benar-benar dapat diterapkan secara konsisten dan dapat diverifikasi, ataukah ia lebih berfungsi sebagai metafora ilustratif yang menangkap intuisi umum tentang transformasi struktural ketimbang sebagai alat analisis yang presisi secara matematis.

Tujuan akhir dari keseluruhan proyek Mythologiques ini, sebagaimana ditegaskan Lévi-Strauss berulang kali, bukanlah untuk menjelaskan makna masing-masing mitos secara terpisah, apalagi untuk menafsirkan makna simbolik atau psikologisnya bagi masyarakat yang menceritakannya, sebuah pendekatan yang lebih dekat dengan tradisi antropologi simbolik atau psikoanalitik yang secara eksplisit ia hindari. Tujuannya, sebagaimana ia nyatakan dalam pernyataan yang sering dikutip dan terdengar provokatif, bukanlah untuk menunjukkan bagaimana manusia berpikir dalam mitos, melainkan bagaimana mitos berpikir dalam diri manusia tanpa sepengetahuan mereka (comment les mythes se pensent dans les hommes, et à leur insu). Rumusan ini menegaskan kembali, dengan cara yang paling ekstrem, posisi “anti-humanis” strukturalis yang telah dibahas pada bagian sebelumnya: bagi Lévi-Strauss, pelaku individual yang menceritakan atau mendengarkan mitos bukanlah sumber atau pengarang makna mitos tersebut, melainkan sekadar medium tempat struktur-struktur logis yang jauh lebih luas, yang melampaui kesadaran dan kehendak individu mana pun, mengatur dan mentransformasikan dirinya sendiri melalui berbagai varian mitos yang beredar lintas generasi dan lintas masyarakat. Dengan kata lain, subjek yang menjadi fokus analisis Lévi-Strauss bukanlah individu pencerita mitos, melainkan struktur pikiran manusia itu sendiri sebagai sebuah kategori universal, yang menampakkan cara kerjanya melalui medium mitos sebagaimana struktur tata bahasa suatu bahasa menampakkan dirinya melalui ujaran-ujaran konkret para penuturnya, tanpa perlu disadari secara eksplisit oleh penutur tersebut.

Mentah dan Masak (Le Cru et le Cuit): Oposisi Alam-Budaya dalam Mitos dan Kuliner

Le Cru et le cuit (1964), jilid pertama Mythologiques, membuka proyek empat jilid tersebut dengan sebuah mitos tunggal masyarakat Bororo di Brasil tengah, yang disebut Lévi-Strauss sebagai “mitos acuan” (mythe de référence), tentang seorang pemuda yang melakukan hubungan terlarang dengan ibunya, kemudian dihukum ayahnya dengan dikirim dalam serangkaian pencobaan berbahaya, salah satunya mencuri alat musik ritual dari sarang burung pemakan bangkai, yang pada akhirnya berujung pada penemuan api oleh manusia serta asal mula teknik memasak. Pemilihan mitos tentang asal-usul api dan masakan sebagai titik tolak bukanlah kebetulan belaka, melainkan pilihan strategis yang secara eksplisit menyambung kembali ke tema yang telah diletakkan Lévi-Strauss sejak Les structures élémentaires de la parenté: oposisi antara Alam dan Budaya sebagai pasangan konseptual paling fundamental yang menjadi fondasi seluruh analisisnya atas kebudayaan manusia.

Pemasakan makanan, bagi Lévi-Strauss, menempati posisi yang unik dan sangat produktif secara analitis karena ia secara harfiah berada tepat di titik pertemuan antara Alam dan Budaya: bahan mentah yang dimasak (daging, umbi, biji-bijian) berasal dari alam, namun proses pemasakannya, yang melibatkan api, teknik, dan pengetahuan yang diwariskan secara sosial, adalah operasi budaya par excellence. Dari pengamatan ini, Lévi-Strauss menyusun apa yang kelak dikenal luas sebagai “segitiga kuliner” (triangle culinaire), sebuah model yang memetakan tiga kategori dasar makanan menurut tingkat dan jenis transformasinya dari keadaan alamiah: yang mentah (le cru), yang berada di titik nol transformasi dan merupakan kategori netral atau belum ditandai; yang dimasak (le cuit), hasil transformasi budaya yang melibatkan teknik dan alat (api, panci, peralatan masak); dan yang busuk atau fermentasi (le pourri), hasil transformasi alamiah yang terjadi tanpa campur tangan budaya, melalui proses pembusukan yang berjalan dengan sendirinya jika bahan makanan dibiarkan oleh waktu. Ketiga kategori ini, dalam model segitiga Lévi-Strauss, saling berkorespondensi dengan oposisi Alam lawan Budaya pada satu sumbu, dan dengan oposisi terelaborasi (élaboré) lawan tak terelaborasi (non-élaboré) pada sumbu lainnya, menghasilkan sebuah sistem relasional yang kemudian ia tunjukkan beroperasi secara konsisten, meski dengan variasi lokal, di berbagai mitos masyarakat Amerika yang ia analisis.

Lebih jauh, dalam bab-bab selanjutnya Le Cru et le cuit, Lévi-Strauss memperhalus model dasar ini dengan membedakan dua teknik memasak yang secara struktural berlawanan: memanggang (rôti) dan merebus (bouilli). Memanggang, menurutnya, adalah teknik yang relatif minim mediasi budaya: daging ditempatkan langsung di atas api tanpa perantara wadah, prosesnya cepat, dan hasilnya cenderung dikonsumsi segera, sering kali dalam konteks yang bersifat individual atau kurang formal, sehingga memanggang secara struktural lebih dekat ke kutub Alam dibandingkan merebus. Merebus, sebaliknya, menuntut mediasi budaya yang jauh lebih kompleks: diperlukan wadah (panci atau periuk, sebuah artefak budaya), air sebagai medium perantara antara api dan daging, serta waktu masak yang lebih lama, dan hasilnya, berupa kaldu atau sup, sering kali dikonsumsi dalam konteks sosial yang lebih terstruktur, misalnya dalam perjamuan komunal, sehingga merebus secara struktural lebih dekat ke kutub Budaya. Dengan model bercabang ini, Lévi-Strauss menunjukkan bahwa oposisi sederhana mentah-masak sesungguhnya menyimpan lapisan-lapisan sub-oposisi yang lebih halus, masing-masing membawa muatan makna sosial tertentu yang dapat ditelusuri melalui analisis cermat atas konteks penyajian dan konsumsi makanan dalam berbagai mitos serta praktik sosial nyata yang menyertainya.

Melalui analisis atas puluhan varian mitos Bororo, Gê, Tupi, dan berbagai kelompok etnis Amerika Selatan lainnya, Lévi-Strauss menunjukkan bagaimana oposisi mentah-masak ini secara konsisten berkorespondensi dan “ditransformasikan” (mengikuti metode transformasi antarmitos yang telah dibahas pada bagian sebelumnya) ke dalam serangkaian oposisi lain yang berulang kali muncul dalam korpus mitos yang ia kaji: segar lawan busuk, basah lawan kering, dekat lawan jauh (dalam pengertian jarak sosial atau geografis), rendah lawan tinggi, serta, yang paling fundamental, berisik (le bruit) lawan hening (le silence), sebuah pasangan oposisi yang mengejutkan banyak pembaca karena tampak tidak langsung berkaitan dengan tema kuliner, namun yang menurut Lévi-Strauss muncul berulang kali dalam mitos-mitos tentang pesta, ritual, dan perayaan komunal yang menyertai konsumsi makanan tertentu. Kekayaan jaringan korespondensi inilah yang menjadi bukti utama bagi tesis sentral Lévi-Strauss bahwa mitos beroperasi sebagai sistem logis yang koheren, bukan kumpulan cerita yang tersusun secara acak atau sewenang-wenang: setiap detail dalam suatu mitos, betapapun tampak remeh atau aneh bagi pembaca luar (misalnya pilihan burung tertentu, warna tertentu, atau jenis makanan tertentu yang disebutkan dalam suatu episode), menempati posisi tertentu dalam jaringan oposisi dan korespondensi yang lebih luas, dan karena itu membawa muatan makna struktural yang dapat ditelusuri melalui perbandingan sistematis dengan varian-varian mitos lain.

Pendekatan Lévi-Strauss terhadap pemasakan dan kuliner ini memiliki implikasi yang jauh melampaui analisis mitos semata, dan menjadi salah satu kontribusi paling berpengaruh dan paling banyak dirujuk dalam perkembangan kajian makanan (food studies) sebagai bidang akademik tersendiri pada dekade-dekade berikutnya. Dengan menunjukkan bahwa pemilihan dan pengolahan makanan tidak pernah semata ditentukan oleh kebutuhan gizi atau selera biologis, melainkan selalu sarat dengan sistem makna simbolik yang mengkodekan kategori-kategori sosial fundamental seperti Alam-Budaya, dalam-luar, dan tinggi-rendah, Lévi-Strauss membuka jalan bagi generasi peneliti sesudahnya, termasuk sosiolog Prancis Pierre Bourdieu dalam analisisnya tentang selera kelas sosial dalam La Distinction (1979), serta berbagai antropolog kuliner yang menerapkan kerangka strukturalis untuk menganalisis sistem pangan dan tata krama makan di berbagai kebudayaan, termasuk kebudayaan Barat modern itu sendiri, yang menurut logika Lévi-Strauss juga tunduk pada sistem kodifikasi simbolik serupa, meski sering kali tidak disadari oleh para pelakunya sendiri.

Meski Le Cru et le cuit dan keseluruhan proyek Mythologiques dipuji luas sebagai pencapaian intelektual yang monumental dalam skala dan ambisinya, karya ini juga menuai kritik yang signifikan, baik dari kalangan antropolog lapangan maupun dari kalangan yang mempertanyakan keabsahan metodologisnya secara lebih mendasar. Sejumlah kritikus, termasuk antropolog yang pernah melakukan kerja lapangan langsung pada masyarakat-masyarakat yang mitosnya dianalisis Lévi-Strauss, mempertanyakan apakah metode “bola salju” yang menghubungkan ratusan mitos dari wilayah geografis yang sangat luas, dari Amazon hingga Arktik, tidak mengabaikan konteks historis, sosial, dan performatif spesifik tempat masing-masing mitos itu sesungguhnya diceritakan dan dihayati oleh masyarakat pemiliknya, dengan analisis struktural yang begitu abstrak berisiko memperlakukan mitos semata sebagai data logis yang terlepas dari kehidupan sosial konkret yang menghidupinya. Kritik lain, yang lebih bersifat metodologis, mempertanyakan tingkat kebebasan interpretatif yang diambil Lévi-Strauss dalam memilih oposisi dan korespondensi mana yang dianggap signifikan dari sekian banyak detail yang terdapat dalam setiap mitos, sebuah keberatan yang menggemakan kritik serupa yang telah dilontarkan terhadap Les structures élémentaires de la parenté sebelumnya, yaitu kecurigaan bahwa kerangka struktural yang telah ditetapkan sejak awal cenderung membentuk dan membatasi apa yang ditemukan dalam data, ketimbang dibiarkan muncul secara induktif murni dari data itu sendiri. Terlepas dari perdebatan metodologis ini, Le Cru et le cuit tetap diakui luas sebagai salah satu puncak pencapaian strukturalisme Prancis, sebuah demonstrasi paling ambisius tentang bagaimana metode linguistik dapat diperluas untuk menyingkap logika tersembunyi dalam salah satu domain pengalaman manusia yang paling universal dan paling mendasar: bagaimana manusia, di mana pun dan kapan pun, mengubah bahan mentah alam menjadi santapan yang bermakna secara budaya.

Kritik terhadap Humanisme dan Antroposentrisme

Pada periode akhir kariernya, terutama sejak jilid penutup Mythologiques, L’homme nu (1971), dan semakin menguat dalam kumpulan esai serta wawancara yang ia terbitkan pada dekade-dekade berikutnya, Lévi-Strauss merumuskan secara lebih eksplisit sebuah posisi filosofis yang telah tersirat sejak awal kariernya namun kini ditegaskan sebagai kesimpulan sistematis dari seluruh proyek intelektualnya: kritik mendalam terhadap humanisme Barat dan antroposentrisme yang menyertainya. Posisi ini perlu dipahami sebagai kelanjutan logis dari argumen “anti-humanis” yang telah disinggung dalam konfrontasinya dengan Sartre pada pembahasan La Pensée sauvage sebelumnya, namun di sini Lévi-Strauss memperluas jangkauan kritiknya jauh melampaui persoalan subjek sejarah manusia, menuju pertanyaan yang lebih mendasar tentang status ontologis manusia itu sendiri relatif terhadap alam dan spesies-spesies lain.

Lévi-Strauss membedakan secara tajam antara dua warisan humanisme Barat yang sering dicampuradukkan namun, menurutnya, membawa implikasi yang sangat berbeda. Yang pertama adalah humanisme Renaisans klasik, yang berakar pada tradisi filologi dan studi klasik, yang menempatkan penghormatan terhadap keberagaman kebudayaan dan pencapaian intelektual manusia sebagai nilai sentral, sebuah tradisi yang ia hargai dan yang ia anggap sejalan dengan proyek antropologinya sendiri dalam mendokumentasikan dan menghormati kekayaan kebudayaan manusia di seluruh dunia. Yang kedua, dan yang menjadi sasaran kritiknya, adalah humanisme pasca-Pencerahan yang menempatkan manusia sebagai pusat dan tujuan akhir alam semesta, pemegang hak istimewa atas seluruh ciptaan lain, sebuah warisan yang ia telusuri hingga ke akar teologis Kristen tentang manusia sebagai gambar Allah yang diberi kuasa atas alam, yang kemudian disekulerkan namun dipertahankan strukturnya oleh filsafat pencerahan dan, lebih jauh lagi, oleh eksistensialisme Sartrean yang menempatkan kesadaran dan kebebasan manusia sebagai sumber makna tertinggi yang membedakannya secara radikal dari seluruh alam non-manusia.

Kritik Lévi-Strauss terhadap antroposentrisme ini bertumpu pada sebuah pengamatan metodologis yang konsisten dengan seluruh karier intelektualnya: sebagaimana ia menolak hierarki antara pikiran “primitif” dan pikiran “modern” (dibahas pada bagian tentang La Pensée sauvage), dan menolak privilese sejarah Barat sebagai bentuk kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat “tanpa sejarah”, ia juga menolak privilese spesies manusia itu sendiri sebagai sesuatu yang secara kategoris terpisah dan lebih unggul dibandingkan spesies lain. Dalam kuliah publiknya yang terkenal berjudul “Race et culture” (1971), disampaikan pada perayaan ulang tahun UNESCO ke-25, sebuah lembaga yang dua dekade sebelumnya justru memintanya menulis pamflet anti-rasisme Race et histoire (1952), Lévi-Strauss mengembangkan argumen yang mengejutkan dan kontroversial pada masanya: bahwa keragaman kebudayaan manusia, yang nilainya ia pertahankan mati-matian sepanjang kariernya, justru bergantung pada adanya jarak dan perbedaan tertentu antarkelompok manusia, sehingga proyek penyatuan dunia menjadi satu kebudayaan global yang homogen, betapapun diniatkan secara baik demi menghapus rasisme dan konflik, berisiko justru menghancurkan kekayaan keragaman yang ingin dilindungi, sebuah argumen yang memicu kontroversi tajam dan dituduh sejumlah pihak sebagai bentuk relativisme budaya yang berbahaya, meski Lévi-Strauss sendiri bersikukuh bahwa argumennya adalah argumen struktural tentang syarat keberagaman, bukan pembenaran terhadap segregasi atau diskriminasi rasial.

Dimensi lain dari kritik antroposentrisme Lévi-Strauss, yang semakin menonjol pada tulisan-tulisan masa tuanya, berkaitan dengan hubungan manusia dengan spesies non-manusia, terutama hewan. Mengembangkan lebih jauh wawasan yang telah ia rintis dalam analisis totemisme (dibahas pada bagian sebelumnya), yaitu bahwa spesies-spesies alam dipilih manusia sebagai totem karena nilai konseptualnya sebagai sistem tanda yang “baik untuk dipikirkan”, Lévi-Strauss pada masa tuanya semakin menekankan bahwa relasi manusia dengan hewan dalam pemikiran mitis berbagai masyarakat non-Barat jauh lebih setara dan lebih menghormati kontinuitas antara dunia manusia dan dunia hewan, dibandingkan dengan tradisi Barat modern yang, sejak Descartes merumuskan hewan sebagai mesin otomat tanpa jiwa dan kesadaran dalam Discours de la méthode, menempatkan jurang kategoris yang tegas antara manusia yang berakal dengan hewan yang sekadar diatur naluri mekanis. Dalam berbagai esai dan wawancara menjelang akhir hidupnya, termasuk dalam kumpulan Le regard éloigné (1983) dan wawancara-wawancara panjangnya dengan Didier Eribon yang diterbitkan sebagai De près et de loin (1988), Lévi-Strauss secara eksplisit menyuarakan keprihatinan tentang bagaimana humanisme Cartesian ini, dengan menyingkirkan hewan dari lingkup pertimbangan moral, pada akhirnya turut melegitimasi eksploitasi industrial terhadap alam dan hewan dalam peradaban Barat modern, sebuah posisi yang membuatnya kelak dirujuk sebagai salah satu pelopor awal dari apa yang kemudian berkembang menjadi wacana posthumanisme dan studi hewan kritis (critical animal studies) pada akhir abad kedua puluh dan awal abad kedua puluh satu.

Posisi filosofis ini membawa Lévi-Strauss pada rumusan yang secara radikal membalikkan hierarki tradisional antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu alam. Jika humanisme pasca-Pencerahan cenderung memandang ilmu-ilmu kemanusiaan (sejarah, filsafat, sastra) sebagai ranah yang secara kategoris terpisah dan lebih luhur dibandingkan ilmu-ilmu alam yang dianggap hanya berurusan dengan materi tanpa makna, Lévi-Strauss, melalui seluruh proyek strukturalismenya, justru berusaha menunjukkan bahwa fenomena kemanusiaan, termasuk mitos, kekerabatan, dan bahasa, dapat dan harus dianalisis dengan ketelitian metodologis yang setara dengan ilmu-ilmu alam, sebab keduanya sama-sama tunduk pada hukum-hukum struktural yang dapat diformalkan. Lebih jauh, dalam pernyataan yang sering dikutip dan dianggap merangkum keseluruhan arah filosofisnya pada periode akhir karier, Lévi-Strauss menyatakan bahwa tujuan akhir ilmu-ilmu kemanusiaan bukanlah untuk mengonstitusikan manusia, melainkan untuk membubarkannya (non pas à constituer l’homme, mais à le dissoudre), sebuah rumusan yang menegaskan kembali, dalam bentuknya yang paling ekstrem, posisi anti-humanis strukturalnya: bagi Lévi-Strauss, tugas sejati antropologi dan ilmu kemanusiaan bukanlah merayakan keistimewaan dan keunikan manusia sebagaimana diandaikan humanisme tradisional, melainkan menunjukkan bagaimana fenomena manusia, termasuk kesadaran dan kebudayaannya yang tampak begitu khas, pada akhirnya dapat dijelaskan melalui struktur-struktur dan hukum-hukum yang sama universalnya dengan hukum-hukum yang mengatur alam, sehingga batas kategoris antara manusia dan alam, yang menjadi fondasi seluruh humanisme Barat sejak Renaisans, pada akhirnya menjadi batas yang jauh lebih cair dan problematis daripada yang selama ini diandaikan.

Karya Claude Lévi-Strauss

  • “L’analyse structurale en linguistique et en anthropologie” (1945)
  • La vie familiale et sociale des Indiens Nambikwara (1948)
  • Les structures élémentaires de la parenté (1949)
  • “L’efficacité symbolique” (1949)
  • Race et histoire (1952)
  • Tristes tropiques (1955)
  • Anthropologie structurale (1958)
  • Le totémisme aujourd’hui (1962)
  • La pensée sauvage (1962)
  • Mythologiques I: Le cru et le cuit (1964)
  • Mythologiques II: Du miel aux cendres (1966)
  • Mythologiques III: L’origine des manières de table (1968)
  • Mythologiques IV: L’homme nu (1971)
  • Anthropologie structurale deux (1973)
  • La voie des masques (1975)
  • Le regard éloigné (1983)
  • La potière jalouse (1985)
  • Histoire de Lynx (1991)
  • Regarder, écouter, lire (1993)
  • Saudades do Brasil (1994)

Referensi

  • Barthes, R. (1957). Mythologies. Éditions du Seuil.
  • Boas, F. (1940). Race, language and culture. Macmillan.
  • Jakobson, R. (1963). Essais de linguistique générale. Éditions de Minuit.
  • Leach, E. (1970). Lévi-Strauss. Fontana Modern Masters.
  • Lévi-Strauss, C. (1963). Structural anthropology (C. Jacobson & B. G. Schoepf, Penerj.). Basic Books.
  • Lévi-Strauss, C. (1966). The savage mind. University of Chicago Press.
  • Lévi-Strauss, C. (1969). The elementary structures of kinship (J. H. Bell, J. R. von Sturmer, & R. Needham, Penerj.). Beacon Press.
  • Lévi-Strauss, C. (1969). The raw and the cooked (J. Weightman & D. Weightman, Penerj.). Harper & Row.
  • Lévi-Strauss, C. (1973). From honey to ashes (J. Weightman & D. Weightman, Penerj.). Harper & Row.
  • Lévi-Strauss, C. (1973). Tristes tropiques (J. Weightman & D. Weightman, Penerj.). Jonathan Cape.
  • Lévi-Strauss, C. (1978). The origin of table manners (J. Weightman & D. Weightman, Penerj.). Harper & Row.
  • Lévi-Strauss, C. (1981). The naked man (J. Weightman & D. Weightman, Penerj.). Harper & Row.
  • Lévi-Strauss, C. (1982). The way of the masks (S. Modelski, Penerj.). University of Washington Press.
  • Lévi-Strauss, C. (1983). Structural anthropology, Volume 2 (M. Layton, Penerj.). University of Chicago Press.
  • Merleau-Ponty, M. (1960). Signes. Éditions Gallimard.
  • Saussure, F. de. (1959). Course in general linguistics (W. Baskin, Penerj.). Philosophical Library.
  • Wiseman, B. (2007). Lévi-Strauss, anthropology, and aesthetics. Cambridge University Press.

Citation

Previous Article

Anarkisme

Next Article

Kognitivisme

Citation copied!