Filsafat Thomas Aquinas

Thomas Aquinas

Dipublikasikan: 17 April 2026

Terakhir diperbarui: 15 April 2026

Pontianak – Thomas Aquinas lahir sekitar tahun 1225 di Roccasecca, sebuah wilayah di Kerajaan Sisilia (Italia modern). Ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki hubungan dengan kalangan politik dan gereja.

Biografi Thomas Aquinas

Sejak usia muda, Aquinas telah diarahkan untuk menjalani kehidupan religius, bahkan sempat dikirim ke biara Benediktin di Monte Cassino dengan harapan kelak menjadi abbas. Namun, jalannya justru membawa ia ke dunia intelektual yang lebih luas.

Pendidikan lanjutnya ditempuh di Universitas Napoli, tempat ia pertama kali mengenal karya-karya Aristoteles yang saat itu mulai kembali dipelajari di Eropa Barat melalui terjemahan Latin. Di sana pula Aquinas tertarik pada Ordo Dominikan, sebuah ordo religius yang menekankan kehidupan intelektual dan pengajaran. Keputusan ini ditentang keras oleh keluarganya, bahkan ia sempat ditahan selama hampir satu tahun untuk membatalkan niatnya. Namun, Aquinas tetap teguh dan akhirnya bergabung dengan Dominikan.

Setelah itu, ia melanjutkan studinya di bawah bimbingan Albertus Magnus di Köln dan kemudian di Paris. Di sinilah Aquinas mulai menunjukkan kecemerlangannya sebagai pemikir skolastik. Ia dikenal sebagai sosok yang tenang, pendiam, tetapi sangat mendalam dalam berpikir. Karena sifatnya yang diam, ia sempat dijuluki “lembu bisu” oleh teman-temannya, tetapi gurunya, Albertus Magnus, meramalkan bahwa “suara lembu ini akan terdengar ke seluruh dunia”—sebuah ramalan yang terbukti benar.

Sepanjang hidupnya, Aquinas mengajar di berbagai pusat intelektual, terutama di Universitas Paris, yang merupakan salah satu pusat utama pemikiran Eropa pada masa itu. Ia menulis banyak karya penting dalam bidang teologi dan filsafat, serta berusaha menyatukan ajaran Kristen dengan filsafat rasional, khususnya pemikiran Aristotelian. Pendekatannya yang sistematis dan logis menjadikannya tokoh sentral dalam tradisi skolastik.

Pada tahun 1274, Aquinas wafat dalam perjalanan menuju Konsili Lyon. Meskipun hidupnya relatif singkat, pengaruhnya sangat besar dan bertahan lama. Ia dikanonisasi sebagai santo oleh Gereja Katolik pada tahun 1323 dan kemudian dinyatakan sebagai Doctor of the Church. Hingga kini, pemikirannya tetap menjadi salah satu pilar utama dalam filsafat dan teologi Barat.

Pemikiran Thomas Aquinas

Iman dan Akal

Dalam pemikiran Thomas Aquinas, hubungan antara iman (faith) dan akal (reason) bukanlah hubungan yang saling bertentangan, melainkan hubungan yang harmonis dan saling melengkapi. Ia menolak pandangan ekstrem yang memisahkan keduanya secara tajam, sekaligus juga menolak anggapan bahwa salah satunya harus lebih tinggi dengan meniadakan yang lain.

Aquinas berangkat dari keyakinan bahwa kebenaran itu satu, dan karena itu tidak mungkin ada pertentangan sejati antara kebenaran yang diperoleh melalui akal dan kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan. Akal manusia, menurutnya, adalah anugerah ilahi yang memungkinkan manusia memahami dunia secara rasional. Sementara itu, iman adalah cara manusia menerima kebenaran yang melampaui kemampuan akal.

Dalam hal ini, Aquinas banyak dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles, terutama dalam penggunaan logika dan metode rasional. Ia menggunakan akal untuk menjelaskan dan membela ajaran iman, misalnya dalam upayanya membuktikan keberadaan Tuhan melalui argumen rasional. Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua kebenaran dapat dijangkau oleh akal semata.

Aquinas membedakan dua jenis kebenaran:

  • Kebenaran yang dapat dicapai oleh akal
    Misalnya, keberadaan Tuhan, prinsip sebab-akibat, dan hukum-hukum alam. Hal-hal ini dapat dipahami melalui pengamatan dan penalaran filosofis.
  • Kebenaran yang hanya diketahui melalui wahyu (iman)
    Misalnya, konsep Trinitas, inkarnasi, dan rahasia ilahi lainnya yang tidak dapat dibuktikan secara rasional, tetapi diterima melalui iman.
Baca juga :  Dualisme

Meskipun demikian, iman tidak bersifat irasional. Bagi Aquinas, iman justru “menyempurnakan” akal. Akal dapat mempersiapkan manusia untuk menerima iman, sementara iman memberikan arah dan tujuan akhir bagi akal. Dengan kata lain, akal membantu manusia memahami mengapa ia percaya, sedangkan iman memberikan isi dari apa yang dipercaya.

Eksistensi Tuhan (Lima Jalan)

Aquinas mengikuti metode yang sangat dipengaruhi oleh Aristoteles, yaitu bergerak dari hal-hal yang dapat diamati menuju prinsip pertama yang menjadi dasar penjelasan. Dengan pendekatan ini, ia merumuskan lima argumen yang dikenal sebagai Lima Jalan, yang masing-masing menunjukkan bahwa realitas dunia menuntut adanya suatu sebab pertama yang bersifat mutlak.

Argumen pertama, yaitu jalan dari gerak, berangkat dari fakta bahwa segala sesuatu dalam dunia mengalami perubahan. Perubahan ini dipahami sebagai peralihan dari potensi menjadi aktual. Sesuatu yang masih potensial tidak dapat mengaktualkan dirinya sendiri; ia memerlukan sesuatu yang sudah aktual. Rantai penggerak ini, menurut Aquinas, tidak mungkin berlangsung tanpa awal, karena tanpa penggerak pertama tidak akan ada gerak sama sekali. Harus ada suatu realitas yang sepenuhnya aktual, tidak memiliki potensi, dan menjadi sumber segala gerak—yang diidentifikasi sebagai Tuhan.

Argumen kedua, dari sebab-akibat, menyoroti struktur kausalitas dalam dunia. Setiap peristiwa memiliki sebab yang mendahuluinya, dan tidak ada sesuatu yang dapat menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Aquinas menolak kemungkinan regresi tak terbatas dalam rantai sebab, karena jika tidak ada sebab pertama, maka tidak akan ada sebab menengah maupun akibat. Oleh karena itu, diperlukan suatu sebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun, yang menjadi fondasi bagi seluruh jaringan sebab-akibat di alam semesta.

Argumen ketiga, dari kontingensi, memperdalam analisis dengan membedakan antara hal-hal yang mungkin ada dan mungkin tidak ada (kontingen) dengan yang niscaya. Segala sesuatu yang kita jumpai di dunia tampak bersifat kontingen—ia muncul dan lenyap, ada dan tidak ada. Jika segala sesuatu bersifat demikian, maka secara logis mungkin pernah ada keadaan di mana tidak ada apa pun. Namun, dari ketiadaan mutlak, tidak mungkin muncul sesuatu. Karena itu, harus ada suatu entitas yang keberadaannya niscaya, tidak bergantung pada apa pun, dan menjadi sumber keberadaan bagi segala yang kontingen.

Argumen keempat, dari tingkatan kesempurnaan, berangkat dari fakta bahwa manusia membuat penilaian komparatif—sesuatu dianggap lebih baik, lebih benar, atau lebih mulia dibandingkan yang lain. Penilaian ini mengandaikan adanya standar maksimum sebagai acuan. Aquinas berpendapat bahwa segala tingkat kesempurnaan yang terbatas mengarah pada suatu kesempurnaan tertinggi yang menjadi sumber dari semua kualitas tersebut. Dengan demikian, harus ada realitas yang paling sempurna, yang menjadi ukuran dan sebab dari segala kesempurnaan dalam dunia.

Argumen kelima, yang bersifat teleologis, menyoroti keteraturan dan tujuan dalam alam. Bahkan benda-benda yang tidak memiliki kesadaran bertindak secara terarah, seolah-olah mengikuti tujuan tertentu—misalnya hukum-hukum alam yang konsisten. Keteraturan ini tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kebetulan, melainkan menunjukkan adanya prinsip pengarah yang cerdas. Aquinas menyimpulkan bahwa harus ada suatu intelek tertinggi yang mengarahkan segala sesuatu menuju tujuannya, yakni Tuhan.

Hukum Alam (Natural Law)

Konsep Hukum Alam (Natural Law) merupakan salah satu pilar utama yang menjelaskan bagaimana manusia dapat mengetahui yang baik dan yang buruk melalui akal. Aquinas memandang bahwa alam semesta tidak berjalan secara acak, melainkan diatur oleh suatu tatanan rasional yang berasal dari Tuhan. Tatanan ini disebut sebagai hukum kekal (eternal law), yaitu rencana ilahi yang mengatur seluruh ciptaan. Hukum alam adalah partisipasi manusia—melalui akalnya—dalam hukum kekal tersebut.

Baca juga :  Monisme

Bagi Aquinas, manusia memiliki kemampuan rasional yang memungkinkannya mengenali prinsip-prinsip dasar moral tanpa harus selalu bergantung pada wahyu. Prinsip paling fundamental dari hukum alam adalah: kebaikan harus dilakukan dan dikejar, sedangkan kejahatan harus dihindari. Dari prinsip umum ini, akal manusia dapat menurunkan berbagai aturan moral yang lebih spesifik, sesuai dengan kodrat atau sifat dasar manusia itu sendiri.

Aquinas menekankan bahwa hukum alam berakar pada kodrat manusia (human nature). Karena manusia adalah makhluk hidup, ia memiliki kecenderungan alami untuk mempertahankan hidup. Karena manusia juga makhluk rasional, ia terdorong untuk mencari kebenaran. Dan sebagai makhluk sosial, manusia cenderung hidup dalam masyarakat dan membangun hubungan yang tertib. Dari kecenderungan-kecenderungan ini, muncul prinsip-prinsip moral seperti menjaga kehidupan, mencari pengetahuan, dan hidup secara adil dalam komunitas.

Dengan demikian, hukum alam bersifat universal dan berlaku bagi semua manusia, tanpa memandang budaya, agama, atau waktu. Ia tidak bergantung pada kesepakatan sosial semata, melainkan pada struktur dasar keberadaan manusia itu sendiri. Namun, Aquinas juga mengakui bahwa penerapan hukum alam dapat berbeda-beda dalam praktik, karena dipengaruhi oleh kondisi, kebiasaan, dan keterbatasan pengetahuan manusia.

Lebih jauh, Aquinas membedakan hukum alam dari hukum manusia (human law). Hukum manusia adalah aturan-aturan konkret yang dibuat oleh masyarakat atau negara untuk mengatur kehidupan bersama. Idealnya, hukum manusia harus didasarkan pada hukum alam. Jika suatu hukum bertentangan dengan prinsip moral yang rasional—misalnya tidak adil atau merugikan kebaikan umum—maka hukum tersebut kehilangan legitimasi moralnya.

Esensi dan Eksistensi

Salah satu kontribusi metafisika paling mendalam dari Thomas Aquinas adalah pembedaan antara esensi (essentia) dan eksistensi (esse). Pembedaan ini digunakan untuk menjelaskan struktur terdalam dari realitas: apa arti “menjadi sesuatu” dan “ada” itu sendiri. Aquinas mengembangkan gagasan ini dengan memadukan warisan filsafat Aristoteles dengan refleksi teologisnya.

Esensi merujuk pada “apa” sesuatu itu—hakikat atau sifat dasar yang membuat sesuatu menjadi jenis tertentu. Misalnya, esensi manusia adalah makhluk rasional; esensi pohon adalah organisme hidup yang tumbuh dan berakar. Esensi menjawab pertanyaan apa itu sesuatu. Namun, mengetahui esensi suatu hal tidak otomatis berarti bahwa hal tersebut benar-benar ada. Kita bisa memahami esensi “naga” atau “makhluk mitologis” tanpa harus mengakui keberadaannya dalam kenyataan.

Sebaliknya, eksistensi merujuk pada fakta bahwa sesuatu itu ada. Eksistensi adalah aktualitas dari esensi—ia menjadikan sesuatu yang hanya mungkin menjadi benar-benar nyata. Dalam bahasa Aquinas, eksistensi adalah “aktus keberadaan” (actus essendi), yaitu prinsip yang mengaktualkan esensi sehingga hadir dalam realitas. Tanpa eksistensi, esensi hanya bersifat konseptual atau potensial.

Aquinas menegaskan bahwa dalam semua makhluk ciptaan, esensi dan eksistensi adalah dua hal yang berbeda. Sesuatu tidak ada karena esensinya sendiri, melainkan karena “diberi keberadaan.” Artinya, tidak ada makhluk yang memiliki keberadaan secara mandiri; semua bergantung pada sebab yang memberinya eksistensi. Pembedaan ini menjadi dasar bagi argumen metafisis Aquinas tentang ketergantungan segala sesuatu pada sumber keberadaan yang lebih fundamental.

Baca juga :  Esensialisme

Berbeda dengan makhluk ciptaan, Aquinas menyatakan bahwa pada Tuhan tidak ada perbedaan antara esensi dan eksistensi. Dalam Tuhan, “apa Dia” dan “bahwa Dia ada” adalah satu dan sama. Tuhan tidak menerima keberadaan dari apa pun; Ia adalah keberadaan itu sendiri (ipsum esse subsistens). Karena itu, Tuhan bersifat niscaya, tidak bergantung, dan menjadi sumber eksistensi bagi segala sesuatu yang lain.

Etika dan Kebahagiaan

Berbeda dari pengertian kebahagiaan yang bersifat sementara atau emosional, Aquinas memahami kebahagiaan sebagai keadaan tertinggi dan paling sempurna dari kehidupan manusia—suatu pemenuhan total dari kodrat manusia sebagai makhluk rasional dan spiritual. Dengan demikian, etika bukan sekadar aturan tentang benar dan salah, melainkan panduan menuju kehidupan yang mencapai kesempurnaan tersebut.

Aquinas banyak dipengaruhi oleh etika Aristoteles, terutama dalam gagasan bahwa setiap tindakan manusia memiliki tujuan (telos). Namun, ia melampaui Aristoteles dengan menegaskan bahwa tujuan tertinggi manusia bukan hanya kebahagiaan duniawi, melainkan persatuan dengan Tuhan. Kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai sepenuhnya dalam kehidupan ini, karena semua hal duniawi bersifat terbatas. Oleh karena itu, kebahagiaan tertinggi bersifat transenden dan hanya tercapai dalam visi langsung terhadap Tuhan (beatific vision).

Dalam kerangka ini, Aquinas membedakan dua jenis kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan tidak sempurna (imperfect happiness), yang dapat dicapai di dunia melalui kehidupan yang baik, penggunaan akal, dan praktik kebajikan. Kedua, kebahagiaan sempurna (perfect happiness), yang hanya dapat dicapai dalam kehidupan setelah mati melalui persatuan dengan Tuhan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kehidupan moral di dunia adalah persiapan menuju tujuan akhir yang lebih tinggi.

Etika Aquinas berpusat pada konsep kebajikan (virtue), yaitu disposisi tetap dalam diri manusia untuk bertindak baik. Ia membagi kebajikan menjadi dua kelompok utama. Kebajikan moral—seperti keadilan, keberanian, dan pengendalian diri—mengatur tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, kebajikan teologis—iman, harapan, dan kasih—mengarah langsung kepada Tuhan sebagai tujuan akhir. Kebajikan-kebajikan ini tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga mengarahkan kehendak manusia agar selaras dengan kebaikan sejati.

Aquinas juga menekankan peran akal dalam kehidupan moral. Tindakan yang baik adalah tindakan yang sesuai dengan akal yang benar (right reason), yaitu akal yang memahami tujuan sejati manusia. Dalam hal ini, hukum alam menjadi panduan objektif bagi tindakan manusia, sehingga moralitas tidak bersifat relatif, melainkan berakar pada struktur rasional dari kodrat manusia.

Karya Thomas Aquinas

  • Summa Theologiae (1265–1274)
  • Summa contra Gentiles (1259–1265)
  • Commentary on the Sentences (1252–1256)
  • De Ente et Essentia (1252–1256)
  • Quaestiones Disputatae (1256-1259)
  • Catena Aurea (1260-an)

Referensi

  • Thomas Aquinas. (2006). Summa Theologiae. Cambridge University Press.
  • Davies, Brian. (1992). The Thought of Thomas Aquinas. Oxford University Press.
  • Kenny, Anthony. (1980). Aquinas. Oxford University Press.
  • Stanford Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Thomas Aquinas.
  • Internet Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Thomas Aquinas.
  • Gilson, Étienne. (1956). The Christian Philosophy of St. Thomas Aquinas. University of Notre Dame Press.
  • Copleston, Frederick. (1993). A History of Philosophy, Vol. 2. Image Books.

FAQ

Apa itu “Lima Jalan” Aquinas?

Lima Jalan adalah lima argumen rasional yang diajukan untuk membuktikan keberadaan Tuhan, seperti argumen dari gerak, sebab-akibat, dan keteraturan alam.

Apa yang dimaksud hukum alam menurut Aquinas?

Hukum alam adalah prinsip moral universal yang dapat dipahami melalui akal manusia dan menjadi dasar penilaian baik-buruk.

Mengapa Aquinas penting dalam tradisi skolastik?

Karena ia berhasil merumuskan sistem pemikiran yang sistematis dan rasional, yang menjadi dasar teologi Katolik selama berabad-abad.

Citation

Previous Article

John Locke

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Citation copied!