Dipublikasikan: 1 Juni 2026
Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2026
Dipublikasikan: 1 Juni 2026
Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2026
Secara etimologis, kata “fallacy” berasal dari bahasa Latin fallacia (dari falsus: “salah”) melalui bahasa Prancis Kuno fallacie. Akar kata Latin fallere berarti “menipu”, “mengelabui”, atau “membuat salah”. Bentuk bahasa Inggris lama fallacioun (sekitar abad ke-14) kemudian berkembang menjadi modern “fallacy”, mempertahankan makna semantik terkait penipuan atau kesalahan dalam penalaran.
Daftar Isi
Fallacy adalah kesalahan sistematis dalam penalaran yang membuat suatu argumen tampak meyakinkan padahal kesimpulannya tidak didukung secara logis oleh premisnya. Fallacy dapat muncul meskipun fakta-fakta yang dipakai benar; penyebabnya biasanya adalah struktur argumen yang keliru, asumsi tersembunyi yang salah, bukti yang tidak memadai, atau penggunaan retorika yang menyesatkan. Karena fallacy mengaburkan batas antara argumen yang sah dan yang lemah, mengenalinya penting untuk menilai klaim secara kritis dan membuat keputusan yang lebih rasional.
Secara umum ada dua kategori utama: formal dan informal. Formal fallacy terjadi ketika bentuk logis argumen itu sendiri cacat—contoh klasiknya adalah affirming the consequent atau denying the antecedent—sehingga, terlepas dari kebenaran premis, kesimpulan tidak mengikuti secara valid. Informal fallacy berkaitan dengan konten, konteks, atau bahasa; contohnya termasuk ad hominem (menyerang orang daripada argumen), straw man (mengalih-artikan posisi lawan menjadi versi yang lebih mudah diserang), dan false dilemma (menyajikan hanya dua pilihan padahal lebih banyak opsi tersedia).
Fallacy juga sering bekerja melalui strategi retoris: memainkan emosi, menyembunyikan kekurangan bukti, atau memanfaatkan ambiguitas bahasa. Beberapa fallacy berakar pada bias kognitif—misalnya hasty generalization terkait dengan pengambilan kesimpulan dari sampel terlalu kecil, atau confirmation bias yang membuat seseorang hanya memerhatikan bukti yang menguatkan keyakinannya. Memahami jenis-jenis fallacy dan bagaimana mereka muncul membantu kita membedakan argumen yang kuat dari yang menipu, memperbaiki cara berdebat, dan meningkatkan kualitas diskusi publik maupun pribadi.
Mengidentifikasi fallacy tidak selalu otomatis membuktikan bahwa kesimpulan salah—hanya menunjukkan bahwa argumen yang diajukan lemah atau tidak lengkap. Setelah menemukan fallacy, langkah selanjutnya adalah menunjukkan letak kesalahan struktur atau bukti, lalu menyusun argumen pengganti yang valid dan didukung bukti. Dengan demikian, pemahaman tentang fallacy adalah alat praktis untuk berpikir kritis, memeriksa klaim, dan memperbaiki komunikasi rasional.
Berikut daftar fallacy :