Appeal to Tradition

Appeal to Tradition Fallacy

Dipublikasikan: 15 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 15 Oktober 2026

Dalam sebuah rapat, seorang karyawan baru mengusulkan agar laporan bulanan dibuat secara digital supaya lebih cepat dan mudah dilacak. Seorang senior menolak dengan alasan, “Dari dulu kita selalu membuatnya di atas kertas, dan tidak pernah ada masalah.” Kelebihan dan kekurangan usulan itu tidak dibahas. Yang dijadikan alasan hanyalah kebiasaan lama.

Itulah gambaran appeal to tradition, kekeliruan penalaran ketika sesuatu dianggap benar, baik, atau layak dipertahankan semata karena sudah lama dilakukan atau diwariskan turun-temurun. Pola ini terasa meyakinkan karena tradisi memang membawa pengalaman, identitas, dan rasa aman. Kita cenderung percaya bahwa sesuatu yang bertahan lama pasti memiliki alasan yang kuat.

Kekeliruan ini sering muncul dalam kehidupan organisasi, kebijakan publik, praktik budaya, pengobatan tradisional, hingga perdebatan tentang perubahan sosial. Memahaminya membantu kita membedakan antara menghargai warisan yang bernilai dan menolak perubahan hanya karena sudah terbiasa.

Pengertian Appeal to Tradition Fallacy

Appeal to tradition adalah kekeliruan penalaran logika ketika seseorang menyimpulkan bahwa suatu praktik, keyakinan, atau kebijakan benar atau lebih baik hanya karena sudah lama berlangsung atau merupakan bagian dari tradisi, tanpa menilai apakah praktik tersebut memang didukung alasan dan bukti yang kuat. Dalam literatur, bentuk ini juga dikenal sebagai argumentum ad antiquitatem, appeal to antiquity, atau appeal to common practice dalam sebagian pembahasan.

Pola penalarannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Praktik atau keyakinan X sudah lama dilakukan atau dipercaya.
  2. X merupakan bagian dari tradisi.
  3. Karena itu, X benar atau baik, dan layak dipertahankan.

Kekeliruannya terletak pada langkah ketiga. Usia sebuah praktik tidak menentukan kebenaran atau kebaikannya. Banyak kebiasaan lama yang terbukti keliru atau merugikan setelah diperiksa, sementara banyak gagasan baru yang justru lebih tepat. Sebuah praktik yang bertahan lama mungkin bertahan karena manfaatnya, tetapi mungkin juga karena kebiasaan, kenyamanan, atau kurangnya pemeriksaan.

Baca juga :  Ekologi Dalam

Kekeliruan ini memiliki bentuk kebalikan, yaitu appeal to novelty, ketika sesuatu dianggap lebih baik hanya karena baru. Keduanya sama-sama mengganti penilaian atas isi dengan penilaian atas usia.

Dalam kerangka pragma-dialektika, pola ini dianggap menghambat diskusi kritis karena menutup kemungkinan untuk mempertanyakan suatu praktik dengan menjadikannya kebal terhadap pemeriksaan.

Beberapa ciri yang membantu mengenali appeal to tradition:

  • Alasan utama yang diajukan adalah “dari dulu sudah begitu”.
  • Usia atau kelestarian suatu praktik dianggap sebagai bukti kebenarannya.
  • Manfaat, risiko, dan alternatif tidak diperiksa.
  • Usulan perubahan ditolak tanpa tanggapan substantif.
  • Kalimat khas seperti “ini sudah turun-temurun” atau “nenek moyang kita juga begitu”.

Perlu dibedakan dari penggunaan yang sah. Tradisi dapat menjadi bukti tidak langsung bahwa suatu praktik pernah teruji oleh waktu dan pengalaman, sehingga layak dipertimbangkan secara serius. Selain itu, tradisi memiliki nilai budaya, identitas, dan spiritual yang sah untuk dipertahankan, selama pembelaannya tidak mengklaim bahwa tradisi itu otomatis benar secara faktual atau bebas dari kritik.

Contoh Appeal to Tradition Fallacy

Contoh 1: Organisasi

A: “Sebaiknya kita beralih ke sistem pelaporan digital agar lebih efisien.”
B: “Kita sudah memakai kertas selama puluhan tahun, jadi tidak perlu diubah.”

B tidak membahas efisiensi, biaya, atau risiko kedua sistem. Ia hanya merujuk pada lamanya kebiasaan.

Contoh 2: Kebijakan publik

“Aturan ini sudah berlaku sejak zaman dahulu, jadi pasti yang terbaik bagi masyarakat.”

Usia sebuah aturan tidak membuktikan bahwa aturan itu masih relevan atau adil.

Contoh 3: Kesehatan

“Ramuan ini sudah dipakai nenek moyang kita selama berabad-abad, jadi pasti ampuh menyembuhkan penyakit tersebut.”

Pemakaian turun-temurun tidak menggantikan uji keamanan dan efektivitas. Klaim penyembuhan tetap perlu dibuktikan lewat penelitian.

Baca juga :  Thales

Contoh 4: Pendidikan

“Murid belajar dengan menghafal sejak dulu dan banyak yang berhasil, jadi metode lain tidak perlu dicoba.”

Keberhasilan sebagian orang di masa lalu tidak membuktikan bahwa metode tersebut paling efektif dibandingkan alternatif lain.

Contoh 5: Sosial

“Dari dulu perempuan di keluarga kami tidak melanjutkan sekolah tinggi, jadi biarkan saja begitu.”

Kebiasaan lama tidak membenarkan pembatasan yang merugikan. Praktik tersebut perlu dinilai berdasarkan keadilan dan dampaknya.

Contoh yang bukan appeal to tradition

“Teknik pembuatan kain tenun ini diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya komunitas kami. Karena itu, kami berkomitmen melestarikannya sambil tetap terbuka pada inovasi yang sesuai.”

Tradisi dipertahankan karena nilai budaya dan identitasnya, bukan karena klaim bahwa usianya membuktikan kebenaran faktual. Pernyataan ini juga tidak menutup ruang bagi perubahan.

Cara Mengatasi Appeal to Tradition Fallacy

Cara paling efektif agar tidak menjadi sasaran appeal to tradition adalah menyiapkan alasan dan bukti yang menunjukkan nilai usulan Anda secara langsung. Ketika Anda mengusulkan perubahan, jelaskan manfaat, biaya, dan risikonya dengan data yang dapat diperiksa, sehingga diskusi berpusat pada kualitas gagasan dan bukan pada kebiasaan lama. Hormati pula nilai tradisi yang ada dengan mengakui apa yang selama ini berjalan baik. Sikap ini membuat usulan Anda tidak terkesan merendahkan, dan lawan bicara lebih terbuka untuk menimbang.

Selanjutnya, tawarkan jalan perubahan yang bertahap dan dapat diuji. Misalnya, usulkan uji coba dalam skala kecil, bandingkan hasilnya dengan cara lama, lalu evaluasi bersama. Pendekatan ini mengurangi kekhawatiran bahwa perubahan akan mengancam hal yang sudah mapan, sekaligus memberikan bukti nyata yang tidak bisa dibantah hanya dengan merujuk pada kebiasaan. Bila ada unsur tradisi yang memang bernilai, pertahankan unsur tersebut dan jelaskan bahwa perubahan hanya diterapkan pada bagian yang terbukti perlu diperbaiki.

Baca juga :  Hans-Georg Gadamer

Apabila lawan bicara menjadikan tradisi sebagai satu-satunya dasar, ajukan pertanyaan yang sopan namun tegas. Misalnya, “Apa alasan praktik ini masih yang terbaik saat ini, dan apakah pernah dibandingkan dengan alternatif lain?” Pertanyaan ini mengarahkan diskusi kembali pada substansi tanpa meremehkan tradisi itu sendiri. Dengan cara itu, Anda mengakui bahwa pengalaman masa lalu berharga, sekaligus menegaskan bahwa kelayakan suatu praktik tetap harus dapat dipertanggungjawabkan lewat bukti dan alasan yang relevan.

Referensi

  • Bowell, T., & Kemp, G. (2015). Critical thinking: A concise guide (4th ed.). Routledge.
  • Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2014). Introduction to logic (14th ed.). Pearson.
  • Damer, T. E. (2013). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Wadsworth Cengage Learning.
  • Hamblin, C. L. (1970). Fallacies. Methuen.
  • Hansen, H. (2020). Fallacies. In E. N. Zalta (Ed.), The Stanford encyclopedia of philosophy (Summer 2020 ed.). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
  • Hurley, P. J. (2015). A concise introduction to logic (12th ed.). Cengage Learning.
  • van Eemeren, F. H., & Grootendorst, R. (2004). A systematic theory of argumentation: The pragma-dialectical approach. Cambridge University Press.
  • Walton, D. (2008). Informal logic: A pragmatic approach (2nd ed.). Cambridge University Press.

Citation

Previous Article

Paradox of Choice

Next Article

Agrarianisme

Citation copied!