Dipublikasikan: 14 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 15 Oktober 2026
Dipublikasikan: 14 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 15 Oktober 2026
Egoisme adalah kelompok pandangan dalam filsafat dan psikologi yang menempatkan kepentingan diri sendiri sebagai pusat motivasi dan tolok ukur tindakan. Penting untuk membedakan egoisme sebagai konsep filosofis dari pengertian sehari-hari, yaitu sikap mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Dalam filsafat, egoisme tidak selalu berarti kejam atau serakah. Ia merupakan teori tentang bagaimana manusia sebenarnya bertindak atau bagaimana manusia seharusnya bertindak. Karena itu, egoisme lebih tepat disebut teori filsafat moral dan psikologi ketimbang ideologi politik.
Gagasan yang bernada egoistis sudah dibahas sejak zaman Yunani kuno. Salah satu contohnya adalah tantangan Glaukon dalam Republic karya Plato, yang bertanya apakah orang tetap akan berlaku adil bila ia dapat berbuat tidak adil tanpa ketahuan. Pada masa modern, egoisme dibahas secara lebih sistematis oleh Thomas Hobbes, Bernard Mandeville, dan Max Stirner, lalu dirumuskan ulang pada abad ke-20 oleh Ayn Rand melalui Objektivisme. Perkembangan ilmu psikologi dan biologi evolusioner turut memberi bahan baru bagi perdebatan ini.
Egoisme masih menjadi bahan diskusi dalam etika, ekonomi, psikologi, dan teori pilihan rasional. Para pendukungnya memandangnya sebagai pandangan yang jujur dan realistis tentang motivasi manusia, serta sebagai dasar penghargaan terhadap kemandirian dan tanggung jawab pribadi. Para pengkritiknya berpendapat bahwa egoisme mengabaikan kewajiban moral terhadap orang lain, tidak mampu menjelaskan altruisme, dan dapat membenarkan perilaku yang merugikan masyarakat.
Daftar Isi
Egoisme secara umum dipahami sebagai pandangan bahwa kepentingan diri sendiri merupakan dasar atau tujuan utama tindakan manusia. Dalam arti luas, egoisme mencakup teori deskriptif tentang apa yang memotivasi manusia dan teori normatif tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia.
Istilah “egoisme” berasal dari kata Latin ego yang berarti “aku”. Kata ini dipakai dalam bahasa-bahasa Eropa sejak abad ke-18 untuk menyebut sikap atau doktrin yang berpusat pada diri sendiri. Dalam kajian filsafat kontemporer, perbedaan paling penting terletak antara egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis menyatakan bahwa semua orang pada kenyataannya selalu bertindak demi kepentingan dirinya. Egoisme etis menyatakan bahwa setiap orang seharusnya bertindak demi kepentingan dirinya.
Selain keduanya, dikenal pula egoisme rasional, yang menyatakan bahwa bertindak demi kepentingan diri adalah satu-satunya hal yang rasional, serta egoisme dalam arti sehari-hari, yaitu sifat atau watak mementingkan diri. Perbedaan ini penting karena pandangan-pandangan tersebut tidak selalu saling bergantung. Seseorang dapat menolak egoisme psikologis, tetapi tetap membela egoisme etis, dan sebaliknya. Karena itu, egoisme merupakan keluarga pandangan, bukan satu doktrin tunggal.
Ciri paling mendasar egoisme adalah bahwa kepentingan diri menjadi titik tolak. Dalam versi psikologis, setiap tindakan, termasuk yang tampak dermawan, dijelaskan sebagai upaya memperoleh sesuatu bagi diri sendiri, misalnya kepuasan batin, pengakuan, atau penghindaran rasa bersalah. Dalam versi etis, kepentingan diri menjadi ukuran benar dan salah.
Dengan demikian, orang tidak dianggap memiliki kewajiban moral dasar untuk mengorbankan kepentingan sendiri demi orang lain. Meskipun demikian, egoisme tidak otomatis berarti merugikan orang lain, karena memperhatikan kepentingan orang lain sering kali justru menguntungkan diri sendiri dalam jangka panjang.
Egoisme psikologis adalah klaim empiris tentang sifat manusia, sedangkan egoisme etis adalah klaim normatif tentang kewajiban. Egoisme psikologis dikritik karena sulit diuji, sebab setiap tindakan altruistis dapat selalu ditafsirkan ulang sebagai tindakan egoistis. Para pengkritik, seperti Joseph Butler, menyatakan bahwa kepuasan yang dirasakan saat menolong orang lain justru muncul karena seseorang lebih dahulu peduli pada orang tersebut.
Egoisme etis tidak mengharuskan semua orang benar-benar egois secara psikologis. Pandangan ini hanya menyatakan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang melayani kepentingan diri. Beberapa filsuf berpendapat bahwa egoisme etis sulit dipertahankan secara konsisten karena dapat menimbulkan pertentangan kepentingan yang tidak dapat diselesaikan secara netral.
Banyak pembela egoisme menekankan kepentingan diri yang tercerahkan, yaitu kepentingan diri jangka panjang yang dipertimbangkan secara rasional. Orang yang hanya mengejar kepuasan sesaat dianggap bertindak bodoh, sebab sikap seperti itu sering merusak hubungan, reputasi, dan kesempatan jangka panjang.
Dalam pandangan ini, kerja sama, kejujuran, dan keadilan dapat dibenarkan sebagai strategi yang menguntungkan diri sendiri. Hobbes, misalnya, berargumen bahwa manusia yang digerakkan kepentingan diri akan sepakat membentuk pemerintahan dan menaati aturan demi menghindari kekacauan dan rasa takut akan kematian yang kejam.
Gagasan kepentingan diri berpengaruh dalam ekonomi dan ilmu sosial. Adam Smith menyatakan bahwa pedagang menyediakan barang karena memperhatikan kepentingan sendiri, bukan karena kebaikan hati. Dalam ekonomi modern, asumsi bahwa individu bertindak untuk memaksimalkan kepentingannya menjadi dasar teori pilihan rasional dan teori permainan.
Penggunaan asumsi ini umumnya bersifat metodologis, yaitu sebagai penyederhanaan model, bukan sebagai pernyataan lengkap tentang sifat manusia. Penelitian dalam ekonomi perilaku dan psikologi menunjukkan bahwa manusia sering menunjukkan kerja sama, keadilan, dan altruisme yang tidak sepenuhnya selaras dengan model egoistis murni.
Dalam tradisi tertentu, egoisme berhubungan dengan penolakan terhadap otoritas eksternal. Max Stirner dalam The Ego and Its Own menyatakan bahwa gagasan seperti negara, moralitas universal, dan agama dapat menjadi “hantu” yang mengekang individu. Bagi Stirner, individu yang unik adalah satu-satunya acuan.
Pandangan ini sangat individualistis dan menolak pengorbanan diri yang dipaksakan oleh institusi. Pengaruhnya terlihat pada anarkisme individualis dan eksistensialisme, walaupun para pemikir dari tradisi tersebut tidak selalu menerima seluruh kesimpulannya.
Ayn Rand mengembangkan versi egoisme rasional yang disebut Objektivisme. Ia menyatakan bahwa kebajikan utama adalah mengejar kepentingan diri yang rasional, dan bahwa altruisme, dalam arti pengorbanan diri demi orang lain sebagai kewajiban moral, bersifat merusak. Setiap orang dipandang sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan tidak boleh dijadikan korban bagi orang lain.
Dalam pandangan Rand, hubungan antarmanusia yang sehat didasarkan pada pertukaran yang saling menguntungkan, dan sistem politik yang sesuai adalah kapitalisme laissez-faire. Pandangan ini memiliki pengikut yang setia, namun juga dikritik oleh banyak filsuf akademik karena dianggap kurang kuat secara argumentatif.
Egoisme menghadapi sejumlah kritik utama. Pertama, kritik terhadap egoisme psikologis menyatakan bahwa klaim bahwa semua motif bersifat egoistis tidak dapat disangkal sehingga kehilangan isi empiris. Kedua, kritik terhadap egoisme etis menyatakan bahwa pandangan ini tidak mampu memberi dasar bagi konsep moralitas yang bersifat tidak memihak, dan sulit menjelaskan mengapa penderitaan orang lain tidak memiliki bobot moral sendiri.
Para pembela egoisme menjawab bahwa kritik tersebut sering bertumpu pada pemahaman egoisme yang terlalu sempit. Mereka menunjukkan bahwa kepentingan diri yang tercerahkan dapat menjelaskan sebagian besar norma moral yang kita kenal. Perdebatan ini masih berlangsung dalam etika dan psikologi.
Perdebatan tentang kepentingan diri sudah tampak dalam filsafat Yunani, ketika Plato dalam Republic menampilkan Glaukon yang menantang Socrates dengan kisah cincin Gyges untuk menguji apakah keadilan bernilai pada dirinya sendiri atau hanya karena takut hukuman. Pertanyaan itu menjadi titik tolak penting bagi pembahasan egoisme sesudahnya. Pada masa modern awal, Thomas Hobbes menjawabnya dengan teori politik dalam Leviathan (1651), yang memandang manusia digerakkan oleh keinginan mempertahankan diri dan menafsirkan kewajiban politik sebagai hasil perhitungan kepentingan diri. Bernard Mandeville melanjutkannya dalam The Fable of the Bees (1714), yang menyatakan bahwa kejahatan pribadi dapat menghasilkan kebaikan publik, gagasan yang kemudian ditanggapi dan diperhalus oleh pemikir Pencerahan.
Gagasan tersebut mendapat tanggapan kritis dari Joseph Butler, yang dalam Fifteen Sermons (1726) menentang egoisme psikologis dengan menunjukkan bahwa kepuasan mengandaikan adanya keinginan yang tidak berpusat pada diri sendiri. Dalam bidang ekonomi, Adam Smith menyatakan peran kepentingan diri dalam pertukaran melalui The Wealth of Nations (1776), sambil tetap menekankan simpati moral dalam The Theory of Moral Sentiments (1759). Pada abad ke-19, Max Stirner memberi bentuk paling radikal melalui The Ego and Its Own (1844), yang menolak semua otoritas di luar diri, sedangkan Friedrich Nietzsche mengembangkan kritik terhadap moralitas altruistis dalam karya seperti On the Genealogy of Morality (1887), walaupun pemikirannya tidak dapat dengan mudah disebut egoisme dalam arti sempit. Henry Sidgwick kemudian membahas hubungan antara egoisme rasional dan prinsip tidak memihak dalam The Methods of Ethics (1874), dan menganggap pertentangan antara keduanya sebagai salah satu persoalan etika yang paling sulit.
Pada abad ke-20, Ayn Rand memberi perumusan populer melalui novel The Fountainhead (1943) dan Atlas Shrugged (1957), serta esai filosofis dalam The Virtue of Selfishness (1964). Kritik dan analisis akademik atas egoisme dikembangkan antara lain oleh James Rachels, yang membahas egoisme psikologis dan etis dalam The Elements of Moral Philosophy, serta oleh Derek Parfit dalam Reasons and Persons (1984), yang menantang dasar anggapan bahwa kepentingan diri memiliki otoritas khusus melalui analisis identitas pribadi. Sementara itu, dari sudut biologi evolusioner, Richard Dawkins dalam The Selfish Gene (1976) menghidupkan perdebatan tentang kepentingan diri pada tingkat gen, walaupun ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti manusia ditakdirkan bersifat egois.