Filsafat George Berkeley

George Berkeley

Dipublikasikan: 11 April 2026

Terakhir diperbarui: 16 April 2026

Pontianak – George Berkeley lahir pada 12 Maret 1685 di Kilkenny, Irlandia, dalam keluarga yang memiliki latar belakang intelektual kuat. Sejak kecil, ia menunjukkan ketertarikan pada filsafat dan teologi.

Biografi George Berkeley

Pada usia 15 tahun, Berkeley masuk ke Trinity College Dublin, tempat ia mengejar studi klasik, matematika, dan filsafat. Pendidikan ini membentuk dasar bagi pemikirannya tentang hubungan antara pikiran, pengalaman, dan realitas. Ia lulus dan kemudian menjadi dosen di Trinity, menunjukkan bakat akademik yang menonjol sejak muda.

Karier akademik Berkeley berkembang pesat. Pada 1707, ia terpilih sebagai fellow Trinity College, dan mulai mengajar filsafat serta matematika. Pengalaman mengajar dan interaksi dengan para mahasiswa dan rekan-rekannya memengaruhi pemikiran filsafatnya, terutama mengenai sifat persepsi dan eksistensi. Pada periode ini, ia mulai menulis karya-karya awalnya yang penting, termasuk An Essay Towards a New Theory of Vision (1709), di mana ia membahas hubungan antara indera, persepsi, dan pemahaman ruang dan jarak.

Pada dekade berikutnya, Berkeley menulis karya paling terkenal, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710), dan Three Dialogues between Hylas and Philonous (1713). Dalam karya-karya ini, ia menolak eksistensi materi independen, mengembangkan prinsip “esse est percipi” (ada adalah untuk dipersepsi), dan menekankan peran Tuhan dalam menjaga kontinuitas dunia. Ide-ide ini membuat Berkeley dikenal sebagai tokoh penting dalam tradisi idealisme subjektif dan filsafat empiris.

Selain kegiatan akademik, Berkeley juga memiliki pengalaman luas di dunia gereja dan misi. Ia ditahbiskan sebagai imam Anglikan pada 1721 dan aktif menulis tentang teologi. Ia pernah mengusulkan proyek pendidikan di Amerika, yang mendorongnya melakukan perjalanan ke Bermuda pada 1728, serta mengunjungi Amerika Utara untuk mendukung pendirian sekolah-sekolah misionaris. Perjalanan ini menunjukkan sisi praktis dari filsafatnya: ia tertarik bagaimana pengetahuan dan iman dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

George Berkeley meninggal pada 14 Januari 1753 di Oxford, Inggris. Warisannya tetap hidup melalui karya-karyanya, yang memengaruhi filsuf seperti David Hume dan Immanuel Kant, serta tradisi idealisme modern. Biografi Berkeley menunjukkan kombinasi unik antara pemikiran filsafat yang mendalam, kepedulian terhadap pendidikan dan misi, serta konsistensi antara teori dan praktik dalam hidupnya.

Pemikiran George Berkeley

Ada Adalah Untuk Dipersepsi (Esse est percipi)

George Berkeley mengembangkan prinsip esse est percipi (ada adalah untuk dipersepsi) sebagai inti filsafatnya dalam A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710). Berkeley berargumen bahwa benda-benda tidak memiliki eksistensi mandiri di luar persepsi. Segala sesuatu yang kita anggap nyata—warna, bentuk, ukuran, atau suara—hanyalah kumpulan ide yang ada dalam pikiran. Ia menentang gagasan John Locke tentang materi independen yang dapat ada meski tidak dipersepsi. Menurut Berkeley, klaim tentang “materi murni” tidak dapat dibuktikan secara empiris, karena pengalaman manusia selalu melalui indera dan pikiran.

Dalam Three Dialogues between Hylas and Philonous (1713), Berkeley menggunakan dialog filosofis untuk memperjelas argumennya. Tokoh Hylas skeptis terhadap gagasan bahwa benda bisa eksis tanpa pengamat, sementara Philonous menjelaskan bahwa konsistensi dunia dijaga oleh persepsi Tuhan. Berkeley menekankan bahwa Tuhan berperan sebagai pengamat universal yang selalu mempersepsi semua benda. Hal ini memungkinkan dunia tetap ada dan stabil, meski manusia tidak hadir untuk melihatnya. Eksistensi benda bukanlah masalah metafisika semata, tetapi terkait dengan pengalaman yang berkesinambungan dan pengamatan ilahi.

Sebelumnya, dalam An Essay Towards a New Theory of Vision (1709), Berkeley meneliti bagaimana manusia memahami ruang dan persepsi visual. Ia menunjukkan bahwa konsep seperti jarak, ukuran, dan posisi tidak terdapat pada benda itu sendiri, melainkan dibentuk oleh interpretasi pikiran terhadap sensasi. Misalnya, kita tidak melihat “jarak” secara langsung; yang ada hanyalah perbedaan pengalaman visual yang diolah oleh pikiran. Dengan cara ini, Berkeley menekankan bahwa seluruh pengalaman fisik—dari warna hingga bentuk—bergantung pada persepsi, bukan pada materi yang berdiri sendiri.

Selain implikasi metafisika, prinsip esse est percipi juga menekankan epistemologi. Berkeley menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tentang dunia selalu melalui pengalaman indrawi, sehingga kita tidak memiliki akses ke “materi” sebagai entitas independen. Ia membalikkan fokus filsafat dari konsep materialisme ke pengalaman dan persepsi sebagai dasar realitas. Pemikiran ini memengaruhi idealisme subjektif dan menjadi dasar diskusi bagi filsuf seperti David Hume dan Immanuel Kant, yang kemudian mengeksplorasi batas-batas pengetahuan manusia dan hubungan antara pikiran serta dunia nyata.

Baca juga :  Friedrich Engels

Dengan prinsip ini, Berkeley menantang asumsi bahwa dunia fisik dapat eksis secara mutlak tanpa pengamat. Ia mengubah cara pandang tentang realitas, menekankan bahwa eksistensi benda selalu terkait dengan persepsi. Pemikirannya tidak hanya menimbulkan kontroversi pada masanya, tetapi juga tetap relevan dalam filsafat modern, terutama dalam diskusi tentang persepsi, pengalaman, dan hubungan antara pikiran dengan realitas. Prinsip esse est percipi menjadi salah satu fondasi utama idealisme, yang menekankan bahwa dunia yang kita alami terbentuk dari pengalaman mental, bukan materi yang berdiri sendiri.

Penolakan terhadap Materi

Dalam karyanya A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710), Berkeley mengkritik pandangan empiris John Locke yang membedakan antara ide dan materi. Locke berpendapat bahwa benda memiliki substansi material yang eksis secara independen, meskipun tidak dipersepsi. Berkeley menolak hal ini dengan tegas. Menurutnya, manusia tidak pernah mengalami materi secara langsung; yang kita kenal hanyalah persepsi—warna, bentuk, rasa, dan tekstur—yang hadir dalam pikiran. Dari pengalaman inilah kita membentuk gagasan tentang benda, sehingga materi sebagai entitas yang berdiri sendiri sebenarnya tidak diperlukan.

Berkeley mengembangkan argumen ini melalui dialog filosofis. Tokoh Hylas mempertanyakan apakah benda tetap ada ketika tidak diamati. Philonous menjawab bahwa setiap sifat yang kita atribusikan kepada benda—keras, lunak, panas, dingin—tidak pernah ada di luar persepsi. Ia hanya muncul ketika benda dipersepsi oleh pikiran.

Klaim tentang materi yang tidak dapat dipersepsi menjadi tidak relevan dan tidak dapat dibuktikan. Berkeley menegaskan bahwa yang benar-benar ada hanyalah pengalaman dan ide-ide yang dialami oleh pikiran, bukan substansi material yang tersembunyi di balik sensasi.

Penolakan Berkeley terhadap materi juga berhubungan erat dengan prinsip esse est percipi. Karena eksistensi benda bergantung pada persepsi, tidak ada kebutuhan untuk mengandaikan materi yang berdiri sendiri. Dunia dapat dijelaskan sepenuhnya melalui persepsi manusia, dan konsistensinya dijamin oleh Tuhan sebagai pengamat universal.

Tuhan selalu mempersepsi segala sesuatu, sehingga benda tetap ada dan teratur meski manusia tidak selalu hadir untuk mengamatinya. Dengan cara ini, Berkeley menggabungkan penolakan terhadap materi dengan fondasi metafisika dan teologis, menjadikan pengalaman dan persepsi sebagai kunci untuk memahami realitas.

Selain aspek metafisika, penolakan Berkeley terhadap materi memiliki implikasi epistemologis. Ia menekankan bahwa pengetahuan manusia tentang dunia selalu melalui pengalaman indrawi, sehingga tidak mungkin mengenal “materi murni” yang tidak dapat diamati. Dengan menempatkan persepsi sebagai dasar realitas, Berkeley memindahkan fokus filsafat dari substansi fisik yang abstrak ke pengalaman yang nyata dan dapat dialami. Pemikiran ini membentuk landasan bagi idealisme subjektif, yang kemudian memengaruhi filsuf-filsuf besar seperti David Hume dan Immanuel Kant dalam mengeksplorasi batas-batas pengetahuan manusia dan hubungan antara pikiran serta dunia nyata.

Berkeley menantang asumsi lama bahwa dunia fisik eksis secara mutlak tanpa pengamat. Ia menekankan bahwa realitas yang kita alami selalu terkait dengan persepsi, baik manusia maupun Tuhan, dan bahwa pengalaman mental adalah fondasi eksistensi. Pandangan ini tidak hanya radikal pada masanya, tetapi juga tetap relevan dalam filsafat modern, terutama dalam diskusi tentang persepsi, pengalaman, dan hubungan antara pikiran dengan dunia yang tampak nyata.

Peran Tuhan

Tuhan bukan sekadar entitas religius, melainkan dasar eksistensi dunia itu sendiri. Karena Berkeley menolak keberadaan materi independen, muncul pertanyaan penting: bagaimana benda tetap ada ketika tidak ada manusia yang mengamatinya? Jawabannya jelas: dunia selalu dipersepsi oleh Tuhan. Dengan persepsi-Nya yang terus-menerus, segala sesuatu—dari pohon di hutan hingga benda-benda terkecil—tetap ada dan konsisten meskipun tidak ada pengamat manusia. Tuhan, dengan demikian, menjamin bahwa realitas tetap stabil dan dapat dialami secara logis oleh manusia.

Berkeley menekankan bahwa sifat-sifat benda—warna, bentuk, rasa, dan gerak—hanya muncul melalui persepsi. Dalam perspektif ini, benda tidak memiliki sifat intrinsik yang independen; eksistensinya bergantung pada kesadaran yang mengamatinya. Tuhan, sebagai pengamat universal, memastikan semua sifat ini tetap ada, sehingga manusia dapat mengalami dunia yang konsisten dan teratur. Tanpa persepsi Tuhan, dunia akan tampak acak dan pengalaman manusia tidak dapat diandalkan.

Baca juga :  Deisme

Selain menjamin eksistensi benda, Tuhan juga berperan menjaga hukum-hukum alam. Berkeley menyiratkan bahwa keteraturan alam semesta, pola sebab-akibat, dan konsistensi pengalaman manusia tidak muncul secara kebetulan. Semua fenomena yang kita alami di dunia fisik tetap teratur karena persepsi ilahi yang terus menerus. Dengan cara ini, Tuhan bukan hanya pengamat pasif, tetapi juga penjamin keteraturan dan keterhubungan antara semua objek dan pengalaman.

Peran Tuhan juga merupakan jawaban Berkeley terhadap skeptisisme. Skeptik berpendapat bahwa kita tidak dapat mengetahui apakah dunia tetap ada ketika tidak diamati. Berkeley menolak keraguan ini dengan menegaskan bahwa Tuhan selalu mempersepsi dunia. Dunia tidak bergantung pada manusia, tetapi pengalaman manusia tetap dapat dipercaya karena diselaraskan dengan persepsi Tuhan. Dengan demikian, Tuhan memastikan bahwa pengalaman manusia mencerminkan realitas yang stabil, meski manusia tidak selalu hadir.

Dalam filsafat Berkeley, Tuhan juga memungkinkan hubungan antara pikiran manusia dan dunia. Semua ide yang kita alami, dari benda sehari-hari hingga fenomena alam, konsisten dan bermakna karena Tuhan mengamati dan menegaskan keberadaannya. Tuhan menghubungkan aspek metafisika dan epistemologi: realitas terbentuk melalui persepsi, namun tetap memiliki keteraturan dan kontinuitas. Konsep ini menegaskan bahwa iman dan rasio saling terkait, dan bahwa Tuhan adalah fondasi yang memungkinkan dunia tampak nyata bagi manusia.

Kritik terhadap Empirisme

Locke berpendapat bahwa manusia memperoleh semua pengetahuan melalui indra, dan benda memiliki substansi material yang tetap ada meskipun tidak diamati. Berkeley menolak gagasan bahwa materi yang tidak pernah dialami bisa menjadi dasar pengetahuan. Baginya, semua yang kita ketahui berasal dari persepsi—warna, bentuk, rasa, dan gerak—dan klaim tentang benda yang eksis secara independen dari pengalaman manusia tidak memiliki dasar empiris.

Dalam Three Dialogues between Hylas and Philonous, Berkeley memanfaatkan bentuk percakapan untuk menunjukkan kelemahan empirisme klasik. Hylas berargumen bahwa benda tetap ada ketika tidak diamati karena memiliki sifat material. Philonous menanggapi dengan menekankan bahwa sifat-sifat benda hanya muncul ketika dipersepsi. Melalui dialog ini, Berkeley menyoroti kontradiksi dalam empirisme Locke: teori yang mengklaim pengalaman sebagai sumber pengetahuan, tetap mengasumsikan entitas yang tidak pernah dapat dialami. Berkeley menyimpulkan bahwa pengalaman manusia sendiri cukup untuk menjelaskan eksistensi benda, dan asumsi tentang materi independen hanya menambah spekulasi tanpa bukti.

Kritik Berkeley tidak terbatas pada metafisika, tetapi juga menyentuh aspek epistemologi. Ia menunjukkan bahwa jika pengetahuan benar-benar berasal dari pengalaman, maka kontinuitas dunia dapat dijelaskan sepenuhnya melalui persepsi. Locke menganggap benda tetap ada karena materi, tetapi Berkeley membuktikan bahwa ide-ide yang diamati oleh pikiran manusia cukup untuk membangun konsistensi pengalaman. Semua fenomena yang kita alami bisa dipahami tanpa mengandaikan substansi yang tersembunyi, dan ini menjadikan filsafat empiris Locke tidak koheren secara logis.

Selain itu, Berkeley menekankan bahwa empirisme yang konsisten harus mengacu hanya pada apa yang dapat dialami. Menambahkan unsur materi yang tidak pernah diamati melampaui batas pengalaman dan menimbulkan kontradiksi. Pengetahuan manusia seharusnya hanya dibangun dari persepsi yang nyata, bukan dari asumsi metafisik yang tidak dapat diverifikasi. Dengan cara ini, Berkeley memperbaiki landasan empirisme dengan menegaskan bahwa pengalaman adalah satu-satunya alat untuk memahami realitas.

Kritik Berkeley terhadap empirisme Locke memiliki implikasi penting bagi filsafat modern. Ia menunjukkan bahwa pengalaman dapat menjadi fondasi yang cukup kuat untuk memahami dunia, tanpa harus bergantung pada materi yang tidak pernah dialami. Dengan fokus ini, Berkeley menegaskan bahwa filsafat empiris harus tetap selaras dengan bukti yang dapat diamati, dan setiap teori yang menambahkan entitas di luar pengalaman manusia akan kehilangan kredibilitasnya. Karyanya menawarkan model empirisme yang lebih konsisten, di mana persepsi menjadi pusat pengetahuan, sekaligus membongkar asumsi tersembunyi dalam ajaran Locke.

Realitas sebagai Kumpulan Ide

Bagi George Berkeley, realitas tidak terdiri dari benda-benda material yang berdiri sendiri, melainkan dari sekumpulan ide yang hadir dalam pikiran. Segala sesuatu yang kita sebut sebagai “dunia” pada dasarnya adalah isi dari pengalaman kita: warna yang kita lihat, suara yang kita dengar, tekstur yang kita rasakan, dan sebagainya. Tidak ada akses langsung terhadap “substansi material” di balik pengalaman itu—yang ada hanyalah persepsi itu sendiri. Bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai dunia luar sebenarnya tidak pernah kita temui secara langsung; yang kita hadapi hanyalah representasi mental yang hadir dalam kesadaran.

Baca juga :  Agnostisisme

Berkeley menegaskan bahwa ketika kita berbicara tentang suatu objek, seperti meja atau pohon, kita sebenarnya hanya merujuk pada kumpulan kualitas yang dipersepsikan. Meja, misalnya, bukanlah benda material yang memiliki eksistensi tersembunyi di balik pengalaman kita, melainkan sekumpulan ide seperti bentuk, warna, kekerasan, dan posisi yang ditangkap oleh indera. Tidak ada “inti material” di balik kualitas-kualitas tersebut yang bisa kita pisahkan dan pahami secara independen. Realitas bukanlah sesuatu yang berada “di luar” pikiran, tetapi justru tergantung sepenuhnya pada aktivitas mental. Apa yang kita sebut sebagai keberadaan objek hanyalah keteraturan munculnya ide-ide tertentu dalam pengalaman kita.

Lebih jauh, pandangan ini juga mengandung implikasi epistemologis yang penting. Jika semua yang kita ketahui hanyalah ide-ide dalam pikiran, maka konsep tentang materi sebagai sesuatu yang berada di luar pengalaman menjadi tidak hanya tidak perlu, tetapi juga tidak bermakna. Berkeley menganggap bahwa gagasan tentang “substansi material” adalah hasil dari kebiasaan berpikir yang keliru—seolah-olah ada sesuatu yang menopang kualitas-kualitas yang kita rasakan, padahal kita tidak pernah mengalaminya secara langsung. Dengan menolak materi, Berkeley sebenarnya berusaha menyederhanakan ontologi: realitas hanya terdiri dari dua hal, yaitu pikiran (spirit) yang aktif dan ide yang dipersepsikan.

Namun, pandangan ini tidak berarti bahwa realitas bersifat subjektif secara sempit atau berubah-ubah sesuka individu. Berkeley membedakan secara tegas antara ide yang bersifat pribadi (seperti imajinasi, mimpi, atau halusinasi) dan ide yang konsisten serta teratur (seperti pengalaman inderawi sehari-hari). Ide-ide inderawi memiliki karakter yang khas: mereka datang tanpa kita kehendaki, mengikuti pola tertentu, dan menunjukkan kestabilan yang sama bagi banyak orang. Hal ini menunjukkan bahwa ide-ide tersebut tidak berasal dari kehendak individu, melainkan dari sumber yang lebih tinggi dan lebih universal.

Di sinilah Berkeley memperkenalkan peran Tuhan sebagai pengatur dan penjamin realitas. Ide-ide yang kita alami secara konsisten merupakan hasil dari kehendak Tuhan yang terus-menerus “menyajikan” dunia kepada pikiran kita. Tuhan, sebagai roh yang tak terbatas, mempersepsikan segala sesuatu secara terus-menerus, sehingga keberadaan dunia tetap terjaga meskipun tidak ada manusia yang mengamatinya. Dengan kata lain, realitas adalah kumpulan ide yang berada dalam pikiran Tuhan, dan manusia hanya ikut serta dalam mengalaminya. Ini menjelaskan mengapa dunia tampak stabil, teratur, dan objektif—bukan karena adanya materi yang independen, tetapi karena adanya keteraturan ilahi dalam cara ide-ide itu dihadirkan kepada kita.

Lebih dalam lagi, konsep ini menggeser cara kita memahami keberadaan dari sesuatu yang bersifat fisik menjadi sesuatu yang bersifat fenomenal. Keberadaan tidak lagi dipahami sebagai “ada di luar sana,” melainkan sebagai “hadir dalam pengalaman.” bahwa dunia bukanlah kumpulan benda, tetapi jaringan pengalaman yang saling terkait dan disusun secara teratur. Perspektif ini sekaligus menantang asumsi dasar filsafat sebelumnya, terutama yang dianut oleh John Locke, yang masih mempertahankan keberadaan materi sebagai sesuatu yang mendasari kualitas-kualitas yang kita persepsikan.

Karya George Berkeley

  • An Essay Towards a New Theory of Vision (1709)
  • A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710)
  • Three Dialogues between Hylas and Philonous (1713)
  • Alciphron (1732)
  • Siris: A Chain of Philosophical Reflections and Inquiries Concerning the Virtues of Tar-Water (1744)

Referensi

  • Berkeley, G. (1710). A treatise concerning the principles of human knowledge. London, UK: Thomas Kelly.
  • Berkeley, G. (1713). Three dialogues between Hylas and Philonous. London, UK: A. Millar.
  • Robinson, H. (2005). Berkeley’s philosophy of science. Oxford, UK: Oxford University Press.
  • Dooley, D. (2013). Berkeley, George. In E. N. Zalta (Ed.), The Stanford encyclopedia of philosophy (Fall 2013 Edition). Retrieved from https://plato.stanford.edu/entries/berkeley/
  • Woolhouse, R. S. (2004). Berkeley. London, UK: Routledge.
  • Muehlmann, S. (2020). Berkeley on perception and the material world. Journal of the History of Philosophy, 58(2), 235–258. https://doi.org/10.1353/hph.2020.0012

FAQ

Apa maksud “esse est percipi”?

Ungkapan Latin ini berarti “ada adalah untuk dipersepsi”, yaitu sesuatu hanya ada jika dipersepsi oleh pikiran.

Apa pengaruh Berkeley dalam filsafat?

Ia berpengaruh besar dalam perkembangan idealisme dan debat tentang persepsi, serta memicu kritik dari filsuf seperti David Hume dan Immanuel Kant.

Apa itu immaterialisme?

Immaterialisme adalah pandangan bahwa realitas terdiri dari ide-ide dalam pikiran, bukan materi fisik yang berdiri sendiri.

Citation

Previous Article

Søren Kierkegaard

Next Article

Friedrich Engels

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Citation copied!