Dipublikasikan: 20 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 20 Oktober 2026
Dipublikasikan: 20 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 20 Oktober 2026
Problem of the Criterion (Masalah Kriteria) dikaitkan terutama dengan Roderick M. Chisholm (1916–1999), filsuf Amerika yang mengajar di Universitas Brown. Ia membahasnya dalam Kuliah Aquinas di Universitas Marquette pada 1973 dengan judul yang sama, dan kuliah itu diterbitkan oleh Marquette University Press pada tahun itu juga. Chisholm menyebut persoalan ini sebagai salah satu persoalan yang paling penting dan paling sulit dalam seluruh filsafat.
Persoalan ini jauh lebih tua daripada Chisholm. Ia dibahas dalam tradisi skeptisisme Pyrrhonian yang dikaitkan dengan Sextus Empiricus, kemudian muncul kembali pada Michel de Montaigne di masa modern awal. Menurut ringkasan atas buku Chisholm, ia sendiri mengakui bahwa masalah ini sudah menyibukkan banyak filsuf Louvain pada pergantian abad ke-20, dan ia mengembangkan gagasan dari karya Mercier, Critériologie générale.
Meski dianggap penting bagi setiap teori pengetahuan yang lengkap, topik ini lama kurang mendapat perhatian dalam filsafat kontemporer. Andrew Cling mencatat hal itu dalam telaahnya pada 1994. Sejak itu, perhatian kembali tumbuh dalam epistemologi, terutama dalam kaitannya dengan sirkularitas epistemik, regres alasan, dan relativisme.
Daftar Isi
Masalah kriteria adalah masalah dalam epistemologi tentang bagaimana kita dapat menentukan apa yang kita ketahui tanpa lebih dulu memiliki kriteria untuk mengenali pengetahuan, padahal kriteria itu sendiri hanya dapat dipilih dan diuji bila kita sudah lebih dulu mengetahui contoh-contoh pengetahuan. Dengan kata lain, penentuan isi pengetahuan dan penentuan ukuran pengetahuan saling bergantung, sehingga tampak tidak ada titik awal yang tidak sewenang-wenang.
Chisholm merumuskannya dengan dua pertanyaan.
Kedua pertanyaan itu tampak saling mensyaratkan. Untuk menjawab A, kita perlu kriteria dari jawaban B untuk memilah mana yang termasuk pengetahuan. Untuk menjawab B, kita perlu contoh pengetahuan dari jawaban A, sebab kriteria yang benar hanya dapat dipilih dengan menguji apakah ia menghasilkan contoh-contoh yang sudah kita kenal. Seperti pada lingkaran Cartesian, bila demikian halnya, kita tidak dapat menjawab keduanya.
Contoh sederhana: untuk mengetahui apakah indra kita dapat diandalkan, kita memerlukan kriteria tentang apa yang membuat sebuah keyakinan dapat diandalkan. Tetapi untuk menguji kriteria itu, kita harus memeriksa apakah ia memilih keyakinan-keyakinan yang memang benar, dan pemeriksaan itu sendiri memakai keyakinan yang berasal dari indra dan sumber lain yang keandalannya sedang dipertanyakan.
Beberapa istilah kunci perlu dipahami.
Chisholm menyatakan bahwa hanya ada tiga tanggapan terhadap masalah ini, yaitu ketiga posisi di atas, dan bahwa tidak ada solusi yang tidak bergantung pada pilihan awal. Dalam rumusan yang lebih umum, masalah ini dapat dipahami sebagai pertanyaan: bagaimana mungkin berteori sama sekali tanpa membuat asumsi sewenang-wenang? Rumusan itu menunjukkan bahwa persoalannya tidak terbatas pada pengetahuan dalam arti sempit.
Menurut Chisholm, ada tiga cara menanggapi masalah ini. Tanggapan pertama adalah skeptisisme: karena kedua pertanyaan saling bergantung, tidak ada yang dapat dijawab, sehingga kita tidak dapat mengklaim pengetahuan apa pun. Tanggapan kedua adalah metodisme: kita memulai dengan memilih kriteria pengetahuan, lalu memakainya untuk menentukan apa yang kita ketahui. Tanggapan ketiga adalah partikularisme: kita memulai dengan contoh-contoh yang kita yakini sebagai pengetahuan, lalu memakainya untuk merumuskan kriteria.
Chisholm sendiri cenderung pada partikularisme, tetapi menegaskan bahwa pilihan antara metodisme dan partikularisme pada akhirnya bersifat sewenang-wenang, sebab tidak ada landasan netral untuk memilih salah satunya. Karena itu, menurutnya, masalah ini tidak memiliki solusi dalam arti pembuktian yang tidak bergantung pada pilihan awal.
Cling menantang klaim bahwa hanya ada tiga tanggapan. Ia berargumen bahwa ada jauh lebih banyak pilihan daripada yang dipertimbangkan Chisholm, yaitu delapan tanggapan non-skeptis, dan ia mengajukan jawaban koherentis sendiri. Salah satu strategi yang dibahas adalah menjawab kedua pertanyaan secara serentak dengan memakai keyakinan-keyakinan tertentu untuk menjawab A dan B pada saat yang sama.
Dalam karya lanjutan, Cling menelaah hubungan antara masalah kriteria dan tingkatan epistemik. Perdebatan yang ia pantik menunjukkan bahwa pilihan tanggapan tidak terbatas pada trilema Chisholm, dan bahwa kesimpulan bahwa masalah ini tak dapat dipecahkan tidak otomatis mengikuti.
Cling kemudian mengaitkan masalah kriteria dengan masalah regres epistemik. Ia berargumen bahwa keduanya adalah jenis dari masalah yang lebih umum, yang ia sebut paradoks alasan (paradox of reasons). Keduanya bertumpu pada prinsip yang masuk akal bahwa alasan epistemik harus didukung oleh alasan epistemik lain, tetapi bahwa memiliki alasan menjadi mustahil bila itu menuntut regres alasan yang tak berujung. Prinsip-prinsip ini tidak sejalan dengan kemungkinan adanya alasan, sehingga setiap masalah itu merupakan paradoks.
Menurut analisis ini, apakah ada solusi anti-skeptis bergantung pada jenis alasan yang kita perlukan untuk mencapai tujuan epistemik kita. Cling membedakan dua konsepsi tentang kesejahteraan manusia. Satu konsepsi memerlukan alasan yang memungkinkan solusi mudah. Konsepsi lain, otonomi rasional, memerlukan alasan yang bergantung pada regres tak berujung. Karena itu, menurutnya kita tidak dapat memiliki alasan yang sepenuhnya transparan seperti yang dituntut otonomi rasional.
Perdebatan tentang sirkularitas epistemik berkaitan erat dengan masalah kriteria. William Alston menelaah situasi ketika seseorang membentuk keyakinan bahwa suatu sumber keyakinan dapat diandalkan dengan memakai sumber itu sendiri. Ia menyimpulkan bahwa sirkularitas epistemik tidak selalu membuat sebuah argumen tak berguna untuk menjustifikasi atau menegakkan kesimpulannya. Namun ia juga mengkhawatirkan bahwa bila argumen semacam itu diizinkan, sumber yang jelas tidak andal pun dapat didukung dengan penalaran serupa, misalnya peramal bola kristal yang mendukung keandalan ramalannya dengan ramalan itu sendiri.
Michael Bergmann mengembangkan pembedaan antara sirkularitas yang ganas dan yang jinak. Menurutnya, sirkularitas epistemik dalam konteks sumber yang dipertanyakan bersifat ganas, sedangkan dalam konteks sumber yang tidak dipertanyakan bersifat jinak. Ia memakai pembedaan itu untuk menjelaskan mengapa sirkularitas epistemik secara menyesatkan tampak buruk pada dirinya sendiri. Masalah serupa dibahas Stewart Cohen sebagai masalah pengetahuan mudah (easy knowledge), yaitu bagaimana pengetahuan dasar tidak membuka jalan bagi konfirmasi keandalan sumber secara terlalu murah.
Masalah kriteria juga dikaitkan dengan relativisme epistemik. Howard Sankey menelaah hubungan itu dalam konteks filsafat ilmu. Dalam pandangan yang diwakili telaah semacam ini, perbedaan kriteria antara kerangka-kerangka epistemik menimbulkan pertanyaan tentang apakah ada cara non-sirkular untuk memilih di antara mereka. Hubungan ini menunjukkan bahwa masalah kriteria tidak hanya menyangkut skeptisisme, tetapi juga pilihan antar kerangka yang bersaing.
Beberapa catatan perlu diingat. Pertama, tidak ada rumusan tunggal masalah ini, sehingga klaim tentang keberhasilan sebuah solusi bergantung pada rumusan yang dipakai. Kedua, trilema Chisholm dikritik karena tidak menjangkau seluruh pilihan, sebagaimana ditunjukkan Cling. Ketiga, jawaban yang bertumpu pada sirkularitas jinak menuntut teori tentang kapan sirkularitas dapat diterima, yang sendiri diperdebatkan. Keempat, solusi yang mempertahankan antiskeptisisme sering memerlukan asumsi epistemologis yang tidak diterima semua pihak.
Meski demikian, masalah ini tetap penting. Ia memaksa teori pengetahuan menjelaskan titik awal penyelidikan, dan menghubungkan epistemologi dengan skeptisisme, relativisme, dan teori justifikasi.