Dipublikasikan: 13 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 13 Oktober 2026
Dipublikasikan: 13 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 13 Oktober 2026
Sinisme adalah aliran filsafat Yunani kuno yang mengajarkan bahwa kebajikan dan kebahagiaan dicapai dengan hidup selaras dengan alam, sederhana, mandiri, dan bebas dari ketergantungan pada harta, kekuasaan, status, serta adat yang dianggap buatan. Aliran ini perlu dibedakan dari pengertian sehari-hari kata “sinis”, yaitu sikap curiga dan tidak percaya pada ketulusan orang lain. Makna modern itu berkembang dari tradisi kuno tersebut, tetapi tidak sama dengannya. Sinisme kuno lebih tepat disebut cara hidup dan kritik sosial daripada ideologi politik.
Aliran ini muncul di Yunani pada abad ke-4 SM, ketika kota-kota Yunani kehilangan kemandirian politiknya akibat kebangkitan Makedonia dan penaklukan Alexander Agung. Dalam suasana yang tidak pasti itu, kaum Sinis mempraktikkan filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari melalui gaya hidup sederhana, ucapan blak-blakan, dan sikap menantang kebiasaan masyarakat. Ajaran mereka memengaruhi Stoisisme, yang didirikan oleh Zeno dari Citium, murid Crates, dan terus hidup hingga masa Kekaisaran Romawi.
Sinisme kini dibahas dalam kajian tentang kebebasan pribadi, kritik terhadap konsumerisme, kosmopolitanisme, dan keberanian berbicara jujur kepada penguasa. Sebagian besar tulisan kaum Sinis awal tidak bertahan, sehingga pengetahuan tentang mereka bersumber dari anekdot dan laporan penulis kemudian, terutama Diogenes Laertios. Keterbatasan sumber ini membuat banyak detail tentang tokoh-tokohnya diperdebatkan.
Daftar Isi
Sinisme dalam arti filosofis dipahami sebagai ajaran bahwa tujuan hidup adalah kebajikan, dan kebajikan dicapai dengan hidup menurut alam: memenuhi kebutuhan dasar, melatih diri, serta melepaskan keinginan dan konvensi yang tidak perlu. Kebahagiaan dianggap bergantung pada diri sendiri, bukan pada kekayaan, kehormatan, atau kedudukan.
Istilah “sinis” berasal dari bahasa Yunani kynikos, yang berarti “seperti anjing”, dari kata kyon (anjing). Ada beberapa penjelasan asal julukan ini. Sebagian menyebutnya ejekan atas gaya hidup kaum Sinis yang dianggap tidak tahu malu, sebagian lain mengaitkannya dengan Kynosarges, gimnasium di Athena tempat Antisthenes diduga mengajar. Kaum Sinis sendiri menerima julukan itu dan memakainya sebagai kebanggaan, dengan alasan bahwa anjing hidup apa adanya, setia pada kawan, dan menggonggong pada orang asing.
Pergeseran makna terjadi dalam penggunaan modern. Kata “sinis” kini berarti keyakinan bahwa manusia pada dasarnya digerakkan kepentingan diri dan tidak tulus. Pergeseran ini berasal dari kenangan akan kritik tajam kaum Sinis terhadap kemunafikan masyarakat, yang lama-kelamaan dikenang sebagai sikap sarkastik dan mencela. Peter Sloterdijk membedakan keduanya sebagai “kinisme” kuno yang berani menentang dan sinisme modern yang pasrah dan lelah. Dalam entri ini, istilah dipakai dalam pengertian filsafat kuno.
Prinsip hidup menurut alam (kata physin) adalah fondasi seluruh ajaran Sinis, dan pengertiannya berbeda dari yang dipakai aliran lain pada masa yang sama. Bagi kaum Sinis, “alam” bukan tatanan kosmos yang harus dipahami lewat spekulasi, seperti pada para filsuf alam Yunani awal, dan bukan pula struktur rasional semesta yang kelak diuraikan kaum Stoa. Alam adalah apa yang tampak pada makhluk hidup yang belum dibentuk adat: kebutuhan tubuh akan makanan, minuman, tempat berteduh, dan kebebasan bergerak. Diogenes Laertios, yang menyusun biografi Diogenes dari Sinope berabad-abad kemudian, melaporkan bahwa Diogenes memandang hewan sebagai guru. Ia memperhatikan seekor tikus yang berlarian tanpa mencari tempat tidur, tanpa takut gelap, dan tanpa menginginkan kenikmatan, lalu menyimpulkan bahwa manusia dapat hidup dengan jauh lebih sedikit daripada yang diyakini masyarakat. Anekdot ini tidak dapat dipastikan kebenaran historisnya, tetapi mencerminkan metode khas Sinis: belajar dari pengamatan langsung atas apa yang cukup bagi kehidupan, bukan dari teori.
Dasar argumennya adalah pembedaan antara physis (alam) dan nomos (adat, hukum, konvensi), yang sebelumnya diperdebatkan para sofis. Kaum sofis memakai pembedaan itu untuk menunjukkan bahwa banyak aturan sosial bersifat buatan dan berbeda dari satu kota ke kota lain. Kaum Sinis mengubahnya menjadi tuntutan hidup: bila suatu kebiasaan tidak berakar pada kebutuhan alamiah, ia tidak mengikat, dan orang bijak tidak wajib menaatinya. Karena itu, Diogenes dilaporkan makan, tidur, dan memenuhi hajat tubuhnya di tempat umum dengan alasan bahwa tidak ada yang memalukan pada tindakan alamiah. Tindakan ini bukan sekadar provokasi. Ia adalah pernyataan filosofis bahwa rasa malu sering kali bukan perasaan moral yang asli, melainkan pembiasaan sosial yang dapat dipertanyakan. Sikap yang disebut anaideia (tidak malu) itu memperlihatkan cara kaum Sinis memakai tubuh sebagai alat argumen.
Hidup menurut alam juga berarti menolak keinginan buatan yang diciptakan peradaban. Menurut kisah yang beredar, Diogenes membuang mangkuk minumnya ketika melihat seorang anak minum dengan telapak tangan, dan menyadari bahwa ia masih membawa sesuatu yang tidak diperlukan. Kemewahan, gengsi, kekayaan, dan kehormatan dipandang sebagai penderitaan yang dipilih manusia sendiri, sebab semuanya menimbulkan kecemasan akan kehilangan dan ketergantungan pada pihak lain. Dalam pandangan ini, alam bersifat murah hati: ia menyediakan apa yang cukup bagi kehidupan, sedangkan manusia yang menambah kebutuhan melalui adat membuat hidupnya sendiri sulit. Crates dari Thebes menuangkan gagasan itu dalam puisi pendek yang memuji “negeri” kemiskinan dan kesederhanaan, tempat tidak ada penjilat, dan tidak ada perebutan harta. Karya itu bertahan hanya dalam potongan, tetapi cukup untuk memperlihatkan bahwa kaum Sinis memandang kemiskinan sukarela sebagai pembebasan.
Hubungan antara hidup menurut alam dan akal menjadi titik yang diperdebatkan. Sebagian penafsir, seperti Luis Navia dan Donald Dudley, menekankan bahwa kaum Sinis menolak spekulasi tetapi tidak menolak nalar praktis: orang harus memakai akal untuk membedakan keinginan alamiah dari keinginan buatan, dan untuk melatih diri melepaskan yang kedua. Karena itu, hidup menurut alam bukan hidup menuruti dorongan sesaat. Antisthenes, yang sering disebut perintis Sinisme, dilaporkan menekankan bahwa kebajikan adalah soal tindakan dan cukup dengan “kekuatan Socrates”, yaitu ketangguhan dan penguasaan diri. Pandangan ini membedakan kaum Sinis dari kaum Kirenaik pengikut Aristippos, yang menjadikan kenikmatan sebagai tujuan, dan dari penafsiran populer yang mengira “hidup seperti anjing” berarti hidup tanpa aturan.
Konsep ini kemudian diambil dan diubah oleh kaum Stoa. Zeno dari Citium, murid Crates, mengambil rumusan hidup selaras dengan alam tetapi mengartikan alam sebagai tatanan rasional kosmos yang dikuasai logos, sehingga hidup selaras dengan alam berarti hidup selaras dengan akal universal. Dengan pergeseran ini, kesederhanaan ekstrem kaum Sinis diperhalus menjadi sikap tidak terikat pada hal-hal di luar kendali, tanpa keharusan hidup dalam tempayan. Epiktetos dalam Discourses masih menggambarkan Sinis ideal sebagai utusan dewa yang hidup tanpa harta demi mengabdi pada pengajaran moral, tetapi ia menegaskan bahwa jalan itu hanya cocok bagi orang yang dipanggil dengan kesiapan luar biasa, bukan bagi sembarang orang. Perbedaan antara versi Sinis dan Stoa ini membantu menjelaskan mengapa Sinisme tetap menjadi gerakan pinggiran yang radikal, sementara Stoisisme berkembang menjadi sistem filsafat yang diterima luas.
Penafsiran modern terhadap prinsip ini beragam. Michel Foucault dalam kuliah-kuliahnya di Collège de France pada 1984 menafsirkan hidup menurut alam sebagai “kehidupan sejati” (alethes bios), yaitu kehidupan yang tidak menyembunyikan apa pun, sehingga keselarasan dengan alam berarti keselarasan antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan, dan menjadikan kehidupan sebagai bentuk kritik terhadap tatanan yang ada. Peter Sloterdijk dalam Critique of Cynical Reason (1983) membedakan “kinisme” kuno yang menggunakan tubuh dan kejujuran untuk menantang kemunafikan, dari “sinisme” modern yang mengetahui kebohongan tetapi tetap ikut serta. Para pengkritik klasik, termasuk beberapa penulis Yunani dan Romawi, menilai bahwa kaum Sinis yang memamerkan kemiskinan sering kali justru mencari kemasyhuran dan hidup menumpang pada kebaikan orang lain, sehingga kemandirian yang mereka klaim tidak sepenuhnya nyata. Pertanyaan apakah gaya hidup itu dapat ditiru dalam masyarakat urban modern, atau hanya berfungsi sebagai simbol kritik, tetap terbuka.
Klaim bahwa kebajikan (arete) adalah satu-satunya hal yang benar-benar baik berasal dari Socrates, dan kaum Sinis mewarisinya lewat Antisthenes, murid Socrates yang kemudian dipandang sebagai perintis aliran ini. Socrates berpendapat bahwa kekayaan, kesehatan, dan kehormatan hanya bernilai bila dipakai dengan bijak, sehingga yang menentukan kualitas hidup adalah keadaan jiwa, bukan hal-hal yang menyertainya. Kaum Sinis menarik kesimpulan paling keras dari gagasan ini: bila hanya jiwa yang menentukan, maka semua yang lain, termasuk kemiskinan, pengasingan, penghinaan, dan kematian, tidak dapat merugikan orang yang berbudi. Mereka menyebut hal-hal itu “tidak berbeda” (adiaphora), sebuah istilah yang kelak dipakai kaum Stoa. Diogenes Laertios melaporkan bahwa Antisthenes menyatakan kebajikan cukup untuk mencapai kebahagiaan (eudaimonia) dan tidak memerlukan apa pun selain “kekuatan Socrates”. Rumusan ini menjadi inti ajaran Sinis: kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada diri sendiri.
Perbedaan penting antara Sinisme dan Socrates terletak pada cara kebajikan dicapai. Socrates mencarinya lewat dialog dan pemeriksaan konsep, dan menyamakan kebajikan dengan pengetahuan. Kaum Sinis, terutama Diogenes, menganggap bahwa teori yang tidak diwujudkan dalam tindakan tidak berguna. Diogenes dilaporkan mengejek para ahli logika dan matematika yang pandai berdebat tetapi tidak mengubah cara hidupnya, dan ketika Plato mendefinisikan manusia sebagai “binatang berkaki dua tanpa bulu”, ia membawa seekor ayam yang dicabuti bulunya ke Akademi dan berkata, “Inilah manusia Plato.” Kisah ini mungkin legendaris, tetapi menggambarkan sikap Sinis terhadap filsafat yang berhenti pada definisi. Bagi mereka, kebajikan adalah keterampilan praktis seperti keahlian tangan, yang dipelajari melalui latihan berulang. Karena itu, mereka menekankan pelatihan (askesis) lebih dari pengajaran, dan bahwa orang yang tidak terpelajar pun dapat mencapai kebajikan bila ia berlatih.
Pandangan ini memiliki konsekuensi terhadap penilaian status sosial. Bila kebajikan satu-satunya kebaikan, kelahiran, kekayaan, dan jabatan tidak menentukan nilai seseorang, dan seorang budak dapat lebih baik daripada seorang raja. Diogenes dilaporkan pernah ditangkap dan dijual sebagai budak, lalu ketika ditanya apa keahliannya, ia menjawab bahwa ia pandai memerintah manusia, dan meminta dijual kepada orang yang memerlukan tuan. Kisah ini, sebagaimana kisah pertemuannya dengan Alexander Agung yang meminta ia berdiri agar tidak menutupi sinar matahari, menyampaikan pesan yang sama: kebebasan sejati adalah kebebasan batin, yang tidak dapat diambil oleh perbudakan, dan kemuliaan sejati tidak bergantung pada kekuasaan. Rumusan ini mengguncang tatanan Yunani yang menghargai kelahiran bangsawan, dan menjelaskan mengapa Sinisme dipandang berbahaya sekaligus menarik bagi mereka yang terpinggirkan. Hipparchia, perempuan terpelajar yang bergabung dengan kaum Sinis, dan Crates, yang melepaskan kekayaan, sering dikutip sebagai bukti bahwa ajaran ini terbuka bagi siapa saja.
Kaum Sinis juga mengkritik nilai-nilai yang dikejar masyarakat. Mereka menyebut kenikmatan, kekayaan, dan kemasyhuran sebagai candu yang membuat orang diperbudak keinginannya sendiri. Menurut laporan, Diogenes berkata bahwa cinta uang adalah induk segala kejahatan, dan bahwa orang yang baik adalah gambaran para dewa. Kritik ini bukan penolakan terhadap kebahagiaan, melainkan tuntutan agar kebahagiaan dicari pada hal yang benar-benar dapat dikendalikan. Karena itu, kaum Sinis membedakan penderitaan yang berguna, yakni kesulitan yang menguatkan jiwa, dari penderitaan yang sia-sia, yakni kecemasan akibat mengejar harta atau pengakuan. Pembedaan ini mirip dengan ajaran Stoa tentang hal yang berada dalam kendali dan di luar kendali, dan memang Zeno dari Citium, murid Crates, menyerap rumusan itu sebelum mendirikan Stoisisme.
Kaum Stoa mempertahankan klaim bahwa kebajikan adalah satu-satunya kebaikan, tetapi mengembangkannya menjadi sistem. Mereka menetapkan bahwa hal-hal seperti kesehatan dan kekayaan memang netral secara moral, tetapi ada yang “lebih disukai” (proegmena) dan ada yang “tidak disukai” (apoproegmena), sehingga orang bijak wajar memilih sehat ketimbang sakit meski tidak menganggapnya bagian dari kebahagiaan. Kaum Sinis tidak menerima perhalusan ini dan mempertahankan sikap lebih tajam, yaitu bahwa hidup tanpa hal-hal itu lebih aman. Perbedaan ini menjelaskan mengapa Seneca dan Epiktetos mengagumi teladan Sinis tetapi tidak mengikuti cara hidupnya, dan mengapa Stoa dipandang lebih mudah dijalani oleh pejabat dan warga biasa.
Klaim ini menghadapi beberapa pertanyaan filosofis. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics berpendapat bahwa kebahagiaan memerlukan sejumlah kebaikan eksternal, seperti kesehatan, kecukupan harta, dan persahabatan, sehingga orang yang disiksa atau ditimpa malapetaka besar tidak dapat disebut bahagia hanya karena berbudi. Kritik ini menyasar kecenderungan Sinis dan Stoa untuk menganggap kebajikan cukup bagi kebahagiaan. Sejarawan filsafat juga mencatat bahwa tuntutan kaum Sinis sulit dibedakan dari kesombongan: orang yang mengejek kekayaan sambil bergantung pada sedekah atau pada tamu yang murah hati belum tentu benar-benar mandiri, dan para penulis kuno seperti Lucian menyindir kaum Sinis yang kemiskinannya pura-pura. Pembelaan modern, seperti dalam tulisan William Desmond, menekankan bahwa kaum Sinis memakai kontradiksi itu sebagai alat kritik: tindakan mereka yang janggal justru memaksa penonton menanyakan mengapa kebiasaan sendiri tidak dipertanyakan.
Kesederhanaan kaum Sinis bukan sekadar sikap hemat, melainkan program latihan yang sengaja dirancang untuk membentuk ketangguhan. Kata askesis, yang kelak melahirkan kata “asketisme”, pada mulanya berarti latihan atau pelatihan, seperti latihan atlet atau pengrajin, dan belum membawa makna menyiksa diri demi tujuan religius. Diogenes Laertios melaporkan bahwa Diogenes dari Sinope membedakan dua macam latihan, yaitu latihan jiwa dan latihan tubuh, dan menyatakan bahwa keduanya saling melengkapi karena kebiasaan baik pada tubuh membantu jiwa dan sebaliknya. Ia juga menyatakan bahwa tidak ada hal dalam hidup yang berhasil tanpa latihan, dan bahwa latihan mampu mengatasi segalanya. Dengan pandangan ini, kebajikan diperlakukan sebagai keterampilan yang diperoleh melalui pembiasaan, bukan bakat bawaan atau hasil perenungan semata.
Wujud latihan itu sangat konkret. Diogenes dilaporkan memeluk patung yang membeku di musim dingin dan berguling di atas pasir yang panas di musim panas, supaya tubuhnya terbiasa pada ekstrem suhu. Ia makan makanan yang paling sederhana, seperti roti kasar, bawang, dan sayuran mentah, dan minum air dari tangan. Pakaiannya satu helai mantel kasar yang dilipat dua dan dipakai pula sebagai selimut, ditambah tongkat dan tas kecil. Ia tinggal di sebuah tempayan besar (pithos) di Athena, tempat penyimpanan yang biasanya dipakai untuk biji-bijian atau anggur, dan menurut sumber lain tinggal di bangunan-bangunan umum, seperti kuil dan gimnasium. Kisah tempayan ini sangat dikenal, meski sejarawan mencatat bahwa ia kemungkinan menunjuk pada wadah tembikar besar yang dipakai orang miskin sebagai tempat berlindung, bukan guci yang dapat dimasuki seperti kamar. Pakaian dan perlengkapan itu kelak menjadi seragam khas kaum Sinis pengembara: mantel, tongkat, dan kantong, yang menandai mereka sebagai orang yang menolak kepemilikan.
Tujuan latihan ini adalah mengurangi kerentanan. Orang yang terbiasa dengan sedikit tidak takut kehilangan banyak, dan orang yang tubuhnya kuat menghadapi lapar, dingin, dan sakit tidak mudah dikendalikan oleh ancaman penguasa maupun godaan kenyamanan. Kaum Sinis memahami kemewahan sebagai rantai: semakin banyak yang dibutuhkan seseorang, semakin banyak pihak yang dapat memerasnya. Karena itu, kemiskinan sukarela dipandang sebagai jalan menuju kebebasan, bukan penderitaan. Crates dari Thebes, menurut tradisi, menyerahkan hartanya yang besar kepada kota atau membagikannya, lalu hidup sebagai pengembara yang disambut ramah di rumah-rumah Athena, sehingga dijuluki “pembuka pintu” karena kehadirannya dianggap membawa kegembiraan. Contoh ini menunjukkan bahwa kesederhanaan Sinis tidak selalu bernada muram. Sumber-sumber menggambarkan para Sinis sebagai orang yang periang, suka bercanda, dan tidak merasa menderita.
Latihan juga mencakup pelatihan terhadap rasa malu dan terhadap dorongan. Diogenes dilaporkan berlatih memohon kepada patung untuk membiasakan diri pada penolakan, sehingga ketika ditolak manusia ia tidak terganggu. Ia menegaskan bahwa keinginan alamiah, seperti lapar, harus dipenuhi dengan cara paling sederhana yang tersedia, dan keinginan seksual pun harus dipuaskan tanpa drama, sebagaimana ia dilaporkan menyelesaikannya sendiri di depan umum, sebuah kisah yang menggambarkan perbedaan tajam antara norma sosial dan pandangan Sinis tentang apa yang alamiah. Kisah ini dipakai kaum Sinis untuk menunjukkan bahwa keinginan dasar dapat dipenuhi dengan murah, sementara kerumitan hubungan dan rayuan memperbesar penderitaan. Banyak sarjana menekankan bahwa sebagian anekdot semacam ini mungkin diperbesar oleh penulis kemudian, tetapi mereka sepakat bahwa pola umumnya, yakni pelatihan terhadap tubuh, rasa malu, dan dorongan, benar-benar menjadi ciri tradisi ini.
Kesederhanaan Sinis berbeda dari asketisme Kristen kemudian dan dari kesederhanaan Epikurean. Asketisme religius biasanya menekan tubuh demi kebajikan rohani atau persatuan dengan yang ilahi, sering disertai rasa berdosa. Kaum Sinis tidak memandang tubuh sebagai musuh, dan tidak mencari penebusan, melainkan kebebasan dan kemandirian di dunia ini. Epicurus juga menganjurkan hidup sederhana, tetapi tujuannya adalah kenikmatan yang tenang, dan ia hidup dalam komunitas Kebun yang tertata. Kaum Sinis mencari ketahanan dan sering memilih hidup di jalanan, di hadapan masyarakat, sebagai bentuk kritik. Michel Foucault dalam kuliahnya pada 1984 menafsirkan askesis Sinis sebagai pelatihan yang membuat hidup menjadi “skandal” bagi tatanan, yaitu hidup yang secara terbuka menunjukkan bahwa kebutuhan manusia jauh lebih sedikit dari yang diklaim institusi.
Penilaian terhadap kesederhanaan ini tidak seragam. Pengagum, seperti Epictetus, melihat kaum Sinis sebagai teladan keteguhan dan kebebasan, meski ia menekankan bahwa jalan itu hanya bagi orang yang dipanggil dan siap. Pengkritik, termasuk Lucian, menyindir para Sinis yang memamerkan kemiskinan sambil mencari pujian dan sedekah, sehingga kesederhanaan mereka menjadi sandiwara. Ada pula keberatan bahwa gaya hidup ini hanya mungkin bagi orang yang ditopang masyarakat yang tetap bekerja dan menghasilkan, sehingga kemandirian yang diklaim sebenarnya bergantung pada pihak lain. Pendukung menjawab bahwa kritik ini justru bagian dari tujuan Sinis: kehidupan yang mencolok memaksa orang bertanya mengapa mereka sendiri begitu terikat pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
Konsep autarkeia, yang dapat diterjemahkan sebagai kecukupan diri atau kemandirian, berarti keadaan ketika seseorang tidak memerlukan apa pun dari luar dirinya untuk hidup baik. Kata ini dibentuk dari autos (diri) dan arkein (mencukupi), dan sudah dibahas sebelum kaum Sinis. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics memakainya untuk menggambarkan kebaikan tertinggi sebagai sesuatu yang membuat hidup layak dipilih dan tidak kekurangan apa pun, tetapi ia menambahkan bahwa kecukupan itu menyangkut kehidupan sebagai makhluk sosial, bukan individu yang terasing, sehingga keluarga, sahabat, dan sesama warga termasuk di dalamnya. Kaum Sinis mengambil kata yang sama dan menariknya ke arah yang jauh lebih radikal: kecukupan diri berarti sanggup hidup bahagia dengan hanya bertumpu pada diri sendiri, bahkan ketika semua hal eksternal dicabut.
Gagasan ini lahir dari hubungan langsung dengan dua ajaran Sinis sebelumnya. Bila kebajikan satu-satunya kebaikan, dan kebajikan adalah keadaan jiwa yang dapat dilatih, maka kebahagiaan tidak bergantung pada apa pun yang dapat diambil orang lain. Dan bila kebutuhan alamiah itu sedikit serta murah, maka tidak ada alasan untuk menggantungkan hidup pada kekayaan, jabatan, atau kemurahan penguasa. Diogenes Laertios melaporkan bahwa Diogenes dari Sinope menyatakan bahwa para dewa tidak membutuhkan apa-apa, dan bahwa orang yang membutuhkan paling sedikit paling dekat dengan para dewa. Rumusan itu menggambarkan pandangan Sinis bahwa kemandirian adalah ukuran kesempurnaan: semakin sedikit yang dibutuhkan, semakin bebas orangnya. Di sini kemandirian dipandang bukan sebagai ketiadaan hubungan, melainkan sebagai ketiadaan ketergantungan yang membuat seseorang dapat dikendalikan.
Dalam praktik, kemandirian ini menghasilkan sikap yang tampak sombong atau tidak sopan terhadap orang berkuasa. Kisah yang paling terkenal adalah pertemuan Diogenes dengan Alexander Agung di Korintus. Menurut Plutarkhos dan sumber lain, Alexander menawarkan untuk memberinya apa pun yang diinginkan, dan Diogenes, yang sedang berbaring berjemur, menjawab agar Alexander menyingkir karena menghalangi sinar matahari. Alexander dikabarkan berkata bahwa seandainya ia bukan Alexander, ia ingin menjadi Diogenes. Kebenaran historis kisah ini tidak pasti, tetapi maknanya jelas: orang yang tidak membutuhkan apa pun dari penguasa tidak dapat disuap, diancam, atau dibujuk, sehingga ia berbicara kepada raja seperti kepada siapa saja. Kemandirian ekonomi dengan demikian menjadi syarat kemandirian moral dan keterusterangan, yang dibahas pada subbagian berikutnya.
Kemandirian Sinis meliputi kebebasan dari tekanan opini. Kaum Sinis tidak mencari persetujuan, pujian, atau reputasi baik, dan tidak takut pada ejekan. Diogenes dilaporkan menjawab orang yang berkata bahwa banyak orang menertawakannya dengan ungkapan bahwa mungkin ia sendiri tidak ditertawakan. Dalam pandangan ini, nama baik adalah salah satu bentuk ketergantungan paling halus, sebab orang yang memerlukan pengakuan akan menyesuaikan diri dengan selera orang lain. Karena itu, kaum Sinis sengaja melatih diri bertahan di bawah penghinaan. Crates dilaporkan pernah dipukul dan dibiarkan, dan hanya menempelkan tulisan “ditandai oleh Crates” pada memar yang ia terima, sebuah cerita yang memperlihatkan bagaimana ketahanan terhadap hinaan dijadikan bentuk kebebasan.
Kemandirian ini juga membentuk sikap terhadap hubungan antarmanusia. Kaum Sinis tidak anti-sosial dalam arti membenci manusia. Mereka bergaul, berbicara di pasar, dan mengajar, dan Crates dikenal ramah serta dijuluki “pembuka pintu” karena sering dikunjungi dan menengahi perselisihan keluarga. Namun ikatan mereka dengan orang lain bukan ikatan kebutuhan atau kewajiban sosial yang diwariskan. Mereka menolak institusi seperti pernikahan konvensional, kewajiban kepada kota, dan hubungan patron-klien, dan menggantinya dengan persahabatan yang dipilih. Contohnya adalah pasangan Crates dan Hipparchia, yang menurut laporan menjalani hidup bersama sebagai sesama Sinis dengan pernikahan tanpa upacara dan harta. Dengan demikian kecukupan diri tidak berarti hidup sendirian, melainkan hidup dengan orang lain tanpa menggantungkan kebahagiaan pada mereka.
Kecukupan diri Sinis dikritik karena beberapa alasan. Aristoteles sendiri menolak pandangan bahwa manusia dapat bahagia sendirian, dan menyatakan bahwa orang yang mampu hidup tanpa masyarakat adalah binatang atau dewa. Kritik lain datang dari penulis kuno seperti Lucian, yang menggambarkan sebagian Sinis hidup dari sedekah dan menumpang makan, sehingga kemandirian yang dibanggakan nyatanya bergantung pada kemurahan orang lain. Pertanyaan ini muncul juga dalam penafsiran modern: apakah ideal Sinis adalah kebebasan sejati atau bentuk parasitisme terhadap masyarakat yang ia kritik. Pembelaan datang dari mereka yang menekankan bahwa kaum Sinis menuntut sedikit, memberi nasihat moral sebagai balasannya, dan memandang pemberian sebagai pertukaran sukarela, bukan kewajiban. Sebagian penafsir kontemporer menambahkan bahwa ideal kemandirian Sinis berfungsi sebagai kritik atas masyarakat konsumtif, dan bukan sebagai program hidup yang harus ditiru secara harfiah oleh semua orang.
Keterusterangan (parrhesia) adalah keberanian berbicara jujur tanpa menyaring kata demi menyenangkan pendengar, dengan risiko yang ditanggung sendiri oleh pembicara. Dalam demokrasi Athena, kata ini semula merujuk pada hak warga berbicara bebas di majelis. Kaum Sinis menjadikannya cara hidup: mereka berbicara terus terang kepada siapa pun, termasuk kepada raja, hakim, dan filsuf terkemuka, karena mereka tidak memiliki apa pun yang dapat diambil sebagai hukuman. Di sini kemandirian yang dibahas pada subbagian sebelumnya menjadi syarat praktis. Orang yang tidak bergantung pada pujian, jabatan, atau kekayaan tidak punya alasan untuk berbohong demi keselamatan atau keuntungan. Diogenes Laertios melaporkan bahwa ketika Diogenes ditanya hal apa yang paling indah di dunia, ia menjawab bahwa itu adalah parrhesia. Jawaban ini menunjukkan bahwa ia memandang kebebasan berbicara bukan sekadar hak, melainkan kebajikan yang harus dilatih.
Michel Foucault memberi perhatian khusus pada aspek ini dalam kuliah-kuliahnya di Collège de France pada awal 1984, beberapa bulan sebelum ia wafat, yang kemudian diterbitkan dengan judul The Courage of Truth. Foucault menelusuri bagaimana parrhesia berpindah dari ranah politik, ketika warga berbicara di hadapan majelis, ke ranah etika, ketika seorang filsuf mengucapkan kebenaran kepada penguasa atau kepada jiwa sesamanya. Pada kaum Sinis, ia melihat bentuk yang paling ekstrem: keterusterangan bukan hanya dalam ucapan, melainkan dalam keseluruhan hidup. Kehidupan mereka, dengan tubuh telanjang, tempat tinggal di jalan, dan perilaku di depan umum, dimaksudkan sebagai pernyataan yang dapat dilihat, bukan hanya didengar. Foucault menyebutnya “kehidupan sejati” (alethes bios) dan “kehidupan sebagai skandal kebenaran”, yaitu hidup yang menyingkap kontradiksi antara nilai yang diklaim masyarakat dan cara masyarakat benar-benar hidup. Pembacaan ini sangat berpengaruh dalam kajian modern, tetapi sebagian sarjana klasik menilai Foucault terlalu menonjolkan sisi politisnya dan kurang memperhatikan bahwa sumber-sumber kuno tentang Sinisme sangat terbatas.
Penolakan terhadap konvensi diungkapkan lewat semboyan yang dikaitkan dengan Diogenes: “mengubah nilai mata uang” (parakharattein to nomisma). Kata nomisma berarti mata uang sekaligus adat, sehingga ungkapan ini bermakna ganda. Menurut tradisi, Diogenes diasingkan dari Sinope bersama ayahnya karena terlibat pemalsuan atau pencemaran mata uang kota, dan kaum Sinis kemudian memakai peristiwa itu sebagai metafora: tugas filsuf adalah mengikis nilai palsu yang beredar di masyarakat, seperti kehormatan, kekayaan, dan kebangsawanan, dan menggantinya dengan nilai yang sungguh berharga. Dalam kerangka ini, setiap kebiasaan yang tidak dapat dibenarkan oleh alam dan akal perlu diuji. Kaum Sinis mempertanyakan hal-hal yang dianggap suci, seperti ritus keagamaan yang dilakukan tanpa pemahaman, status sosial turun-temurun, dan aturan kesopanan yang menutupi ketimpangan.
Cara kaum Sinis mengkritik konvensi sengaja bersifat teatrikal. Mereka makan dan memenuhi kebutuhan tubuh di tempat umum untuk menyatakan bahwa tindakan alamiah tidak memalukan, sikap yang disebut anaideia. Diogenes dilaporkan berkeliling siang hari membawa lampu sambil berkata bahwa ia mencari manusia, suatu sindiran bahwa warga yang tampak terhormat sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai manusia utuh. Ia juga mengejek upacara dan pemujaan berlebihan, dan menjawab orang yang menyuruhnya takut kepada para dewa dengan komentar yang tajam. Kisah-kisah ini membentuk genre anekdot (khreiai) yang menjadi sumber utama pengetahuan kita, dan sebagian besar ditulis berabad-abad setelah kehidupan tokohnya, sehingga detailnya patut diragukan. Meski demikian, sarjana seperti Luis Navia dan Robert Branham sepakat bahwa pola umumnya, yaitu kritik melalui tindakan yang mengejutkan dan humor yang tajam, adalah ciri asli gerakan ini. Branham menyebutnya “humor serius” (spoudaiogeloion), yaitu menggabungkan lelucon dengan maksud filosofis.
Keterusterangan dan penolakan konvensi berjalan beriringan dengan sikap terhadap kekuasaan dan agama. Terhadap penguasa, kaum Sinis menolak menjilat dan tidak segan menegur. Terhadap agama populer, mereka mengkritik takhayul dan praktik kurban yang dianggap menyuap dewa, meski mereka tidak serta-merta menolak adanya yang ilahi, dan Epiktetos kelak melukiskan Sinis ideal sebagai utusan dewa. Terhadap hukum kota, sebagian penafsir menilai bahwa kaum Sinis menolak kewajiban sipil sebagai warga negara satu kota tertentu dan menyatakan diri warga dunia, pokok yang dibahas pada subbagian kosmopolitanisme. Hidup mereka yang mencolok pun berfungsi sebagai alat pendidikan moral: mereka tidak hanya menolak konvensi untuk dirinya, tetapi menegur orang lain agar memeriksa kebiasaannya.
Pendekatan ini menimbulkan kritik. Para penulis kuno seperti Lucian dalam The Dead Come to Life dan Philosophies for Sale menyindir sebagian Sinis sebagai orang kasar dan tidak tahu aturan yang berlindung di balik nama filsafat, dan Epiktetos sendiri memperingatkan bahwa orang yang meniru kaum Sinis hanya dalam penampilan, dengan mantel dan tongkat, tidak berarti memiliki keteguhan batin. Filsuf lain berpendapat bahwa penghinaan terhadap konvensi tidak otomatis membawa kebenaran, karena tindakan provokatif dapat menjadi cara mencari perhatian. Cicero dalam De Officiis menilai bahwa perilaku Sinis yang melanggar kesopanan harus ditolak, meski ia mengakui bahwa ada kejujuran yang berharga pada sikap mereka. Pertanyaan yang terus muncul dalam penafsiran modern adalah apakah kritik yang terlalu teatrikal masih dapat mengubah sikap penonton, atau justru membuat orang menertawakan pelakunya tanpa memeriksa dirinya.
Kaum Sinis dikenal sebagai pemikir pertama yang secara terbuka menyatakan diri sebagai warga dunia. Diogenes Laertios melaporkan bahwa ketika Diogenes dari Sinope ditanya dari mana ia berasal, ia menjawab bahwa ia adalah kosmopolites, warga kosmos. Kata itu belum pernah dipakai sebelumnya sebagai identitas, sehingga banyak sarjana menganggap jawaban ini sebagai rumusan awal kosmopolitanisme. Konteksnya penting. Diogenes diasingkan dari Sinope, sehingga ia tidak lagi memiliki kota yang dapat disebut tanah airnya. Alih-alih meratapi pengasingan itu, ia mengubahnya menjadi sikap filosofis: karena kebajikan dan akal tidak mengenal batas kota, kesetiaan sejati tidak tertambat pada tempat kelahiran. Pernyataan ini mengguncang pandangan Yunani, yang menempatkan identitas seseorang pada polis, yaitu kota tempat ia lahir, memiliki hak, dan berkewajiban berperang.
Dasar pemikiran ini bertalian dengan ajaran Sinis sebelumnya. Bila yang berharga adalah kebajikan dan hidup menurut alam, dan bila adat bersifat buatan serta berbeda antarkota, maka kewarganegaraan tertentu hanyalah salah satu konvensi yang dapat dipertanyakan. Satu-satunya “negara” yang sah adalah tatanan alam dan akal yang dapat dihuni siapa pun yang berbudi, entah Yunani atau barbar, bebas atau budak, laki-laki atau perempuan. Karena itu, kosmopolitanisme Sinis lebih bersifat etis dan kritis daripada institusional: ia tidak mengusulkan pemerintahan dunia, tetapi menolak bahwa identitas moral ditentukan oleh kota. Kaum Sinis pun tidak mengusulkan program politik rinci. Diogenes Laertios menyebut sebuah karya Republic yang dikaitkan dengan Diogenes, memuat gagasan yang mengguncang seperti penghapusan uang yang lazim, pernikahan, dan pengadilan, tetapi keaslian dan isinya masih diperdebatkan sarjana, dan tidak ada bukti bahwa kaum Sinis berusaha mewujudkannya.
Sikap terhadap politik praktis umumnya menarik diri. Kaum Sinis tidak menduduki jabatan, tidak ikut majelis dengan ambisi, dan tidak berusaha memperoleh kehormatan publik, karena semua itu mereka anggap sumber ketergantungan dan kesombongan. Meski demikian, mereka tidak acuh terhadap kehidupan bersama. Kritik moral terhadap penguasa, ejekan terhadap kemewahan, dan pengajaran kepada orang di jalan adalah bentuk keterlibatan publik yang berbeda, yaitu politik sebagai pendidikan dan teguran, bukan sebagai kekuasaan. Karena kaum Sinis tidak punya kota yang diperjuangkan dan tidak memiliki apa pun yang dapat diancam, mereka dapat berbicara kepada penguasa tanpa takut, sebagaimana dalam kisah pertemuan Diogenes dengan Alexander Agung. Foucault dalam kuliahnya pada 1984 menekankan sisi ini: kaum Sinis menjalankan politik dengan menjadikan hidup mereka sendiri sebagai tantangan terhadap tatanan.
Gagasan warga dunia kemudian diambil kaum Stoa dengan arah yang lebih sistematis. Zeno dari Citium, murid Crates, menulis Republic yang membayangkan komunitas orang bijak tanpa batas kota, dan para Stoa Romawi, seperti Seneca, Epiktetos, dan Marcus Aurelius, mengembangkan gagasan bahwa semua manusia berbagi akal dan karena itu adalah warga satu “kota besar” kosmos, sehingga memiliki kewajiban moral satu sama lain. Berbeda dari Sinis, Stoa mendorong keterlibatan dalam kehidupan publik sebagai kewajiban, bukan penarikan diri. Gagasan ini melalui Cicero memengaruhi pemikiran hukum alam dan hak asasi, dan pada era Pencerahan Kant mengembangkannya dalam Perpetual Peace (1795) dengan gagasan hukum kosmopolitan, yaitu hak setiap orang atas keramahan terhadap orang asing. Rantai pengaruh ini menjadikan Sinisme salah satu akar jauh pemikiran kosmopolitan modern, meskipun sering dilupakan.
Penilaian terhadap kosmopolitanisme Sinis tidak seragam. Martha Nussbaum, yang membela tradisi kosmopolitan Stoa, menilai bahwa versi Sinis lebih bersifat penolakan daripada pembangunan, sehingga ia kurang dapat menjelaskan bagaimana kewajiban terhadap sesama dijalankan. Sebagian sarjana, seperti John Moles, menekankan bahwa pernyataan Diogenes memiliki makna positif: ia memperlihatkan bahwa komunitas moral sesungguhnya mencakup seluruh manusia berakal. Kritik lain menyatakan bahwa ideal warga dunia yang tidak terikat dapat menjadi cara mengelak dari tanggung jawab terhadap komunitas konkret, seperti keluarga, kota, dan bangsa, yang dalam kehidupan nyata paling sering menjadi tempat orang menunaikan kewajibannya. Pertanyaan itu masih hidup dalam perdebatan modern antara kosmopolitanisme dan komunitarianisme, dan Sinisme sering dijadikan contoh paling radikal pihak yang pertama.
Sinisme berbeda dari kebanyakan aliran filsafat Yunani karena ia hampir tidak meninggalkan sistem doktrin. Tidak ada sekolah dengan bangunan tetap seperti Akademi Plato atau Lykeion Aristoteles, tidak ada kurikulum, dan hampir seluruh tulisan kaum Sinis awal hilang. Yang bertahan adalah kisah tentang bagaimana mereka hidup. Karena itu, para sarjana, termasuk Pierre Hadot dalam kajiannya tentang filsafat sebagai cara hidup, memandang Sinisme sebagai contoh paling jelas filsafat yang dipahami bukan sebagai wacana teoretis, melainkan sebagai latihan yang mengubah seluruh keberadaan seseorang. Seseorang menjadi Sinis bukan dengan menerima sejumlah proposisi, melainkan dengan mengenakan mantel kasar, membawa tongkat dan kantong, lalu menjalani hidup tertentu di hadapan orang lain. Diogenes Laertios menyebut Sinisme sebagai “jalan pintas menuju kebajikan”, yaitu jalan yang tidak memerlukan pelajaran panjang tentang logika dan fisika, tetapi latihan langsung.
Bentuk penyebaran gerakan ini juga khas. Kaum Sinis pada umumnya adalah pengembara yang berbicara di pasar, jalan, dan gimnasium, bukan guru yang menarik bayaran dari murid. Sebagian, seperti Crates, berasal dari keluarga kaya dan melepaskan hartanya, sedangkan yang lain, seperti Monimos, dilaporkan mantan budak atau orang yang berasal dari kalangan bawah. Gerakan ini menarik pengikut dari berbagai latar, termasuk perempuan seperti Hipparchia, sehingga ia sering dipandang sebagai salah satu aliran paling terbuka pada zamannya. Dalam sastra, Bion dari Borysthenes mengembangkan khotbah populer yang disebut diatribe, yaitu pidato yang memakai humor, dialog khayalan, dan perumpamaan sehari-hari, dan Menippus dari Gadara menulis campuran prosa dan puisi yang bernada satir. Bentuk ini kemudian memengaruhi satir Romawi melalui Varro, dan pada abad ke-2 M dipakai Lucian dari Samosata, yang menghidupkan kembali tradisi itu dalam dialog-dialognya.
Pada masa Kekaisaran Romawi, Sinisme mengalami kebangkitan sekaligus perpecahan citra. Sosok seperti Demetrius dari Roma, sahabat Seneca, dikagumi karena kesederhanaan dan keberaniannya berbicara kepada penguasa, dan Seneca menyebutnya orang yang paling dekat dengan idealnya meski tidak mengikuti hidupnya. Di sisi lain, para penulis sezaman mengeluhkan banyaknya pengembara bermantel yang meniru penampilan Sinis tanpa keteguhannya, dan beberapa kaisar, termasuk Vespasianus, mengusir sebagian Sinis dari Roma karena kritik mereka dianggap menghasut. Epiktetos dalam Discourses menyusun gambaran ideal Sinis sebagai utusan dewa yang diutus mengawasi manusia, tidak menikah, tidak memiliki rumah, dan siap dipukul tanpa marah, tetapi ia menegaskan bahwa jalan itu hanya untuk orang yang dipanggil dengan persiapan luar biasa. Pada abad ke-4 M, Kaisar Julian menulis pidato yang membela Sinisme sejati sekaligus mengecam orang yang menyalahgunakan namanya. Kaum Sinis masih tercatat hingga akhir zaman kuno, sebelum gerakan ini menghilang sebagai tradisi hidup.
Pengaruh intelektual Sinisme jauh lebih besar daripada jumlah penganutnya. Stoisisme lahir dari Sinisme melalui Zeno dari Citium, murid Crates, dan mewarisi klaim bahwa kebajikan cukup untuk kebahagiaan, perhatian pada pembedaan antara yang alamiah dan yang konvensional, serta gagasan warga dunia. Tradisi pertapa Kristen kemudian dipandang oleh sebagian sejarawan memiliki kemiripan dengan Sinisme dalam hal kemiskinan sukarela dan penolakan terhadap kemewahan, meski perbedaan tujuan sangat besar, dan sarjana masih memperdebatkan seberapa jauh pengaruh langsungnya. Pada masa Renaisans, anekdot Diogenes dipakai penulis seperti Erasmus dan Montaigne, dan pada era Pencerahan Rousseau, dengan kritiknya terhadap peradaban yang merusak manusia alamiah, sering dibandingkan dengan semangat Sinis. Dalam kesusastraan, Diogenes menjadi tokoh pada karya satir sepanjang zaman, dan kisahnya dengan Alexander Agung menjadi salah satu anekdot filsafat yang paling sering diceritakan.
Pada abad ke-19 dan ke-20, para filsuf kembali memperhatikan Sinisme dengan cara berbeda. Friedrich Nietzsche mengagumi keterusterangan dan keberanian Diogenes, dan menyebut kaum Sinis sebagai pihak yang paling jujur terhadap manusia. Peter Sloterdijk dalam Critique of Cynical Reason (1983) membedakan “kinisme” kuno, yang menantang kemunafikan dengan tubuh dan ucapan terus terang, dari “sinisme” modern, yaitu kesadaran terbelah yang mengetahui bahwa tatanan itu palsu tetapi tetap menjalankannya. Dengan pembedaan ini, ia menjelaskan bagaimana kata “sinis” dalam bahasa sehari-hari berubah menjadi sikap pasrah dan curiga yang justru bertentangan dengan semangat Diogenes. Michel Foucault dalam kuliah-kuliahnya pada 1984 menafsirkan Sinisme sebagai bentuk “kehidupan sejati” yang menjadikan hidup sebagai pernyataan politik, dan pembacaannya kemudian memicu minat baru pada Sinisme dalam kajian etika, politik, dan studi budaya. Dalam praktik kontemporer, sebagian aktivis dan seniman menyebut tindakan mereka bernuansa Sinis, misalnya pertunjukan jalanan yang mengejek kekuasaan, gerakan hidup minimalis, dan kritik terhadap konsumerisme.
Penilaian akhir terhadap Sinisme tetap terbelah. Pendukungnya memandangnya sebagai pengingat bahwa filsafat dapat diuji melalui kehidupan, bahwa banyak kebutuhan manusia buatan, dan bahwa kebebasan batin mungkin tanpa kekayaan atau kekuasaan. Pengkritiknya, mulai dari Lucian hingga sarjana modern, menunjuk pada bahaya kesombongan, ketergantungan terselubung pada masyarakat yang dikritik, dan kecenderungan menolak tanpa menawarkan program yang dapat dijalankan. Keterbatasan sumber membuat sebagian besar penilaian harus berhati-hati: kita mengenal kaum Sinis terutama melalui anekdot yang disusun penulis kemudian, sehingga batas antara tokoh historis dan legenda sulit ditarik. Meski demikian, hampir semua sarjana sepakat bahwa Sinisme telah memberi filsafat Barat salah satu gagasan yang paling tahan lama: bahwa kebajikan adalah soal cara hidup, dan bahwa kejujuran yang tidak takut kehilangan apa pun adalah bentuk kebebasan yang paling sulit dicabut.
Sinisme biasanya ditelusuri hingga Antisthenes, murid Socrates yang menekankan bahwa kebajikan dapat dicapai melalui tindakan, tidak memerlukan banyak teori, dan cukup untuk mencapai kebahagiaan. Banyak sejarawan meragukan bahwa ia mendirikan aliran ini secara formal, tetapi ajarannya dipandang sebagai pendahulu penting. Bentuk Sinisme yang paling terkenal muncul pada Diogenes dari Sinope, yang menerapkan hidup sederhana secara radikal, tidur dan tinggal di tempayan besar di Athena, menolak konvensi, dan dikenal lewat kisah-kisah tajam, seperti berkeliling membawa lampu di siang hari untuk mencari manusia sejati. Sebagian besar informasi tentangnya berasal dari Diogenes Laertios dalam Lives of Eminent Philosophers, yang ditulis berabad-abad kemudian.
Ajaran Diogenes dilanjutkan oleh Crates dari Thebes, yang melepaskan kekayaannya untuk menjalani hidup Sinis dan dikenal ramah serta dihormati warga Athena. Ia menikah dengan Hipparchia dari Maroneia, perempuan terpelajar yang meninggalkan kehidupan mapan untuk bergabung dengan gaya hidup Sinis, dan keduanya menunjukkan bahwa Sinisme terbuka bagi perempuan. Pengaruh Crates mengalir ke Zeno dari Citium, yang berguru kepadanya sebelum mendirikan Stoisisme, sehingga Sinisme menjadi salah satu akar penting aliran itu. Pada abad ke-3 SM, Bion dari Borysthenes dan Menippus dari Gadara menyebarkan pesan Sinis melalui bentuk sastra yang satiris, dan Menippus kemudian memengaruhi tradisi satire Romawi.
Pada masa Kekaisaran Romawi, Sinisme mengalami kebangkitan. Demetrius dari Roma menjadi sahabat Seneca, yang mengagumi kesederhanaan dan keteguhannya. Epiktetos, filsuf Stoa, menggambarkan sosok ideal pengembara Sinis dalam Discourses, yaitu utusan dewa yang mengabdikan hidup bagi pengajaran moral. Pada abad ke-2 M, Lucian dari Samosata menampilkan kaum Sinis dalam karya satirnya dan mengkritik mereka yang berpura-pura, sedangkan Kaisar Julian pada abad ke-4 menulis pembelaan sekaligus kritik terhadap kaum Sinis pada zamannya. Dalam era modern, Peter Sloterdijk membahas transformasi sikap kuno ini menjadi sinisme modern dalam Critique of Cynical Reason (1983), sedangkan Michel Foucault dalam kuliah-kuliahnya di Collège de France pada 1984 menelaah keterusterangan (parrhesia) kaum Sinis sebagai bentuk kehidupan sejati.