Filsuf Voltaire

Voltaire

Dipublikasikan: 13 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 17 Oktober 2026

Voltaire (1694-1778), adalah penulis, sejarawan, dan filsuf Prancis yang menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dan paling banyak dibaca dari seluruh gerakan Pencerahan Eropa. Lahir di Paris dari keluarga notaris yang cukup mapan secara ekonomi, Voltaire menempuh pendidikan di Collège Louis-le-Grand, sekolah Yesuit terkemuka di Paris, sebuah pendidikan klasik yang memberinya penguasaan retorika dan sastra Latin yang kelak menjadi senjata utamanya dalam menulis satire dan polemik yang begitu tajam dan begitu efektif menyerang otoritas gereja dan negara. Sepanjang hidupnya yang panjang dan penuh gejolak, ia berulang kali dipenjara, diasingkan, dan terpaksa melarikan diri dari Prancis akibat tulisan-tulisannya yang berani menantang kekuasaan absolut raja maupun dominasi Gereja Katolik, termasuk masa pengasingan dua tahun di Inggris pada akhir 1720-an yang memberinya kekaguman mendalam terhadap sistem politik yang lebih toleran serta terhadap pencapaian ilmiah Isaac Newton, pengalaman yang ia tuangkan dalam Lettres philosophiques (1733), sebuah karya yang secara implisit membandingkan kebebasan relatif Inggris dengan despotisme dan intoleransi Prancis, dan yang segera dilarang serta dibakar di negaranya sendiri.

Voltaire dikenal luas bukan karena merumuskan sistem filsafat yang sistematis sebagaimana para filsuf rasionalis atau idealis, melainkan karena kecerdasannya yang tajam dalam mempertanyakan, menyindir, dan membongkar dogma, takhayul, dan ketidakadilan melalui berbagai genre tulisan, mulai dari drama, puisi epik, karya sejarah, hingga cerita filosofis satiris. Karyanya yang paling terkenal, Candide, ou l’Optimisme (1759), ditulis sebagai serangan satiris yang dahsyat terhadap filsafat optimisme metafisis yang diwakili Gottfried Wilhelm Leibniz, terutama doktrinnya bahwa dunia yang ada sekarang adalah “yang terbaik dari segala dunia yang mungkin” (le meilleur des mondes possibles), sebuah keyakinan yang bagi Voltaire terasa semakin tidak masuk akal setelah bencana gempa bumi dahsyat yang meluluhlantakkan Lisbon pada 1755 dan menewaskan puluhan ribu orang. Selain Candide, Voltaire juga menulis Traité sur la tolérance (1763), sebuah pembelaan yang sangat berpengaruh atas kebebasan berkeyakinan yang ia susun sebagai respons langsung terhadap kasus Jean Calas, seorang pedagang Protestan di Toulouse yang dieksekusi secara tidak adil atas tuduhan palsu membunuh putranya sendiri demi mencegahnya pindah agama ke Katolik, serta Dictionnaire philosophique (1764), kumpulan esai alfabetis yang menyerang secara tajam fanatisme agama dan superstisi dalam berbagai bentuknya.

Sebagai salah satu suara paling lantang dalam kampanye melawan penganiayaan agama dan kesewenang-wenangan peradilan pada abad kedelapan belas, Voltaire turut membentuk cara Eropa berdebat tentang agama, keadilan, dan kekuatan pena sepanjang dua setengah abad berikutnya. Ia meninggal di Paris pada 1778, tak lama setelah kembali dari dua puluh delapan tahun pengasingan untuk menyaksikan pementasan kemenangan drama terakhirnya, Irène, dan jenazahnya kemudian dipindahkan ke Panthéon Paris, sebuah penghormatan simbolis yang menegaskan posisinya sebagai salah satu arsitek utama pemikiran Pencerahan yang membentuk wacana revolusioner tentang kebebasan dan toleransi di Prancis dan seluruh Eropa.

Biografi Voltaire

François-Marie Arouet (Voltaire) lahir di Paris pada 21 November 1694, anak bungsu yang bertahan hidup dari François Arouet, seorang notaris yang cukup sejahtera, dan Marie Marguerite Daumard. Keluarganya tergolong kelas menengah atas yang mapan secara hukum dan finansial, sebuah latar belakang yang memungkinkannya memperoleh pendidikan terbaik yang tersedia di Prancis pada masanya. Pada 1704, di usia sepuluh tahun, ia masuk Collège Louis-le-Grand, sekolah Yesuit paling bergengsi di Paris, tempat ia menempa penguasaan retorika, sastra klasik, dan drama yang kelak menjadi dasar seluruh kariernya sebagai penulis. Meski ayahnya menghendaki ia menekuni profesi hukum dan sempat mengirimnya belajar hukum serta bekerja sebagai sekretaris kedutaan Prancis di Belanda pada 1713, Arouet muda jauh lebih tertarik pada pergaulan sastra dan kehidupan kaum bangsawan Paris yang penuh kecerdasan dan hedonisme, memilih meninggalkan jalur hukum demi mengejar karier sebagai penulis drama dan penyair.

Watak tajam dan lidahnya yang pedas segera membuatnya berurusan dengan otoritas. Pada 1716 ia diasingkan ke Tulle karena menulis sajak yang mengejek Bupati Prancis, Philippe II, Adipati Orléans, dan pada Mei 1717, setelah dituduh menulis syair-syair fitnah lebih lanjut, ia dipenjara di Bastille selama sebelas bulan tanpa pengadilan, berdasarkan lettre de cachet yang memungkinkan penahanan sewenang-wenang atas perintah kerajaan. Selama masa penahanan inilah ia menulis tragedi pertamanya, Œdipe, yang dipentaskan dengan sukses besar pada 1718 setelah pembebasannya, dan tak lama setelah peristiwa ini pula ia mulai menggunakan nama pena “Voltaire”, menggantikan nama keluarganya, Arouet, sebuah pilihan nama yang asal-usulnya masih diperdebatkan para sejarawan namun yang segera melekat sebagai identitas publiknya seumur hidup. Keberanian menantang kekuasaan ini tidak pernah benar-benar surut: pada 1726, setelah terlibat perselisihan dengan seorang bangsawan, Chevalier de Rohan, yang memerintahkan anak buahnya memukulinya di jalan, Voltaire kembali dipenjara singkat di Bastille sebelum diusir dari Prancis, mengantarnya pada masa pengasingan di Inggris selama hampir tiga tahun.

Pengalaman di Inggris memberi dampak yang sangat mendalam bagi perkembangan pemikirannya. Di sana ia menyaksikan secara langsung sistem monarki konstitusional yang jauh lebih membatasi kekuasaan raja dibandingkan absolutisme Prancis, bertemu dan membaca karya-karya John Locke serta mengagumi pencapaian ilmiah Isaac Newton, dan mengamati toleransi beragama yang relatif lebih luas dibandingkan Prancis yang masih didominasi Gereja Katolik. Pengalaman ini dituangkannya dalam Lettres philosophiques (diterbitkan 1733, juga dikenal sebagai Lettres concernant la nation anglaise), sebuah karya yang secara implisit namun tajam membandingkan kebebasan Inggris dengan despotisme Prancis, dan yang segera setelah terbit di Paris pada 1734 memicu kehebohan besar, dengan parlemen Paris memerintahkan buku tersebut dibakar di depan umum dan menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap penulisnya, memaksa Voltaire kembali melarikan diri dari Paris.

Pelarian ini membawanya ke Cirey, di wilayah Champagne, tempat tinggal Émilie du Châtelet, seorang perempuan bangsawan yang juga matematikawan dan fisikawan berbakat, yang menjadi kekasih sekaligus mitra intelektualnya selama lebih dari lima belas tahun berikutnya. Di kastil milik suami Émilie inilah Voltaire menemukan tempat berlindung yang relatif aman, dan bersama Émilie, yang menerjemahkan dan memberi anotasi penting atas karya Newton ke dalam bahasa Prancis, ia mendalami fisika dan filsafat alam, menghasilkan karya-karya seperti Éléments de la philosophie de Newton (1738) yang turut memperkenalkan fisika Newtonian ke daratan Eropa. Periode Cirey ini menjadi salah satu masa paling produktif dan paling stabil dalam hidup Voltaire, meski hubungannya dengan Émilie juga diwarnai perselingkuhan di kedua belah pihak. Pada 1746 ia terpilih sebagai anggota Académie Française, salah satu pengakuan institusional tertinggi bagi seorang penulis Prancis, namun kebahagiaan periode ini berakhir mendadak ketika Émilie meninggal dunia pada 1749 akibat komplikasi persalinan, sebuah kehilangan yang sangat memukul Voltaire.

Merasa kurang dihargai oleh Raja Louis XV di Prancis, Voltaire menerima undangan lama dari Frederick Agung, Raja Prusia, yang telah berkorespondensi dengannya sejak 1736, dan pada 1750 ia pindah ke istana Frederick di Potsdam, Berlin. Persahabatan intelektual antara kedua tokoh besar ini pada mulanya menjanjikan, namun segera memburuk akibat perselisihan kepribadian dan perselisihan dengan ilmuwan istana lainnya, hingga Voltaire meninggalkan Prusia dengan hubungan yang retak pada 1753, sebuah perpisahan yang bahkan sempat melibatkan penahanan singkat dirinya oleh agen Prusia di Frankfurt dalam perjalanan pulang. Tidak lagi diizinkan kembali ke Paris, dan merasa tidak sepenuhnya nyaman pula di Jenewa yang Calvinis dan ketat moralnya, Voltaire akhirnya membeli estat Les Délices di dekat Jenewa, sebelum pada 1758 memperoleh properti Ferney, sebuah desa kecil di perbatasan Prancis-Swiss yang memberinya keuntungan strategis: ia dapat dengan cepat melarikan diri ke wilayah Swiss jika otoritas Prancis atau Jenewa mengancamnya.

Di Ferney inilah, dari 1759 hingga akhir hidupnya, Voltaire memasuki fase yang kelak dikenal sebagai “Sage Ferney” (Orang Bijak dari Ferney), periode paling berpengaruh dalam kariernya sebagai intelektual publik Eropa. Ia menerbitkan Candide pada 1759, mengubah desa Ferney menjadi komunitas yang makmur dengan mendirikan industri jam tangan dan sutra bagi penduduk setempat, serta menjalin korespondensi masif dengan hampir seluruh tokoh terkemuka Eropa, mencakup ribuan surat kepada raja, filsuf, dan sastrawan di berbagai negara, menjadikannya salah satu simpul utama jaringan intelektual Pencerahan lintas-Eropa. Pada periode inilah pula ia mengambil peran paling menentukan sebagai pembela keadilan publik, terutama melalui kasus Jean Calas pada 1762, seorang pedagang Protestan di Toulouse yang dieksekusi akibat tuduhan palsu membunuh putranya sendiri. Voltaire memimpin kampanye penulisan yang gigih, termasuk menerbitkan Traité sur la tolérance (1763), hingga akhirnya berhasil memperoleh rehabilitasi anumerta bagi Calas pada 1765, sebuah kemenangan yang mengukuhkan reputasinya sebagai “hati nurani Eropa”. Ia melanjutkan aktivisme serupa dalam sejumlah kasus ketidakadilan lain, termasuk kasus Sirven dan kasus Chevalier de La Barre, sembari terus menulis karya-karya penting lain seperti Dictionnaire philosophique portatif (1764).

Setelah hampir tiga puluh tahun tidak diizinkan menginjakkan kaki di Paris, Voltaire akhirnya kembali ke kota kelahirannya pada awal 1778, di usia delapan puluh tiga tahun, untuk menyaksikan pementasan drama terakhirnya, Irène. Kedatangannya disambut dengan sambutan luar biasa meriah oleh publik Paris, sebuah penghormatan yang jarang dialami seorang penulis semasa hidupnya, namun kegembiraan dan kelelahan perjalanan tersebut ternyata terlalu berat bagi kesehatannya yang sudah menua. Voltaire meninggal dunia di Paris pada 30 Mei 1778, dengan kalimat terakhir yang menurut sejumlah catatan berbunyi permintaan sederhana agar dibiarkan mati dengan tenang. Karena konflik dengan Gereja Katolik yang menolak memberinya pemakaman resmi akibat reputasinya sebagai pengkritik agama, jenazahnya sempat dimakamkan secara diam-diam di sebuah biara di luar Paris sebelum akhirnya, pada 1791, di tengah gelora Revolusi Prancis, dipindahkan secara megah ke Panthéon Paris, sebuah penghormatan nasional yang menegaskan betapa besar pengaruh pemikirannya terhadap generasi yang melancarkan revolusi tersebut, meski ia sendiri telah wafat sebelas tahun sebelum peristiwa itu terjadi.


Pemikiran Voltaire

Toleransi Beragama sebagai Prinsip Utama

Toleransi beragama adalah prinsip yang paling konsisten diperjuangkan Voltaire sepanjang hidupnya, sebuah komitmen yang bersumber bukan dari spekulasi filosofis abstrak semata, melainkan dari pengalaman pribadinya menyaksikan langsung bagaimana fanatisme keagamaan menghancurkan kehidupan orang-orang tak bersalah di Prancis abad kedelapan belas. Rumusan paling sistematis dan paling berpengaruh dari pandangannya tertuang dalam Traité sur la tolérance (1763), yang ditulis sebagai respons langsung terhadap kasus Jean Calas, seorang pedagang Protestan di Toulouse yang dituduh secara keliru membunuh putranya sendiri demi mencegahnya berpindah ke agama Katolik, lalu dieksekusi dengan cara dipatahkan di roda setelah pengadilan yang sarat prasangka agama, tanpa bukti yang memadai. Voltaire memimpin kampanye penulisan yang gigih selama bertahun-tahun untuk membuktikan ketidakbersalahan Calas, dan keberhasilannya memperoleh rehabilitasi anumerta bagi korban pada 1765 menjadi salah satu kemenangan paling nyata yang pernah dicapai seorang penulis melalui kekuatan pena semata melawan mesin peradilan negara.

Argumen inti Voltaire dalam Traité sur la tolérance bertumpu pada premis bahwa penganiayaan agama secara fundamental bertentangan dengan akal sehat dan dengan esensi komunitas manusia itu sendiri. Ia menyusun argumennya secara berlapis: pertama, secara teologis, ia berargumen bahwa jika Tuhan menciptakan manusia dengan akal yang berbeda-beda dan dengan kapasitas yang terbatas untuk memahami kebenaran mutlak, maka memaksakan satu bentuk keyakinan tunggal kepada seluruh umat manusia melalui kekerasan adalah tindakan yang menyombongkan diri seolah manusia memiliki akses pada kepastian ilahi yang sesungguhnya tidak dimiliki siapa pun. Kedua, secara praktis-politis, ia menunjukkan melalui sejumlah contoh historis, termasuk pembantaian Santo Bartolomeus pada 1572 dan berbagai perang agama yang melanda Eropa, bahwa penganiayaan atas nama agama secara konsisten menghasilkan kekacauan sosial, pertumpahan darah, dan kehancuran yang jauh lebih besar dibandingkan manfaat apa pun yang diklaim dihasilkannya bagi kemurnian iman. Ketiga, dan ini menjadi argumen yang paling sering dikutip dari seluruh karyanya, Voltaire menunjukkan bahwa masyarakat dengan keragaman keyakinan yang lebih luas justru cenderung lebih damai dan lebih stabil dibandingkan masyarakat dengan agama tunggal yang dipaksakan, sebab ketika banyak sekte hidup berdampingan, tidak ada satu kelompok pun yang cukup kuat untuk menindas yang lain, sementara ketika hanya ada satu agama resmi yang didukung penuh oleh kekuasaan negara, kelompok itu cenderung menyalahgunakan monopolinya untuk menindas siapa pun yang berbeda.

Penting dicatat bahwa toleransi Voltaire bukanlah toleransi tanpa batas atau relativisme yang menganggap semua keyakinan sama nilainya, sebuah nuansa yang sering hilang dalam penerimaan populer atas pemikirannya. Ia secara eksplisit menegaskan bahwa yang ia perjuangkan adalah toleransi sipil, yaitu hak setiap orang untuk menganut dan mempraktikkan keyakinannya sendiri tanpa penganiayaan dari negara atau dari kelompok agama lain, bukan pembelaan terhadap kebenaran isi keyakinan tersebut maupun seruan untuk meninggalkan agama sama sekali. Dalam rumusannya yang terkenal, ia menulis bahwa seorang penganut agama yang berbeda sekalipun tetaplah “saudaraku” dalam pengertian kemanusiaan bersama, dan bahwa kewajiban paling mendasar manusia terhadap sesamanya adalah menghormati perbedaan keyakinan selama perbedaan itu tidak membahayakan ketertiban masyarakat, sebuah pembedaan antara ranah keyakinan privat dan ranah tindakan publik yang menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan pemikiran liberal tentang kebebasan beragama di kemudian hari.

Sasaran utama kritik Voltaire dalam perjuangannya bagi toleransi bukanlah agama atau keimanan itu sendiri, melainkan apa yang disebutnya “fanatisme” (fanatisme), yaitu keyakinan yang begitu kaku dan begitu yakin akan kebenaran mutlaknya sendiri sehingga membenarkan kekerasan terhadap siapa pun yang berbeda pandangan. Ia secara khusus menyoroti institusi-institusi yang dianggapnya paling bertanggung jawab melanggengkan fanatisme semacam ini di Prancis, terutama Inkuisisi, ordo Yesuit tempat ia sendiri dididik, serta sistem hukum yang memberi otoritas gerejawi kekuasaan luar biasa besar untuk menghukum penyimpangan keagamaan. Dalam berbagai tulisannya, termasuk Dictionnaire philosophique, ia berulang kali membandingkan secara tajam antara ajaran dasar Kekristenan yang menekankan kasih dan pengampunan dengan praktik institusional gereja yang justru sering menghasilkan kebencian dan penganiayaan, sebuah ketegangan yang ia gunakan untuk menunjukkan bahwa persoalan sesungguhnya bukan terletak pada iman itu sendiri, melainkan pada penyalahgunaan kekuasaan institusional yang mengklaim bertindak atas nama iman tersebut.

Baca juga :  Anaximenes

Kampanye Voltaire bagi toleransi juga meluas ke pembelaan terhadap kelompok minoritas lain yang mengalami diskriminasi hukum di Prancis, termasuk kasus Pierre-Paul Sirven, keluarga Protestan lain yang dituduh membunuh putrinya sendiri dengan tuduhan serupa kasus Calas, serta kasus Chevalier de La Barre, seorang pemuda yang dieksekusi secara brutal pada 1766 atas tuduhan penistaan agama yang sebagian besar didasarkan pada bukti yang sangat lemah. Dalam setiap kasus ini, Voltaire menggunakan jaringan korespondensinya yang luas dan reputasinya yang telah mapan sebagai penulis paling terkenal di Eropa untuk menggerakkan opini publik, menekan otoritas hukum, dan menuntut peninjauan ulang atas putusan-putusan yang dianggapnya tidak adil, menjadikan dirinya sebagai salah satu contoh paling awal dan paling berpengaruh dari apa yang kelak disebut intelektual publik yang menggunakan kekuatan pena untuk memperjuangkan keadilan konkret, bukan sekadar berfilsafat dari menara gading akademik.

Warisan pemikiran toleransi Voltaire ini memberi pengaruh yang sangat luas dan bertahan lama bagi perkembangan hukum dan konstitusi modern. Prinsip-prinsip yang ia rumuskan dalam Traité sur la tolérance menjadi salah satu sumber inspirasi penting bagi Pasal 10 Déclaration des droits de l’homme et du citoyen (Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara) yang dirumuskan pada masa Revolusi Prancis tahun 1789, yang menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh diganggu atas keyakinan agamanya selama ekspresinya tidak mengganggu ketertiban umum. Gagasan ini juga memberi pengaruh signifikan terhadap perumusan prinsip pemisahan agama dan negara yang kemudian berkembang di berbagai konstitusi modern, termasuk di Amerika Serikat melalui pengaruh tidak langsungnya terhadap para pendiri bangsa yang akrab dengan tulisan-tulisannya. Meski demikian, sejumlah penafsir kontemporer mencatat keterbatasan tertentu dalam toleransi Voltaire, terutama sikapnya yang kurang konsisten dan bahkan kerap bermuatan prasangka terhadap Yudaisme dalam sejumlah tulisannya, sebuah ketegangan yang menunjukkan bahwa perjuangan toleransi Voltaire, betapapun berpengaruh dan berani pada masanya, tetap membawa jejak keterbatasan dan prasangka pada zamannya sendiri, sebuah kompleksitas yang akan dibahas lebih jauh dalam konteks keterbatasan pemikirannya secara umum.

Kritik terhadap Fanatisme dan Takhayul Keagamaan

Jika toleransi beragama adalah sisi positif dan konstruktif dari perjuangan Voltaire, kritiknya terhadap fanatisme dan takhayul adalah sisi destruktif dan polemis dari proyek yang sama, dua wajah dari satu komitmen tunggal yang ia rumuskan dalam slogan paling terkenal yang diasosiasikan dengan namanya: “Écrasez l’infâme” (Hancurkan yang keji), sebuah seruan yang berulang kali muncul dalam korespondensinya sepanjang periode Ferney, biasanya disingkat “Écr. l’inf.” sebagai semacam tanda tangan rahasia di akhir surat-suratnya kepada sesama kaum philosophe. Penting ditegaskan bahwa “l’infâme” yang dimaksud Voltaire bukanlah agama Kristen secara keseluruhan atau keimanan itu sendiri, melainkan secara spesifik merujuk pada fanatisme, takhayul, dan penyalahgunaan kekuasaan institusional oleh otoritas keagamaan yang menggunakan dalih agama untuk menindas akal sehat, kebebasan berpikir, dan keadilan, sebuah sasaran yang ia pertahankan secara konsisten meski sering disalahpahami para pengkritiknya sebagai serangan terhadap agama secara umum.

Metode utama yang digunakan Voltaire untuk membongkar fanatisme dan takhayul bukanlah argumentasi filosofis sistematis sebagaimana ditempuh para filsuf rasionalis, melainkan satire, ironi, dan sindiran tajam yang disampaikan melalui berbagai genre tulisan populer yang mudah dicerna khalayak luas. Dalam Dictionnaire philosophique portatif (1764), disusun dalam format alfabetis yang meniru ensiklopedia namun dengan nada yang jauh lebih provokatif dan personal dibandingkan Encyclopédie Diderot dan d’Alembert, Voltaire menyisipkan entri-entri pendek yang menyerang berbagai praktik dan kepercayaan keagamaan yang dianggapnya tidak masuk akal, mulai dari kepercayaan pada mukjizat, pemujaan relik suci, hingga doktrin-doktrin teologis yang rumit dan tidak dapat diverifikasi, seperti transubstansiasi dan predestinasi, yang ia nilai lebih mencerminkan spekulasi metafisis yang kosong ketimbang kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Gaya penulisan Voltaire dalam karya-karya semacam ini sangat khas: ia jarang menyerang secara langsung dan frontal, melainkan lebih sering menggunakan teknik ironi yang berpura-pura naif, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tampak polos namun sesungguhnya menelanjangi absurditas suatu kepercayaan atau praktik, sebuah teknik retoris yang terbukti jauh lebih efektif menjangkau pembaca awam dibandingkan risalah filosofis yang berat dan teknis.

Target kritik Voltaire terhadap takhayul tidak terbatas pada agama Kristen semata, meski Gereja Katolik Prancis menjadi sasaran paling sering dan paling tajam mengingat posisi dominannya dalam kehidupan publik Prancis pada masanya. Dalam Essai sur les mœurs et l’esprit des nations (1756), karya sejarah komparatif yang akan dibahas lebih mendalam dalam konteks metodologi historisnya, Voltaire memperluas kritiknya ke berbagai tradisi keagamaan dan kepercayaan takhayul di seluruh dunia, dari paganisme kuno hingga praktik-praktik keagamaan di Asia dan dunia Islam, dengan tujuan menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk jatuh ke dalam fanatisme dan takhayul bersifat universal, bukan cacat yang hanya melekat pada satu tradisi tertentu, sebuah perspektif komparatif yang sekaligus menjadi argumen tidak langsung bagi relativitas klaim kebenaran mutlak yang sering diajukan masing-masing tradisi keagamaan terhadap tradisi lainnya.

Salah satu sasaran paling konsisten dari kritik Voltaire adalah ordo Yesuit, ironisnya institusi yang justru mendidiknya di Collège Louis-le-Grand, serta Inkuisisi, yang ia pandang sebagai perwujudan paling ekstrem dari penyalahgunaan otoritas keagamaan untuk membungkam kebebasan berpikir melalui kekerasan dan ketakutan. Dalam berbagai tulisannya, ia juga secara tajam mengkritik para pendeta yang hidup mewah di tengah kemiskinan jemaatnya, para biarawan yang dinilainya hidup tidak produktif dan menjadi beban bagi masyarakat, serta seluruh sistem hierarki gerejawi yang, menurutnya, lebih peduli pada mempertahankan kekuasaan dan kekayaan institusional ketimbang mengamalkan ajaran kasih yang menjadi inti pesan Yesus Kristus sendiri, sebuah pembedaan yang terus-menerus ia tegaskan antara pesan moral inti agama yang ia hormati dan institusi gerejawi yang ia serang tanpa ampun.

Kritik Voltaire terhadap takhayul juga memiliki dimensi epistemologis yang penting, berkaitan erat dengan komitmennya pada metode empiris yang diwarisinya dari John Locke dan Isaac Newton. Baginya, takhayul pada dasarnya adalah bentuk kepercayaan yang diterima tanpa bukti yang memadai, sering kali diwariskan secara turun-temurun melalui otoritas tradisi atau institusi tanpa pernah benar-benar diuji melalui akal dan pengamatan, sebuah pola pikir yang menurutnya tidak hanya keliru secara epistemologis, melainkan juga berbahaya secara sosial karena membuka jalan bagi manipulasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan mempertahankan kekuasaan mereka atas ketidaktahuan massa. Dalam pengertian ini, perjuangan Voltaire melawan takhayul tidak dapat dipisahkan dari komitmennya yang lebih luas pada penyebaran pengetahuan ilmiah dan pemikiran kritis sebagai sarana pembebasan manusia dari ketergantungan pada otoritas yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, sebuah proyek pencerahan dalam pengertian paling harfiah: menerangi kegelapan ketidaktahuan dengan cahaya akal.

Gempa bumi Lisbon pada 1 November 1755, yang menewaskan puluhan ribu orang dan meluluhlantakkan salah satu kota terkaya Eropa pada hari suci Katolik, menjadi momen krusial yang mempertajam kritik Voltaire terhadap penjelasan-penjelasan keagamaan atas penderitaan manusia. Banyak pengkhotbah pada masa itu, termasuk sejumlah tokoh gerejawi terkemuka, menafsirkan bencana tersebut sebagai hukuman ilahi atas dosa-dosa penduduk Lisbon, sebuah penjelasan yang bagi Voltaire tidak hanya secara intelektual tidak dapat dipertahankan, mengingat banyak korban adalah anak-anak dan orang-orang saleh yang sedang beribadah di gereja saat gempa terjadi, tetapi juga secara moral menjijikkan karena menyalahkan korban atas penderitaan yang mereka alami. Reaksinya tertuang dalam Poème sur le désastre de Lisbonne (1756), sebuah puisi filosofis yang menyerang keras penjelasan providensial atas bencana alam, dan yang menjadi titik tolak langsung bagi serangan lebih luas terhadap filsafat optimisme metafisis yang akan ia kembangkan secara lebih sistematis dan lebih satiris dalam Candide tiga tahun kemudian.

Penting dicatat bahwa meski Voltaire menyerang dengan sangat keras institusi dan praktik keagamaan yang dianggapnya fanatik dan bertakhayul, ia secara konsisten menolak ateisme dan tetap mempertahankan keyakinan pada keberadaan Tuhan sepanjang hidupnya, sebuah posisi yang akan dibahas lebih mendalam dalam konteks deismenya. Ketegangan ini, antara kritik tajam terhadap institusi keagamaan di satu sisi dan keyakinan religius pribadi di sisi lain, sering menimbulkan kesalahpahaman tentang posisi Voltaire yang sesungguhnya, baik di kalangan pembela agama pada masanya yang menudingnya sebagai musuh agama secara keseluruhan, maupun di kalangan pemikir sekuler kemudian yang cenderung menjadikannya ikon ateisme tanpa memperhatikan nuansa posisi aslinya. Warisan kritik Voltaire terhadap fanatisme ini tetap menjadi salah satu rujukan paling sering dikutip dalam perdebatan kontemporer tentang kebebasan berekspresi dan batas antara kritik agama yang sah dengan penistaan, sebuah warisan yang terus hidup dan terus diperdebatkan jauh melampaui konteks Prancis abad kedelapan belas tempat ia pertama kali dirumuskan.

Deisme: Tuhan sebagai Arsitek Alam Semesta

Meski dikenal luas sebagai salah satu pengkritik paling tajam terhadap institusi keagamaan pada zamannya, Voltaire sepanjang hidupnya secara konsisten menolak ateisme dan mempertahankan keyakinan pada keberadaan Tuhan, sebuah posisi yang dikenal sebagai deisme, yaitu keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan menetapkan hukum-hukum yang mengaturnya, namun kemudian tidak lagi campur tangan secara langsung dalam urusan dunia melalui mukjizat, wahyu khusus, atau intervensi supernatural lainnya, berbeda dari teisme ortodoks yang mempertahankan gambaran Tuhan yang personal dan terus-menerus aktif dalam sejarah manusia. Rumusan paling terkenal dari posisi ini tertuang dalam kalimatnya yang sering dikutip, “Jika Tuhan tidak ada, akan perlu menciptakannya” (Si Dieu n’existait pas, il faudrait l’inventer), sebuah pernyataan yang pada pandangan pertama tampak sinis namun sesungguhnya menangkap secara tepat argumen Voltaire yang sesungguhnya: bahwa keberadaan Tuhan bukan semata persoalan metafisis abstrak, melainkan juga memiliki fungsi moral dan sosial yang tak tergantikan bagi tatanan masyarakat manusia.

Argumen filosofis utama yang mendasari deisme Voltaire adalah apa yang dikenal sebagai argumen desain atau argumen teleologis, sebuah bentuk penalaran yang ia warisi dan kembangkan dari tradisi fisika-teologi Inggris, terutama dari Isaac Newton dan para pengikutnya seperti Samuel Clarke, yang begitu dikaguminya selama masa pengasingan di Inggris. Argumen ini, yang dirumuskan Voltaire secara paling jelas dalam berbagai esai filosofisnya dan dalam entri-entri Dictionnaire philosophique, berjalan sebagai berikut: keteraturan yang luar biasa dan kerumitan yang menakjubkan yang ditemukan di seluruh alam semesta, mulai dari pergerakan planet yang mengikuti hukum gravitasi Newton hingga struktur organisme hidup yang begitu kompleks dan tertata, tidak mungkin muncul begitu saja secara kebetulan dari materi yang bergerak tanpa arah, melainkan menuntut keberadaan sebuah Kecerdasan Agung (Intelligence Suprême) yang merancang dan menata keseluruhan sistem tersebut, sebagaimana sebuah jam tangan yang rumit dan presisi niscaya menuntut keberadaan seorang pembuat jam, bukan muncul secara spontan dari kombinasi acak logam dan roda gigi. Voltaire sering menggunakan metafora arsitek atau pembuat jam ini untuk menggambarkan hubungan antara Tuhan dan alam semesta, menegaskan posisi Tuhan sebagai perancang agung yang menetapkan hukum-hukum alam pada momen penciptaan, namun yang setelahnya membiarkan alam semesta berjalan menurut hukum-hukum mekanis yang telah ditetapkan tersebut, tanpa perlu campur tangan lebih lanjut.

Penolakan Voltaire terhadap intervensi ilahi langsung melalui mukjizat dan wahyu khusus berakar pada komitmennya yang teguh pada rasionalitas dan keteraturan hukum alam yang telah ditegakkan sains Newtonian. Baginya, klaim tentang mukjizat, yaitu peristiwa yang melanggar hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan sendiri, secara logis bermasalah: jika Tuhan adalah perancang yang sempurna yang telah menetapkan hukum-hukum alam yang sempurna pula, mengapa Ia perlu melanggar hukum-hukum ciptaan-Nya sendiri melalui mukjizat, sebuah tindakan yang justru menyiratkan ketidaksempurnaan rancangan awal yang perlu diperbaiki melalui intervensi tambahan? Argumen ini menempatkan Voltaire dalam posisi yang khas: ia menolak mukjizat bukan karena menolak keberadaan Tuhan, melainkan justru karena keyakinannya yang begitu kuat pada kesempurnaan rancangan Tuhan sebagai arsitek alam semesta yang rasional, sebuah argumen yang secara elegan membalik logika yang biasa digunakan kaum teis ortodoks untuk mempertahankan keniscayaan mukjizat sebagai bukti kekuasaan ilahi.

Fungsi moral dan sosial dari keyakinan pada Tuhan menjadi dimensi lain yang sangat ditekankan Voltaire, berbeda dari pembelaan deisme murni sebagai sekadar proposisi metafisis yang dingin. Ia berargumen bahwa keyakinan pada Tuhan sebagai pemberi hukum moral dan hakim akhir atas perbuatan manusia memainkan fungsi sosial yang krusial, terutama sebagai pengekang bagi mereka yang mungkin tergoda berbuat jahat ketika yakin tidak ada yang mengawasi atau yang akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatan mereka. Dalam pandangan ini, yang tercermin dalam kalimat terkenalnya tentang perlunya menciptakan Tuhan seandainya Ia tidak ada, Voltaire tidak semata mengajukan argumen tentang kebenaran metafisis keberadaan Tuhan, melainkan juga argumen pragmatis tentang fungsi sosial kepercayaan tersebut bagi menjaga tatanan moral masyarakat, sebuah posisi yang menempatkannya berbeda secara signifikan dari para materialis dan ateis sezamannya seperti Baron d’Holbach dan Denis Diderot, yang berpendapat bahwa moralitas dapat dan harus dibangun sepenuhnya di atas dasar rasional-sekular tanpa memerlukan rujukan pada otoritas ilahi sama sekali.

Perdebatan Voltaire dengan kaum materialis dan ateis dalam lingkaran philosophe Prancis menjadi salah satu episode penting yang menyingkap batas-batas deismenya. Meski ia berbagi banyak kesamaan dengan para kontributor Encyclopédie dalam hal kritik terhadap takhayul dan institusi gerejawi, Voltaire secara tegas menolak materialisme radikal yang diajukan d’Holbach dalam Système de la nature (1770), sebuah karya yang berargumen bahwa alam semesta sepenuhnya dapat dijelaskan melalui materi dan gerak tanpa memerlukan penjelasan teleologis atau keberadaan Tuhan sama sekali. Voltaire menanggapi karya ini dengan kritik yang cukup tajam, mempertahankan bahwa argumen desain tetap menjadi penjelasan yang jauh lebih masuk akal bagi keteraturan alam semesta dibandingkan penjelasan materialis murni yang mengandalkan kebetulan acak, sebuah perdebatan yang menunjukkan bahwa gerakan Pencerahan Prancis, jauh dari monolitik dan seragam, sesungguhnya memuat spektrum posisi filosofis yang luas tentang agama, mulai dari deisme moderat Voltaire hingga ateisme materialis yang lebih radikal dari d’Holbach dan sebagian Diderot.

Konsistensi antara kritik tajam Voltaire terhadap institusi keagamaan dengan keyakinan deistiknya pada keberadaan Tuhan ini sering menjadi sumber kesalahpahaman, baik pada masanya maupun dalam penerimaan kontemporer atas pemikirannya. Bagi Voltaire sendiri, tidak ada kontradiksi mendasar antara kedua posisi tersebut: ia dapat secara konsisten menyerang penyalahgunaan kekuasaan oleh gereja, menolak klaim-klaim teologis yang rumit dan tidak dapat diverifikasi seperti Trinitas atau transubstansiasi, serta mengkritik fanatisme dan takhayul yang menyertai agama terorganisasi, sambil tetap mempertahankan keyakinan pada agama alamiah (religion naturelle) yang sederhana dan rasional, yaitu keyakinan pada satu Tuhan pencipta yang dapat diketahui melalui akal dan pengamatan atas keteraturan alam semesta, tanpa memerlukan kitab suci yang diwahyukan secara khusus, hierarki gerejawi, atau ritual-ritual rumit yang menurutnya hanya menjadi sumber perpecahan dan penindasan. Dalam pengertian inilah, deisme Voltaire dapat dipahami sebagai upaya menyaring apa yang dianggapnya sebagai inti rasional dan universal dari agama, yaitu keyakinan pada Tuhan sebagai sumber hukum moral dan perancang alam semesta yang tertata, dari seluruh akresi historis institusi, dogma, dan ritual yang menurutnya justru mengkhianati inti rasional tersebut, sebuah proyek penyaringan yang menjadi ciri khas banyak pemikir Pencerahan pada masanya, meski masing-masing menempuh jalur dan mencapai kesimpulan yang berbeda-beda tentang seberapa jauh penyaringan tersebut seharusnya dilakukan.

Baca juga :  Sosialisme

Candide dan Serangan terhadap Optimisme Metafisis Leibniz

Candide, ou l’Optimisme, diterbitkan pada Januari 1759 secara serentak di beberapa kota Eropa untuk menghindari penyensoran, adalah karya paling terkenal dan paling banyak dibaca dari seluruh korpus tulisan Voltaire, sebuah cerita filosofis satiris pendek yang mengisahkan petualangan seorang pemuda naif bernama Candide yang diusir dari kastil megah tempat ia dibesarkan di Westphalia setelah ketahuan berciuman dengan putri bangsawan setempat, Cunégonde. Sepanjang novel pendek ini, Candide mengembara melintasi berbagai belahan dunia, dari Eropa hingga Amerika Selatan, mengalami rentetan bencana yang nyaris tak masuk akal jumlahnya: perang, pemerkosaan, perbudakan, gempa bumi, eksekusi oleh Inkuisisi, penyakit kelamin, pengkhianatan, dan kehilangan harta benda berulang kali, sebuah akumulasi penderitaan yang disusun Voltaire secara sengaja berlebihan hingga mencapai efek komik yang gelap, menjadikan Candide sekaligus salah satu karya paling lucu dan paling muram dalam sejarah sastra Prancis.

Sasaran utama satire dalam novel ini adalah filsafat optimisme metafisis yang dirumuskan Gottfried Wilhelm Leibniz dalam Essais de Théodicée (1710), khususnya doktrinnya yang terkenal bahwa dunia yang diciptakan Tuhan, meski mengandung kejahatan dan penderitaan, pada hakikatnya adalah “yang terbaik dari segala dunia yang mungkin” (le meilleur des mondes possibles), sebab Tuhan yang mahasempurna, mahakuasa, dan mahabaik niscaya telah memilih, dari antara tak terhingga kemungkinan dunia yang dapat diciptakan-Nya, konfigurasi yang menghasilkan keseimbangan optimal antara kebaikan dan kejahatan, sehingga segala penderitaan yang tampak sia-sia pada kenyataannya memiliki tempat dan fungsi yang diperlukan dalam keseluruhan skema kosmis yang sempurna. Doktrin ini, yang juga dipopulerkan dalam bentuk puitis oleh Alexander Pope dalam An Essay on Man (1734) melalui baris terkenalnya “whatever is, is right” (apa pun yang ada, adalah benar), mendapat perwujudan satiris dalam sosok Pangloss, guru filsafat Candide yang digambarkan Voltaire dengan humor tajam sebagai figur yang terus-menerus mengulang mantra bahwa “segala sesuatu terjadi untuk yang terbaik di dunia yang terbaik ini” (tout est pour le mieux dans le meilleur des mondes possibles), bahkan ketika ia sendiri mengalami penyakit kelamin yang mengerikan, digantung oleh Inkuisisi, dan menyaksikan rentetan kemalangan yang nyaris tak terbatas jumlahnya.

Katalis langsung yang mendorong Voltaire menulis serangan sedemikian tajam terhadap optimisme metafisis adalah gempa bumi dahsyat yang melanda Lisbon pada 1 November 1755, bencana yang menewaskan puluhan ribu orang dan yang telah memicu Poème sur le désastre de Lisbonne beberapa tahun sebelumnya. Dalam Candide, bencana Lisbon ini dimasukkan secara langsung ke dalam narasi, dengan Candide dan Pangloss mengalami gempa tersebut tepat setelah tiba di kota itu, dan reaksi Pangloss terhadap bencana ini, yang tetap bersikukuh mencari penjelasan filosofis yang membenarkan penderitaan tersebut sebagai bagian dari keseimbangan kosmis yang sempurna, menjadi salah satu momen paling tajam dalam novel ini untuk menelanjangi, menurut Voltaire, kekosongan moral dari filsafat yang terlalu sibuk mempertahankan konsistensi sistem abstraknya sendiri hingga kehilangan kepekaan terhadap penderitaan nyata manusia yang ada di hadapannya.

Struktur naratif Candide secara keseluruhan dapat dibaca sebagai eksperimen pemikiran yang sistematis: Voltaire menyusun rangkaian bencana yang begitu ekstrem dan begitu berlebihan jumlahnya, melampaui apa yang secara realistis mungkin dialami satu individu dalam kehidupan nyata, justru untuk menguji hingga batas mana doktrin optimisme Leibnizian dapat dipertahankan secara koheren. Dengan setiap bencana baru yang menimpa Candide dan rekan-rekannya, pembaca diundang untuk mempertanyakan bersama tokoh utama novel ini, apakah benar dunia yang menghasilkan penderitaan sedemikian masif dan tampaknya sia-sia dapat secara masuk akal disebut sebagai “yang terbaik dari segala dunia yang mungkin”, sebuah pertanyaan yang Voltaire jawab secara implisit melalui keseluruhan struktur ironis novelnya: jika ini memang dunia terbaik yang mungkin diciptakan, maka klaim tersebut sendiri menjadi absurd mengingat betapa buruknya kenyataan yang digambarkan.

Penting dicatat bahwa Candide bukan sekadar serangan terhadap satu filsuf tertentu, melainkan kritik yang lebih luas terhadap kecenderungan intelektual untuk membangun sistem filosofis abstrak yang, betapapun koheren secara logis internal, kehilangan kontak dengan realitas penderitaan konkret manusia. Dalam pengertian ini, sasaran Voltaire juga mencakup bentuk-bentuk rasionalisme sistematis lain yang terlalu percaya diri pada kemampuan akal murni untuk menjelaskan dan membenarkan seluruh tatanan kosmis, termasuk kecenderungan serupa yang ia temukan dalam sejumlah aliran filsafat Stoa kuno maupun dalam teologi skolastik yang terlalu rumit dan terlalu jauh dari pengalaman hidup sehari-hari. Voltaire tidak menawarkan sistem filosofis tandingan yang sama ambisiusnya sebagai pengganti optimisme Leibnizian, sebuah pilihan yang disengaja dan yang justru menjadi salah satu kekuatan utama novel ini: alih-alih merumuskan doktrin metafisis baru, ia lebih memilih menyerang secara satiris seluruh proyek metafisika sistematis itu sendiri sebagai usaha yang pada dasarnya sia-sia dan bahkan berbahaya ketika digunakan untuk menjustifikasi penderitaan nyata.

Resolusi novel ini terletak pada kalimat penutup yang menjadi salah satu baris paling terkenal dan paling banyak diperdebatkan dalam seluruh sastra Prancis: setelah seluruh petualangan dan kemalangan yang mereka alami, Candide dan rombongannya akhirnya menetap di sebuah lahan pertanian kecil, dan ketika Pangloss kembali mencoba merangkai seluruh pengalaman mereka ke dalam skema filosofis yang membenarkan segala sesuatu sebagai bagian dari rantai kebaikan kosmis, Candide menjawab dengan kalimat sederhana namun sangat bermakna, “Itu benar sekali, tetapi kita harus mengolah kebun kita” (Cela est bien dit, mais il faut cultiver notre jardin). Para penafsir telah menawarkan berbagai pembacaan atas kalimat penutup yang sengaja dibiarkan terbuka ini: sebagian membacanya sebagai anjuran Voltaire bagi penarikan diri dari spekulasi metafisis besar menuju kerja praktis dan konkret yang dapat dikendalikan manusia, sebuah etika kerja yang rendah hati namun produktif sebagai jawaban atas kesia-siaan mencari makna kosmis yang menyeluruh; sebagian lain membacanya sebagai cerminan tidak langsung atas kehidupan Voltaire sendiri di Ferney, tempat ia, setelah bertahun-tahun bergulat dengan filsafat dan politik besar di berbagai istana Eropa, akhirnya menemukan kepuasan dalam membangun dan mengelola komunitas kecil yang konkret dan dapat diperbaikinya secara langsung; sementara penafsir lain menyoroti ambiguitas yang sengaja dipertahankan Voltaire, bahwa “kebun” tersebut dapat dibaca secara literal sebagai pertanian maupun secara metaforis sebagai ranah tanggung jawab pribadi dan komunitas kecil yang dapat benar-benar diperbaiki manusia, berbeda dari ambisi sia-sia untuk memahami atau membenarkan keseluruhan tatanan kosmis yang jauh melampaui kapasitas pemahaman manusia.

Dampak dan warisan Candide bagi sejarah pemikiran dan sastra sangat luas, menjadikannya salah satu karya sastra Pencerahan yang paling abadi dan paling terus dibaca hingga kini, diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa dunia dan terus dicetak ulang tanpa henti sejak pertama kali terbit. Karya ini juga memberi kontribusi penting bagi perkembangan genre conte philosophique (cerita filosofis) sebagai bentuk sastra yang memungkinkan penyampaian gagasan filosofis yang kompleks kepada khalayak luas melalui narasi yang menghibur dan mudah diakses, sebuah inovasi genre yang memperluas jangkauan diskursus Pencerahan jauh melampaui kalangan terpelajar yang mampu membaca risalah filosofis teknis. Istilah “panglossian” sendiri, diambil langsung dari nama tokoh Pangloss dalam novel ini, kini menjadi istilah umum dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa lain untuk menggambarkan optimisme yang naif dan tidak kritis terhadap realitas, sebuah bukti konkret betapa dalam dan betapa luasnya jejak yang ditinggalkan satu karya satiris pendek ini terhadap wacana filosofis dan budaya populer jauh melampaui konteks perdebatan teologis abad kedelapan belas yang pertama kali melahirkannya.

Empirisisme Newtonian-Lockean dan Penyebaran Sains ke Prancis

Sumbangan Voltaire sebagai penyebar utama pemikiran Isaac Newton dan John Locke ke daratan Eropa, khususnya ke Prancis yang pada masanya masih sangat didominasi fisika Cartesian dan filsafat rasionalis kontinental, adalah salah satu peran intelektualnya yang paling bersejarah namun sering kurang mendapat perhatian dibandingkan ketenarannya sebagai penulis satire dan polemik keagamaan. Perkenalan langsung Voltaire dengan pemikiran kedua tokoh Inggris ini terjadi selama masa pengasingannya di Inggris pada akhir 1720-an, sebuah pengalaman yang memberinya dampak intelektual yang jauh melampaui sekadar kekaguman terhadap kebebasan politik Inggris yang telah membentuk pandangannya tentang toleransi dan despotisme. Di Inggris, Voltaire menyaksikan langsung bagaimana karya Newton dihormati sebagai pencapaian intelektual tertinggi bangsa tersebut, bahkan sempat menghadiri pemakaman kenegaraan Newton di Westminster Abbey pada 1727, sebuah penghormatan publik terhadap seorang ilmuwan yang pada masa itu nyaris tak terbayangkan terjadi di Prancis, tempat fisika Cartesian yang jauh lebih spekulatif dan kurang berbasis bukti empiris masih mendominasi kurikulum resmi dan opini ilmiah arus utama.

Fisika Cartesian yang masih dominan di Prancis ketika Voltaire kembali dari Inggris bertumpu pada teori pusaran (tourbillons) René Descartes, yang menjelaskan gerakan planet-planet mengelilingi matahari melalui gambaran materi halus yang berputar membentuk pusaran raksasa di ruang angkasa, menyeret benda-benda langit dalam gerakannya, sebuah model yang bersifat spekulatif-mekanis namun tidak didukung bukti matematis dan eksperimental yang ketat. Sebaliknya, sistem Newton yang dirumuskan dalam Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1687) menjelaskan gerakan planet melalui hukum gravitasi universal yang dirumuskan secara matematis presisi dan yang dapat diverifikasi melalui pengamatan astronomis yang akurat, sebuah pencapaian yang bagi Voltaire menunjukkan superioritas metode ilmiah Inggris yang mengutamakan observasi dan eksperimen dibandingkan spekulasi rasionalis murni yang masih mendominasi tradisi Prancis. Dalam Lettres philosophiques, Voltaire untuk pertama kalinya memperkenalkan sistem Newton kepada khalayak Prancis yang lebih luas melalui bahasa yang jauh lebih mudah dipahami dibandingkan risalah teknis Newton sendiri, sebuah langkah awal yang kemudian ia kembangkan secara jauh lebih sistematis dan lebih mendalam dalam Éléments de la philosophie de Newton (1738), karya yang ditulis dengan bantuan signifikan dari Émilie du Châtelet selama masa tinggal mereka bersama di Cirey.

Kolaborasi dengan Émilie du Châtelet dalam proyek penyebaran Newtonianisme ini layak mendapat penekanan khusus, sebab kontribusi intelektualnya terhadap keberhasilan proyek tersebut jauh melampaui sekadar peran pendamping atau inspirasi semata. Du Châtelet, yang menguasai matematika tingkat lanjut jauh melampaui kemampuan Voltaire sendiri, bertanggung jawab atas verifikasi teknis dan penjelasan matematis yang rumit dalam Éléments de la philosophie de Newton, dan ia kemudian melangkah lebih jauh dengan menerjemahkan langsung Principia Mathematica Newton ke dalam bahasa Prancis beserta komentar matematis yang substansial, sebuah terjemahan yang hingga kini tetap menjadi versi standar berbahasa Prancis dari karya monumental tersebut. Kemitraan intelektual inilah yang memungkinkan penyebaran fisika Newtonian ke Prancis berlangsung dengan kedalaman teknis yang memadai, bukan sekadar popularisasi dangkal yang mengabaikan presisi matematis yang menjadi kekuatan sesungguhnya dari sistem Newton.

Selain Newton, Voltaire juga menjadi salah satu penyebar paling berpengaruh epistemologi empiris John Locke ke Prancis, khususnya gagasan yang dirumuskan Locke dalam An Essay Concerning Human Understanding (1690) bahwa pikiran manusia pada saat lahir adalah tabula rasa, lembaran kosong yang belum memiliki gagasan atau pengetahuan bawaan apa pun, dan bahwa seluruh pengetahuan manusia pada akhirnya berasal dari pengalaman inderawi dan refleksi atas pengalaman tersebut, bukan dari gagasan bawaan (innate ideas) yang telah tertanam dalam akal sejak lahir sebagaimana diklaim tradisi rasionalis Cartesian. Voltaire menyambut gagasan empirisis Locke ini dengan antusiasme besar karena ia melihatnya sebagai fondasi epistemologis yang jauh lebih kokoh dan jauh lebih dapat diverifikasi dibandingkan metafisika rasionalis yang membangun sistem-sistem besar dari prinsip-prinsip apriori yang tidak dapat diuji secara empiris, sebuah preferensi metodologis yang secara konsisten tampak dalam seluruh pendekatan Voltaire terhadap persoalan filosofis: kecenderungannya yang kuat untuk mencurigai sistem-sistem metafisis yang terlalu ambisius dan terlalu jauh dari bukti yang dapat diverifikasi, sebuah kecurigaan yang sama yang mendasari serangannya terhadap optimisme metafisis Leibniz dalam Candide.

Dalam Lettres philosophiques, Voltaire secara khusus memuji pendekatan Locke yang, menurutnya, menunjukkan kerendahan hati epistemologis yang pantas dicontoh: alih-alih berspekulasi tentang hakikat metafisis terdalam dari jiwa atau pikiran manusia, sebagaimana dilakukan para filsuf rasionalis, Locke secara hati-hati membatasi penyelidikannya pada apa yang dapat diamati dan diverifikasi melalui pengalaman, termasuk pengakuan jujur Locke bahwa manusia tidak dapat mengetahui secara pasti apakah materi dapat berpikir atau tidak, sebuah kerendahan hati intelektual yang bagi Voltaire jauh lebih terhormat dibandingkan klaim-klaim pasti para metafisikus yang mengklaim mengetahui hakikat jiwa secara mendetail tanpa dasar bukti yang memadai. Sikap metodologis inilah, kecurigaan terhadap klaim-klaim metafisis yang melampaui apa yang dapat diverifikasi melalui pengalaman dan akal yang disiplin, yang menjadi benang merah konsisten yang menghubungkan kekagumannya pada Newton dan Locke dengan hampir seluruh proyek intelektualnya yang lain, termasuk kritiknya terhadap takhayul keagamaan dan optimisme metafisis Leibnizian.

Dampak penyebaran Newtonianisme dan empirisisme Lockean oleh Voltaire terhadap kehidupan intelektual Prancis sangat signifikan dan jangka panjang. Sebelum intervensinya, sebagaimana dicatat banyak sejarawan sains, fisika Cartesian masih menjadi ortodoksi resmi yang diajarkan di universitas-universitas Prancis bahkan beberapa dekade setelah sistem Newton telah diterima luas di Inggris, dan pertentangan antara kedua sistem fisika ini sempat menjadi perdebatan ilmiah yang sengit dan berkepanjangan di kalangan akademisi Prancis. Melalui gaya penulisan yang jernih, mudah diakses, dan penuh semangat polemik yang khas, Voltaire berhasil mempercepat secara signifikan penerimaan fisika Newtonian di Prancis, sebuah pencapaian yang turut membuka jalan bagi generasi ilmuwan Prancis berikutnya, termasuk Pierre-Simon Laplace dan Alexis Clairaut, untuk mengembangkan lebih jauh mekanika Newtonian dengan kecanggihan matematis yang bahkan melampaui pencapaian Newton sendiri. Lebih luas lagi, komitmen metodologis Voltaire pada empirisisme dan kecurigaannya terhadap spekulasi metafisis yang tidak dapat diverifikasi memberi sumbangan penting bagi pembentukan etos intelektual Encyclopédie yang disusun Diderot dan d’Alembert, sebuah proyek ensiklopedis besar yang, meski Voltaire sendiri hanya menjadi salah satu kontributor di antara banyak penulis lain, mencerminkan semangat yang sama tentang pentingnya pengetahuan yang berakar pada observasi dan akal yang disiplin, bukan pada otoritas tradisi atau spekulasi metafisis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, menjadikan warisan Voltaire sebagai penyebar sains bukan sekadar catatan sejarah ilmu pengetahuan yang terpisah, melainkan bagian integral dari keseluruhan proyek Pencerahan yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya.

Baca juga :  Theodor W. Adorno

Kritik terhadap Despotisme dan Pembelaan Keadilan Hukum

Kritik Voltaire terhadap despotisme dan perjuangannya bagi reformasi sistem hukum Prancis bersumber langsung dari pengalaman pribadinya yang berulang kali menjadi korban kesewenang-wenangan kekuasaan negara, mulai dari penahanannya di Bastille tanpa pengadilan pada 1717 berdasarkan lettre de cachet, surat perintah kerajaan yang memungkinkan penahanan siapa pun tanpa proses hukum yang layak, hingga pengasingan berulang kali dari Paris akibat tulisan-tulisannya. Pengalaman langsung inilah yang membuat kritik Voltaire terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan terasa jauh lebih konkret dan jauh lebih bermuatan personal dibandingkan sekadar risalah abstrak tentang teori politik, sebuah ciri yang membedakan kontribusinya dari filsuf politik sistematis seperti Montesquieu atau Jean-Jacques Rousseau, yang menyusun teori kenegaraan secara lebih terstruktur namun dengan jejak pengalaman personal yang jauh lebih tersamar.

Sasaran utama kritik hukum Voltaire adalah sistem peradilan Prancis yang masih mewarisi banyak praktik dari tradisi abad pertengahan, termasuk penggunaan penyiksaan sebagai alat memperoleh pengakuan (question préalable dan question préparatoire), hukuman yang tidak proporsional dengan kejahatan yang dilakukan, prosedur peradilan yang tertutup dan tidak transparan, serta yang paling ditekankannya, kerentanan sistem tersebut terhadap prasangka agama dan sosial yang menentukan nasib terdakwa jauh sebelum bukti-bukti diperiksa secara objektif, sebagaimana tampak secara tragis dalam kasus Jean Calas yang telah menjadi titik tolak pembelaannya atas toleransi beragama. Namun keterlibatan Voltaire dalam kasus Calas dan kasus-kasus serupa bukan semata perjuangan untuk toleransi agama, melainkan juga perjuangan yang lebih luas bagi reformasi prosedur hukum itu sendiri: ia menuntut agar pengadilan didasarkan pada bukti yang dapat diverifikasi secara rasional, bukan pada prasangka atau pengakuan yang diperoleh melalui penyiksaan, dan agar hukuman dijatuhkan secara proporsional dengan kejahatan yang benar-benar terbukti dilakukan, bukan berdasarkan kecurigaan atau kebencian kelompok terhadap identitas agama atau sosial terdakwa.

Pengaruh penting bagi perkembangan pemikiran hukum Voltaire datang dari karya Cesare Beccaria, yurist Italia yang menerbitkan Dei delitti e delle pene (Tentang Kejahatan dan Hukuman) pada 1764, sebuah risalah yang menjadi salah satu fondasi bagi reformasi hukum pidana modern dengan argumennya yang sistematis menentang hukuman mati dan penyiksaan, serta menyerukan agar hukuman disesuaikan secara proporsional dengan tujuan pencegahan kejahatan, bukan sebagai pembalasan semata. Voltaire menulis komentar yang sangat memuji atas karya Beccaria ini, menyebarluaskan gagasannya ke khalayak Prancis yang lebih luas, dan menjadikan prinsip-prinsip Beccarian sebagai salah satu landasan argumentasinya sendiri dalam berbagai kasus hukum yang ia tangani, termasuk dalam pembelaannya atas keluarga Sirven yang mengalami tuduhan serupa dengan kasus Calas, serta kasus Chevalier de La Barre, pemuda yang dieksekusi secara brutal pada 1766 atas tuduhan penistaan agama berdasarkan bukti yang sangat lemah, sebuah kasus yang mendorong Voltaire menulis Relation de la mort du chevalier de La Barre untuk menggugah kesadaran publik tentang betapa rapuhnya perlindungan hukum bagi individu yang dianggap menyimpang dari ortodoksi keagamaan maupun sosial yang berlaku.

Meski secara konsisten mengkritik kesewenang-wenangan kekuasaan raja ketika kekuasaan tersebut digunakan secara tidak adil, posisi politik Voltaire terhadap monarki sendiri jauh lebih kompleks dan jauh lebih ambigu dibandingkan yang sering diasumsikan para pembaca modern yang cenderung mengasosiasikan seluruh gerakan Pencerahan dengan cita-cita republikanisme atau demokrasi. Voltaire tidak pernah menjadi penganut republikanisme atau demokrasi dalam pengertian modern; sebaliknya, ia secara eksplisit lebih menyukai model yang dikenal sebagai despotisme tercerahkan (despotisme éclairé), yaitu keyakinan bahwa reformasi sosial dan hukum yang mendesak paling efektif dicapai bukan melalui perjuangan rakyat dari bawah, melainkan melalui seorang penguasa absolut yang bijaksana dan tercerahkan, yang menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menerapkan reformasi rasional secara cepat dan efisien, tanpa terhambat oleh birokrasi lamban, hak-hak istimewa kaum bangsawan dan gereja yang korup, atau prasangka massa yang menurutnya sering kali justru menjadi penghalang bagi kemajuan rasional. Keyakinan ini tercermin jelas dalam kekagumannya yang tulus, meski sering diwarnai kekecewaan personal, terhadap Frederick Agung dari Prusia, yang ia puji dalam berbagai tulisan sebagai contoh raja-filsuf yang menerapkan reformasi hukum, toleransi beragama terbatas, dan dukungan bagi ilmu pengetahuan melalui kekuasaan absolutnya, serta dalam korespondensinya yang panjang dengan Catherine Agung dari Rusia, yang ia puji secara serupa sebagai penguasa tercerahkan meski kebijakannya terhadap para petani Rusia jauh dari mencerminkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang dibela Voltaire dalam konteks lain.

Posisi Voltaire tentang reformasi hukum ini berkaitan erat dengan pandangannya yang lebih luas tentang hubungan antara akal dan kekuasaan: ia meyakini bahwa kemajuan sosial paling efektif dicapai melalui penyebaran gagasan rasional kepada kalangan elite yang berkuasa, yang kemudian dapat menggunakan kekuasaan mereka untuk menerapkan reformasi tersebut secara menyeluruh dan cepat, sebuah model perubahan sosial dari atas ke bawah yang berbeda secara mendasar dari visi Rousseau tentang kedaulatan rakyat atau kontrak sosial yang berakar pada kehendak umum warga negara. Voltaire secara eksplisit skeptis terhadap kapasitas rakyat jelata untuk memerintah diri mereka sendiri secara rasional, sebuah skeptisisme yang berakar sebagian pada pengamatannya terhadap kekacauan dan kekerasan yang sering menyertai pergolakan politik populer sepanjang sejarah, serta pada keyakinannya yang bersifat elitis bahwa pendidikan dan akal budi yang memadai untuk memerintah secara bijaksana hanya dimiliki kalangan terdidik, sebuah pandangan yang menjadikannya figur yang jauh lebih konservatif secara politik dibandingkan citra populer yang sering melekat padanya sebagai pelopor pemikiran revolusioner.

Ketegangan antara kritik tajam Voltaire terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan di satu sisi, dengan preferensinya pada despotisme tercerahkan dan keengganannya mendukung reformasi politik yang lebih radikal dan partisipatif di sisi lain, menjadi salah satu aspek paling diperdebatkan dalam penilaian kontemporer atas warisan politiknya. Sejumlah sejarawan menekankan bahwa kontribusi Voltaire yang paling bertahan lama justru terletak bukan pada teori politik sistematisnya, yang relatif kurang berkembang dan kurang koheren dibandingkan pemikir seperti Montesquieu atau Rousseau, melainkan pada advokasi konkretnya bagi prinsip-prinsip keadilan prosedural: hak atas pengadilan yang adil, larangan penyiksaan, proporsionalitas hukuman, dan perlindungan individu dari kesewenang-wenangan negara, prinsip-prinsip yang, terlepas dari ambivalensinya terhadap struktur politik yang lebih luas, memberi sumbangan nyata dan langsung bagi perkembangan hukum pidana modern serta bagi gagasan tentang hak asasi manusia yang kelak dirumuskan secara lebih sistematis dalam dokumen-dokumen revolusioner, meski Voltaire sendiri, seandainya hidup lebih lama, kemungkinan besar akan memandang dengan kecemasan, bukan dukungan penuh, radikalisme politik yang menyertai Revolusi Prancis yang meletus sebelas tahun setelah kematiannya.

Sejarah sebagai “Histoire Philosophique”: Melampaui Kronik Raja dan Perang

Sumbangan Voltaire bagi historiografi modern adalah salah satu warisannya yang paling berpengaruh namun paling jarang dihargai sepenuhnya dalam penerimaan populer atas namanya, sebuah peran yang membuatnya diakui luas oleh para sejarawan sebagai salah satu perintis penting historiografi modern, sejajar dengan tokoh seperti Edward Gibbon di Inggris. Kontribusi ini tertuang paling jelas dalam dua karya sejarah besarnya, Le Siècle de Louis XIV (1751) dan Essai sur les mœurs et l’esprit des nations (1756), serta dalam istilah yang ia populerkan dan yang kelak menjadi label bagi keseluruhan pendekatannya: “histoire philosophique”, sejarah yang difilsafatkan, atau sejarah yang ditulis dengan tujuan filosofis yang eksplisit, berbeda secara mendasar dari tradisi historiografi yang mendominasi sebelumnya.

Sasaran utama kritik Voltaire terhadap historiografi konvensional pada masanya adalah kecenderungannya untuk mereduksi sejarah semata menjadi kronik raja, perang, dan intrik istana, sebuah tradisi yang ia telusuri hingga ke para sejarawan klasik seperti Livy dan yang masih mendominasi penulisan sejarah Eropa pada abad ketujuh belas dan awal abad kedelapan belas. Bagi Voltaire, pendekatan semacam ini secara fundamental keliru karena memperlakukan sejarah manusia seolah-olah hanya terdiri atas tindakan segelintir penguasa dan jenderal, mengabaikan hampir seluruh dimensi kehidupan manusia yang sesungguhnya membentuk peradaban: perkembangan seni, sastra, dan ilmu pengetahuan, perubahan dalam perdagangan dan ekonomi, evolusi adat istiadat dan institusi sosial, serta kondisi kehidupan mayoritas penduduk yang bukan bangsawan atau raja. Dalam pengantar Essai sur les mœurs, Voltaire menyatakan secara eksplisit bahwa tujuannya bukan menulis “sejarah satu bangsa tertentu saja, melainkan sejarah semangat manusia” (l’esprit humain), sebuah ambisi yang jauh lebih luas dan lebih ambisius dibandingkan kronik dinasti konvensional, menjadikan karya ini salah satu upaya paling awal dan paling sistematis untuk menulis sejarah peradaban dunia secara komparatif, mencakup bukan hanya Eropa melainkan juga Tiongkok, India, dunia Islam, dan peradaban-peradaban lain yang pada masanya jarang mendapat perhatian serius dari sejarawan Eropa.

Le Siècle de Louis XIV, yang ditulis lebih dahulu dan berfokus pada masa pemerintahan Louis XIV, menunjukkan secara konkret bagaimana Voltaire menerapkan visi historiografisnya yang baru ini. Alih-alih menyusun narasi kronologis tentang perang dan kebijakan politik raja semata, sebagaimana lazim dalam historiografi istana konvensional, Voltaire menyusun buku ini dengan struktur tematik yang mencurahkan bab-bab tersendiri bagi perkembangan seni, sastra, ilmu pengetahuan, agama, dan ekonomi pada masa tersebut, memperlakukan pencapaian kultural Racine, Molière, dan Boileau sebagai bagian yang sama pentingnya dari sejarah periode tersebut dibandingkan kampanye militer Louis XIV, sebuah keseimbangan penekanan yang pada masanya merupakan inovasi radikal dalam penulisan sejarah. Voltaire secara eksplisit menilai bahwa pencapaian kultural dan intelektual suatu zaman jauh lebih layak diingat dan dipelajari generasi mendatang dibandingkan detail pertempuran dan intrik politik yang, betapapun dramatis pada masanya, jarang memberi pelajaran abadi bagi kemajuan peradaban manusia.

Metodologi sejarah Voltaire juga menampilkan sikap kritis yang tajam terhadap sumber-sumber yang tidak dapat diverifikasi, khususnya narasi-narasi mukjizat dan legenda keagamaan yang sering dianggap sebagai fakta historis oleh para penulis sejarah sebelumnya tanpa pernah dipertanyakan secara kritis. Sikap skeptis ini secara langsung mewarisi komitmennya pada empirisisme Newtonian-Lockean: sebagaimana ia menuntut bukti yang dapat diverifikasi dalam ranah fisika dan epistemologi, Voltaire menuntut standar bukti yang sama ketatnya bagi klaim-klaim historis, menolak menerima begitu saja narasi-narasi yang bersumber dari otoritas tradisi keagamaan atau dari para penulis sejarah lama yang dianggapnya kurang kritis dalam menyaring fakta dari mitos dan propaganda. Pendekatan skeptis-kritis ini, dipadukan dengan jangkauan komparatifnya yang mencakup berbagai peradaban dunia, kelak memberi pengaruh penting bagi perkembangan metode kritis-sumber dalam historiografi profesional abad kesembilan belas, meski Voltaire sendiri, sebagaimana diakui para sejarawan kemudian, tidak selalu konsisten menerapkan standar skeptisisme yang sama ketika menghadapi sumber-sumber yang mendukung argumen filosofis atau polemiknya sendiri.

Dimensi lain yang sangat penting dari “histoire philosophique” Voltaire adalah penggunaannya yang eksplisit dan disengaja atas narasi sejarah sebagai kendaraan bagi argumen filosofis dan polemik kontemporer, sebuah ciri yang membedakannya dari ideal historiografi “objektif” yang berkembang kemudian pada abad kesembilan belas. Ketika Voltaire menulis tentang despotisme Romawi, fanatisme perang salib, atau kekejaman Inkuisisi abad pertengahan, ia tidak semata mencatat peristiwa masa lalu secara netral, melainkan secara sengaja menyusun narasi tersebut untuk menyampaikan pelajaran moral dan politik yang relevan bagi pembaca Prancis abad kedelapan belas, menjadikan karya-karya sejarahnya sebagai perpanjangan tangan dari proyek polemiknya yang lebih luas melawan fanatisme, takhayul, dan despotisme yang tidak tercerahkan. Pendekatan instrumentalis terhadap sejarah ini, meski dapat dikritik karena mengorbankan objektivitas murni demi tujuan didaktik-polemik, juga menjadi salah satu kekuatan Voltaire sebagai penulis sejarah: karya-karyanya terbaca jauh lebih hidup dan lebih bertenaga dibandingkan kronik-kronik kering yang mendominasi tradisi sebelumnya, menjadikan sejarah sebagai medan pertempuran gagasan yang relevan bagi perdebatan kontemporer, bukan sekadar arsip fakta masa lalu yang terpisah dari kepentingan masa kini.

Warisan historiografis Voltaire ini memberi pengaruh yang luas dan bertahan lama bagi perkembangan penulisan sejarah sesudahnya. Konsep “histoire philosophique” yang ia rintis menjadi model penting bagi generasi sejarawan Pencerahan berikutnya, termasuk Edward Gibbon, yang karya monumentalnya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire (1776-1788) secara eksplisit mewarisi pendekatan kritis-analitis dan perhatian terhadap faktor-faktor kultural serta keagamaan dalam menjelaskan perubahan historis yang telah dirintis Voltaire. Jangkauan komparatif global dalam Essai sur les mœurs, yang menempatkan peradaban Eropa dalam konteks perbandingan dengan peradaban Asia dan dunia Islam, juga menjadi salah satu upaya paling awal menuju apa yang kelak berkembang menjadi sejarah dunia atau sejarah global sebagai genre tersendiri, meski perbandingan Voltaire ini tidak lepas dari bias dan keterbatasan pandangannya sendiri tentang superioritas peradaban Eropa pada titik-titik tertentu. Terlepas dari keterbatasan metodologis yang wajar mengingat keterbatasan sumber dan pengetahuan pada zamannya, pendekatan Voltaire yang memperlakukan sejarah sebagai kajian peradaban secara menyeluruh, bukan sekadar kronik kekuasaan politik, tetap menjadi salah satu sumbangan paling bertahan lama dan paling berpengaruh dari keseluruhan karyanya bagi disiplin historiografi modern.

Karya Voltaire

  • Œdipe (1718)
  • La Henriade (1723)
  • Lettres philosophiques / Lettres concernant la nation anglaise (1733)
  • Le Mondain (1736)
  • Éléments de la philosophie de Newton (1738)
  • Zadig, ou la Destinée (1748)
  • Le Siècle de Louis XIV (1751)
  • Micromégas (1752)
  • Essai sur les mœurs et l’esprit des nations (1756)
  • Poème sur le désastre de Lisbonne (1756)
  • Candide, ou l’Optimisme (1759)
  • Traité sur la tolérance (1763)
  • Dictionnaire philosophique portatif (1764)
  • L’Ingénu (1767)
  • Histoire de Jenni (1775)
  • Irène (1778)

Referensi

  • Besterman, T. (1969). Voltaire. Harcourt, Brace & World.
  • Davidson, I. (2010). Voltaire: A life. Pegasus Books.
  • Gay, P. (1959). Voltaire’s politics: The poet as realist. Princeton University Press.
  • Leibniz, G. W. (1985). Theodicy: Essays on the goodness of God, the freedom of man and the origin of evil (E. M. Huggard, Penerj.). Open Court. (Karya asli diterbitkan 1710)
  • Locke, J. (1975). An essay concerning human understanding (P. H. Nidditch, Ed.). Oxford University Press. (Karya asli diterbitkan 1690)
  • Newton, I. (1999). The Principia: Mathematical principles of natural philosophy (I. B. Cohen & A. Whitman, Penerj.). University of California Press. (Karya asli diterbitkan 1687)
  • Pearson, R. (2005). Voltaire almighty: A life in pursuit of freedom. Bloomsbury.
  • Pomeau, R. (1956). La religion de Voltaire. Nizet.
  • Voltaire. (1947). Candide, or optimism (J. Butt, Penerj.). Penguin Classics.
  • Voltaire. (1961). Philosophical dictionary (T. Besterman, Penerj.). Penguin Classics.
  • Voltaire. (1980). Letters concerning the English nation (N. Cronk, Ed.). Oxford University Press.
  • Voltaire. (2000). Treatise on tolerance (B. Masters, Penerj.). Cambridge University Press.
  • Wade, I. O. (1969). The intellectual development of Voltaire. Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Sinisme

Next Article

John Dewey

Citation copied!