Filsuf Marcus Aurelius

Marcus Aurelius

Dipublikasikan: 30 September 2026

Terakhir diperbarui: 30 September 2026

Marcus Aurelius (121–180 M), kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoa yang pemikirannya dikenal lewat catatan pribadi Meditations (Ta eis heauton). Sebagai penguasa tertinggi Kekaisaran Romawi dari tahun 161 hingga akhir hayatnya, Marcus Aurelius memerintah di tengah wabah, perang perbatasan, dan beban administratif yang tak kunjung reda, namun di sela semua itu ia menuliskan renungan batin yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca orang lain. Dalam catatan-catatan itu, ia menegaskan bahwa kebajikan dan ketenangan pikiran tidak bergantung pada keadaan eksternal, melainkan pada bagaimana pikiran menilai dan merespons apa yang terjadi. Warisan Stoisisme yang ia teruskan dari Epictetus dan Zeno dari Citium diolahnya bukan sebagai sistem logika abstrak, melainkan sebagai disiplin hidup sehari-hari bagi seseorang yang harus tetap adil dan tenang di tengah kekuasaan yang nyaris tanpa batas.

Biografi Marcus Aurelius

Marcus Aurelius lahir di Roma pada 26 April 121 M dengan nama Marcus Annius Verus, meski sejumlah sumber kuno menyebut nama awalnya Marcus Annius Catilius Severus, yang kemudian diganti setelah kematian ayahnya. Keluarganya berasal dari kalangan senator kaya yang leluhurnya berasal dari Ucubi, sebuah kota kecil di provinsi Baetica, Hispania (kini dekat Córdoba, Spanya selatan), dan keluarga ini naik ke posisi terhormat dalam masyarakat Romawi sejak akhir abad pertama. Ayahnya, Marcus Annius Verus, meninggal ketika Marcus masih kecil, sehingga ia dibesarkan oleh kakeknya dan ibunya, Domitia Lucilla. Sejak usia dini ia sudah dekat dengan lingkaran kekuasaan tertinggi Romawi. Kaisar Hadrian memperhatikan anak ini dan membuat permainan kata dari namanya, Verus (“yang benar”), dengan memanggilnya Verissimus (“yang paling benar”) karena kejujurannya.

Pendidikan Marcus ditempuh di rumah, sesuai kebiasaan keluarga aristokrat Romawi, dengan sejumlah guru terbaik pada masanya. Ia mempelajari retorika di bawah bimbingan Marcus Cornelius Fronto, salah satu orator terkemuka zaman itu, serta belajar hukum, sastra Latin dan Yunani. Namun titik balik penting dalam pendidikannya datang lewat pengaruh Diognetus, gurunya, yang memperkenalkannya pada filsafat. Pada usia sekitar sebelas tahun, Marcus mulai mengadopsi gaya hidup Stoa: berpakaian sederhana, tidur di lantai, dan menahan diri dari kemewahan, meski kemudian ia melunakkan sejumlah praktik asketis tersebut atas desakan ibunya. Sejak titik ini ia menjadi pengikut Stoisisme yang setia sepanjang hidupnya, sebuah komitmen yang bertahan bahkan ketika ia kelak memegang kekuasaan tertinggi kekaisaran.

Jalan menuju takhta dibentuk oleh serangkaian pengangkatan anak yang direncanakan Hadrian. Pada 136 M, Hadrian awalnya menetapkan Lucius Ceionius Commodus (kemudian dikenal sebagai Lucius Aelius) sebagai penerusnya, tetapi Aelius meninggal sebelum Hadrian sendiri wafat. Hadrian kemudian mengadopsi Titus Aurelius Antoninus, yang kelak dikenal sebagai Antoninus Pius, dengan syarat bahwa Antoninus pada gilirannya harus mengadopsi dua orang muda: Marcus, keponakan istrinya, dan Lucius, putra Aelius yang telah meninggal, yang kelak dikenal sebagai Lucius Verus. Susunan ini memastikan dua generasi suksesi sekaligus. Pada 138 M, setelah Hadrian wafat dan Antoninus naik takhta, Marcus resmi diadopsi dan mengambil nama Marcus Aelius Aurelius Verus. Ia diangkat menjadi Caesar (gelar bagi pewaris takhta) pada 139 M, dan pada 145 M menikah dengan Faustina, putri Antoninus Pius sekaligus sepupunya sendiri, sebuah pernikahan yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai penerus. Selama masa ini Marcus juga menjabat konsul sebanyak tiga kali dan menjalani semacam magang panjang dalam pemerintahan di bawah bimbingan langsung Antoninus Pius, mempelajari administrasi kekaisaran dari dekat selama lebih dari dua dekade.

Antoninus Pius wafat pada 7 Maret 161 M, dan Marcus naik takhta sebagai kaisar. Langkah pertamanya yang tidak lazim adalah bersikeras agar senat juga mengangkat Lucius Verus sebagai rekan kaisar dengan kekuasaan yang setara, sebuah pengaturan pemerintahan ganda yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Romawi. Pembagian kekuasaan ini mencerminkan sikap Marcus yang menghindari konsentrasi kekuasaan mutlak pada satu orang, sejalan dengan prinsip-prinsip yang kelak banyak ia refleksikan dalam catatan pribadinya. Lucius Verus, yang wataknya jauh berbeda dari Marcus dan lebih menyukai kesenangan duniawi, memimpin kampanye militer melawan Kekaisaran Parthia di timur pada 161-166 M, sementara Marcus mengurus pemerintahan di Roma. Perang ini berakhir dengan kemenangan Romawi, tetapi pasukan yang kembali membawa wabah mematikan yang dikenal sebagai Wabah Antonine, kemungkinan cacar atau campak, yang menewaskan jutaan orang di seluruh kekaisaran selama beberapa dekade berikutnya dan melemahkan struktur ekonomi serta militer Romawi secara mendalam.

Sisa masa pemerintahan Marcus didominasi oleh Perang Marcomannic (166-180 M), serangkaian konflik panjang dan melelahkan melawan suku-suku Jermanik, terutama Marcomanni dan Quadi, di sepanjang perbatasan utara Sungai Danube. Lucius Verus meninggal mendadak pada 169 M, kemungkinan akibat wabah, sehingga Marcus menjadi kaisar tunggal untuk sisa masa pemerintahannya. Ia menghabiskan bertahun-tahun memimpin pasukan langsung di garis depan, jauh dari kenyamanan Roma, dalam kondisi yang penuh tekanan fisik dan psikis. Justru di tenda-tenda militer di sepanjang perbatasan inilah, pada malam-malam di antara kampanye, Marcus menuliskan catatan-catatan pribadi dalam bahasa Yunani yang kelak dikenal sebagai Ta eis heauton (“Kepada Diri Sendiri”), atau lebih populer disebut Meditations. Di tengah masa perang ini pula terjadi pemberontakan Avidius Cassius, gubernur Suriah, pada 175 M, yang menyatakan dirinya kaisar setelah beredar kabar keliru bahwa Marcus telah wafat. Pemberontakan itu runtuh sendiri setelah Cassius dibunuh oleh anak buahnya, dan Marcus dikenal menunjukkan sikap pengampunan yang luar biasa terhadap para pendukung pemberontakan tersebut, sebuah tindakan yang banyak dikaitkan dengan prinsip-prinsip Stoa yang ia anut tentang kemarahan dan pengampunan.

Kehidupan pribadi Marcus juga diwarnai duka yang berulang. Dari pernikahannya dengan Faustina, ia dikaruniai setidaknya tiga belas anak, tetapi mayoritas meninggal pada usia muda, sebuah kehilangan yang berulang kali muncul sebagai bayangan dalam refleksinya tentang kematian dan ketidakkekalan. Salah satu anak yang bertahan hidup adalah Commodus, yang pada 177 M diangkat Marcus sebagai rekan kaisar, sebuah keputusan yang kelak dinilai banyak sejarawan sebagai kesalahan terbesar dalam kepemimpinannya, sebab pemerintahan Commodus setelah kematian Marcus jauh berbeda dari cita-cita ayahnya. Marcus Aurelius sendiri meninggal pada 17 Maret 180 M, kemungkinan besar di Vindobona (kini Wina) atau Sirmium, saat masih berada di garis depan kampanye militer di perbatasan utara, meninggalkan Commodus sebagai kaisar tunggal berusia delapan belas tahun.

Kematian Marcus Aurelius oleh banyak sejarawan, termasuk Edward Gibbon dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, dipandang sebagai penutup era Pax Romana dan masa kepemimpinan lima kaisar yang dianggap paling baik dalam sejarah Romawi (Five Good Emperors): Nerva, Trajan, Hadrian, Antoninus Pius, dan Marcus Aurelius sendiri. Ironisnya, seseorang yang menghabiskan hidupnya merefleksikan kefanaan kekuasaan, kesabaran menghadapi penderitaan, dan pentingnya menjalankan tugas tanpa mengharap pujian, justru dikenang bukan lewat monumen kemenangan militernya, melainkan lewat catatan pribadi yang tidak pernah ia maksudkan untuk dibaca siapa pun selain dirinya sendiri.

Pemikiran Marcus Aurelius

Logos dan Kosmos: Alam Semesta yang Rasional dan Tertata

Salah satu fondasi paling mendasar dalam pemikiran Marcus Aurelius adalah keyakinan bahwa alam semesta bukanlah kumpulan kejadian yang acak, melainkan satu kesatuan yang tertata oleh prinsip rasional yang meresap ke seluruh bagiannya. Prinsip ini, dalam tradisi Stoa, disebut logos, sebuah kata Yunani yang sulit diterjemahkan secara tunggal karena sekaligus berarti “akal”, “kata”, “prinsip”, dan “hukum yang mengatur”. Marcus mewarisi konsep ini dari fisika Stoa yang telah dirumuskan sejak Zeno dari Citium dan disistematisasi oleh Chrysippus pada abad ketiga sebelum Masehi, yang pada gilirannya mengambil ilham dari gagasan Heraclitus tentang logos sebagai hukum tersembunyi yang menyatukan pertentangan-pertentangan dalam alam. Bagi Marcus, memahami logos bukan sekadar latihan spekulasi metafisis, melainkan syarat mutlak untuk menjalani hidup dengan benar, sebab manusia hanya dapat hidup selaras dengan alam jika ia memahami tatanan yang menggerakkan alam itu sendiri.

Dalam kerangka fisika Stoa yang diwarisi Marcus, alam semesta dipahami sebagai satu organisme tunggal yang hidup dan bernapas, disatukan oleh pneuma, semacam nafas atau substansi aktif yang menembus segala sesuatu dan menghubungkan setiap bagian dengan keseluruhan. Logos adalah kecerdasan aktif yang bekerja melalui pneuma ini, mengatur segala sesuatu menuju keteraturan dan tujuan tertentu. Karena itu, Stoisisme menolak pemisahan tajam antara materi dan akal sebagaimana kelak dikembangkan dalam dualisme Cartesian. Bagi Marcus, kosmos adalah satu tubuh besar, dan setiap makhluk di dalamnya, termasuk manusia, adalah bagian dari tubuh itu, sebagaimana tangan adalah bagian dari tubuh manusia. Dalam Meditations, gagasan ini muncul berulang kali dalam berbagai rumusan. Ia menulis bahwa segala sesuatu saling terjalin, dan jalinan itu suci, sehingga hampir tidak ada sesuatu yang sama sekali asing bagi yang lain. Semua hal tersusun bersama dan bekerja sama untuk menghasilkan satu kosmos yang sama, satu tatanan dari banyak hal.

Konsekuensi langsung dari pandangan ini adalah keyakinan pada providensi, yaitu gagasan bahwa segala peristiwa, betapapun tampak buruk atau tidak adil dari sudut pandang manusia perorangan, sebenarnya memiliki tempat dan fungsi dalam tatanan besar yang rasional. Marcus sering merenungkan dua kemungkinan penjelasan tentang alam semesta: apakah ia diatur oleh providensi ilahi yang teratur (yang ia sebut sebagai pandangan Stoa) atau sekadar kumpulan atom yang bertabrakan secara kebetulan tanpa tujuan (pandangan Epikurean, pengikut Democritus). Menariknya, ia berulang kali menyatakan bahwa bahkan jika alternatif kedua yang benar, yakni dunia atom-atom acak, seseorang tetap harus hidup dengan kebajikan, sebab kebajikan adalah satu-satunya hal yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Namun preferensi pribadinya jelas condong pada pandangan pertama. Ia lebih sering menulis seolah-olah alam semesta memang memiliki desain dan arah, dan bahwa apa pun yang terjadi pada seseorang selalu bermanfaat bagi keseluruhan kosmos, meski manfaat itu tidak selalu tampak dari sudut pandang individu yang mengalaminya.

Gagasan tentang logos kosmis ini berkaitan erat dengan doktrin Stoa mengenai percikan ilahi dalam diri manusia. Karena logos meresap ke seluruh alam semesta, dan karena manusia memiliki akal (juga disebut logos dalam pengertian yang lebih kecil), maka setiap manusia membawa dalam dirinya sebagian kecil dari kecerdasan ilahi yang sama yang mengatur seluruh kosmos. Marcus menyebut bagian ini sebagai hegemonikon, atau “bagian yang memerintah” dalam jiwa, semacam pusat kesadaran dan penalaran yang menjadi tempat manusia berpikir, menilai, dan memutuskan. Karena hegemonikon adalah percikan dari logos universal, Marcus berpendapat bahwa akal manusia pada dasarnya bersaudara dengan akal semua manusia lain, sebab semuanya berasal dari sumber rasional yang sama. Inilah salah satu akar filosofis dari gagasan kosmopolitanismenya, yang akan dibahas lebih lanjut, bahwa semua manusia adalah warga dari satu kota besar bersama, yaitu kosmos itu sendiri.

Pemahaman tentang logos ini juga membentuk sikap Marcus terhadap perubahan dan kefanaan. Mengikuti Heraclitus, ia memandang alam semesta sebagai sesuatu yang senantiasa dalam gerak dan transformasi, sebuah arus tak terhenti di mana segala sesuatu muncul, berubah bentuk, lalu lenyap untuk digantikan yang baru. Namun berbeda dari kecemasan yang mungkin ditimbulkan gagasan tentang ketidakkekalan ini, Marcus menariknya sebagai sumber ketenangan. Jika perubahan adalah hukum dasar kosmos yang rasional, maka perubahan bukanlah kejahatan atau gangguan terhadap tatanan, melainkan justru cara tatanan itu bekerja. Ia berulang kali menuliskan perumpamaan bahwa kematian dan kelahiran adalah bagian dari proses alam yang sama seperti musim berganti atau ombak yang datang dan pergi, dan menolak perubahan berarti menolak logos itu sendiri. Sikap “hidup selaras dengan alam” (homologoumenōs tē physei zēn), yang menjadi rumusan klasik tujuan hidup Stoa sejak Zeno, dengan demikian bagi Marcus berarti menerima dan bekerja sama dengan arus perubahan kosmis ini, bukan melawannya dengan sia-sia.

Penting dicatat bahwa pandangan Marcus tentang logos bukan tanpa ketegangan internal, dan ia sendiri tampak menyadarinya. Di satu sisi, ia menegaskan bahwa kosmos diatur secara rasional dan providensial menuju kebaikan. Di sisi lain, sebagai kaisar yang menyaksikan wabah, perang, dan kematian anak-anaknya sendiri, ia berulang kali harus menghadapi kenyataan yang tampak bertentangan dengan gambaran alam semesta yang baik dan tertata. Bagian penting dari disiplin batin yang ia latih dalam Meditations justru adalah upaya terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap percaya pada rasionalitas kosmos di tengah bukti-bukti pengalaman yang mengguncang keyakinan itu. Dalam pengertian ini, gagasan tentang logos bagi Marcus bukan sekadar teori fisika yang dianut secara pasif, melainkan komitmen yang harus terus-menerus diperbarui dan dipertahankan melalui latihan berpikir, terutama ketika keadaan dunia tampak paling jauh dari rasional.

Baca juga :  Objektivisme

Dikotomi Kendali: Apa yang Ada dalam Kuasa Kita dan Apa yang Tidak

Prinsip dasar dikotomi ini sederhana untuk dirumuskan tetapi menuntut disiplin seumur hidup untuk dijalankan. Marcus membedakan dua kategori hal yang secara tegas terpisah. Kategori pertama mencakup apa yang disebutnya sebagai milik kita yang sesungguhnya: penilaian, dorongan bertindak, keinginan, dan penolakan kita sendiri terhadap sesuatu. Inilah wilayah tempat kehendak (prohairesis, istilah yang lebih sering dipakai Epictetus) beroperasi sepenuhnya bebas, sebab tidak ada kekuatan luar yang dapat memaksa pikiran seseorang untuk menilai sesuatu dengan cara tertentu tanpa persetujuan pikiran itu sendiri. Kategori kedua mencakup segala sesuatu yang berada di luar kehendak ini: tubuh, kesehatan, kekayaan, reputasi, pendapat orang lain, bahkan kematian anak-anak sendiri atau nasib kekaisaran yang dipimpinnya. Marcus berulang kali menegaskan dalam Meditations bahwa penderitaan manusia hampir selalu berasal dari kekeliruan mendasar, yaitu memperlakukan hal-hal dari kategori kedua seolah-olah berada dalam kendali kita, sehingga kita menjadi terikat secara emosional pada sesuatu yang pada dasarnya tidak dapat kita kendalikan.

Implikasi paling mendalam dari dikotomi ini adalah pergeseran total tentang di mana letak kebaikan dan kejahatan yang sesungguhnya. Dalam etika Stoa yang diwarisi Marcus, satu-satunya kebaikan sejati adalah kebajikan (aretē), yaitu penilaian dan tindakan yang benar, dan satu-satunya kejahatan sejati adalah keburukan moral, yakni penilaian dan tindakan yang salah. Segala sesuatu di luar itu, seperti kesehatan, kekayaan, bahkan hidup dan mati, digolongkan sebagai “hal-hal yang tak berbeda” (adiaphora), yang meski dapat lebih disukai (proēgmena) atau tidak disukai (apoproēgmena), pada dirinya sendiri tidak menentukan kebahagiaan seseorang. Marcus menuliskan berulang kali dalam berbagai formulasi bahwa yang mengganggu manusia bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan pendapat mereka tentang peristiwa tersebut, dan bahwa pendapat itu dapat dicabut kapan saja karena ia sepenuhnya berada di bawah kendali kita. Rumusan inilah yang berabad-abad kemudian menjadi salah satu prinsip paling dikenal dari seluruh warisan Stoisisme, dan dianggap sebagai cikal bakal jauh dari terapi kognitif modern, yang juga menekankan bahwa penderitaan psikologis sering kali berasal dari interpretasi terhadap peristiwa, bukan dari peristiwa itu sendiri.

Penerapan dikotomi kendali dalam kehidupan Marcus sebagai kaisar memiliki bobot yang khas, sebab ia bukan filsuf yang merenung dari jarak aman, melainkan seorang penguasa yang setiap harinya harus menghadapi hal-hal yang secara harfiah berada jauh di luar kendalinya: hasil pertempuran di perbatasan Danube, wabah yang menewaskan pasukan dan rakyatnya, pengkhianatan Avidius Cassius, dan kematian anak-anaknya sendiri satu demi satu. Dalam konteks inilah dikotomi kendali berfungsi bukan sebagai teori abstrak, melainkan sebagai mekanisme psikologis untuk tetap berfungsi secara rasional di tengah situasi yang berulang kali berada di luar kendalinya. Ia menulis nasihat kepada dirinya sendiri untuk membatasi diri semata pada apa yang sedang ia lakukan saat ini, dan menilai tindakan itu sesuai dengan kebenaran, sambil membiarkan hal-hal lain, seperti hasil akhirnya, menjadi urusan yang tak perlu ia cengkeram. Dengan kata lain, seorang kaisar tetap dapat, bahkan wajib, bertindak dengan penuh dan sungguh-sungguh, mengerahkan strategi militer, membuat kebijakan, mendengarkan penasihat, tetapi ia harus melepaskan keterikatan emosionalnya pada hasil akhir dari tindakan tersebut, karena hasil akhir itu bergantung pada terlalu banyak faktor eksternal yang tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan satu orang.

Dikotomi ini juga menjadi dasar bagi salah satu konsep sentral lain dalam pemikiran Marcus, yaitu bahwa rintangan eksternal tidak pernah benar-benar dapat menghalangi kehendak yang bertindak sesuai kebajikan. Dalam salah satu perumpamaan yang paling terkenal, ia menulis bahwa api yang menyala akan mengubah apa pun yang dilemparkan ke dalamnya menjadi nyala dan cahaya, sebagai gambaran tentang bagaimana pikiran yang siap dapat mengubah setiap rintangan menjadi bahan bakar bagi tindakan bajik. Gagasan yang lebih dikenal luas berkat penulis modern Ryan Holiday, “rintangan adalah jalan”, sesungguhnya adalah penyarian dari prinsip Marcus bahwa tindakan yang menghalangi tindakan lain dapat berubah menjadi tindakan itu sendiri, dan bahwa apa yang menghalangi jalan justru dapat menjadi jalan. Prinsip ini berhasil karena bertumpu pada dikotomi kendali: jika kebajikan sejati terletak sepenuhnya pada respons batin seseorang terhadap keadaan, bukan pada keadaan itu sendiri, maka secara logis tidak ada keadaan eksternal, betapapun buruknya, yang dapat mencegah seseorang untuk bertindak dengan bajik dalam merespons keadaan tersebut.

Disiplin Persepsi, Tindakan, dan Kehendak

Salah satu sumbangan paling berpengaruh dalam pembacaan modern atas Meditations datang dari filolog dan filsuf Prancis Pierre Hadot, khususnya dalam karyanya La Citadelle intérieure (1992, diterjemahkan sebagai The Inner Citadel). Hadot menunjukkan bahwa di balik catatan Marcus yang tampak berserakan dan tidak sistematis, sesungguhnya tersembunyi sebuah struktur yang konsisten, yang diwarisi dari ajaran Epictetus tentang tiga bidang latihan atau disiplin (topoi): disiplin persepsi (disciplina assensus), disiplin tindakan atau dorongan (disciplina impulsus), dan disiplin kehendak atau keinginan (disciplina desiderii). Ketiganya sesuai dengan tiga cabang klasik filsafat Stoa, yaitu logika, etika, dan fisika, namun Marcus tidak mempelajarinya sebagai teori terpisah, melainkan melatihnya sebagai tiga gerakan batin yang harus dijalankan bersamaan setiap kali seseorang menghadapi sebuah situasi. Kerangka Hadot ini menjadi salah satu kunci paling berpengaruh untuk memahami mengapa Meditations berulang-ulang mengucapkan nasihat yang serupa dengan kata-kata berbeda: Marcus sesungguhnya sedang melatih tiga disiplin yang sama berulang kali, bukan sekadar mengulang gagasan yang sama karena kehabisan ide.

Disiplin pertama, persepsi, berkaitan dengan bagaimana pikiran menerima dan menilai kesan (phantasia) yang muncul dari pengalaman indrawi maupun dari ingatan dan imajinasi. Dalam logika Stoa, setiap kesan yang masuk ke pikiran menuntut persetujuan (synkatathesis) sebelum ia diterima sebagai penilaian yang berlaku, dan persetujuan inilah satu-satunya titik di mana kehendak manusia benar-benar bebas dan berkuasa penuh, sebagaimana telah dibahas dalam dikotomi kendali. Disiplin persepsi menuntut seseorang untuk memeriksa setiap kesan yang muncul sebelum menyetujuinya, memisahkan fakta objektif dari penilaian subjektif yang secara otomatis, dan seringkali secara keliru, ditambahkan pikiran di atasnya. Marcus menyebut latihan ini sebagai melucuti kesan dari selubungnya, melihatnya telanjang dan utuh, memisahkannya menjadi bagian-bagian penyusunnya. Contoh yang paling sering ia pakai adalah makanan mewah atau anggur berharga mahal, yang jika diperiksa telanjang tanpa penilaian tambahan, ternyata hanyalah bangkai ikan yang mati, atau anggur yang sesungguhnya cairan hasil fermentasi buah anggur yang telah membusuk. Latihan semacam ini bukan dimaksudkan untuk menumbuhkan sinisme terhadap dunia, melainkan untuk melatih pikiran agar tidak dikuasai oleh nilai-nilai berlebihan yang secara sosial ditempelkan pada benda-benda, sehingga penilaian yang dihasilkan menjadi lebih murni dan sesuai kebenaran.

Disiplin kedua, tindakan, berkaitan dengan dorongan untuk bertindak (hormē) setelah sebuah penilaian disetujui pikiran, dan berhubungan erat dengan etika Stoa tentang tindakan yang layak (kathēkon). Setelah persepsi diperiksa dan penilaian yang benar terbentuk, langkah berikutnya adalah menyalurkan dorongan itu ke dalam tindakan yang sesuai dengan kebajikan dan kepentingan bersama, bukan sekadar kepentingan diri sendiri. Marcus terus-menerus mengingatkan dirinya bahwa manusia dilahirkan untuk bekerja sama, sebagaimana anggota tubuh bekerja sama demi keseluruhan tubuh, dan bahwa bertindak melawan kepentingan bersama sama saja dengan bertindak melawan kodrat dirinya sendiri sebagai makhluk rasional dan sosial. Dalam kerangka ini, tindakan yang benar bukan hanya soal melakukan hal yang secara moral tepat, melainkan melakukannya dengan orientasi yang jelas ke arah kebaikan bersama (to koinōnikon), sebuah gagasan yang bertaut langsung dengan pandangannya tentang kosmopolitanisme. Disiplin tindakan ini pula yang menjelaskan mengapa Marcus, meski memiliki keyakinan Stoa yang kuat tentang batas kendali manusia, tidak pernah menjadikan filsafatnya sebagai alasan untuk menarik diri dari tugas kenegaraan. Justru sebaliknya, ia berulang kali menegaskan bahwa menjalankan tugas dengan penuh, tanpa keluhan dan tanpa mengharap pujian, adalah wujud nyata dari kebajikan itu sendiri, sebagaimana tercermin dalam nasihatnya untuk bangun pagi dan mengingatkan diri bahwa ia akan bertemu manusia-manusia yang suka campur tangan, tidak tahu berterima kasih, sombong, licik, dan tidak bersahabat, namun tetap harus menjalankan tugasnya sebagai manusia yang dilahirkan untuk bekerja sama dengan sesama.

Disiplin ketiga, kehendak atau keinginan, berkaitan dengan bagaimana seseorang mengarahkan keinginan (orexis) dan penolakan (ekklisis) terhadap sesuatu, dan bersambung erat dengan fisika Stoa tentang logos kosmis serta providensi yang telah dibahas sebelumnya. Disiplin ini menuntut seseorang untuk hanya menginginkan hal-hal yang benar-benar berada dalam kendalinya, yaitu kebajikannya sendiri, dan untuk menerima apa pun yang ditentukan oleh tatanan kosmos yang lebih besar sebagai sesuatu yang pada dasarnya baik, meski tidak selalu tampak demikian dari sudut pandang terbatas seorang individu. Marcus menulis dalam berbagai rumusan bahwa segala sesuatu yang terjadi kepadanya adalah bagian dari tenunan besar yang ditakdirkan sejak awal bersamanya, terjalin bersama sebab-sebab yang menciptakan keberadaannya sendiri, sehingga menolak atau membenci apa yang terjadi sama saja dengan memutuskan diri dari jalinan kosmis yang menjadi asal keberadaannya sendiri. Disiplin kehendak inilah yang paling dekat dengan gagasan yang belakangan dikenal sebagai amor fati, cinta akan takdir, meski istilah Latin tersebut sesungguhnya lebih erat diasosiasikan dengan Nietzsche yang mengambil inspirasi dari Stoa, bukan istilah yang dipakai Marcus sendiri.

Ketiga disiplin ini, menurut pembacaan Hadot, tidak berjalan berurutan sebagai tiga tahap terpisah, melainkan bekerja serentak dalam setiap momen kesadaran. Ketika seseorang dihadapkan pada sebuah situasi, dalam sepersekian detik yang sama pikiran harus sekaligus memeriksa kesan yang masuk secara objektif (disiplin persepsi), menyalurkan dorongan untuk bertindak sesuai kebajikan dan kepentingan bersama (disiplin tindakan), serta menerima apa pun hasil yang berada di luar kendalinya dengan sikap yang selaras dengan tatanan kosmos (disiplin kehendak). Struktur tiga lapis inilah yang menjelaskan format unik Meditations sebagai kumpulan catatan pendek yang berulang-ulang: setiap entri bukanlah esai filsafat yang berusaha meyakinkan pembaca lain, melainkan latihan batin (askēsis) yang ditujukan Marcus kepada dirinya sendiri, sebuah usaha harian untuk menyelaraskan kembali ketiga disiplin ini setiap kali kehidupan sebagai kaisar dan panglima perang menariknya menjauh dari keselarasan tersebut. Dalam pengertian inilah, Meditations lebih tepat dipahami bukan sebagai risalah tentang apa yang harus dipikirkan, melainkan sebagai catatan latihan tentang bagaimana caranya berpikir, sebuah pembedaan yang menjadi salah satu alasan mengapa naskah ini tetap terasa hidup dan relevan bagi pembaca modern jauh melampaui konteks Romawi kuno tempat ia ditulis.

Empat Kebajikan Utama Stoa

Filsafat Stoa mewarisi dari tradisi etika Yunani yang lebih tua, khususnya Socrates dan Plato, gagasan bahwa kebajikan bukanlah satu kualitas tunggal melainkan tersusun dari beberapa kebajikan kardinal yang saling berkaitan. Dalam sistematisasi yang dibangun Zeno dan Chrysippus, lalu diwariskan hingga ke masa Marcus Aurelius, terdapat empat kebajikan utama: kebijaksanaan (phronēsis atau sophia), keadilan (dikaiosynē), keberanian (andreia), dan pengendalian diri atau moderasi (sōphrosynē). Berbeda dari dikotomi kendali yang bersifat lebih formal dan struktural, keempat kebajikan ini adalah isi substantif dari apa yang dimaksud Marcus ketika ia menulis bahwa satu-satunya kebaikan sejati adalah tindakan yang benar. Bagi Stoa, keempat kebajikan ini bukan empat kualitas yang terpisah yang dapat dimiliki seseorang secara parsial, melainkan empat wajah dari satu kebajikan tunggal yang disebut kebajikan rasional, sehingga seseorang yang benar-benar bijaksana secara otomatis juga adil, berani, dan memiliki pengendalian diri, sebab keempatnya berasal dari kemampuan yang sama untuk menilai dengan benar apa yang patut dilakukan dalam setiap situasi.

Kebijaksanaan menempati posisi yang paling mendasar di antara keempatnya, sebab ia adalah kemampuan untuk membedakan dengan tepat apa yang baik, apa yang buruk, dan apa yang termasuk adiaphora, yaitu hal-hal yang pada dirinya sendiri netral seperti kesehatan, kekayaan, atau reputasi. Tanpa kebijaksanaan, tiga kebajikan lainnya kehilangan arah, sebab keberanian tanpa kebijaksanaan bisa berubah menjadi kenekatan, dan keadilan tanpa kebijaksanaan bisa salah menilai situasi. Dalam Meditations, Marcus berulang kali menekankan pentingnya menilai setiap kesan (phantasia) yang muncul di pikiran secara objektif, tanpa menambahkan penilaian berlebihan yang tidak perlu. Ia menyebut latihan ini sebagai membuka kesan hingga telanjang dari selubung penilaian subjektif, sehingga seseorang dapat melihat sesuatu apa adanya, bukan sebagaimana yang dibayangkan atau ditakutkan. Kebijaksanaan bagi Marcus, dengan demikian, bukan sekadar pengetahuan teoretis tentang benar dan salah, melainkan kewaspadaan yang terus-menerus dilatih terhadap cara pikiran sendiri bekerja, semacam pengawasan batin yang tidak pernah benar-benar beristirahat.

Baca juga :  Dekonstruksi

Keadilan menjadi kebajikan yang paling banyak mendapat penekanan khusus dalam catatan Marcus, mengingat posisinya sebagai kaisar yang keputusannya berdampak langsung pada jutaan orang. Bagi Stoa, keadilan tidak terbatas pada kepatuhan terhadap hukum formal, melainkan mencakup kewajiban yang lebih luas untuk memperlakukan setiap orang sesuai dengan apa yang menjadi haknya, serta berkontribusi secara aktif bagi kesejahteraan bersama. Marcus mengaitkan keadilan erat dengan gagasan kosmopolitan tentang komunitas rasional bersama seluruh umat manusia, sehingga bertindak adil berarti bertindak selaras dengan kepentingan keseluruhan, bukan hanya kepentingan diri sendiri. Ia menulis nasihat kepada dirinya untuk melakukan setiap tindakan seolah-olah itu adalah tindakan terakhir dalam hidupnya, bebas dari kesembronoan, kebencian yang berlebihan terhadap akal, kepura-puraan, cinta diri, dan ketidakpuasan terhadap apa yang telah ditentukan baginya, sebuah daftar yang secara langsung menyinggung berbagai cara keadilan dapat dilanggar dalam interaksi sehari-hari, bukan hanya dalam keputusan besar kenegaraan. Penting dicatat bahwa dalam praktiknya sebagai kaisar, keadilan bagi Marcus juga berarti pengampunan, sebagaimana tampak dalam sikapnya terhadap para pendukung pemberontakan Avidius Cassius.

Keberanian dalam kerangka Stoa tidak identik dengan ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk bertindak sesuai kebajikan meski dihadapkan pada bahaya, kesulitan, atau ketidaknyamanan. Keberanian ini mencakup dua wilayah yang saling terkait: keberanian menghadapi bahaya fisik, seperti yang dituntut dari Marcus selama bertahun-tahun memimpin kampanye militer di perbatasan utara yang berbahaya, dan keberanian menghadapi kesulitan batin, seperti ketekunan (karteria) dalam menanggung penderitaan, kelelahan, atau frustrasi tanpa menyerah pada keluhan atau keputusasaan. Marcus berulang kali menuliskan gambaran dirinya sebagai seorang petinju atau pegulat yang harus tetap berdiri dan terus bertarung meski menerima pukulan, sebuah metafora yang mencerminkan bagaimana ia memahami keberanian bukan sebagai peristiwa tunggal yang dramatis, melainkan sebagai ketahanan yang harus dipertahankan hari demi hari di tengah beban pemerintahan dan perang yang tampaknya tak berkesudahan. Keberanian dalam pengertian ini sangat dekat dengan gagasan tentang menerima apa yang tidak dapat diubah tanpa kehilangan semangat untuk terus menjalankan tugas.

Pengendalian diri atau moderasi adalah kebajikan yang mengatur hubungan seseorang dengan kesenangan, keinginan, dan dorongan-dorongan hati yang berpotensi menyeret pada tindakan berlebihan. Bagi Stoa, emosi-emosi yang tidak terkendali, seperti nafsu berlebihan, ketamakan, atau kemarahan, dipahami sebagai penilaian yang keliru tentang nilai suatu hal, sehingga mengendalikannya berarti mengoreksi penilaian yang salah tersebut, bukan sekadar menekan perasaan secara paksa. Marcus, sebagai kaisar yang memiliki akses hampir tak terbatas pada kemewahan dan kekuasaan, secara khusus menaruh perhatian pada bahaya godaan yang menyertai posisi istimewanya. Ia berulang kali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak “diwarnai ungu”, sebuah kiasan bagi jubah kekaisaran, yakni peringatan agar kekuasaan dan kemewahan yang melekat pada jabatannya tidak sampai mengubah watak dasarnya. Dalam salah satu bagian yang sering dikutip, ia menasihati dirinya untuk menjalani hidup sesederhana mungkin, seolah-olah sedang tinggal di Gunung Athos, tempat para pertapa menjalani hidup jauh dari godaan duniawi, meski ia sesungguhnya tinggal di istana Roma yang dipenuhi kemewahan.

Kepemimpinan sebagai Pelayanan

Di antara seluruh kaisar Romawi yang meninggalkan catatan pribadi, Marcus Aurelius adalah satu-satunya yang menuliskan refleksi mendalam tentang beban moral kekuasaan justru pada saat ia memegang kekuasaan itu sepenuhnya, bukan sesudahnya sebagai kenangan atau sebelumnya sebagai cita-cita. Gagasan bahwa kepemimpinan pada hakikatnya adalah bentuk pelayanan, bukan hak istimewa untuk dinikmati, bukanlah doktrin baru yang diciptakan Marcus. Ia mewarisi unsur-unsur gagasan ini dari tradisi filsafat politik Yunani, khususnya konsep raja-filsuf Plato dalam Republik, yang menyatakan bahwa penguasa ideal adalah orang yang paling enggan memerintah namun bersedia melakukannya demi kebaikan yang diperintah, serta dari gagasan Stoa tentang kewajiban sosial (kathēkonta) yang melekat pada setiap peran yang dijalankan seseorang dalam masyarakat. Yang membuat kontribusi Marcus istimewa bukan orisinalitas gagasan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa ia menuliskannya sebagai catatan pribadi seorang kaisar yang sungguh-sungguh memegang kekuasaan absolut, tanpa ada yang mengawasi atau menuntutnya untuk menuliskan hal semacam itu selain dirinya sendiri.

Rumusan paling terkenal dari pandangan ini muncul di awal Buku Kedelapan Meditations, ketika Marcus mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia diciptakan untuk kepentingan bersama, sebagaimana kaki diciptakan untuk berjalan atau tangan untuk memegang, dan bahwa ia bukan diciptakan untuk kesenangan pribadi. Dalam bagian lain, ia menuliskan sebuah analogi yang menjadi salah satu gambaran paling ikonik tentang etika kepemimpinannya, yaitu perumpamaan tentang lebah pekerja: sebagaimana lebah bekerja demi sarangnya tanpa berpikir tentang keuntungan pribadi, seorang pemimpin sejati harus bekerja demi masyarakat yang dipimpinnya tanpa mengharapkan pujian atau balasan. Analogi ini penting karena menempatkan kepemimpinan bukan sebagai posisi yang berdiri di atas masyarakat, melainkan sebagai fungsi yang melayani di dalam masyarakat, sejalan dengan gagasan organik Stoa bahwa setiap bagian dari tubuh sosial memiliki perannya masing-masing demi keseluruhan.

Sikap ini bersambung langsung dengan dikotomi kendali dan disiplin tindakan yang telah dibahas sebelumnya. Marcus berulang kali menekankan bahwa seorang pemimpin harus menjalankan tugasnya dengan penuh, tanpa keluhan, dan tanpa mengharapkan hasil yang menguntungkan dirinya secara pribadi, sebab hasil akhir dari sebuah tindakan berada di luar kendali siapa pun, sedangkan tugas untuk bertindak dengan benar sepenuhnya berada dalam kendali. Dalam salah satu bagian yang sering dikutip, ia menuliskan nasihat untuk dirinya sendiri agar bangun di pagi hari dan mengingatkan diri bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang yang suka campur tangan, tidak tahu berterima kasih, sombong, licik, iri hati, dan tidak bersahabat, namun tetap harus menjalankan perannya sebagai pemimpin yang bekerja demi kebaikan bersama, sebab itulah kodratnya sebagai makhluk rasional yang dilahirkan untuk bekerja sama dengan sesamanya, bukan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan atau untuk menarik diri dari tugas karena kekecewaan terhadap orang lain. Pandangan ini menegaskan bahwa pelayanan dalam kepemimpinan bukan dimotivasi oleh imbalan emosional berupa rasa terima kasih dari yang dipimpin, melainkan oleh kesesuaian tindakan itu dengan kebajikan itu sendiri.

Salah satu wujud paling konkret dari filosofi kepemimpinan sebagai pelayanan ini adalah keputusan Marcus untuk mengangkat Lucius Verus sebagai rekan kaisar dengan kekuasaan yang setara pada awal masa pemerintahannya, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Romawi. Seorang penguasa yang memandang kekuasaan sebagai hak istimewa pribadi hampir pasti akan menghindari pembagian kekuasaan semacam ini, sebab hal itu secara langsung mengurangi kendali mutlaknya sendiri. Namun bagi Marcus, yang memahami kekuasaan sebagai tanggung jawab dan bukan sebagai kepemilikan, membagi beban pemerintahan dengan orang lain yang juga memiliki hak sah atas takhta, mengikuti rencana suksesi yang telah dirancang Hadrian, dipandang sebagai tindakan yang lebih sesuai dengan keadilan dibandingkan dengan mempertahankan kekuasaan tunggal demi kepentingannya sendiri. Kesediaannya untuk berbagi kekuasaan ini konsisten dengan penekanannya yang berulang bahwa jabatan tertinggi sekalipun tidak memberikan nilai moral yang lebih tinggi kepada pemegangnya, sebuah gagasan yang telah dibahas dalam konteks kosmopolitanismenya.

Sikap Marcus terhadap kemewahan dan godaan yang menyertai kekuasaan tertinggi juga mencerminkan pandangannya tentang kepemimpinan sebagai pelayanan, bukan sebagai kesempatan untuk memuaskan diri. Ia berulang kali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak sampai “diwarnai ungu” oleh jubah kekaisaran, sebuah kiasan bagi bahaya bahwa kemewahan dan kekuasaan yang melekat pada jabatannya dapat mengubah watak dasarnya menjadi sombong atau congkak. Dalam salah satu bagian ia menasihati dirinya untuk menjalani hidup sesederhana mungkin, seolah-olah tinggal di sebuah gunung terpencil jauh dari godaan istana, meski kenyataannya ia tinggal di jantung kekuasaan Romawi yang dipenuhi kemewahan. Catatan-catatan semacam ini memperlihatkan bahwa bagi Marcus, godaan terbesar dalam kepemimpinan bukanlah tantangan eksternal seperti musuh di perbatasan atau pemberontakan, melainkan godaan internal untuk mulai memandang kekuasaan sebagai hak istimewa pribadi yang layak dinikmati, alih-alih sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan demi orang lain.

Peristiwa pemberontakan Avidius Cassius pada 175 M menjadi ujian nyata bagi filosofi kepemimpinan Marcus, dan responsnya terhadap peristiwa ini sering dikutip sebagai salah satu bukti paling konkret bahwa prinsip-prinsip yang ia tuliskan dalam Meditations bukan sekadar retorika filsafat, melainkan benar-benar memandu tindakannya sebagai penguasa. Ketika Cassius, gubernur Suriah, menyatakan dirinya kaisar setelah beredar kabar keliru bahwa Marcus telah wafat, dan pemberontakan itu kemudian runtuh sendiri setelah Cassius dibunuh oleh anak buahnya sendiri, Marcus dikabarkan oleh sumber-sumber sejarah kuno seperti Historia Augusta menunjukkan kekecewaan justru karena tidak sempat memberi kesempatan kepada Cassius untuk berdamai, dan ia memerintahkan agar surat-surat korespondensi Cassius yang berisi rencana pemberontakan dibakar tanpa dibaca, demi menghindari godaan untuk membalas dendam terhadap siapa pun yang mungkin disebutkan di dalamnya. Ia juga dikatakan bersikap murah hati terhadap keluarga Cassius dan para pendukungnya, sebuah sikap yang sejalan dengan nasihatnya sendiri untuk tidak membenci mereka yang berbuat salah, sebab kesalahan mereka dipandang berasal dari kebodohan atau kekeliruan penilaian, bukan dari kejahatan yang disengaja.

Gagasan Marcus tentang kepemimpinan sebagai pelayanan ini turut memengaruhi tradisi pemikiran politik jauh melampaui masanya sendiri, meski jarang diakui secara eksplisit sebagai sumbernya. Gagasan tentang penguasa sebagai pelayan negara (bahasa Prancis serviteur de l’État), yang kelak berkembang dalam pemikiran politik Eropa modern awal, dan konsep tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership) yang dipopulerkan Robert K. Greenleaf pada 1970-an dalam konteks manajemen organisasi modern, sama-sama bergema dengan intuisi dasar yang telah dirumuskan Marcus berabad-abad sebelumnya: bahwa otoritas yang sah bersumber bukan dari hak untuk memerintah demi kepentingan diri sendiri, melainkan dari kesediaan untuk menanggung beban demi kepentingan mereka yang dipimpin. Yang membuat rumusan Marcus tetap dianggap istimewa hingga kini bukan karena ia menyusunnya sebagai teori politik yang sistematis, sebab ia memang tidak pernah bermaksud demikian, melainkan karena ia menuliskannya sebagai pergulatan batin yang jujur, seorang penguasa dengan kekuasaan nyaris tanpa batas yang justru menuliskan untuk dirinya sendiri, berulang-ulang dan tanpa henti, pengingat bahwa kekuasaan itu bukan miliknya untuk dinikmati, melainkan tugas yang dipercayakan kepadanya untuk dijalankan demi orang lain.

Amor Fati dan Penerimaan atas Takdir

Meski istilahnya berasal dari Nietzsche, gagasan yang dikandungnya sudah sepenuhnya hadir dalam pemikiran Stoa, dan Marcus adalah salah satu penulis yang paling banyak dirujuk ketika para penafsir modern mencari akar kuno dari sikap ini. Perlu dicatat bahwa hubungan Nietzsche dengan Stoisisme sendiri bersifat ambivalen, sebab dalam karya lain ia justru mengkritik ajaran Stoa sebagai bentuk penyerahan diri yang menyamarkan diri sebagai kebajikan. Namun terlepas dari sikap Nietzsche terhadap Stoa secara umum, formula amor fati yang ia rumuskan menangkap dengan tepat satu sikap batin yang berulang kali coba dilatih Marcus dalam Meditations: bukan sekadar menahan diri secara pasif di hadapan apa yang tidak dapat diubah, melainkan menyambutnya secara aktif sebagai sesuatu yang baik.

Dasar bagi sikap ini terletak pada konsep takdir (heimarmenē) dalam fisika Stoa, yang berkaitan erat dengan logos dan providensi kosmis yang telah dibahas sebelumnya. Chrysippus merumuskan takdir sebagai rangkaian sebab-akibat yang tak terputus, di mana setiap peristiwa mengikuti secara niscaya dari peristiwa sebelumnya, membentuk satu jalinan kausal tunggal yang meliputi seluruh sejarah kosmos. Karena logos yang mengatur jalinan ini bersifat rasional dan providensial, takdir bukan dipahami sebagai kekuatan buta yang bermusuhan dengan manusia, melainkan sebagai ekspresi dari kecerdasan ilahi yang mengarahkan segala sesuatu menuju kebaikan keseluruhan. Marcus mewarisi kerangka ini dan berulang kali menegaskan bahwa apa pun yang terjadi kepadanya bukan kebetulan yang lepas dari makna, melainkan bagian dari tenunan yang telah ditakdirkan sejak awal bersamanya, terjalin bersama sebab-sebab yang menciptakan keberadaannya sendiri. Dalam salah satu rumusan yang paling personal, ia menulis doa singkat kepada alam semesta: apa pun yang engkau kehendaki, aku pun menghendakinya, sebuah pernyataan yang menyingkap secara telanjang cita-cita penyerasian penuh antara kehendak pribadi dan kehendak kosmis yang menjadi inti dari sikap ini.

Baca juga :  Baruch Spinoza

Penting untuk membedakan cinta akan takdir ala Stoa ini dari resignasi atau sekadar kepasrahan yang pasif. Sikap yang dilatih Marcus bukanlah menyerah dengan enggan di hadapan sesuatu yang tak dapat diubah, sebagaimana seseorang menyerah karena tidak ada pilihan lain, melainkan mengubah penilaian batin sedemikian rupa sehingga apa yang terjadi benar-benar dipandang, dan dirasakan, sebagai baik. Perbedaan ini bukan sekadar soal kata-kata, sebab ia menyangkut keseluruhan orientasi batin seseorang terhadap peristiwa yang menimpanya. Seseorang yang menyerah secara pasif tetap menyimpan keinginan bahwa keadaan seharusnya berbeda, hanya saja ia berhenti melawannya karena merasa tidak berdaya. Sebaliknya, seseorang yang mencapai cinta akan takdir tidak lagi menyimpan keinginan semacam itu sama sekali, sebab ia telah sungguh-sungguh meyakini bahwa keadaan yang terjadi adalah yang terbaik yang mungkin terjadi, mengingat keseluruhan jalinan sebab-akibat kosmis yang melampaui pemahaman terbatas seorang individu. Marcus berulang kali menuliskan variasi dari gagasan ini, misalnya bahwa segala sesuatu yang terjadi, terjadi dengan seharusnya, dan bahwa jika seseorang mengamati dengan cermat, ia akan menemukan hal ini benar.

Sikap ini bertaut erat dengan disiplin kehendak yang telah dibahas sebelumnya sebagai salah satu dari tiga disiplin batin Stoa. Jika disiplin persepsi menuntut penilaian yang jernih terhadap kesan yang masuk, dan disiplin tindakan menuntut penyaluran dorongan sesuai kebajikan, maka disiplin kehendak menuntut penyelarasan keinginan dan penolakan seseorang dengan apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga seseorang hanya menginginkan apa yang sesuai kodrat dan menolak hanya apa yang bertentangan dengan kebajikannya sendiri. Amor fati adalah puncak dari disiplin ketiga ini, sebab ia menuntut lebih dari sekadar penerimaan netral terhadap apa yang tidak dapat diubah, melainkan transformasi penuh sikap batin sehingga keinginan seseorang benar-benar selaras dengan kehendak kosmis, tanpa sisa penolakan atau keengganan yang tersembunyi. Marcus menuliskan perumpamaan tentang bagian tubuh yang mustahil menolak fungsinya sendiri sebagai gambaran cita-cita ini: sebagaimana mata tidak dapat menuntut untuk tidak melihat atau kaki menuntut untuk tidak berjalan tanpa merusak kodratnya sendiri, seseorang yang benar-benar memahami dirinya sebagai bagian dari kosmos yang lebih besar akan merasa ganjil menolak apa pun yang ditentukan bagi kosmos itu secara keseluruhan.

Penerapan sikap ini dalam kehidupan nyata Marcus memiliki bobot yang berat, mengingat rentetan kehilangan dan kesulitan yang ia hadapi sepanjang masa pemerintahannya: kematian sebagian besar anaknya, wabah yang menewaskan jutaan rakyatnya, perang yang berkepanjangan dan melelahkan di perbatasan Danube, serta pengkhianatan Avidius Cassius. Justru dalam menghadapi rentetan peristiwa semacam inilah sikap amor fati diuji secara paling keras, sebab jauh lebih mudah menerima takdir secara filosofis ketika takdir itu berupa kejadian abstrak yang jauh dari kehidupan pribadi, dibandingkan ketika takdir itu berupa kematian anak kandung sendiri. Sejumlah bagian dalam Meditations memperlihatkan bahwa Marcus tidak selalu berhasil mencapai penyerasian penuh ini dengan mudah, dan ia berulang kali harus menuliskan kembali nasihat yang sama kepada dirinya sendiri, sebuah pola yang menunjukkan bahwa amor fati bagi Marcus bukan pencapaian yang sekali diraih lalu selesai, melainkan sikap yang harus terus-menerus dilatih ulang setiap kali kehidupan menghadirkan kehilangan baru yang menguji keyakinannya pada kebaikan tatanan kosmis.

Salah satu strategi retoris yang paling sering dipakai Marcus untuk melatih sikap ini adalah membingkai kembali peristiwa buruk sebagai kesempatan untuk melatih kebajikan tertentu, sehingga rintangan itu sendiri berubah menjadi bahan bagi tindakan baik, bukan sekadar penghalang yang harus ditoleransi. Ia menulis bahwa setiap rintangan bagi tindakan dapat memajukan tindakan itu sendiri, dan bahwa apa yang menghalangi jalan dapat menjadi jalan itu sendiri, sebuah gagasan yang telah disinggung dalam pembahasan dikotomi kendali sebelumnya, namun yang di sini mencapai bentuk paling penuhnya sebagai amor fati. Penyakit menjadi kesempatan melatih kesabaran, pengkhianatan menjadi kesempatan melatih pengampunan, kematian orang yang dicintai menjadi kesempatan melatih penerimaan atas kefanaan yang telah lama ia renungkan. Dengan pembingkaian semacam ini, tidak ada peristiwa yang benar-benar dapat menghalangi seseorang untuk bertindak bajik, sebab setiap peristiwa, betapapun buruk tampaknya dari sudut pandang biasa, menyediakan bahan baru bagi kebajikan untuk bekerja, dan karena itu layak diterima, bahkan disambut, bukan sekadar ditoleransi dengan berat hati.

Kosmopolitanisme dan Kewajiban terhadap Sesama

Gagasan kosmopolitanisme dalam pemikiran Marcus Aurelius berakar pada salah satu klaim paling radikal yang pernah diajukan filsafat Yunani-Romawi kuno, yaitu bahwa kesetiaan tertinggi seseorang bukan pertama-tama kepada kota kelahirannya atau bangsanya, melainkan kepada satu komunitas rasional yang meliputi seluruh umat manusia. Istilah kosmopolitēs, “warga kosmos”, pertama kali dikaitkan dengan Diogenes dari Sinope, filsuf Sinis yang ketika ditanya dari kota mana ia berasal, konon menjawab bahwa ia adalah warga dunia. Zeno dari Citium, pendiri Stoisisme yang pada masa mudanya juga bersentuhan dengan lingkaran Sinis di Athena, mengembangkan gagasan ini lebih jauh dalam karyanya yang kini hilang, Republik (Politeia), yang membayangkan sebuah komunitas ideal tanpa batas kota dan tanpa hukum yang terpisah-pisah, sebab semua manusia rasional pada dasarnya hidup di bawah satu hukum yang sama, yaitu hukum alam atau logos itu sendiri. Marcus mewarisi visi ini dan memberinya rumusan yang lebih personal dan reflektif dalam Meditations, sekaligus menghadapi tantangan unik untuk mempraktikkannya sebagai penguasa tertinggi salah satu kekaisaran multietnis terbesar dalam sejarah.

Fondasi metafisis kosmopolitanisme Marcus bertumpu langsung pada fisika Stoa tentang logos yang telah dibahas sebelumnya. Karena setiap manusia memiliki hegemonikon, percikan akal yang berasal dari logos universal yang sama, maka secara ontologis semua manusia adalah bersaudara, terlepas dari kewarganegaraan, bahasa, atau kedudukan sosial mereka. Marcus menulis dalam salah satu bagian yang paling sering dikutip bahwa jika kemampuan berpikir adalah sesuatu yang dimiliki bersama, maka akal yang membuat manusia menjadi makhluk berakal juga dimiliki bersama, dan jika demikian, akal yang memerintahkan apa yang harus dan tidak harus dilakukan juga dimiliki bersama, sehingga hukum pun dimiliki bersama, dan jika hukum dimiliki bersama, maka semua manusia adalah sesama warga negara. Dari rangkaian penalaran berjenjang ini ia menarik kesimpulan bahwa manusia berbagi dalam semacam pemerintahan bersama, dan bahwa dunia pada dasarnya seperti sebuah kota (polis) tunggal. Rumusan ini menjadikan kosmopolitanisme bukan sekadar sikap moral yang dipilih secara sukarela, melainkan konsekuensi logis yang tak terelakkan dari struktur rasional alam semesta itu sendiri.

Dari premis metafisis ini, Marcus juga menyerap doktrin etika Stoa tentang oikeiōsis, yang secara harfiah berarti “pengakraban” atau proses menjadikan sesuatu sebagai kepedulian diri sendiri. Chrysippus merumuskan doktrin ini sebagai bagian dari psikologi moral Stoa, dan pada masa yang hampir bersamaan dengan Marcus, seorang Stoa lain bernama Hierocles memperluasnya menjadi gambaran lingkaran-lingkaran konsentris kepedulian, dengan diri sendiri di pusatnya, meluas berturut-turut ke keluarga inti, kerabat, sesama warga kota, sesama bangsa, hingga akhirnya mencakup seluruh umat manusia. Hierocles menyarankan bahwa tugas etis manusia adalah menarik lingkaran-lingkaran terluar itu semakin dekat ke pusat, memperlakukan orang asing dengan kepedulian yang semakin menyerupai kepedulian terhadap keluarga sendiri. Meski Marcus tidak secara eksplisit memakai istilah lingkaran konsentris ini dalam Meditations, semangatnya tampak jelas dalam berbagai bagian yang menekankan kewajiban untuk bertindak demi kebaikan bersama (to koinōnikon), bukan hanya demi kepentingan kelompok terdekat seseorang.

Kewajiban terhadap sesama dalam kerangka ini bukanlah anjuran altruisme yang bertentangan dengan kepentingan diri, melainkan dipahami sebagai perluasan alami dari kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Marcus berulang kali menggunakan analogi tubuh untuk menjelaskan hubungan ini: sebagaimana tangan atau kaki adalah anggota tubuh yang berfungsi demi keseluruhan tubuh dan akan menjadi cacat jika dipotong darinya, demikian pula manusia yang memisahkan diri dari kepentingan bersama, yang bertindak semata demi dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan sesamanya, pada dasarnya memotong dirinya dari kodrat sosialnya sendiri. Dalam pandangan ini, bertindak tidak adil atau egois terhadap orang lain bukan hanya pelanggaran terhadap orang tersebut, melainkan juga bentuk kerusakan diri sendiri, sebab manusia yang terputus dari komunitas kosmopolitan kehilangan bagian penting dari apa yang menjadikannya utuh sebagai makhluk rasional. Karena itu, menjalankan kewajiban terhadap sesama bagi Marcus bukan pengorbanan yang mengurangi kebaikan diri sendiri, melainkan salah satu jalan untuk mewujudkan kebajikan yang menjadi kebaikan tertinggi manusia, sejalan dengan doktrin Socrates bahwa tidak ada orang yang berbuat salah secara sukarela, sebab setiap kesalahan pada akhirnya berasal dari kekeliruan menilai apa yang sungguh baik.

Penerapan kosmopolitanisme dalam kehidupan Marcus sebagai kaisar menghadirkan ketegangan yang menarik untuk dicermati. Sebagai penguasa Kekaisaran Romawi, ia memimpin sebuah entitas politik nyata dengan batas-batas geografis, hukum-hukum khusus, dan pasukan yang harus mempertahankan perbatasan dari serangan suku-suku Jermanik yang oleh sumber-sumber Romawi sering digambarkan sebagai orang barbar. Terdapat jarak yang tidak dapat diabaikan antara cita-cita filosofis tentang persaudaraan seluruh umat manusia dan kenyataan politik seorang kaisar yang menghabiskan lebih dari satu dekade terakhir hidupnya memimpin perang melawan bangsa lain di perbatasan Danube. Marcus sendiri tampaknya menyadari ketegangan ini, dan dalam sejumlah bagian Meditations ia berusaha mendamaikannya dengan membedakan antara tindakan yang dituntut oleh peran sosial seseorang, dalam hal ini kewajiban seorang kaisar untuk mempertahankan kekaisarannya, dan sikap batin yang harus tetap menampung rasa persaudaraan universal terhadap musuh sekalipun. Ia menasihati dirinya untuk tidak membenci bahkan mereka yang berbuat salah kepadanya, sebab mereka adalah sesama makhluk berakal yang bertindak keliru karena kebodohan atau kesalahpahaman tentang apa yang baik, bukan karena kejahatan yang disengaja.

Kosmopolitanisme Marcus juga mewarnai pandangannya tentang jabatan dan kekuasaan yang ia pegang. Karena semua manusia pada dasarnya setara sebagai sesama warga kosmos yang berbagi logos yang sama, kedudukan sebagai kaisar, betapapun tinggi secara politis, tidak memberikan nilai moral yang lebih tinggi dibandingkan manusia lainnya. Marcus berulang kali mengingatkan dirinya bahwa jubah ungu kekaisaran hanyalah wol yang diwarnai dengan darah siput laut, dan bahwa di balik segala kemegahan seremonial istana, ia tetaplah manusia biasa yang tunduk pada hukum alam yang sama seperti budak, petani, atau pengemis. Sikap ini bukan sekadar retorika kerendahan hati, melainkan konsekuensi logis dari premis kosmopolitan bahwa nilai sejati seseorang terletak pada kebajikan rasionalnya, bukan pada kedudukan sosial yang bersifat kebetulan dan dapat berubah sewaktu-waktu. Justru karena keyakinan inilah Marcus dapat menuliskan nasihat kepada dirinya untuk memperlakukan setiap orang yang ia temui, tanpa memandang kedudukan sosial mereka, sebagai sesama yang layak mendapat keadilan dan kepedulian yang sama.

Karya

  • Ta eis heauton / Meditations (disusun ± 170-180 M, tidak dipublikasikan semasa hidupnya)

Referensi

  • Aurelius, M. (2002). Meditations (G. Hays, Penerj.). Modern Library.
  • Birley, A. R. (1987). Marcus Aurelius: A biography (Rev. ed.). Routledge.
  • Gibbon, E. (1994). The history of the decline and fall of the Roman empire (D. Womersley, Ed.). Penguin Books. (Karya asli diterbitkan 1776-1789)
  • Gill, C. (2013). Marcus Aurelius: Meditations, books 1-6. Oxford University Press.
  • Hadot, P. (1998). The inner citadel: The Meditations of Marcus Aurelius (M. Chase, Penerj.). Harvard University Press. (Karya asli diterbitkan 1992)
  • Hierocles. (2009). Hierocles the Stoic: Elements of ethics, fragments, and excerpts (D. Konstan, Penerj.). Society of Biblical Literature.
  • Holiday, R. (2014). The obstacle is the way: The timeless art of turning trials into triumph. Portfolio.
  • Long, A. A. (2002). Epictetus: A Stoic and Socratic guide to life. Oxford University Press.
  • Long, A. A., & Sedley, D. N. (1987). The Hellenistic philosophers (Vol. 1-2). Cambridge University Press.
  • Nietzsche, F. (1974). The gay science (W. Kaufmann, Penerj.). Vintage Books. (Karya asli diterbitkan 1882)
  • Nietzsche, F. (1979). Ecce homo (R. J. Hollingdale, Penerj.). Penguin Books. (Karya asli diterbitkan 1888)
  • Rutherford, R. B. (1989). The meditations of Marcus Aurelius: A study. Oxford University Press.
  • Sellars, J. (2006). Stoicism. University of California Press.
  • Sellars, J. (2019). Marcus Aurelius. Routledge.

Citation

Previous Article

Max Horkheimer

Next Article

Karl-Otto Apel

Citation copied!