Paradoks Problem of Evil

Problem of Evil

Dipublikasikan: 21 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 21 Oktober 2026

Problem of Evil (Masalah Kejahatan) adalah salah satu persoalan paradoks tertua dan paling banyak dibahas dalam filsafat agama. Akarnya ditelusuri hingga ke dunia kuno. Rumusan klasiknya sering dikaitkan dengan Epikuros, meskipun atribusi itu tidak pasti. Dalam filsafat modern awal, David Hume membahasnya dalam Dialogues Concerning Natural Religion (Bagian X), dan Gottfried Leibniz menciptakan istilah teodise (theodicy) dalam karyanya pada 1710 sebagai upaya membenarkan Tuhan di hadapan keberadaan kejahatan.

Pada abad ke-20, John L. Mackie menerbitkan artikel “Evil and Omnipotence” di jurnal Mind pada 1955, yang dianggap sebagai rumusan kuat dari apa yang disebut masalah logis kejahatan. Alvin Plantinga menanggapinya dengan Pembelaan Kehendak Bebas (Free Will Defense). William Rowe kemudian menerbitkan “The Problem of Evil and Some Varieties of Atheism” pada 1979, yang menurut sebagian pengamat menggantikan argumen Mackie sebagai argumen ateistik kanonik dari kejahatan. Paul Draper melanjutkannya dengan argumen berbeda pada 1989.

Dalam beberapa dekade terakhir, perdebatan bergeser ke teisme skeptis (skeptical theism), yang dirumuskan oleh Stephen Wykstra, Michael Bergmann, dan Peter van Inwagen sebagai jawaban atas argumen evidensial. Draper disebut sebagai orang pertama yang menciptakan istilah itu. Karena itu, topik ini berkembang menjadi program riset yang luas dalam filsafat agama, epistemologi, dan teori probabilitas.

Pengertian Problem of Evil

Masalah kejahatan adalah pertanyaan tentang bagaimana keberadaan kejahatan dan penderitaan dapat sejalan dengan keberadaan Tuhan yang mahakuasa, mahatahu, dan mahabaik. Intinya adalah apakah ada contoh, jenis, jumlah, atau sebaran kejahatan yang tidak sesuai dengan, atau membuat tidak mungkin, keberadaan Tuhan yang sempurna.

Beberapa istilah kunci perlu dipahami.

  • Teisme: keyakinan pada Tuhan pribadi yang mahakuasa, mahatahu, dan mahabaik.
  • Kejahatan moral dan kejahatan alamiah: kejahatan moral berasal dari tindakan makhluk bebas, sedangkan kejahatan alamiah berasal dari proses alam seperti penyakit dan bencana.
  • Kejahatan sia-sia (gratuitous evil): kejahatan yang tidak diperlukan untuk kebaikan yang lebih besar atau untuk mencegah kejahatan yang lebih buruk.
  • Teodise dan pembelaan: teodise berusaha menjelaskan mengapa Tuhan mengizinkan kejahatan, sedangkan pembelaan hanya berusaha menunjukkan bahwa keberadaan kejahatan tidak bertentangan dengan keberadaan Tuhan.
Baca juga :  Max Horkheimer

Rumusan klasiknya berbentuk triad yang tampak saling bertentangan: Tuhan mahakuasa, Tuhan mahabaik, dan kejahatan ada. Jika Tuhan mahabaik, Ia ingin menghapus kejahatan. Jika mahakuasa, Ia mampu melakukannya. Tetapi kejahatan ada. Mackie berargumen bahwa keberadaan Tuhan tidak konsisten dengan keberadaan kejahatan, dan inilah yang disebut versi logis dari masalah itu.

Versi lain, yang disebut versi evidensial atau induktif, tidak mengklaim ketidakkonsistenan logis. Ia hanya menyatakan bahwa kejahatan, terutama yang tampak sia-sia, menjadi bukti yang membuat keberadaan Tuhan tidak mungkin atau kurang mungkin. Perbedaan antara kedua versi ini sangat penting karena menentukan jenis jawaban yang diperlukan.

Argumen Problem of Evil

Masalah Logis Mackie dan Pembelaan Kehendak Bebas

Mackie mengajukan argumen bahwa keberadaan Tuhan dan keberadaan kejahatan tidak dapat benar bersama-sama. Argumen ini menjadi rumusan logis klasik. Tanggapan yang paling berpengaruh datang dari Plantinga, yang berusaha menunjukkan bahwa tidak ada kontradiksi dengan cara membangun skenario yang konsisten. Dalam skenario itu, mungkin saja setiap makhluk bebas, jika diciptakan, akan menyalahgunakan kebebasannya, suatu gagasan yang disebut depravitas lintas-dunia (transworld depravity).

Kajian berikutnya menilai ulang pertukaran ini. Salah satu kajian menyimpulkan bahwa versi logis Mackie gagal, seperti yang akhirnya diakui Mackie sendiri. Namun, bertentangan dengan anggapan populer, kegagalan itu tidak dibuktikan oleh Pembelaan Kehendak Bebas Plantinga, karena sebuah pembelaan hanya berhasil bila tidak masuk akal untuk menolak percaya pada salah satu klaim yang menyusunnya, sedangkan klaim sentral Plantinga, yaitu bahwa setiap esensi mungkin menderita depravitas lintas-dunia, dapat dipertanyakan.

Argumen Evidensial Rowe

Rowe mengalihkan perdebatan dengan argumen evidensial. Ia mengajukan contoh kejahatan yang tampak sia-sia, yaitu penderitaan yang tampaknya tidak membawa kebaikan yang lebih besar, dan menyimpulkan bahwa tidak ada kebaikan yang membenarkan kejahatan itu. Dari sini, menurut argumennya, Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu kemungkinan besar tidak ada. Contoh yang sering dikutip dalam literatur adalah anak rusa yang terbakar dalam kebakaran hutan dan menderita lama sebelum mati.

Kekuatan argumen ini adalah bahwa ia tidak memerlukan klaim kontradiksi logis. Ia cukup menyatakan bahwa jika kejahatan sia-sia tampak ada, itu menjadi alasan untuk meragukan teisme. Premis kunci adalah bahwa kita sering tidak melihat alasan yang memadai bagi Tuhan untuk mengizinkan kejahatan tertentu, dan dari ketidaktampakan itu ditarik kesimpulan bahwa alasan semacam itu memang tidak ada.

Baca juga :  Subjektivisme

Argumen Humean Draper

Draper mengajukan argumen tidak langsung. Alih-alih menyatakan bahwa kejahatan sia-sia ada, ia membandingkan hipotesis teisme dengan hipotesis ketidakpedulian (hypothesis of indifference), yang menyatakan bahwa jika makhluk supranatural ada, mereka tidak peduli pada penderitaan kita. Ia berargumen bahwa sebaran rasa sakit dan senang yang kita amati lebih dapat diharapkan menurut hipotesis ketidakpedulian daripada menurut teisme. Karena itu, kejahatan menjadi bukti yang lebih menguntungkan hipotesis ketidakpedulian.

Argumen ini menarik karena memakai pola penalaran perbandingan hipotesis, dan karena itu dirancang untuk tidak bergantung pada pengetahuan tentang alasan Tuhan secara rinci.

Teisme Skeptis

Tanggapan paling berpengaruh terhadap argumen evidensial adalah teisme skeptis. Intinya, argumen dari kejahatan bergantung pada langkah induktif dari “kita tidak melihat alasan yang memadai bagi Tuhan untuk mengizinkan kejahatan ini” ke “tidak ada alasan yang memadai”. Teis skeptis menyatakan bahwa langkah itu tidak beralasan, karena kemampuan kognitif kita terbatas dibandingkan dengan Tuhan.

Wykstra mengajukan versi awal sebagai tanggapan atas Rowe, dengan bertumpu pada dua jenis prinsip, yaitu prinsip epistemik tentang kapan ketidaktampakan merupakan bukti dan klaim tentang jarak antara pengetahuan manusia dan Tuhan. William Alston memperluasnya dengan menelaah kondisi kognitif manusia dalam kaitannya dengan argumen induktif dari kejahatan. Michael Bergmann kemudian merumuskan versi yang dirancang menghadapi argumen baru Rowe, dan Rowe menanggapinya. Plantinga juga mengkritik argumen baru Rowe dari sudut bukti yang merosot (degenerate evidence).

Teisme skeptis juga menuai kritik. Pengkritik mempertanyakan konsekuensinya bagi penalaran moral dan bagi pengetahuan sehari-hari: jika kita begitu terbatas dalam menilai alasan Tuhan, mengapa kita yakin pada penilaian moral kita sendiri? Kritik semacam ini memicu perdebatan berkepanjangan.

Kejahatan Mengerikan dan Teodise

Marilyn McCord Adams mengangkat persoalan kejahatan yang mengerikan (horrendous evils), yaitu kejahatan yang begitu dahsyat sehingga membuat hidup pelaku atau korbannya tampak tidak layak dijalani. Ia berargumen bahwa Tuhan yang baik bukan hanya harus menyeimbangkan kejahatan seperti itu, melainkan menjadikannya terintegrasi dalam kebaikan yang lebih besar dalam kehidupan individu yang menderita. Pendekatan ini bergeser dari teodise yang menekankan kebaikan agregat ke teodise yang menekankan nasib individu.

Baca juga :  Humanisme

Dalam kajian yang lebih umum, teodise dipandang sebagai proyek yang termotivasi oleh argumen dari kejahatan dan ditimbang kembali setelah kritik teisme skeptis. Perdebatan antara teodise dan teisme skeptis menjadi salah satu garis pemisah utama dalam kajian modern.

Batasan dan Kritik

Beberapa catatan perlu diingat. Pertama, istilah “masalah kejahatan” mencakup beberapa masalah berbeda, yaitu logis, evidensial, dan eksistensial, sehingga keberhasilan jawaban untuk satu versi tidak otomatis berlaku untuk yang lain. Kedua, argumen evidensial bergantung pada penilaian probabilitas yang sulit diverifikasi, terutama tentang apa yang diketahui dan tidak diketahui manusia. Ketiga, jawaban teisme skeptis dan teodise menuntut komitmen metafisis dan epistemik yang diperdebatkan. Keempat, rumusan masalah ini bertumpu pada konsepsi tertentu tentang Tuhan, sehingga relevansinya berbeda dalam tradisi religius yang berbeda.

Meski demikian, masalah kejahatan tetap menjadi salah satu tantangan paling serius bagi kepercayaan teistik. Ia mendorong perkembangan teori probabilitas dalam filsafat agama, refleksi tentang batas pengetahuan manusia, dan penelitian tentang makna penderitaan.

Referensi

  • Adams, M. M. (1989). Horrendous evils and the goodness of God. Proceedings of the Aristotelian Society, Supplementary Volumes, 63, 297–310.
  • Alston, W. P. (1991). The inductive argument from evil and the human cognitive condition. Philosophical Perspectives, 5, 29–67.
  • Bergmann, M. (2001). Skeptical theism and Rowe’s new evidential argument from evil. Noûs, 35(2), 278–296.
  • Draper, P. (1989). Pain and pleasure: An evidential problem for theists. Noûs, 23(3), 331–350.
  • Mackie, J. L. (1955). Evil and omnipotence. Mind, 64(254), 200–212.
  • Plantinga, A. (1998). Degenerate evidence and Rowe’s new evidential argument from evil. Noûs, 32(4), 531–544.
  • Rowe, W. L. (1979). The problem of evil and some varieties of atheism. American Philosophical Quarterly, 16(4), 335–341.
  • Rowe, W. L. (2006). Friendly atheism, skeptical theism, and the problem of evil. International Journal for Philosophy of Religion, 59(2), 79–92.
  • Wykstra, S. J. (1984). The Humean obstacle to evidential arguments from suffering: On avoiding the evils of “appearance.” International Journal for Philosophy of Religion, 16(2), 73–93.

Citation

Previous Article

Alan Gilbert dan Josef Gugler - Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga | Review & Ebook

Next Article

Appeal to Emotion Fallacy

Citation copied!