Anarko-Sindikalisme

Dipublikasikan: 19 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 19 Oktober 2026

Anarko-sindikalisme adalah aliran dalam anarkisme dan gerakan buruh yang berpandangan bahwa serikat pekerja revolusioner (sindikat) adalah alat sekaligus kerangka masyarakat baru. Para penganutnya menolak negara dan kapitalisme, dan percaya bahwa pekerja yang terorganisasi dapat melumpuhkan tatanan lama lewat aksi langsung, terutama pemogokan umum, lalu mengelola produksi dan kehidupan sosial sendiri melalui dewan pekerja yang dihubungkan dalam federasi menurut wilayah dan industri. Anarko-sindikalisme lebih tepat disebut strategi dan model organisasi dalam tradisi anarkis dan sosialis libertarian daripada ideologi yang berdiri sendiri, karena ia memadukan tujuan anarkis dengan metode serikat buruh.

Aliran ini tumbuh pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dari pertemuan dua arus. Arus pertama adalah anarkisme kolektivis ala Bakunin dalam Perhimpunan Pekerja Internasional, yang menentang strategi Marx merebut kekuasaan negara. Arus kedua adalah sindikalisme revolusioner Prancis, yang berkembang dalam Confédération Générale du Travail (CGT) dan mengambil bentuk tegasnya dalam Piagam Amiens (1906). Anarko-sindikalisme mencapai puncaknya di Spanyol melalui Confederación Nacional del Trabajo (CNT), yang pada 1930-an memiliki jutaan anggota dan mengelola pabrik serta pertanian kolektif selama Revolusi Spanyol 1936. Organisasi sejenis berdiri di Argentina, Swedia, Jerman, Italia, Rusia, dan Amerika Serikat, termasuk Industrial Workers of the World (IWW) yang berbeda dalam beberapa hal tetapi dekat dalam semangat.

Setelah kekalahan Republik Spanyol pada 1939 dan naiknya fasisme serta negara kesejahteraan, anarko-sindikalisme kehilangan massa, tetapi tidak hilang. Internasional Pekerja (IWA-AIT), yang didirikan pada 1922 di Berlin, tetap ada, dan serikat seperti CNT, Confederación General del Trabajo (CGT) Spanyol, dan Solidarity Federation di Inggris meneruskan tradisinya. Para pendukungnya memandangnya sebagai jalan menuju demokrasi ekonomi yang tumbuh dari bawah. Para pengkritiknya, dari kaum Marxis hingga liberal, mempertanyakan apakah serikat dapat mengelola ekonomi kompleks tanpa koordinasi pusat, dan apakah pemogokan umum cukup untuk menggulingkan negara.

Pengertian Anarko-Sindikalisme

Anarko-sindikalisme dipahami sebagai doktrin yang menyatakan bahwa kelas pekerja harus membebaskan dirinya melalui organisasi ekonomi sendiri, yaitu serikat yang berjuang demi kepentingan sehari-hari sekaligus mempersiapkan pengambilalihan produksi dan penghapusan negara. Rudolf Rocker dalam Anarcho-Syndicalism (1938) merumuskannya sebagai gerakan yang bertujuan membebaskan pekerja dari eksploitasi ekonomi dan penindasan politik dan sosial, dengan syarat bahwa penghapusan monopoli ekonomi dan kekuasaan negara harus berjalan bersama.

Istilah ini dibentuk dari “anarko”, yang berasal dari bahasa Yunani an-archos (tanpa penguasa), dan “sindikalisme”, yang berasal dari kata Prancis syndicat (serikat) dan akhirnya bahasa Yunani syndikos, yang berarti pembela atau wakil bersama. Kata syndicalisme di Prancis semula hanya berarti gerakan serikat buruh, lalu dipakai khusus bagi aliran revolusioner yang menolak aksi parlementer. Penambahan “anarko” menandai aliran yang tidak hanya menekankan aksi ekonomi, tetapi juga mengaitkannya dengan kritik anarkis terhadap negara dan hierarki.

Anarko-sindikalisme dibedakan dari beberapa konsep dekat. Sindikalisme revolusioner adalah payung yang lebih luas, termasuk aliran yang tidak secara tegas anarkis, dan sebagian anarkis seperti Errico Malatesta mengkritiknya karena menganggap serikat terlalu terbatas pada kepentingan kerja. Marxisme menekankan partai dan perebutan kekuasaan negara, sedangkan anarko-sindikalisme menolak keduanya. Sosialisme gilda di Inggris menginginkan industri dikelola serikat tetapi memberi peran bagi negara, dan komunisme dewan, yang diwakili Anton Pannekoek, juga menekankan dewan pekerja tetapi berasal dari tradisi Marxis. Serikat buruh reformis berjuang di dalam kapitalisme tanpa tujuan menggantikannya. Perbedaan ini membuat batas anarko-sindikalisme kerap diperdebatkan.

Ciri-Ciri Anarko-Sindikalisme

Serikat sebagai Alat Perjuangan dan Kerangka Masyarakat Baru

Gagasan paling khas anarko-sindikalisme adalah bahwa serikat pekerja memiliki dua fungsi sekaligus. Di bawah kapitalisme, serikat adalah alat perjuangan sehari-hari: menuntut upah yang lebih baik, jam kerja yang lebih pendek, dan keselamatan kerja. Pada saat yang sama, serikat adalah kerangka tempat pekerja belajar mengatur diri, sehingga ia menjadi benih organisasi masyarakat setelah kapitalisme dan negara dihapus. Kalimat Perhimpunan Pekerja Internasional yang sering dikutip, bahwa pembebasan kelas pekerja harus menjadi karya kelas pekerja sendiri, dan ungkapan Bakunin tentang membangun masyarakat baru di dalam cangkang yang lama, menjadi dasar gagasan ini. Ukurannya sederhana: bentuk organisasi yang dipakai untuk berjuang harus sudah mencerminkan hubungan yang dicita-citakan, yaitu kesetaraan, keputusan dari bawah, dan tanggung jawab bersama.

Pertemuan serikat dan tujuan anarkis dirumuskan paling jelas di Prancis. Fernand Pelloutier memimpin Federasi Bursa Kerja (Fédération des Bourses du Travail) pada 1890-an. Bursa kerja pada awalnya adalah balai yang menyalurkan lowongan, tetapi di tangan Pelloutier ia menjadi pusat pendidikan, perpustakaan, bantuan bagi penganggur, dan koordinasi pemogokan di tiap kota. Dalam tulisannya, ia menekankan bahwa pekerja harus belajar mengelola sendiri sebelum merebut produksi, dan karena itu pendidikan menjadi bagian inti perjuangan. Federasi ini bergabung dengan federasi serikat berbasis industri membentuk Confédération Générale du Travail (CGT) pada 1902. Piagam Amiens (1906) menyatakan bahwa CGT berjuang untuk perbaikan langsung sekaligus bekerja bagi pembebasan penuh yang hanya dapat dicapai lewat pengambilalihan kapitalis, dengan pemogokan umum sebagai sarana, dan bahwa serikat akan menjadi kelompok produksi dan distribusi, dasar reorganisasi sosial. Piagam itu juga menegaskan independensi serikat dari partai dan sekte politik, sebuah penolakan terhadap pola Marxis yang menempatkan partai di atas serikat.

Rudolf Rocker memberi uraian paling sistematis tentang struktur serikat. Dalam Anarcho-Syndicalism (1938), ia menyatakan bahwa sindikat bukan hanya alat perebutan tuntutan, tetapi sekolah praktik sosialisme, tempat pekerja belajar mengambil keputusan, mengatur produksi, dan mengelola solidaritas. Ia menggambarkan dua jenis lembaga yang saling melengkapi. Bursa kerja dan federasi lokal menghubungkan semua pekerja di satu daerah lintas profesi, sehingga memberi dasar solidaritas wilayah, sedangkan federasi industri menghubungkan pekerja satu cabang di seluruh negeri. Keduanya terhubung dalam konfederasi nasional dan akhirnya internasional. Struktur ini memiliki ciri khas: keputusan diambil dari bawah, delegasi membawa mandat dan dapat ditarik kembali, pejabat berbayar diminimalkan, dan tiap kelompok mempertahankan hak menentukan urusannya sendiri. Rocker membedakan model ini dari serikat reformis yang dijalankan birokrasi berbayar dan dari partai yang menarik kekuasaan ke atas.

Model organisasi itu mencerminkan keyakinan tentang sumber kekuasaan pekerja. Pekerja tidak punya modal, tetapi punya posisi dalam produksi: tanpa mereka pabrik berhenti, kereta tidak berjalan, dan tambang tidak beroperasi. Serikat mengubah posisi itu menjadi kekuatan melalui organisasi dan solidaritas. Karena itu anarko-sindikalis menolak anggapan bahwa kekuatan berasal dari kursi parlemen, dan menganggap perwakilan politik justru melemahkan pekerja karena memindahkan keputusan ke para wakil. Georges Sorel dalam Reflections on Violence (1908) menambahkan unsur psikologis lewat gagasan “mitos”, yaitu gambaran tentang pemogokan umum yang menggerakkan semangat pekerja walaupun mungkin tidak persis terjadi. Sorel bukan seorang anarkis dan kemudian bergerak ke arah politik berbeda, tetapi karyanya memengaruhi sindikalis dalam menekankan semangat dan moral perjuangan.

Contoh paling lengkap adalah CNT di Spanyol, yang didirikan pada 1910 di Barcelona. Berbeda dari CGT Prancis yang menolak keterikatan pada partai tetapi tidak sepenuhnya anarkis, CNT sejak 1919 menyatakan tujuan komunisme libertarian dan membentuk sindikat berbasis industri (sindicato único) menggantikan serikat per profesi. Pada 1927 para anarkis membentuk Federasi Anarkis Iberia (FAI) untuk menjaga arah anarkis di dalam CNT, sehingga muncul ketegangan antara kelompok yang menekankan perjuangan serikat dan kelompok yang menekankan kemurnian ideologi. Pada 1936, CNT memiliki sekitar satu juta anggota. Ketika kudeta Franco gagal di Barcelona karena perlawanan pekerja bersenjata, serikat mengambil alih pabrik, transportasi, dan layanan kota, dan di Aragon serta Catalonia kolektif pertanian dikelola komite desa. Pengalaman itu menjadi bukti bagi para pendukung bahwa serikat dapat berfungsi sebagai kerangka masyarakat. Sejarawan masih memperdebatkan seberapa jauh hasil ekonominya berhasil, dan seberapa banyak yang dipengaruhi perang, kekurangan bahan baku, dan kehadiran paksaan di sebagian kolektif.

Gagasan serikat sebagai kerangka masyarakat baru menghadapi beberapa keberatan. Kaum Marxis berpendapat bahwa serikat sendiri hanya dapat mencapai kesadaran serikat dan memerlukan partai untuk memimpin perebutan kekuasaan, seperti argumen Lenin dalam What Is to Be Done? (1902). Anarkis seperti Errico Malatesta mengingatkan bahwa serikat dibentuk atas dasar kepentingan ekonomi sehingga cenderung menjadi moderat dan birokratis ketika berhasil, dan tidak dapat menggantikan kelompok anarkis yang menjaga tujuan akhir. Pengalaman memperkuat kekhawatiran itu: sebagian serikat Prancis dan Spanyol, ketika membesar, menghadapi munculnya pejabat berpengaruh, dan CNT sendiri memasuki pemerintahan Republik pada November 1936 dengan menempatkan empat menteri, termasuk Federica Montseny, yang oleh banyak anarkis dinilai melanggar prinsip. Pertanyaan lebih mendasar menyangkut kapasitas: apakah serikat berbasis tempat kerja dapat mewakili mereka yang tidak bekerja di industri, seperti pengangguran, pekerja informal, penjaga rumah, atau penyandang disabilitas, dan apakah pola ini dapat berfungsi dalam ekonomi jasa dan digital yang terfragmentasi. Anarko-sindikalis kontemporer menjawabnya dengan memperluas serikat ke pekerja prekariat dan jaringan solidaritas lintas sektor.

Aksi Langsung dan Pemogokan Umum

Aksi langsung adalah tindakan yang dilakukan sendiri oleh pekerja yang berkepentingan terhadap majikan atau penguasa, tanpa perantara wakil politik, hakim, atau partai. Bagi anarko-sindikalis, prinsip ini adalah jawaban atas pertanyaan tentang dari mana kekuatan pekerja berasal. Kekuatan itu bukan hasil pemilu atau undang-undang yang diberikan dari atas, melainkan kemampuan menghentikan produksi dan menunjukkan bahwa tatanan bergantung pada kerja mereka. Rudolf Rocker dalam Anarcho-Syndicalism (1938) menyatakan bahwa hak yang diperoleh pekerja selalu hasil perjuangan sendiri, dan bahwa hak yang diberikan melalui parlemen dapat ditarik kembali ketika kekuatan di belakangnya melemah. Karena itu aksi langsung bukan sekadar taktik, melainkan juga cara pendidikan: pekerja yang pernah menang lewat mogok belajar bahwa mereka mampu bertindak tanpa pemimpin yang memerintah.

Bentuk aksi langsung beragam dan meningkat dalam intensitasnya. Yang paling umum adalah pemogokan, mulai dari mogok sebagian dan sementara hingga mogok panjang dengan dana solidaritas. Ada pula boikot, yaitu penolakan membeli atau menangani produk perusahaan tertentu, dan label, yaitu penolakan pekerja membuat atau memakai barang buatan pekerja yang sedang diperselisihkan. Sabotase dalam pengertian sindikalis, yang dikembangkan antara lain oleh Émile Pouget, berarti memperlambat kerja atau bekerja persis menurut aturan (work-to-rule), bukan merusak mesin sembarangan, sebagai cara menekan majikan tanpa kehilangan upah. Taktik lain adalah pendudukan pabrik, seperti yang terjadi di Italia pada September 1920, ketika sekitar setengah juta pekerja metalurgi menduduki pabrik dan menjalankannya sendiri selama hampir sebulan. Peristiwa itu, yang melibatkan anarko-sindikalis dari Uni Sindikalis Italia, menunjukkan kemampuan produksi tanpa pemilik, tetapi berakhir lewat perundingan dan tanpa perubahan struktural, sehingga kemudian memperkuat reaksi fasis.

Pemogokan umum menempati kedudukan khusus. Gagasannya adalah bahwa bila pekerja di semua sektor berhenti bekerja secara bersamaan, tatanan ekonomi dan politik akan lumpuh dan kelas penguasa terpaksa menyerah, atau pekerja dapat mengambil alih produksi. Gagasan ini sudah muncul pada gerakan Chartist di Inggris pada 1830-an dan dibahas dalam Internasional Pertama, tetapi para anarko-sindikalis menjadikannya pusat strategi. Di Prancis, CGT pada Kongres Bordeaux (1904) dan Piagam Amiens (1906) menyatakan pemogokan umum sebagai sarana pembebasan, dan mogok 1 Mei 1906 untuk hari kerja delapan jam dipakai sebagai latihan. Georges Sorel menyebutnya “mitos”, yaitu gambaran yang menggerakkan semangat pekerja tanpa perlu persis terwujud, dan membedakannya dari pemogokan umum politik yang diusulkan sosialis parlementer untuk menekan pemerintah. Fernand Pelloutier lebih dulu memandangnya sebagai tindakan revolusioner pekerja sendiri.

Baca juga :  Achilles and the Tortoise Paradox

Sejarah mencatat sejumlah pemogokan umum besar. Pemogokan umum Belgia pada 1893 dan 1902 menuntut hak pilih universal, dan pemogokan Swedia pada 1909 melibatkan ratusan ribu pekerja. Revolusi Rusia 1905 dimulai dengan gelombang mogok yang mendorong pembentukan dewan pekerja (soviet) pertama, dan Rosa Luxemburg dalam The Mass Strike (1906) menafsirkannya sebagai bentuk perjuangan spontan yang menyatukan tuntutan ekonomi dan politik, meski ia seorang Marxis dan tidak menganggapnya jalan pintas menghapus negara. Mogok umum Inggris pada Mei 1926, yang didukung sekitar 1,7 juta pekerja sebagai solidaritas untuk penambang batu bara, berakhir setelah sembilan hari ketika Kongres Serikat Buruh memutuskan menghentikannya. Di Spanyol, CNT mengorganisasi banyak mogok umum dan pemberontakan lokal pada 1932-1933, dan pada Juli 1936 mogok serta perlawanan bersenjata pekerja menghentikan kudeta di Barcelona. Pada 1968, mogok umum Prancis yang melibatkan sekitar sepuluh juta pekerja bersama gerakan mahasiswa menunjukkan skala yang mungkin, walaupun hasil politiknya terbatas.

Dari pengalaman ini, anarko-sindikalis menarik pelajaran dan menghadapi kesulitan. Pemogokan umum membutuhkan organisasi besar, dana, dan solidaritas, dan pekerja yang tidak memiliki cadangan sulit bertahan. Pemerintah dapat memakai tentara, pemecatan, dan pelarangan, dan banyak mogok umum gagal karena kekuatan mereka tak diikuti rencana pengambilalihan. Malatesta, yang mendukung aksi langsung, mengkritik anggapan bahwa pemogokan umum dengan sendirinya cukup: bila pekerja tidak siap mengambil alih produksi dan mempertahankan diri, mogok hanya menghasilkan kelaparan di pihak mereka sendiri. Kaum Marxis seperti Engels dalam kritiknya terhadap Bakunin menilai bahwa pemogokan umum tanpa organisasi politik tidak menjawab persoalan siapa yang memegang kekuasaan sesudahnya. Pada saat yang sama, perubahan struktur ekonomi mempersulit pelaksanaannya: industri tersebar, rantai pasok global memungkinkan pengusaha memindahkan produksi, dan pekerja informal serta kontrak jangka pendek sulit diorganisasi. Gerakan kontemporer menanggapinya dengan bentuk baru, seperti mogok solidaritas lintas sektor, mogok perempuan internasional pada 8 Maret, dan mogok iklim.

Persoalan kekerasan juga menjadi bahan perdebatan. Anarko-sindikalis umumnya berpendapat bahwa aksi langsung tidak sama dengan terorisme individual, yang pada akhir abad ke-19 dipraktikkan sebagian anarkis dengan “propaganda lewat perbuatan”. Pouget, Pelloutier, dan Rocker menolak jalan itu dan menekankan aksi massa terorganisasi. Namun garis antara pembelaan diri dan kekerasan tidak selalu jelas. Dalam Revolusi Spanyol, pekerja bersenjata menumpas kudeta, dan sebagian kelompok FAI melakukan eksekusi terhadap lawan, termasuk pemuka agama dan pemilik, sehingga menimbulkan perdebatan di dalam gerakan. Aksi langsung juga dikritik karena dapat memancing represi yang menghancurkan organisasi, seperti pada penumpasan terhadap IWW di Amerika Serikat pada 1917-1920. Pendukungnya menjawab bahwa risiko itu melekat pada setiap perjuangan nyata, dan bahwa pilihan tidak berjuang berarti membiarkan kondisi kerja ditentukan sepihak oleh majikan.

Penolakan terhadap Negara dan Politik Parlementer

Anarko-sindikalisme mewarisi dari anarkisme klasik keyakinan bahwa negara bukan alat netral yang dapat dipakai siapa saja, melainkan lembaga yang secara struktural melayani kelas pemilik dan memusatkan kekuasaan. Rudolf Rocker dalam Anarcho-Syndicalism (1938) berargumen bahwa negara dan kapitalisme tumbuh bersama: negara menegakkan hak milik, memelihara tentara dan polisi, dan menjaga hierarki yang membuat pekerja bergantung pada majikan. Ia menolak pandangan bahwa penguasaan kekuasaan politik dapat mendahului pembebasan ekonomi. Menurutnya, perubahan sejati harus berasal dari kesadaran dan kemampuan pekerja mengelola kehidupan ekonominya sendiri, sedangkan kekuasaan politik yang diperoleh lebih dulu hanya akan menciptakan kelas penguasa baru. Karena itu penolakan terhadap negara dan penolakan terhadap kapitalisme dianggap satu perjuangan, bukan dua tahap yang dapat dipisah.

Penolakan ini terutama dirumuskan dalam perdebatan dengan Marxisme pada Perhimpunan Pekerja Internasional. Marx dan Engels berpendapat bahwa kelas pekerja harus membentuk partai politik dan merebut kekuasaan negara, termasuk lewat pemilu bila memungkinkan, sebagaimana diputuskan pada Konferensi London 1871 dan Kongres Den Haag 1872. Mikhail Bakunin dan para pengikutnya menjawab bahwa “negara rakyat” Marxis hanya akan menggantikan elite lama dengan birokrat dan kaum terpelajar yang memerintah atas nama proletariat. Bakunin memperingatkan bahwa orang yang memegang kekuasaan berubah oleh kekuasaan itu, sehingga kaum sosialis yang masuk parlemen akan menyesuaikan diri dengan tatanan yang ingin mereka ubah. Perselisihan itu berujung pada pengusiran Bakunin pada 1872 dan perpecahan gerakan. Ramalan Bakunin sering dikutip para anarko-sindikalis ketika menyaksikan partai sosial demokrat Jerman menjadi mesin birokratis yang mendukung perang pada 1914, dan ketika Uni Soviet berkembang menjadi negara pemusatan kekuasaan.

Politik parlementer dikritik dari beberapa sisi. Pertama, perwakilan memindahkan keputusan dari orang yang terdampak kepada wakil yang berjarak dari mereka. Pekerja memilih sekali dalam beberapa tahun lalu menyerahkan kuasa, sedangkan keputusan yang menentukan upah, jam kerja, dan keselamatan diambil oleh pemilik dan manajer tanpa suara mereka. Kedua, parlemen dipandang bekerja dalam bayang-bayang kekuatan ekonomi: pemilik modal dapat memengaruhi partai, media, dan kebijakan lewat dana dan ancaman memindahkan investasi. Ketiga, partisipasi elektoral dianggap melatih pekerja menjadi penonton, bukan pelaku. Karena itu anarko-sindikalis menyerukan aksi langsung, bukan kampanye pemilu, dan mengajak pekerja membangun organisasi sendiri. Piagam Amiens (1906) menyatakan bahwa serikat tidak bergantung pada partai dan sekte politik, meski anggotanya bebas berpolitik di luar serikat.

Sikap itu tidak seragam. CNT di Spanyol menyerukan abstain dalam pemilu 1933, dan sebagian sejarawan menilai bahwa kampanye itu membantu kemenangan sayap kanan. Pada Februari 1936, sebagian besar anggota CNT memilih secara diam-diam untuk Front Rakyat, yang membebaskan tahanan politik, dan kemenangan Front Rakyat dibaca sebagai bukti bahwa sikap abstain tidak dijalankan secara kaku. Puncak kontradiksi terjadi pada November 1936, ketika CNT memasuki pemerintahan Republik dengan empat menteri, termasuk Federica Montseny sebagai menteri kesehatan, dan Juan Peiró serta Joan García Oliver. Mereka berargumen bahwa perang melawan Franco dan keselamatan revolusi menuntut kerja sama. Sebagian anarkis, seperti Camillo Berneri yang dibunuh pada Mei 1937, dan kelompok Sahabat Durruti, mengecam keputusan itu sebagai pengkhianatan prinsip. Sejarawan dan para anarkis sendiri masih memperdebatkan apakah keputusan itu menyelamatkan atau melemahkan revolusi.

Sikap terhadap negara tidak berarti penolakan terhadap semua organisasi. Anarko-sindikalis menggantikan lembaga negara dengan federasi dewan pekerja dan komune, yang mengatur produksi dan layanan sosial dari bawah. Rocker membedakan antara pemerintahan atas manusia dan pengelolaan hal-hal, dengan menyatakan bahwa kebutuhan akan koordinasi tidak sama dengan kebutuhan akan penguasa. Tugas administrasi, seperti transportasi, pasokan, pendidikan, dan kesehatan, dijalankan oleh delegasi yang dipilih dan dapat ditarik kembali. Namun ini memunculkan pertanyaan yang sudah lama diajukan para kritikus: siapa yang menegakkan keputusan, menangani pelanggaran, dan membela wilayah dari serangan luar? Jawaban anarko-sindikalis adalah milisi rakyat sukarela, peradilan komunitas, dan tekanan sosial, tetapi pengalaman Spanyol memperlihatkan bahwa perang mendorong pembentukan komando terpusat dan disiplin, sehingga sebagian pimpinan CNT menerima militerisasi milisi pada awal 1937.

Penolakan ini diserang dari berbagai arah. Kaum Marxis-Leninis, seperti Lenin dalam The State and Revolution (1917), berpendapat bahwa negara borjuis harus dihancurkan tetapi diganti negara pekerja sementara untuk menumpas perlawanan, sehingga menolak negara sama sekali berarti membiarkan kelas penguasa kembali. Demokrat sosial seperti Eduard Bernstein menilai bahwa reformasi parlementer telah menghasilkan perbaikan nyata, dari hak pilih universal hingga jaminan sosial, sehingga menolaknya mengabaikan capaian yang diraih pekerja dengan cara itu. Liberal dan konservatif menilai bahwa tanpa lembaga publik dengan wewenang memaksa, ketertiban dan perlindungan hak minoritas sulit dijamin. Sebagian anarko-sindikalis kontemporer menanggapinya dengan sikap lebih bernuansa: mereka tetap menolak partai dan jabatan, tetapi mendukung aksi tekanan terhadap pemerintah demi tuntutan konkret dan menilai perbaikan hukum sebagai hasil perjuangan, bukan sebagai tujuan akhir. Perdebatan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya apakah negara dihapus, melainkan bagaimana kekuasaan yang tersebar dapat dijaga tanpa melahirkan kembali pemusatan.

Dewan Pekerja dan Federalisme

Dewan pekerja adalah lembaga tempat pekerja di satu tempat kerja, desa, atau lingkungan berkumpul untuk memutuskan urusan bersama secara langsung, dan federalisme adalah cara menghubungkan dewan-dewan itu tanpa menyerahkan kuasa kepada pusat. Keduanya menjawab pertanyaan yang selalu diajukan kepada anarkis: bila negara dihapus, bagaimana masyarakat yang kompleks dikoordinasikan? Jawaban anarko-sindikalis adalah koordinasi dari bawah ke atas. Setiap kelompok mengatur urusan yang menyangkut dirinya sendiri, dan hal yang menyangkut lebih banyak pihak dirundingkan melalui delegasi yang membawa mandat dari kelompok asalnya, dapat ditarik kembali kapan saja, dan tidak berwenang memutuskan di luar mandat itu.

Landasan teoretis federalisme berasal dari Pierre-Joseph Proudhon. Dalam The Principle of Federation (1863), ia berargumen bahwa kedaulatan tidak boleh diserahkan kepada pusat. Kelompok-kelompok yang mandiri bergabung lewat perjanjian timbal balik untuk tujuan tertentu, dan tiap kelompok mempertahankan hak menentukan urusannya sendiri serta hak menarik diri. Proudhon membedakannya dari negara kesatuan, yang menurutnya menyerap semua kewenangan ke atas. Mikhail Bakunin mengembangkan gagasan itu ke arah kolektivis dan revolusioner: masyarakat baru tersusun dari komune bebas yang berfederasi menjadi provinsi, bangsa, dan akhirnya federasi internasional, dengan serikat pekerja sebagai kerangka ekonominya. Dari tradisi inilah lahir struktur yang kemudian dirumuskan Rudolf Rocker dalam Anarcho-Syndicalism (1938): dewan di tiap tempat kerja, dihubungkan dalam federasi lokal lintas profesi dan federasi industri lintas wilayah, lalu bertemu dalam konfederasi.

Rocker menekankan bahwa struktur itu memiliki dua sumbu yang saling melengkapi. Sumbu wilayah, yang berpusat pada bursa kerja atau dewan lokal, menyatukan semua pekerja di satu kota dan menangani kebutuhan bersama seperti pasokan, perumahan, dan pendidikan. Sumbu industri menghubungkan pekerja satu cabang produksi di seluruh negeri, sehingga perencanaan produksi dapat dikoordinasikan, misalnya kebutuhan bahan baku bagi tekstil atau kereta api. Dengan dua sumbu ini, tidak ada satu lembaga yang memonopoli keputusan. Rocker juga menyatakan bahwa mandat delegasi bersifat sempit dan sementara, pejabat tetap berbayar diminimalkan, dan keputusan penting dikembalikan kepada rapat anggota. Karena itu perbedaan dengan sistem perwakilan parlementer terletak pada sifat delegasi: wakil parlemen bebas bertindak menurut penilaiannya selama masa jabatan, sedangkan delegasi sindikalis adalah juru bicara kelompoknya.

Dewan pekerja juga muncul secara spontan dalam sejarah, dan pengalaman itu mendorong para teoretikus. Pada Revolusi Rusia 1905, dewan pekerja (soviet) muncul di Saint Petersburg sebagai komite pemogokan yang kemudian mengoordinasikan kehidupan kota. Pada 1917, soviet kembali menjadi pusat kekuasaan, tetapi Bolshevik secara bertahap menundukkannya kepada partai, sehingga slogan “semua kekuasaan untuk soviet” berakhir menjadi kekuasaan partai. Pemberontakan Kronstadt pada Maret 1921 menuntut soviet yang dipilih bebas tanpa partai dan ditumpas Tentara Merah. Di Jerman, dewan pekerja dan prajurit (Räte) muncul dalam Revolusi 1918-1919 dan di Hungaria 1919, dan di Italia dewan pabrik di Turin (1919-1920) dipromosikan Antonio Gramsci dan kelompok Ordine Nuovo. Anton Pannekoek di Belanda mengembangkan komunisme dewan, yang dekat dengan anarko-sindikalisme dalam menekankan dewan, tetapi berasal dari tradisi Marxis dan mempertahankan gagasan kediktatoran dewan. Hannah Arendt dalam On Revolution (1963) menilai bahwa dewan semacam itu, dari komune Paris hingga soviet dan Räte serta dewan Hungaria 1956, adalah bentuk partisipasi politik yang kembali muncul dalam tiap revolusi dan selalu ditumpas partai.

Baca juga :  Sinisme

Pengalaman paling lengkap dalam tradisi anarko-sindikalis terjadi di Spanyol 1936-1939. Di Catalonia, pekerja CNT mengambil alih pabrik, transportasi, dan layanan kota, dan pengelolaannya dijalankan komite pekerja dengan koordinasi lewat serikat industri. Di Aragon dan sebagian wilayah Valencia dan Andalusia, kolektif pertanian dikelola komite desa dan diikat dalam federasi wilayah, dan Dewan Daerah Pertahanan Aragon dibentuk Oktober 1936 sebagai badan koordinasi. Studi oleh Gaston Leval, Sam Dolgoff, dan kemudian Frank Mintz mendokumentasikan kolektif yang menghapus uang, memakai kupon, atau mempertahankan upah keluarga, dan sebagian melaporkan kenaikan produksi dan perluasan sekolah serta layanan. Namun sejarawan juga mencatat paksaan di beberapa kolektif, tekanan terhadap petani yang menolak bergabung, dan kekurangan bahan baku akibat perang. Pada 1937, pemerintah Republik membubarkan Dewan Aragon dan mengirim pasukan menumpas sebagian kolektif, dan Mei 1937 di Barcelona membuat kekuatan pekerja anarkis dan Marxis non-Stalinis tertekan. Penafsir seperti Murray Bookchin dalam The Spanish Anarchists (1977) menilai bahwa bagaimanapun terbatasnya hasil, pengalaman itu membuktikan kemampuan pekerja mengelola produksi.

Pertanyaan teknis tentang skala menjadi keberatan utama. Mengoordinasikan ekonomi nasional lewat delegasi dan federasi membutuhkan informasi dan proses panjang, dan sebagian kritikus menilai rapat dan mandat yang mengikat membuat keputusan lamban. Jo Freeman dalam “The Tyranny of Structurelessness” (1972) menunjukkan bahwa kelompok yang menolak struktur formal tetap melahirkan hierarki informal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan anarko-sindikalis menjawab dengan struktur formal yang jelas, rotasi tugas, dan hak menarik kembali delegasi. Persoalan lain adalah konflik antardewan. Pabrik yang efisien dan pabrik yang tertinggal, wilayah kaya dan wilayah miskin, atau industri penting dan tidak penting dapat bersaing atas sumber daya, dan bila tidak ada pusat yang berwenang, bagaimana keadilan antarwilayah dijamin? Jawaban yang ditawarkan adalah solidaritas dan kesepakatan federal, tetapi di Spanyol sebagian kolektif kaya menolak membagi hasil dengan yang lebih miskin sehingga CNT mengusulkan dana kompensasi. Ludwig von Mises dan Friedrich Hayek mempersoalkan hal serupa dari sisi ekonomi, yaitu bahwa tanpa pasar dan harga, dewan tidak dapat menghitung secara rasional. Jawaban para pendukung, antara lain dalam tulisan Michael Albert dan Robin Hahnel tentang ekonomi partisipatif, adalah merancang perencanaan dari bawah dengan perundingan antardewan dan konsumen, meski gagasan itu belum teruji pada skala besar.

Pengelolaan Produksi oleh Pekerja

Pengelolaan produksi oleh pekerja (self-management, autogestión) berarti bahwa orang yang bekerja di suatu pabrik, tambang, ladang, atau kantor sendirilah yang memutuskan apa yang diproduksi, bagaimana pekerjaan diatur, dan bagaimana hasilnya dibagi. Bagi anarko-sindikalis, gagasan ini adalah isi positif dari penolakan terhadap kapitalisme. Menghapus pemilik pribadi tanpa mengubah siapa yang memerintah di tempat kerja hanya mengganti majikan swasta dengan majikan negara, dan inilah kritik mereka terhadap nasionalisasi ala Soviet. Rudolf Rocker dalam Anarcho-Syndicalism (1938) menyatakan bahwa tugas sindikat bukan menyerahkan alat produksi kepada negara, melainkan mengambil alih pengelolaannya sendiri, sebab pekerjalah yang paling mengetahui proses kerja dan kebutuhan yang dilayaninya. Argumen ini bertumpu pada dua hal: pengetahuan praktis yang dimiliki pekerja, dan kebebasan yang hanya bermakna bila meliputi hidup sehari-hari di tempat kerja.

Gagasan ini punya akar dalam sosialisme sebelum anarko-sindikalisme. Robert Owen dan gerakan koperasi Inggris mencoba usaha yang dimiliki pekerja, dan Proudhon dalam What Is Property? (1840) dan karya lanjutannya mengusulkan asosiasi produsen yang saling bertukar secara adil. Pierre-Joseph Proudhon menilai bahwa kerja kolektif menghasilkan lebih dari jumlah kerja individu, sehingga selisih itu tidak boleh dikuasai pemilik. Para sindikalis Prancis menambahkan bahwa serikat, bukan koperasi kecil yang bersaing di pasar, harus menjadi pengelola. Émile Pouget dan Victor Griffuelhes dalam CGT menggambarkan serikat sebagai kelompok produksi dan distribusi masa depan. Rumusan Piagam Amiens (1906) tentang serikat sebagai “dasar reorganisasi sosial” menjadi rujukan utama.

Rancangan pengelolaan itu umumnya bertingkat. Di tingkat tempat kerja, rapat seluruh pekerja menetapkan kebijakan, dan komite yang dipilih menjalankan tugas harian dengan mandat dan masa jabatan terbatas. Jabatan teknis dan manajerial tidak dihapus, tetapi dijalankan oleh orang yang dipilih dan dapat diganti, serta tidak dilengkapi hak istimewa. Rotasi tugas dipakai agar pekerjaan membosankan dan pekerjaan yang diinginkan terbagi merata, dan upaya mengurangi pemisahan kerja otak dan kerja otot dilakukan lewat pelatihan. Di tingkat industri, federasi menghimpun data kapasitas dan kebutuhan, sehingga perusahaan dapat berbagi bahan baku, mesin, dan tenaga ahli. Di tingkat wilayah, dewan lokal menghubungkan produsen dengan konsumen dan menimbang kebutuhan pangan, perumahan, dan layanan. Gaston Leval dalam Collectives in the Spanish Revolution (1971) menggambarkan pola ini pada kolektif Spanyol, termasuk pembagian hasil menurut kebutuhan keluarga atau, di sebagian tempat, menurut kerja yang disumbangkan.

Pengalaman Spanyol 1936-1939 menjadi bukti utama dan sekaligus sumber perdebatan. Di Barcelona, pekerja CNT mengambil alih sebagian besar industri, termasuk trem, kereta, listrik, gas, dan tekstil. Trem kota dijalankan komite pekerja yang menurunkan tarif dan menyatukan jaringan, dan sebagian kolektif industri dilaporkan memperbaiki kondisi kerja dan menaikkan upah terendah. Di Aragon, ratusan kolektif pertanian beranggotakan sekitar 400.000 orang menurut sebagian perkiraan menghapus pembayaran sewa dan, di beberapa desa, uang. Sam Dolgoff dalam The Anarchist Collectives (1974) mengumpulkan kesaksian yang menekankan keberhasilan. Sejarawan yang lebih kritis, seperti Burnett Bolloten, menyoroti paksaan terhadap petani yang menolak bergabung, kelemahan koordinasi, dan kekurangan bahan baku, sementara sejarawan lain menekankan bahwa perang, blokade, dan penumpasan oleh pemerintah Republik pada 1937 membuat penilaian akhir sulit ditarik. Keduanya sepakat bahwa percobaan itu berlangsung terlalu singkat dan terlalu terganggu untuk dijadikan bukti pasti.

Pengalaman lain memperluas gambaran. Yugoslavia pada masa Tito mengembangkan pengelolaan mandiri pekerja (samoupravljanje) sejak 1950, ketika dewan pekerja memilih manajemen, tetapi partai tetap menguasai negara, dan ketimpangan antardaerah serta inflasi muncul. Koperasi Mondragon di Basque, Spanyol, yang dimulai pada 1956, menunjukkan bahwa usaha yang dimiliki pekerja dapat bertahan puluhan tahun di pasar, dengan selisih upah terbatas, meski ia bersaing di dalam kapitalisme dan sebagian anggotanya mempersoalkan penggunaan pekerja non-anggota di cabang luar negeri. Pabrik-pabrik yang diambil alih pekerja di Argentina setelah krisis 2001, yang disebut empresas recuperadas, menghidupkan kembali ratusan perusahaan bangkrut, dan Venezuela serta Brasil mencatat percobaan serupa. Penelitian tentang koperasi pekerja menunjukkan bahwa tingkat kegagalannya tidak lebih tinggi dari usaha biasa dan, dalam beberapa studi, lebih stabil dalam krisis, tetapi mereka menghadapi kesulitan memperoleh modal dan tekanan untuk meniru manajemen hierarkis.

Keberatan utama menyangkut efisiensi, insentif, dan koordinasi. Ludwig von Mises dan Friedrich Hayek berpendapat bahwa tanpa kepemilikan pribadi dan harga pasar bagi alat produksi, pengelola tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara rasional. Pembela menjawab bahwa pasar dapat dipertahankan dalam bentuk koperasi atau diganti perencanaan partisipatif, misalnya model ekonomi partisipatif Michael Albert dan Robin Hahnel. Ekonom seperti Benjamin Ward dan Jaroslav Vanek menunjukkan bahwa perusahaan yang dikelola pekerja cenderung enggan menambah anggota atau berinvestasi jangka panjang karena anggota lama ingin memaksimalkan pendapatan per kepala, dan karena itu memerlukan aturan khusus. Kritik lain berasal dari kaum Marxis, yang menilai bahwa pengelolaan di satu pabrik tanpa kekuasaan atas ekonomi secara keseluruhan membuat pekerja tunduk pada tuntutan pasar, sehingga mereka “mengeksploitasi diri sendiri”. Anarko-sindikalis menanggapinya dengan menekankan federasi antarperusahaan dan tujuan akhir yang melampaui koperasi, tetapi mereka mengakui bahwa mempertahankan semangat kolektif dan partisipasi aktif dalam jangka panjang tetap menjadi tantangan terbesar.

Solidaritas, Internasionalisme, dan Pendidikan

Solidaritas adalah napas anarko-sindikalisme, sebab seluruh strateginya bergantung pada kemampuan pekerja bertindak bersama tanpa perintah dari atas. Pemogokan hanya berhasil bila pekerja yang tidak ikut terlibat langsung menolak menggantikan yang mogok, dan bila dana serta bantuan mengalir kepada keluarga yang kehilangan upah. Karena itu serikat anarko-sindikalis membangun lembaga solidaritas konkret: dana pemogokan, dana bantuan bagi korban pemecatan dan pemenjaraan, dan kebiasaan memboikot barang hasil pekerja yang sedang diperselisihkan. Rudolf Rocker dalam Anarcho-Syndicalism (1938) menyatakan bahwa solidaritas bukan sentimen belaka, melainkan kebutuhan praktis yang lahir dari kenyataan bahwa nasib pekerja saling terkait. Dasar etisnya diperkuat Peter Kropotkin dalam Mutual Aid (1902), yang mengumpulkan pengamatan bahwa kerja sama merupakan faktor penting dalam kehidupan hewan dan masyarakat manusia, sehingga solidaritas dipandang sebagai kecenderungan alamiah yang dilemahkan oleh persaingan kapitalis, bukan cita-cita yang asing bagi manusia.

Internasionalisme mengikuti logika yang sama. Anarko-sindikalis memandang kapitalisme sebagai sistem global dan nasionalisme sebagai cara mengalihkan pekerja dari kepentingan kelasnya ke permusuhan antarbangsa. Rocker dalam Nationalism and Culture (1937) membedakan antara bangsa sebagai komunitas budaya yang tumbuh alami dan nasionalisme sebagai doktrin yang memakai identitas itu untuk membenarkan kekuasaan negara. Karena itu anarko-sindikalis menolak perang antarnegara dan wajib militer, dan menyerukan pemogokan umum serta penolakan produksi senjata bila perang pecah. Namun harapan ini diuji pada 1914, ketika serikat dan partai sosialis di banyak negara mendukung negaranya, dan sebagian anarkis, termasuk Kropotkin, memihak Sekutu. Errico Malatesta dan anarkis lain menolak sikap itu, tetapi gerakan terpukul. Organisasi internasional yang dibentuk sesudahnya adalah Internasional Pekerja (IWA-AIT), yang berdiri di Berlin pada 1922 dengan Rocker sebagai salah satu pendirinya dan menghimpun CNT Spanyol, FAUD Jerman, USI Italia, dan serikat Swedia, Argentina, serta lainnya. Pada Revolusi Spanyol, serikat dan relawan dari banyak negara datang membantu, dan solidaritas internasional itu menjadi salah satu contoh paling terkenal.

Pendidikan adalah bagian khas dari tradisi ini, karena anarko-sindikalis menilai bahwa pekerja hanya dapat mengelola masyarakat bila mereka telah dilatih berpikir, berorganisasi, dan mengambil keputusan. Fernand Pelloutier menjadikan bursa kerja pusat pendidikan, dengan perpustakaan, kelas, dan bantuan bagi penganggur. Francisco Ferrer mendirikan Escuela Moderna di Barcelona pada 1901, sekolah rasionalis yang menolak doktrin gereja dan hukuman fisik, menerapkan pendidikan bersama anak laki-laki dan perempuan, dan menggunakan pengajaran berbasis pengamatan. Setelah ia dieksekusi pada 1909 atas tuduhan keterlibatan dalam pemberontakan Barcelona, sekolah modern bermunculan di Eropa dan Amerika. CNT di Spanyol mengelola ateneo (pusat budaya) di kampung-kampung buruh, dengan kelas membaca dan menulis, teater, dan perpustakaan, serta menerbitkan surat kabar Solidaridad Obrera. Pada 1936, pusat itu menjadi basis sekolah dan kampanye melek huruf di wilayah yang dikuasai gerakan. Pendidikan seperti ini juga mencakup pendidikan teknis dan pengelolaan, agar pekerja dapat menjalankan produksi tanpa bergantung pada manajer.

Budaya gerakan melengkapi pendidikan formal. Anarko-sindikalis menerbitkan koran, pamflet, dan lagu, dan mengadakan perayaan serta piknik yang mengikat anggota sebagai komunitas. IWW di Amerika Serikat dikenal lewat Little Red Songbook, yang memuat lagu-lagu seperti yang digubah Joe Hill, dan memakai nyanyian, teater jalanan, dan karikatur untuk menjangkau pekerja migran yang tidak terjangkau organisasi lain. Dimensi ini berkaitan dengan keyakinan bahwa pembebasan menyangkut keseluruhan hidup, bukan hanya upah. Anarkis perempuan seperti Lucía Sánchez Saornil dan Mujeres Libres di Spanyol, yang berdiri pada 1936 dan mencapai puluhan ribu anggota, mengembangkan kelas literasi, pelatihan kerja, dan penitipan anak bagi perempuan, serta menuntut agar gerakan sendiri tidak mengulang hierarki gender yang dikritiknya di masyarakat. Karya Mercedes Comaposada dan Amparo Poch y Gascón dalam kesehatan dan pendidikan menjadi bagian penting pengalaman itu.

Baca juga :  Fisikalisme

Tradisi ini menghadapi persoalan serius. Solidaritas yang kuat dalam kelompok erat dapat menjadi eksklusif: serikat berbasis kerajinan atau wilayah tertentu kadang menolak pekerja pendatang, perempuan, atau kelompok etnis lain, sebuah kecenderungan yang dikritik juga dalam sejarah serikat buruh umumnya. Internasionalisme anarko-sindikalis juga lemah menghadapi kekuatan negara dan fasisme, karena IWA-AIT tidak memiliki sarana membantu CNT ketika Republik Spanyol dikepung dan negara-negara demokratis menerapkan nonintervensi. Pendidikan dan budaya gerakan dikritik karena dapat membentuk komunitas tertutup yang sulit menjangkau pekerja di luar lingkarannya, dan sebagian peneliti menunjukkan bahwa setelah represi Franco, jaringan itu hampir hancur sepenuhnya. Di sisi lain, para pendukung menunjuk bahwa organisasi seperti CGT Spanyol, Solidaridad Obrera di Katalonia, dan jaringan serikat dasar kontemporer meneruskan lembaga solidaritas dalam bentuk baru, termasuk dukungan bagi buruh migran dan jaringan solidaritas lintas negara. Ketegangan antara semangat komunitas yang erat dan kebutuhan menjangkau masyarakat luas tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Pengalaman Historis dan Perdebatan Internal

Sejarah anarko-sindikalisme dapat dibaca sebagai rangkaian percobaan yang masing-masing menguji satu bagian gagasannya: apakah serikat dapat menjadi organisasi massa, apakah pemogokan umum dapat melumpuhkan negara, dan apakah pekerja dapat mengelola produksi sendiri. Hasilnya bercampur, dan karena itu perdebatan di dalam gerakan sering lebih tajam daripada perdebatan dengan lawan luar. Bagian ini menelusuri tiga pusat pengalaman, yaitu Prancis, Spanyol, dan jaringan internasional, lalu menguraikan garis perselisihan yang berulang.

Di Prancis, sindikalisme revolusioner mencapai bentuk matangnya dalam CGT pada dasawarsa pertama abad ke-20, dengan Piagam Amiens (1906) sebagai rumusan resminya. Pada tahun-tahun menjelang 1914, CGT memiliki sekitar setengah juta anggota dan memimpin pemogokan besar, tetapi tidak pernah mencapai pemogokan umum yang diimpikan. Ketika perang pecah, pemimpinnya, termasuk Léon Jouhaux, mendukung “persatuan suci” dengan pemerintah, sehingga tradisi antimiliteris runtuh dalam beberapa hari. Setelah Revolusi Rusia, CGT terbelah pada 1921-1922 antara kubu reformis dan kubu komunis, dan sebagian sindikalis revolusioner yang menolak keduanya mendirikan CGT-SR. Pengalaman ini memperlihatkan dua kelemahan yang kemudian dibahas luas: serikat yang membesar cenderung moderat, dan penolakan terhadap partai tidak menjamin independensi dari tarikan politik, terutama setelah Bolshevik menawarkan model yang menarik bagi banyak pekerja.

Spanyol memberi contoh paling besar dan paling bermuatan. CNT tumbuh dari mogok-mogok pada awal abad ke-20 dan Pekan Tragis di Barcelona (1909), didirikan secara resmi pada 1910-1911, dan mencapai ratusan ribu anggota setelah Perang Dunia I. Pada dasawarsa 1920-an ia ditekan kediktatoran Primo de Rivera, dan pada 1930-an terjadi pemberontakan-pemberontakan lokal yang gagal, seperti di Alto Llobregat (1932) dan Aragon (1933), yang dipicu kelompok anarkis militan dan ditumpas Republik. Pada 1936, CNT memiliki sekitar satu juta anggota, dan kekuatannya terbukti ketika kudeta militer di Barcelona dihentikan pekerja yang bersenjata. Pengambilalihan produksi, pembentukan milisi, dan kolektif pertanian yang diuraikan pada subbagian sebelumnya berlangsung pada masa ini. Pengalaman itu berakhir dengan Hari-Hari Mei 1937 di Barcelona, bentrokan antara CNT, kelompok POUM, dan pasukan yang dikendalikan pemerintah dan komunis, kemudian dengan kekalahan Republik pada 1939. Ratusan ribu orang, termasuk banyak anggota CNT, mengungsi ke Prancis atau dipenjara dan dieksekusi di bawah rezim Franco.

Perdebatan internal paling keras menyangkut keputusan CNT memasuki pemerintahan Republik pada November 1936, yang sudah disinggung pada bagian penolakan terhadap negara. Pendukung keputusan itu, seperti Juan García Oliver dan Federica Montseny, berargumen bahwa pilihan tinggal dua: menang perang bersama sekutu republik atau kalah, dan bahwa menolak pemerintahan berarti menyerahkan kendali kepada partai-partai lain, termasuk komunis yang didukung Uni Soviet. Para penentang, termasuk kelompok Sahabat Durruti dan Camillo Berneri, berpendapat bahwa kerja sama itu justru menyerahkan revolusi demi perang, karena pemerintah segera menata ulang milisi, membubarkan dewan-dewan, dan memulihkan aparat negara. George Orwell dalam Homage to Catalonia (1938) memberi kesaksian dari sisi yang bersimpati kepada para pekerja Barcelona dan kritis terhadap penumpasan oleh komunis. Sejarawan masih tidak sepakat apakah keputusan itu keliru secara prinsip atau pilihan terbaik dalam keadaan buruk.

Garis perselisihan lain adalah antara “sindikalis” dan “anarkis spesifik”. Sebagian tokoh, seperti Ángel Pestaña dan Joan Peiró, menekankan serikat sebagai alat perjuangan nyata yang harus berbicara kepada seluruh pekerja, termasuk yang tidak anarkis, dan menolak penyingkiran dari luar serikat. Kelompok anarkis militan dalam FAI, yang dibentuk pada 1927, berpendapat bahwa serikat cenderung moderat dan harus diarahkan oleh minoritas yang setia pada tujuan anarkis. Pertentangan ini melahirkan perpecahan pada 1931-1932, ketika kelompok Treintista yang dekat dengan Pestaña keluar dari CNT dan membentuk sindikat oposisi, sebelum kembali pada 1936. Errico Malatesta sejak awal abad ke-20 menyuarakan kekhawatiran serupa: serikat yang berbasis kepentingan ekonomi dapat menjadi birokratis, sehingga anarkis perlu mempertahankan organisasi dan pandangan mereka sendiri. Rocker dan para sindikalis menjawab bahwa pemisahan itu memutus anarkis dari pekerja, tempat perubahan nyata berlangsung.

Perdebatan juga menyangkut hubungan dengan komunisme. Pada 1920-an, Komunis Internasional membentuk Serikat Buruh Merah (Profintern) dan mengundang serikat revolusioner bergabung, dan sebagian delegasi anarko-sindikalis, termasuk dari CNT dan USI, berkunjung ke Moskow dan sempat tergoda. Namun pengalaman penindasan terhadap pemberontakan Kronstadt (1921) dan perlakuan terhadap anarkis Rusia, seperti Nestor Makhno dan para tahanan, membuat CNT menolak dan bergabung dengan IWA-AIT pada 1922. Emma Goldman dalam My Disillusionment in Russia (1923) dan Alexander Berkman menuliskan kekecewaan itu. Setelah Perang Dunia II, gerakan yang tersisa menghadapi persoalan baru: sebagian anggota CNT di pengasingan menerima kerja sama dengan kekuatan antifasis untuk menggulingkan Franco, sedangkan yang lain mempertahankan garis tanpa kompromi, sehingga terjadi perpecahan pada 1945-1961 antara kelompok “ortodoks” dan “posibilista”.

Pasca 1975, ketika Franco wafat, CNT dihidupkan kembali tetapi terpecah lagi. Perselisihan tentang apakah ikut serta dalam pemilihan wakil pekerja di tempat kerja yang diatur hukum, yang menghasilkan hak hukum dan dana, membelah organisasi pada 1979-1980. Kelompok yang menerima membentuk CGT, yang kini memiliki puluhan ribu anggota dan perwakilan di banyak perusahaan, sedangkan CNT yang menolak tetap kecil. Di Swedia, SAC (Sveriges Arbetares Centralorganisation) menjadi serikat anarko-sindikalis terbesar yang bertahan, dengan puluhan ribu anggota dan hak menjalankan dana pengangguran, tetapi pengelolaan itu mengundang perdebatan tentang integrasi ke dalam sistem negara. Di Inggris, Solidarity Federation dan di Jerman FAU mengembangkan serikat dasar kecil dengan aksi langsung terhadap majikan tertentu dan, dalam beberapa kasus, kemenangan lokal bagi pekerja migran dan pekerja prekariat. Dalam skala besar, tradisi ini tidak lagi memiliki kekuatan seperti pada 1936.

Penilaian atas keseluruhan pengalaman itu beragam. Pembela menekankan bahwa anarko-sindikalisme membuktikan kemampuan pekerja mengorganisasi diri di tengah represi, bahwa banyak hak buruh, seperti hari kerja delapan jam, diperoleh lewat aksi langsung, dan bahwa gagasan dewan, kolektif, dan koperasi muncul kembali dalam tiap gelombang protes. Pengkritik, dari kaum Marxis-Leninis hingga demokrat sosial, menunjuk bahwa penolakan terhadap politik dan negara membuat gerakan ini tidak siap menghadapi kudeta, perang, dan aparat represif yang terorganisasi, dan bahwa kegagalan di Spanyol, tempat kekuatannya paling besar, memperlihatkan keterbatasan strategi itu. Dua hal tampak jelas dari catatan ini. Pertama, tradisi ini paling kuat di tempat serikat berakar kuat pada kehidupan sehari-hari komunitas buruh, seperti Barcelona dan Aragon, dan melemah ketika basis itu hancur. Kedua, perdebatan internal tentang kompromi, struktur, dan hubungan dengan negara bukan tanda kelemahan semata, melainkan ciri tradisi yang menolak otoritas pusat yang dapat menetapkan satu garis, sehingga ketegangan antara prinsip dan efektivitas tetap melekat padanya.

Tokoh Anarko-Sindikalisme

Akar anarko-sindikalisme dapat ditelusuri ke Mikhail Bakunin, yang pada Perhimpunan Pekerja Internasional (1864-1876) menentang Karl Marx dengan berargumen bahwa organisasi pekerja harus membangun benih masyarakat baru di dalam cangkang yang lama. Bakunin menolak perebutan kekuasaan negara karena menurutnya negara, bahkan yang dipimpin kaum revolusioner, akan melahirkan kelas penguasa baru. Ia berharap serikat dan federasi buruh menjadi dasar organisasi sosial setelah revolusi. Pierre-Joseph Proudhon, dengan gagasan mutualisme dan federalisme, memberi kerangka tentang asosiasi produsen yang saling terhubung, sedangkan Peter Kropotkin menambahkan landasan etis dan ilmiah tentang saling membantu dan komunisme anarkis. Gagasan itu bertemu dengan sindikalisme revolusioner Prancis. Fernand Pelloutier, sekretaris Federasi Bursa Kerja (Bourses du Travail), mengembangkan lembaga yang menyatukan fungsi pendidikan, bantuan sosial, dan perjuangan pekerja, dan menyatakan bahwa pemogokan umum adalah jalan menuju pembebasan. Georges Sorel dalam Reflections on Violence (1908) mengusung mitos pemogokan umum sebagai gambaran yang menggerakkan massa, walaupun ia bukan seorang anarkis dan kemudian bergerak ke berbagai arah politik.

Perumusan sistematis diberikan oleh Rudolf Rocker, anarkis Jerman yang tinggal di London dan kemudian Amerika Serikat. Dalam Anarcho-Syndicalism (1938) ia menguraikan sejarah gagasan itu dari tradisi liberal, sosialis, dan anarkis, dan menggambarkan struktur dewan pekerja yang terhubung melalui federasi tanpa pusat yang memerintah. Dalam Nationalism and Culture (1937), ia mengkritik nasionalisme sebagai pembenaran kekuasaan, dan karyanya membantu menyebarkan anarko-sindikalisme di luar Spanyol. Di Spanyol, tokoh-tokoh CNT seperti Buenaventura Durruti, Salvador Seguí, Ángel Pestaña, dan Juan Peiró memimpin pemogokan dan pembentukan kolektif. Federica Montseny dan Emma Goldman, dalam kerangka lebih luas anarkisme, membawa isu kebebasan perempuan dan kritik terhadap otoritas ke dalam gerakan, walaupun Goldman sendiri lebih dikenal sebagai anarkis komunis. Di Amerika Serikat, Big Bill Haywood dan Joe Hill dari IWW menyebarkan gagasan serikat industri satu serikat besar (One Big Union) yang dekat dengan semangat anarko-sindikalis.

Pada paruh kedua abad ke-20 dan masa kini, tradisi ini dilanjutkan oleh pemikir dan aktivis yang menafsirkan ulang ke dalam kondisi baru. Noam Chomsky, linguis dan intelektual Amerika, kerap menyebut dirinya anarko-sindikalis dan mengaitkan tradisi itu dengan kritik terhadap hierarki, pengelolaan mandiri pekerja, dan sosialisme libertarian, termasuk dalam esainya tentang Revolusi Spanyol. Murray Bookchin menjadi pengkritik sekaligus penerus yang mengembangkan ekologi sosial dan komunalisme libertarian, sedangkan David Graeber dalam kajian antropologi dan aktivismenya menghidupkan kembali minat pada demokrasi langsung dan ekonomi tanpa hierarki. George Orwell dalam Homage to Catalonia (1938) memberi kesaksian sastra tentang Barcelona yang dikelola pekerja pada 1936-1937, sehingga membantu memperkenalkan pengalaman itu kepada pembaca luas. Karya-karya tersebut mempertahankan gagasan bahwa pembebasan pekerja harus menjadi karya pekerja sendiri.

Referensi

  • Bookchin, M. (1998). The Spanish anarchists: The heroic years, 1868-1936. AK Press.
  • Chomsky, N. (2005). Chomsky on anarchism (B. Pateman, Ed.). AK Press.
  • Dolgoff, S. (Ed.). (1974). The anarchist collectives: Workers’ self-management in the Spanish Revolution, 1936-1939. Free Life Editions.
  • Graeber, D. (2004). Fragments of an anarchist anthropology. Prickly Paradigm Press.
  • Jennings, J. (1990). Syndicalism in France: A study of ideas. Macmillan.
  • Orwell, G. (2000). Homage to Catalonia. Penguin Books.
  • Peirats, J. (2011). The CNT in the Spanish Revolution (Vol. 1; C. Ealham, Ed.). PM Press.
  • Rocker, R. (2004). Anarcho-syndicalism: Theory and practice. AK Press.
  • Sorel, G. (1999). Reflections on violence (J. Jennings, Ed.). Cambridge University Press.
  • Van der Linden, M., & Thorpe, W. (Eds.). (1990). Revolutionary syndicalism: An international perspective. Scolar Press.

Citation

Previous Article

Albert Camus

Next Article

Pierre-Joseph Proudhon

Citation copied!