Dipublikasikan: 18 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 18 Oktober 2026
Dipublikasikan: 18 Oktober 2026
Terakhir diperbarui: 18 Oktober 2026
Marxisme lahir di Eropa pada pertengahan abad ke-19, ketika industrialisasi melahirkan kelas pekerja perkotaan yang hidup dalam kondisi berat. Marx menyusunnya dari tiga sumber yang kerap disebut Lenin: filsafat Jerman, terutama dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach; ekonomi politik Inggris, terutama Adam Smith dan David Ricardo; dan sosialisme Prancis. Manifesto Partai Komunis (1848) menjadi pernyataan programatiknya, dan Das Kapital (1867) menjadi karya analitis utamanya. Setelah Marx wafat pada 1883, Engels menyunting dan menyebarluaskan karyanya, dan Marxisme menjadi ideologi resmi banyak partai sosialis dalam Internasional Kedua. Pada abad ke-20, ia terbelah antara Marxisme-Leninisme yang berkuasa di Uni Soviet dan Tiongkok, Marxisme Barat yang berkembang di kalangan intelektual, dan sosial demokrasi yang meninggalkan jalan revolusioner.
Marxisme tetap berpengaruh dalam sosiologi, ekonomi politik, kajian budaya, teori pascakolonial, dan gerakan buruh, meski pengaruh politiknya menurun setelah runtuhnya blok Soviet pada 1989-1991. Para pendukungnya memandangnya sebagai alat analisis paling tajam atas kekuasaan ekonomi dan ketimpangan. Para pengkritiknya menyoroti kegagalan ramalan, pengalaman rezim otoriter yang mengatasnamakannya, dan kecenderungan teori ini mereduksi persoalan sosial menjadi persoalan kelas.
Daftar Isi
Marxisme dipahami sebagai kerangka teori yang menjelaskan sejarah dan masyarakat dari cara manusia memproduksi kehidupan material, menganalisis kapitalisme sebagai sistem eksploitasi yang melahirkan krisis dan pertentangan kelas, serta menyimpulkan bahwa kelas pekerja dapat dan perlu menggantikannya dengan tatanan sosialis yang bergerak menuju komunisme. Engels dalam pidatonya di pemakaman Marx (1883) merangkum sumbangannya dalam dua penemuan: hukum perkembangan sejarah manusia dan hukum gerak produksi kapitalis yang menghasilkan nilai lebih.
Istilah “Marxisme” mulai dipakai pada 1880-an untuk menyebut ajaran Marx dan para pengikutnya. Marx sendiri dilaporkan pernah berkata bahwa ia bukan seorang Marxis, sebagai tanggapan atas penafsiran yang dianggapnya menyederhanakan. Kata ini dibentuk dari nama Karl Marx, dan semula sering dipakai lawan-lawan politiknya sebelum diterima para pengikut. Dalam penggunaannya, istilah ini menunjuk pada beberapa lapisan: metode analisis, teori ekonomi, filsafat sejarah, dan gerakan politik.
Marxisme dibedakan dari beberapa konsep dekat. Komunisme adalah tujuan akhir masyarakat tanpa kelas dan sekaligus nama partai serta rezim yang mengaku Marxis. Sosialisme adalah rumpun lebih luas yang mencakup aliran non-Marxis. Marxisme-Leninisme adalah tafsir yang menekankan partai pelopor dan negara proletariat, sedangkan Marxisme Barat, Marxisme strukturalis, dan Marxisme analitis menekankan filsafat, budaya, atau metode ilmiah. Selain itu dikenal Maoisme, Trotskisme, Marxisme feminis, ekososialisme, dan Marxisme pascakolonial. Perbedaan ini membuat Marxisme tidak memiliki satu definisi yang disepakati semua penganutnya.
Materialisme historis dan dialektika adalah dua fondasi metodologis Marxisme, dan keduanya berasal dari kritik Marx terhadap filsafat Jerman pada 1840-an. Pada masa itu, filsafat Jerman didominasi Hegel, yang berpendapat bahwa sejarah adalah perwujudan bertahap Roh (Geist) yang sadar akan kebebasannya sendiri. Para murid Hegel terbelah. Kaum Hegelian Muda, termasuk Ludwig Feuerbach, menafsirkan Roh sebagai proyeksi sifat-sifat manusia, dan dalam The Essence of Christianity (1841) Feuerbach menyatakan bahwa Tuhan adalah cermin hakikat manusia yang diasingkan dari dirinya sendiri. Marx menerima kritik itu, tetapi dalam “Theses on Feuerbach” (1845) ia menilai bahwa Feuerbach masih memandang manusia sebagai makhluk yang merenung, bukan makhluk yang bekerja dan mengubah dunia. Tesis kesebelasnya yang termasyhur menyatakan bahwa para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara, sedangkan yang penting adalah mengubahnya.
Dari titik itu Marx dan Engels menyusun pandangan yang dalam The German Ideology (1846) mereka sebut pandangan materialis tentang sejarah. Pokok pikirannya sederhana tetapi berjangkauan luas: manusia harus lebih dulu makan, berpakaian, dan bernaung sebelum dapat berpolitik, beragama, atau berfilsafat, sehingga produksi kehidupan material adalah dasar sejarah. Cara manusia berproduksi bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan bentuk kehidupan itu sendiri. Dalam kata pengantar A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), Marx merumuskannya paling ringkas. Hubungan produksi yang sesuai dengan tingkat perkembangan tenaga produktif membentuk struktur ekonomi masyarakat, yaitu basis nyata tempat berdiri suprastruktur hukum dan politik, dan bentuk-bentuk kesadaran sosial yang tertentu sesuai dengannya. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi keberadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya.
Konsep tenaga produktif dan hubungan produksi menjadi mesin penjelasan perubahan. Tenaga produktif mencakup alat, teknologi, pengetahuan, dan tenaga kerja, sedangkan hubungan produksi adalah pola kepemilikan dan penguasaan yang menentukan siapa bekerja untuk siapa. Marx berpendapat bahwa tenaga produktif cenderung terus berkembang, sementara hubungan produksi membeku dalam hukum dan kepentingan kelas yang diuntungkannya. Pada tahap tertentu hubungan itu berubah dari bentuk perkembangan menjadi belenggu, dan datanglah zaman revolusi sosial. Dari sini lahir skema periodisasi sejarah, yaitu cara produksi Asia, kuno, feodal, dan borjuis modern, yang dalam tafsir Soviet kemudian dibakukan menjadi lima tahap dari komunisme primitif sampai komunisme. Marx sendiri dalam surat kepada redaksi jurnal Rusia (1877) menolak anggapan bahwa uraiannya tentang Eropa Barat adalah teori filsafat sejarah yang wajib dilalui setiap bangsa.
Dialektika adalah metode berpikir yang Marx ambil dari Hegel dan ia balikkan. Dalam kata pengantar kedua Das Kapital (1873), Marx menyatakan bahwa pada Hegel dialektika berjalan terbalik, sehingga harus dibalik agar ditemukan inti rasional di balik kulit mistiknya. Hegel memahami realitas sebagai proses yang bergerak melalui pertentangan: sebuah keadaan memunculkan lawannya, dan pertentangan itu diselesaikan pada tingkat yang lebih tinggi. Marx memindahkan penggerak itu dari gagasan ke kehidupan material, sehingga kontradiksi yang menggerakkan sejarah adalah kontradiksi nyata, seperti antara tenaga produktif dan hubungan produksi, atau antara kelas yang berkepentingan berlawanan. Dalam analisis kapitalisme, metode ini tampak pada cara Marx memperlakukan komoditas sebagai kesatuan nilai guna dan nilai tukar yang bertentangan, atau pada argumennya bahwa persaingan yang melahirkan inovasi juga melahirkan konsentrasi modal dan krisis.
Engels memperluas dialektika menjadi filsafat umum tentang alam, dan di titik inilah tradisi Marxis bercabang. Dalam Anti-Dühring (1878) dan Dialectics of Nature (terbit 1925) ia merumuskan “hukum-hukum” dialektika: peralihan kuantitas menjadi kualitas, kesatuan dan perjuangan hal yang berlawanan, dan negasi atas negasi, dan ia mencari contohnya dalam fisika, kimia, dan biologi. Pemikiran ini kemudian dibakukan di Uni Soviet sebagai materialisme dialektis (diamat), ajaran resmi yang ditafsirkan Plekhanov, Lenin dalam Materialism and Empirio-Criticism (1909), dan Stalin. Georg Lukács dalam History and Class Consciousness (1923) menolak perluasan itu dengan menyatakan bahwa dialektika hanya berlaku pada masyarakat, karena hanya di sana subjek dan objek saling membentuk, sehingga ia menekankan totalitas dan kesadaran kelas. Antonio Gramsci menyebut Marxisme sebagai “filsafat praksis”, dan tradisi Marxisme Barat umumnya mengikuti arah ini, sedangkan Louis Althusser menolak pembacaan Hegelian dan menawarkan tafsir strukturalis yang menyoroti bahwa sebab-sebab sosial bertingkat dan saling menentukan (overdetermination).
Hubungan antara basis dan suprastruktur sendiri menjadi bahan tafsir. Dalam surat-suratnya pada 1890-an, Engels menegaskan bahwa faktor ekonomi menentukan “pada tahap akhir”, dan menolak anggapan bahwa ia dan Marx menyatakan ekonomi sebagai satu-satunya penyebab. Ia mengakui bahwa politik, hukum, dan gagasan memiliki pengaruh timbal balik. Tafsir determinis, yang menganggap suprastruktur sekadar cerminan basis, mendominasi Marxisme Internasional Kedua dan Soviet, sedangkan tafsir yang lebih luwes dikembangkan Gramsci dengan konsep hegemoni, Raymond Williams dengan “materialisme budaya”, dan E. P. Thompson dalam The Making of the English Working Class (1963) yang menekankan bahwa kelas terbentuk melalui pengalaman dan tindakan, bukan hanya posisi dalam produksi. G. A. Cohen dalam Karl Marx’s Theory of History (1978) membela tafsir yang lebih ketat, yang menjelaskan hubungan produksi menurut fungsinya bagi perkembangan tenaga produktif, sehingga memicu perdebatan di kalangan Marxis analitis.
Pandangan ini dikritik dari berbagai arah. Karl Popper dalam The Poverty of Historicism (1957) menolak klaim bahwa sejarah mengikuti hukum yang dapat diramalkan, dan menilai bahwa teori yang tidak dapat disangkal oleh pengalaman apa pun tidak ilmiah. Max Weber menerima pentingnya faktor ekonomi, tetapi dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905) menunjukkan bahwa gagasan keagamaan dapat membentuk perkembangan ekonomi, sehingga arah sebab tidak sepihak. Sejarawan menunjuk bahwa revolusi sosialis terjadi pertama kali di Rusia dan Tiongkok yang masih agraris, bukan di negara industri maju yang diramalkan Marx. Sebagian pengkritik dari dalam tradisi, seperti Eduard Bernstein, menyatakan bahwa dialektika Hegelian adalah unsur spekulatif yang merusak ilmu, dan sebagian pemikir kontemporer menilai skema tahap sejarah terlalu berpusat pada Eropa. Pembela menjawab bahwa materialisme historis lebih tepat dibaca sebagai pedoman penelitian, yaitu perintah untuk mencari kepentingan material dan hubungan kuasa di balik gagasan dan lembaga, daripada sebagai hukum besi yang meramalkan masa depan.
Dalam Marxisme, kelas bukan sekadar tingkat pendapatan atau gaya hidup, melainkan kedudukan seseorang dalam hubungan produksi: apakah ia memiliki alat produksi dan hidup dari kerja orang lain, atau tidak memilikinya dan harus menjual tenaganya. Marx tidak mengklaim menemukan kelas maupun perjuangan antarkelas. Dalam surat kepada Joseph Weydemeyer (1852), ia mengakui bahwa sejarawan borjuis seperti François Guizot, Augustin Thierry, dan Adolphe Thiers sudah lebih dulu menguraikan perjuangan kelas dalam sejarah Prancis, dan ekonom seperti Ricardo sudah menggambarkan pembagian pendapatan antara pemilik tanah, pemilik modal, dan pekerja. Yang ia sebut sebagai sumbangannya sendiri adalah tiga hal: bahwa kelas berkaitan dengan tahap tertentu perkembangan produksi, bahwa perjuangan kelas mengarah pada kediktatoran proletariat, dan bahwa kediktatoran itu hanya peralihan menuju masyarakat tanpa kelas.
Rumusan paling terkenal ada pada kalimat pembuka bab pertama Manifesto Partai Komunis (1848): sejarah semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas. Marx dan Engels menyebut pasangan yang berhadapan dalam tiap zaman, yaitu orang merdeka dan budak, bangsawan dan rakyat jelata, tuan feodal dan hamba, serta mastor gilda dan tukang. Pada masa kapitalis, pertentangan menyederhana menjadi dua kubu besar, yaitu borjuasi, pemilik alat produksi yang mempekerjakan buruh upahan, dan proletariat, yang tidak memiliki apa pun selain tenaga kerjanya. Kapitalisme dianggap menyederhanakan struktur kelas karena persaingan menjatuhkan pengrajin kecil, pedagang kecil, dan petani ke dalam barisan proletariat, sementara modal terkonsentrasi pada sedikit orang.
Analisis Marx sebenarnya lebih rumit daripada skema dua kelas. Dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852), yang menganalisis kudeta di Prancis, ia membedakan banyak lapisan: aristokrasi keuangan, borjuasi industri, borjuasi kecil, petani parsel, proletariat, dan lumpenproletariat, yaitu lapisan miskin tanpa pekerjaan tetap yang mudah dibeli oleh reaksi. Ia bahkan menggambarkan petani kecil Prancis sebagai karung kentang, yang jumlahnya besar tetapi tidak membentuk kesatuan politik karena hidup terpisah-pisah. Bab terakhir jilid ketiga Das Kapital yang berjudul “Kelas-Kelas” terhenti setelah beberapa paragraf, sehingga Marx tidak meninggalkan teori kelas yang tuntas. Kekosongan ini membuka ruang bagi tafsir yang berbeda-beda di antara para penerusnya.
Satu pembedaan penting adalah antara kelas “dalam dirinya sendiri” (an sich) dan kelas “untuk dirinya sendiri” (für sich). Dalam The Poverty of Philosophy (1847), Marx menyatakan bahwa kondisi ekonomi mula-mula mengubah massa penduduk menjadi pekerja dengan kepentingan bersama, sehingga mereka sudah menjadi kelas terhadap modal, tetapi belum menjadi kelas untuk dirinya sendiri. Dalam perjuangan, massa itu bersatu dan membentuk dirinya sebagai kelas yang sadar akan kepentingannya. Kesadaran kelas karena itu bukan otomatis, melainkan hasil pengalaman bersama, organisasi, dan perjuangan. Para penerusnya berbeda pendapat tentang bagaimana kesadaran itu muncul. Lenin dalam What Is to Be Done? (1902) berargumen bahwa buruh yang dibiarkan sendiri hanya mencapai kesadaran serikat buruh, sehingga kesadaran sosialis harus dibawa oleh partai pelopor. Luxemburg menekankan bahwa pelajaran perjuangan massa, terutama pemogokan umum, membentuk kesadaran dari bawah. Lukács dalam History and Class Consciousness (1923) menyatakan bahwa proletariat, karena kedudukannya sebagai komoditas yang menyadari dirinya, mampu memahami masyarakat sebagai totalitas.
Perjuangan kelas dalam kapitalisme tampak pada banyak bentuk. Bentuknya yang paling jelas adalah perselisihan mengenai upah dan jam kerja. Dalam bab tentang hari kerja dalam Das Kapital, Marx mengutip laporan inspektur pabrik Inggris untuk menunjukkan bagaimana pemilik pabrik berusaha memperpanjang jam kerja, termasuk bagi anak-anak, dan bagaimana pekerja memperjuangkan Undang-Undang Sepuluh Jam (1847) melalui gerakan Chartist dan serikat. Kemenangan itu ia anggap bukti bahwa perjuangan kelas dapat mengubah hukum. Bentuk lainnya adalah perjuangan politik, seperti perjuangan hak pilih, pembentukan partai buruh, dan pemogokan umum. Pada puncaknya, perjuangan itu dapat berupa pemberontakan, seperti Komune Paris 1871, yang Marx dalam The Civil War in France sebut sebagai bentuk politik yang akhirnya ditemukan bagi pembebasan ekonomi kelas pekerja.
Teori ini dikembangkan dan direvisi sepanjang abad ke-20. Nicos Poulantzas dan Erik Olin Wright berusaha memetakan kelas menengah baru, seperti manajer, teknisi, dan profesional, yang tidak sesuai dengan skema borjuis-proletar. Wright mengusulkan “lokasi kelas yang kontradiktif”, yaitu kedudukan yang sekaligus bersifat mengendalikan dan dikendalikan. E. P. Thompson dalam The Making of the English Working Class (1963) menekankan bahwa kelas adalah sesuatu yang terjadi dalam hubungan manusia dan pengalaman, bukan kategori statis. Teori Marxis juga diperluas untuk menjelaskan hubungan kelas dengan ras, gender, dan imperialisme. Feminis sosialis seperti Silvia Federici menunjukkan bahwa kerja reproduktif tidak berbayar menopang akumulasi modal, sedangkan teori ketergantungan, yang dikembangkan antara lain oleh Andre Gunder Frank dan Samir Amin, memperluas perjuangan kelas ke tingkat global antara pusat dan pinggiran.
Gagasan perjuangan kelas dikritik dengan beberapa argumen. Max Weber menerima pentingnya kelas, tetapi menyatakan bahwa status dan kekuasaan politik adalah dimensi stratifikasi yang berdiri sendiri, sehingga pembagian masyarakat tidak dapat direduksi pada hubungan produksi. Sosiolog seperti Ralf Dahrendorf dalam Class and Class Conflict in Industrial Society (1959) berargumen bahwa pemisahan kepemilikan dan kendali dalam perusahaan modern dan lembaga hak pilih serta serikat mengurangi sifat revolusioner konflik, sehingga konflik industri dapat dilembagakan. Ramalan Marx tentang polarisasi dan pemiskinan proletariat tidak terbukti di negara industri maju, karena upah riil naik dan kelas menengah meluas. Sejarah juga memperlihatkan bahwa identitas bangsa, agama, dan etnis sering lebih kuat daripada identitas kelas, sebagaimana tampak ketika sebagian besar partai sosialis Eropa mendukung perang negaranya pada 1914. Pembela Marxisme menjawab bahwa teori kelas tidak meramalkan keseragaman perilaku, melainkan menunjukkan kepentingan material yang membentuk batas-batas tindakan, dan bahwa meningkatnya ketimpangan sejak 1980-an, sebagaimana dicatat Thomas Piketty, menghidupkan kembali relevansi analisis kelas.
Subjudul Das Kapital berbunyi “Kritik Ekonomi Politik”, dan kata kritik di sini penting. Marx tidak sekadar menambahkan teori baru ke dalam ilmu ekonomi, melainkan menelaah kategori-kategori yang dipakai para ekonom klasik, seperti nilai, uang, modal, upah, dan laba, dengan pertanyaan tentang hubungan sosial apa yang tersembunyi di baliknya. Adam Smith dan David Ricardo sudah mengajukan teori nilai kerja, yaitu bahwa nilai barang ditentukan oleh jumlah kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkannya. Marx menerima titik berangkat itu, tetapi menilai bahwa mereka gagal menjelaskan dua hal: mengapa kerja mengambil bentuk nilai tukar, dan dari mana laba berasal bila pertukaran berjalan menurut nilai yang setara. Ricardo sendiri mengakui kesulitan ini ketika berhadapan dengan perubahan upah dan harga, dan para pengikutnya terpecah. Pertanyaan itulah yang hendak dijawab Marx.
Analisis dimulai dari komoditas, barang yang dihasilkan untuk dipertukarkan. Marx dalam bab pertama Das Kapital menunjukkan bahwa komoditas memiliki dua sisi. Nilai guna adalah kegunaannya bagi kebutuhan manusia, sedangkan nilai tukar adalah perbandingan kuantitatif yang membuatnya dapat ditukar dengan barang lain. Agar barang yang sangat berbeda, misalnya sehelai kain dan sebuah sepatu, dapat diperbandingkan, harus ada sesuatu yang sama pada keduanya, dan Marx menyimpulkan bahwa yang sama itu adalah kerja manusia dalam pengertian abstrak. Nilai, dengan demikian, ditentukan oleh kerja yang secara sosial diperlukan untuk memproduksi barang itu dalam kondisi dan tingkat keterampilan rata-rata. Ia juga membedakan kerja konkret, yang menghasilkan nilai guna tertentu, dari kerja abstrak, yang membentuk nilai. Uang muncul sebagai bentuk umum nilai, yaitu komoditas khusus yang menjadi ukuran bagi yang lain.
Dari sini Marx memperkenalkan konsep fetisisme komoditas. Dalam masyarakat penghasil komoditas, hubungan sosial antarprodusen tidak tampak langsung. Mereka bertemu lewat pertukaran barang di pasar, sehingga hubungan antarmanusia tampil sebagai hubungan antarbenda, dan harga tampak seperti sifat alamiah barang, bukan hasil pengaturan kerja sosial. Orang menganggap ketentuan pasar sebagai hukum alam yang tidak dapat diubah, padahal ia hasil susunan sosial tertentu. Kritik ini menjelaskan mengapa menurut Marx para ekonom klasik memperlakukan kategori kapitalis sebagai kategori abadi: mereka menganggap bentuk yang bersifat sejarah sebagai kodrat.
Teka-teki laba dipecahkan melalui pembedaan antara kerja dan tenaga kerja. Menurut Marx, dalam kapitalisme yang dijual pekerja bukan kerjanya, melainkan tenaga kerjanya, yaitu kapasitas untuk bekerja selama jangka waktu tertentu. Tenaga kerja adalah komoditas khas karena penggunaannya menghasilkan nilai, dan dapat menghasilkan lebih banyak daripada nilainya sendiri. Nilai tenaga kerja ditentukan oleh biaya yang diperlukan untuk menghidupkan dan menggantikan pekerja, yaitu pangan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan. Seorang pekerja dapat menghasilkan nilai setara upahnya dalam, misalnya, enam jam, tetapi diwajibkan bekerja dua belas jam. Enam jam sisanya menghasilkan nilai lebih yang diambil pemilik modal. Marx menekankan bahwa tidak ada pelanggaran terhadap pertukaran yang setara: majikan membeli tenaga kerja pada nilainya, dan eksploitasi terjadi dalam proses produksi, tempat tenaga kerja itu dipakai.
Marx membedakan modal konstan dan modal variabel. Modal konstan adalah nilai yang dikeluarkan untuk mesin, bahan baku, dan bangunan, yang hanya memindahkan nilainya ke produk. Modal variabel adalah yang dikeluarkan untuk upah, karena hanya tenaga kerja yang menciptakan nilai baru. Tingkat nilai lebih adalah rasio nilai lebih terhadap modal variabel, dan menjadi ukuran derajat eksploitasi. Pemilik modal dapat menaikkannya dengan memperpanjang hari kerja, yang ia sebut nilai lebih absolut, atau dengan memperpendek waktu kerja yang diperlukan untuk menghasilkan upah melalui kenaikan produktivitas, yang ia sebut nilai lebih relatif. Bab-bab tentang hari kerja, kerja sama, pembagian kerja, dan mesin menunjukkan bagaimana teknologi dan organisasi kerja dipakai pemilik modal untuk tujuan ini, dan bagaimana pekerja melawan lewat perjuangan hari kerja.
Jilid-jilid berikutnya memperluas analisis ke tingkat keseluruhan ekonomi. Akumulasi modal, yaitu penanaman kembali nilai lebih untuk memperluas produksi, adalah tuntutan yang dipaksakan persaingan pada tiap pemilik modal. Marx berargumen bahwa akumulasi ini cenderung meningkatkan proporsi modal konstan terhadap modal variabel, yang ia sebut komposisi organik modal, dan karena hanya tenaga kerja yang menciptakan nilai lebih, tingkat laba cenderung turun. Ia juga membahas “tentara cadangan industri”, yaitu pengangguran yang diciptakan mesin dan menekan upah, serta krisis berulang akibat disproporsi dan kekurangan daya beli. Masalah transformasi, yaitu bagaimana nilai berubah menjadi harga produksi yang menghasilkan tingkat laba rata-rata, diuraikan di jilid ketiga yang disunting Engels dan diterbitkan pada 1894.
Teori ini mendapat kritik tajam dari ekonom. Eugen von Böhm-Bawerk dalam Karl Marx and the Close of His System (1896) berpendapat bahwa ada kontradiksi antara jilid pertama dan ketiga, karena barang dengan komposisi modal berbeda tidak dapat dijual pada nilainya sekaligus menghasilkan tingkat laba rata-rata. Ladislaus von Bortkiewicz dan kemudian Piero Sraffa menunjukkan bahwa harga dapat dihitung tanpa melalui nilai kerja, sehingga teori itu dinilai berlebihan. Dalam ekonomi arus utama, teori nilai kerja digantikan teori nilai berbasis kelangkaan dan utilitas marginal yang dikembangkan William Stanley Jevons, Carl Menger, dan Léon Walras sejak 1870-an. Sebaliknya, pembela, seperti Duménil dan Foley dengan tafsir “Interpretasi Baru”, menyatakan bahwa masalah transformasi dapat diselesaikan dengan definisi lain, dan Marxis analitis seperti John Roemer dan G. A. Cohen menyatakan bahwa eksploitasi dapat dirumuskan tanpa teori nilai kerja, misalnya sebagai hasil dari distribusi awal kepemilikan yang tidak setara. Perdebatan ini menunjukkan bahwa nilai ilmiah teori nilai lebih dan kekuatan moral kritik atas eksploitasi dapat dinilai secara terpisah.
Keterasingan (Entfremdung, alienation) adalah konsep yang menjembatani kritik filosofis Marx muda dan analisis ekonominya yang kemudian. Marx merumuskannya dalam Economic and Philosophical Manuscripts (1844), naskah yang ia tulis di Paris dan baru terbit pada 1932, sehingga generasi Marxis sebelumnya tidak mengenalnya. Titik tolaknya adalah pengamatan atas ekonom Inggris: semakin banyak kekayaan yang diproduksi pekerja, semakin miskin ia, dan semakin besar kuasa produknya atas dirinya. Marx memakai gagasan Hegel dan Feuerbach tentang pengasingan diri, tetapi memindahkannya dari ranah ide dan agama ke ranah kerja. Bagi Marx, kerja adalah cara manusia mewujudkan kemampuannya dan membentuk dunia, sehingga bila kerja dijalankan di bawah paksaan dan demi kepentingan orang lain, manusia kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Marx menguraikan empat bentuk keterasingan dalam kerja upahan. Pertama, pekerja terasing dari produk kerjanya, karena apa yang ia hasilkan dimiliki pemilik modal dan berhadapan dengannya sebagai kekuatan asing. Kedua, ia terasing dari aktivitas kerja itu sendiri, karena kerja bukan bagian dari dirinya melainkan sesuatu yang dipaksakan, sehingga ia merasa bebas hanya di luar kerja, saat makan, minum, dan beristirahat, dan merasa tidak bebas saat bekerja. Ketiga, ia terasing dari “hakikat jenisnya” (Gattungswesen), yaitu kemampuan manusia untuk berproduksi secara sadar, bebas, dan universal, berbeda dari hewan yang berproduksi hanya demi kebutuhan langsung, sehingga kerja menjadi sekadar sarana bertahan hidup. Keempat, ia terasing dari sesamanya, karena hubungan dengan pemilik modal dan sesama pekerja ditentukan oleh persaingan dan pertukaran. Keempat bentuk itu saling berkait: bila produk kerja milik orang lain, maka aktivitas kerja pun melayani orang lain.
Marx matang tidak lagi banyak memakai istilah itu, dan para penafsir memperdebatkan hubungan antara tulisan muda dan karya matangnya. Louis Althusser dalam For Marx (1965) menyatakan adanya “pemutusan epistemologis” sekitar 1845, sehingga konsep keterasingan dianggap sisa filsafat humanis yang digantikan analisis struktur ekonomi. Sebaliknya, Erich Fromm dalam Marx’s Concept of Man (1961), Herbert Marcuse, dan kaum humanis Marxis seperti kelompok Praxis di Yugoslavia menekankan kesinambungan: konsep keterasingan muncul kembali dalam Grundrisse dan Das Kapital, terutama dalam fetisisme komoditas, ketika hubungan sosial tampil sebagai hubungan antarbenda yang mengendalikan manusia. Perbedaan tafsir ini bukan sekadar soal filologi. Ia menentukan apakah Marxisme dipahami terutama sebagai ilmu tentang struktur ekonomi atau sebagai kritik atas kehidupan manusia yang direndahkan.
Georg Lukács dalam History and Class Consciousness (1923), yang terbit sebelum naskah 1844 ditemukan, menjembatani kedua kutub itu lewat konsep reifikasi (Verdinglichung). Memadukan fetisisme komoditas Marx dengan analisis Max Weber tentang rasionalisasi, ia berargumen bahwa dalam kapitalisme seluruh hubungan manusia, kerja, waktu, dan bahkan kesadaran cenderung diperlakukan sebagai benda yang dapat dihitung dan diprediksi. Pekerja pabrik diperlakukan sebagai bagian mesin dan waktu diukur dalam satuan produksi, sehingga kesadaran manusia menjadi pasif dan hanya merenungkan dunia yang tampak berjalan menurut hukum sendiri. Pengaruh Lukács kemudian besar pada Mazhab Frankfurt dan Guy Debord dengan konsep masyarakat tontonan.
Kritik ideologi adalah sisi lain dari analisis ini. Dalam The German Ideology (1846), Marx dan Engels menyatakan bahwa gagasan yang berkuasa pada setiap zaman adalah gagasan kelas yang berkuasa, karena kelas yang menguasai sarana produksi material juga menguasai sarana produksi mental. Ideologi dalam pengertian ini bukan sekadar kebohongan, melainkan gambaran terbalik tentang kenyataan: kepentingan satu kelas tampil sebagai kepentingan umum, ketimpangan tampil sebagai kodrat, dan kebebasan kontrak menutupi eksploitasi. Mereka menyamakan prosesnya dengan citra kamera obscura, yang membalikkan gambar. Engels kemudian menyebut ideologi sebagai “kesadaran palsu”, istilah yang tidak dipakai Marx sendiri, untuk menunjuk cara berpikir yang tidak mengetahui kekuatan sebenarnya yang menggerakkannya. Dalam Das Kapital, kritik ini menjadi analisis tentang bagaimana kategori seperti upah, laba, dan harga tampak sebagai ungkapan alamiah, padahal menyembunyikan hubungan kelas.
Para penerus memperluas kritik ideologi ke wilayah baru. Antonio Gramsci menyatakan bahwa dominasi kelas bertumpu bukan hanya pada paksaan tetapi pada hegemoni, yaitu persetujuan yang dibentuk lewat sekolah, gereja, media, dan kebudayaan, sehingga akal sehat sehari-hari pun mengandung ideologi. Louis Althusser dalam esai “Ideology and Ideological State Apparatuses” (1970) menyatakan bahwa ideologi tidak hanya terdiri atas gagasan, tetapi hadir dalam praktik dan lembaga, dan bahwa ia “memanggil” (interpellation) individu sebagai subjek yang menerima tempatnya. Theodor Adorno dan Max Horkheimer dalam Dialectic of Enlightenment (1944) menganalisis industri budaya yang menyeragamkan selera dan membuat konsumsi tampak sebagai kebebasan, sedangkan Herbert Marcuse dalam One-Dimensional Man (1964) menyatakan bahwa masyarakat industri maju meredam kritik dengan memenuhi kebutuhan semu. Jürgen Habermas, generasi berikutnya dari Mazhab Frankfurt, mengubah pertanyaan menjadi soal komunikasi yang terdistorsi oleh kekuasaan.
Konsep keterasingan dan ideologi menghadapi keberatan. Karl Popper menyatakan bahwa teori kesadaran palsu mengandung jebakan: kritik apa pun terhadap Marxisme dapat ditafsirkan sebagai bukti bahwa pengkritiknya terjebak ideologi borjuis, sehingga teorinya kebal terhadap pembuktian. Sosiolog dan filsuf juga mempersoalkan klaim tentang hakikat manusia sebagai makhluk pencipta yang bebas: gagasan itu bersifat metafisis dan sulit diuji, dan para pascastrukturalis seperti Michel Foucault menolak anggapan adanya hakikat manusia yang diasingkan lalu dapat dipulihkan. Sebagian kritikus mencatat bahwa kerja upahan modern tidak selalu dialami sebagai keterasingan, dan banyak pekerja justru menemukan makna dalam pekerjaannya. Di sisi lain, pembela menunjuk pada penelitian sosiologi kerja, seperti studi Robert Blauner tentang pekerja pabrik dan kajian David Graeber tentang “pekerjaan omong kosong” (bullshit jobs), yang menunjukkan bahwa perasaan tidak berdaya dan tak bermakna dalam kerja tetap nyata dalam ekonomi kontemporer. Pembelaan itu juga mengakui bahwa pengalaman keterasingan berbeda menurut jenis pekerjaan, budaya, dan kondisi kerja, sehingga konsep ini lebih berguna sebagai pertanyaan kritis tentang kerja daripada sebagai klaim universal.
Bagi Marx, revolusi bukan peristiwa yang dapat dipicu kehendak segelintir orang, melainkan hasil kematangan kontradiksi dalam cara produksi. Dalam kata pengantar tahun 1859, ia menyatakan bahwa tidak ada tatanan sosial yang binasa sebelum semua tenaga produktif yang masih dapat ia tampung berkembang, dan hubungan produksi baru tidak muncul sebelum syarat materialnya matang di dalam rahim masyarakat lama. Karena itu revolusi sosial dipahami sebagai puncak proses panjang: krisis ekonomi berulang, bertambahnya jumlah dan organisasi proletariat, serta melemahnya legitimasi kelas penguasa. Marx dan Engels menolak konspirasi ala Blanqui yang mengandalkan kelompok kecil perebut kekuasaan. Dalam Manifesto Partai Komunis, mereka menyebut gerakan proletar sebagai gerakan mandiri dari mayoritas yang besar demi kepentingan mayoritas yang besar.
Pengalaman revolusi 1848 dan Komune Paris 1871 membentuk pemikiran mereka tentang bentuk politik peralihan. Dalam The Eighteenth Brumaire (1852), Marx menyimpulkan bahwa semua revolusi sebelumnya menyempurnakan mesin negara, padahal tugas sebenarnya adalah menghancurkannya. Setelah Komune, dalam The Civil War in France (1871), ia menyebutnya bentuk politik yang akhirnya ditemukan: pejabat dipilih lewat hak pilih universal dan dapat ditarik kembali, digaji setara upah pekerja, tentara tetap digantikan rakyat bersenjata, dan lembaga bersifat sekaligus legislatif dan eksekutif. Pada edisi tahun 1872 Manifesto, mereka mencatat bahwa kelas pekerja tidak dapat begitu saja mengambil alih mesin negara yang sudah jadi dan memakainya untuk tujuannya sendiri.
Marx menamai masa peralihan itu kediktatoran proletariat. Dalam Critique of the Gotha Programme (1875), ia menulis bahwa antara masyarakat kapitalis dan komunis terdapat masa transformasi revolusioner, dan negara pada masa itu tidak lain adalah kediktatoran revolusioner proletariat. Istilah itu jarang muncul dalam tulisannya. Hal Draper dalam kajiannya menunjukkan bahwa “diktator” di sini mengacu pada tradisi Romawi tentang kekuasaan darurat sementara, dan Engels pada 1891 menunjuk Komune Paris sebagai contohnya, yaitu kekuasaan mayoritas atas bekas penguasa, bukan tirani perseorangan. Marx tidak merinci kelembagaan masa itu, dan ketiadaan cetak biru ini membuka ruang tafsir. Sebagian penerus menganggap bentuknya dewan demokratis, sebagian lain partai tunggal yang memimpin negara.
Marx juga membedakan dua fase pascakapitalis dalam Critique of the Gotha Programme. Fase pertama, yang kemudian disebut sosialisme, masih membawa “cacat” masyarakat lama: imbalan dibagi menurut kerja yang disumbangkan, setelah dikurangi dana bersama. Fase yang lebih tinggi baru tercapai ketika tenaga produktif telah berkembang pesat, pembagian kerja yang mengikat orang pada satu pekerjaan lenyap, dan kerja menjadi kebutuhan hidup utama. Pada tahap itulah berlaku prinsip bahwa setiap orang bekerja menurut kemampuannya dan menerima menurut kebutuhannya. Dalam The German Ideology, ia membayangkan masyarakat tempat orang dapat berburu pagi hari, memancing siang hari, beternak sore hari, dan mengkritik setelah makan malam tanpa menjadi pemburu, nelayan, atau kritikus tetap. Negara, sebagai alat satu kelas atas kelas lain, akan layu seiring lenyapnya kelas, dan Engels menyebutnya pemerintahan atas manusia digantikan pengelolaan benda dan pengarahan produksi.
Soal cara perebutan kekuasaan, Marx tidak tunggal. Dalam pidatonya di Amsterdam (1872), ia menyebut bahwa di Inggris, Amerika Serikat, dan mungkin Belanda, pekerja dapat mencapai tujuannya lewat cara damai, sedangkan di sebagian besar benua Eropa tuas revolusi harus berupa kekuatan. Engels dalam kata pengantar tahun 1895 untuk The Class Struggles in France menilai bahwa hak pilih universal telah mengubah syarat perjuangan. Pada akhir hidupnya, Marx dalam surat kepada Vera Zasulich (1881) mengakui kemungkinan Rusia melewati tahap kapitalis bila komune desa dapat menjadi titik tolak pembaruan, asalkan revolusi di Rusia dipadukan revolusi di Barat. Dari sini lahir perbedaan besar di antara penerusnya: Bernstein memilih reformasi, Kautsky menanti kematangan kondisi, Luxemburg menekankan massa, dan Lenin menekankan partai pelopor.
Revolusi Rusia dan pengalaman sesudahnya menguji gagasan ini. Lenin dalam The State and Revolution (1917) menafsirkan ulang Marx dengan menekankan bahwa negara borjuis harus dihancurkan, dan menggambarkan negara pekerja yang meniru Komune. Namun di Uni Soviet, perang saudara, pembubaran Majelis Konstituante (1918), larangan faksi dalam partai (1921), dan kekuasaan Stalin mengubah kediktatoran kelas menjadi kekuasaan partai dan kemudian pemimpin tunggal. Negara tidak layu, melainkan membesar. Trotsky menyebutnya negara pekerja yang mengalami degenerasi birokratis, Milovan Djilas menyebut birokrasi partai sebagai “kelas baru”, dan Luxemburg dari awal memperingatkan bahwa kebebasan hanya bagi pendukung pemerintah bukanlah kebebasan. Para pembela mengaitkan hasil itu dengan kondisi Rusia yang agraris, perang, dan pengepungan asing, sedangkan pengkritik, seperti Hannah Arendt dan Karl Popper, melihat sumbernya pada konsep kekuasaan tanpa batas.
Tradisi Marxis kemudian mencari jalan lain. Eurokomunisme pada 1970-an, yang diwakili partai komunis Italia, Prancis, dan Spanyol, secara resmi meninggalkan istilah kediktatoran proletariat dan menerima pluralisme. Nicos Poulantzas dalam State, Power, Socialism (1978) mengusulkan “jalan demokratis menuju sosialisme” yang memadukan perubahan lewat lembaga representatif dengan gerakan massa dari bawah. Sebagian Marxis kontemporer, seperti Erik Olin Wright, menolak pola “pecahan” dan mengusulkan strategi erosi, yaitu memperluas bentuk kepemilikan sosial di celah-celah kapitalisme. Kritik dari luar tetap mempersoalkan dasarnya. Liberal menilai bahwa tidak ada jaminan kekuasaan peralihan akan menyerahkan kekuasaan, dan anarkis seperti Bakunin sejak abad ke-19 memperingatkan bahwa negara peralihan akan melahirkan kelas penguasa baru. Para ekonom seperti Mises dan Hayek menyatakan bahwa tanpa pasar bagi alat produksi, fase pertama tidak dapat menghitung secara rasional. Pembela menjawab bahwa Marx lebih memberi arah daripada cetak biru, dan bahwa pelajaran dari kegagalan abad ke-20 perlu menjadi bagian dari perumusan ulang tradisi ini.
Praksis adalah konsep yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang dunia dan tindakan untuk mengubahnya tidak dapat dipisahkan. Kata ini berasal dari bahasa Yunani praxis yang berarti tindakan. Aristoteles membedakannya dari theoria (perenungan) dan poiesis (pembuatan), dan memakainya untuk tindakan etis dan politis yang bertujuan pada dirinya sendiri. Marx memberi makna baru. Dalam “Theses on Feuerbach” (1845), ia menyatakan bahwa kelemahan utama seluruh materialisme sebelumnya, termasuk Feuerbach, adalah memandang kenyataan hanya sebagai objek yang direnungkan, bukan sebagai aktivitas manusia yang konkret. Tesis kedua menyatakan bahwa pertanyaan tentang apakah pemikiran manusia dapat mencapai kebenaran objektif bukan soal teori, melainkan soal praktis: manusia harus membuktikan kebenaran pikirannya dalam praktik. Tesis kesebelas menutupnya dengan ungkapan bahwa para filsuf hanya menafsirkan dunia, sedangkan yang penting adalah mengubahnya.
Dasar pemikiran ini terletak pada pandangan Marx tentang manusia dan kerja. Manusia dipahami sebagai makhluk yang membentuk dirinya melalui aktivitas produktif: dengan mengubah alam, ia mengubah dirinya. Karena itu pengetahuan tidak berasal dari pengamat netral yang berdiri di luar dunia, melainkan dari keterlibatan di dalamnya. Teori Marxis pun tidak dimaksudkan sebagai ilmu yang netral, melainkan sebagai pengetahuan yang lahir dari, dan melayani, perjuangan kelas pekerja. Das Kapital adalah analisis ilmiah sekaligus senjata politik: Marx menulisnya dengan keyakinan bahwa membongkar cara kerja eksploitasi akan memperkuat kesadaran dan organisasi mereka yang dieksploitasi. Ia juga mengkritik para sosialis utopis karena merancang masyarakat ideal dari kepala sendiri, bukan dari gerak nyata kontradiksi sosial.
Tradisi Marxis mengembangkan konsep ini ke beberapa arah. Antonio Gramsci, yang menulis dalam penjara fasis, menyebut Marxisme sebagai “filsafat praksis”, sebagian untuk mengelabui sensor, tetapi juga karena ia memahaminya sebagai filsafat yang tidak berhenti pada pemikiran. Baginya, setiap orang adalah filsuf dalam pengertian tertentu, sebab setiap orang memiliki pandangan dunia yang terkandung dalam bahasa dan akal sehatnya, dan tugas intelektual organik adalah menghubungkan pemahaman kritis dengan pengalaman kelas yang diwakilinya. Georg Lukács dalam History and Class Consciousness (1923) menyatakan bahwa kesatuan teori dan praksis terwujud dalam proletariat, karena ia adalah subjek sekaligus objek pengetahuan sejarah. Karl Korsch dalam Marxism and Philosophy (1923) berpendapat bahwa Marxisme adalah ekspresi teoretis gerakan revolusioner, dan menolak pemisahannya dari praktik politik.
Dalam praktik gerakan, konsep ini mengambil bentuk yang berlainan. Lenin menekankan bahwa “tanpa teori revolusioner tidak mungkin ada gerakan revolusioner”, dan menjadikan partai sebagai penghubung antara teori dan tindakan massa. Mao Zedong dalam esai “On Practice” (1937) menguraikan bahwa pengetahuan bermula dari praktik, bergerak ke pengetahuan rasional, lalu kembali diuji dalam praktik, dalam siklus yang tidak berhenti. Esai itu memengaruhi pendidikan politik di Tiongkok, tetapi sering dikritik karena dipakai membenarkan kebijakan partai sebagai kebenaran. Di Amerika Latin, Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1968) memakai istilah praksis sebagai refleksi dan tindakan atas dunia untuk mengubahnya, dan menjadi dasar pendidikan kritis yang memengaruhi gerakan literasi dan teologi pembebasan. Kelompok Praxis di Yugoslavia pada 1960-an mengajukan kritik humanis terhadap birokrasi sosialis dengan nama yang sama.
Mazhab Frankfurt memperlihatkan ketegangan dalam gagasan ini. Max Horkheimer dalam esai “Traditional and Critical Theory” (1937) membedakan teori tradisional, yang menjelaskan fakta tanpa mempertanyakan kerangka sosialnya, dari teori kritis, yang berpijak pada kepentingan emansipasi. Namun setelah gagalnya revolusi di Barat dan bangkitnya fasisme, Theodor Adorno menilai bahwa tuntutan segera berpraksis dapat menjadi tekanan yang mengekang pemikiran, dan ia membela pemikiran kritis sebagai bentuk perlawanan tersendiri. Perdebatan ini memuncak pada 1960-an ketika mahasiswa radikal menuduh Adorno menjauh dari politik, dan ia menjawab bahwa ketidaksabaran terhadap teori sering berujung pada aktivisme tanpa arah. Jürgen Habermas mengalihkan persoalan itu ke pertanyaan tentang komunikasi dan rasionalitas, bukan kerja semata, sehingga praksis dipahami sebagai tindakan komunikatif.
Konsep praksis dikritik dari beberapa sisi. Karl Popper menilai bahwa penyatuan teori dan tindakan melemahkan standar pengujian: bila kebenaran ditentukan oleh keberhasilan perjuangan, teori dapat dipertahankan dengan menyalahkan keadaan. Louis Althusser dalam Reading Capital (1965) menolak pembacaan praksis humanis dan menekankan bahwa Marxisme adalah ilmu dengan objek dan metodenya sendiri, yang tidak dapat disamakan dengan ideologi gerakan, meskipun kemudian ia menyatakan bahwa filsafat adalah “perjuangan kelas dalam teori”. Pengalaman sejarah menambah keraguan: ketika Marxisme menjadi doktrin resmi di Uni Soviet dan Tiongkok, kesatuan teori dan praktik berubah menjadi kewajiban menyesuaikan pemikiran dengan garis partai, seperti dalam kasus Lysenkoisme, ketika teori genetika dihukum demi kepentingan politik. Sebagian pemikir pascamarxis menilai bahwa kepentingan emansipatoris dapat membutakan analisis, sedangkan pembela menjawab bahwa tidak ada pengetahuan sosial yang benar-benar netral, sehingga yang perlu dilakukan adalah mengakui kepentingan itu secara terbuka dan menjaga kritik tetap hidup di dalam gerakan.
Marxisme sejak awal bukan satu bangunan yang seragam. Setelah Marx wafat pada 1883, para penerusnya langsung berselisih tentang apa yang sebenarnya diajarkan Marx, bagaimana menerapkannya pada kondisi yang berubah, dan siapa yang berhak berbicara atas namanya. Perbedaan itu tumbuh menjadi aliran-aliran yang dapat dikenali dari persoalan yang menjadi pusat perhatiannya: jalan menuju sosialisme, peran partai dan negara, hubungan teori dengan budaya, serta tempat kelas dalam dunia yang makin kompleks. Pembedaan di bawah ini bersifat ringkasan, dan banyak tokoh tidak dapat dimasukkan rapi ke satu aliran saja.
Marxisme ortodoks Internasional Kedua berkembang di bawah Karl Kautsky dan Georgi Plekhanov. Mereka memandang Marxisme sebagai ilmu tentang hukum perkembangan sejarah yang menuntun kapitalisme pada keruntuhan dan sosialisme pada kemenangannya. Kautsky dalam The Class Struggle (1892), yang menjelaskan program Partai Sosial Demokrat Jerman, menekankan bahwa partai dapat menunggu kematangan kondisi sambil membangun organisasi dan merebut suara. Tafsir deterministik ini membuat gerakan tampak yakin akan kemenangan, tetapi juga rentan terhadap kebimbangan ketika ramalan tidak terjadi. Eduard Bernstein menarik kesimpulan revisionis: karena kapitalisme tidak runtuh sebagaimana diramalkan, tujuan gerakan harus dialihkan ke reformasi demokratis. Dari sini lahir sosial demokrasi, yang meninggalkan perebutan kekuasaan revolusioner tetapi mempertahankan sebagian kritik terhadap ketimpangan. Rosa Luxemburg menentang kedua kubu dengan menekankan spontanitas massa, demokrasi dalam sosialisme, dan keruntuhan kapitalisme melalui keterbatasan pasar luar dalam The Accumulation of Capital (1913).
Marxisme-Leninisme tumbuh dari praktik Revolusi Rusia. Vladimir Lenin mengubah Marxisme menjadi pedoman politik bagi negara agraris yang terbelakang: partai pelopor yang disiplin, teori imperialisme sebagai tahap tertinggi kapitalisme, dan kediktatoran proletariat sebagai negara tipe baru. Setelah Lenin wafat, Joseph Stalin membakukannya menjadi doktrin resmi, lengkap dengan materialisme dialektis, lima tahap sejarah, dan keyakinan pada “sosialisme di satu negara”. Marxisme-Leninisme diekspor ke Eropa Timur, Tiongkok, Vietnam, Kuba, dan negara-negara lain, dan menjadi ideologi negara yang mengatur ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Pengalaman ini menghasilkan industrialisasi dan melek huruf massal, tetapi juga pemusatan kekuasaan, penindasan terhadap lawan, dan pembakuan pemikiran yang dikritik banyak Marxis lain.
Dari dalam tradisi Leninis muncul perlawanan dan variasi. Leon Trotsky menentang Stalin dengan teori revolusi permanen, yaitu bahwa revolusi di negara terbelakang harus berlanjut ke revolusi sosialis dan meluas ke dunia, dan mengkritik birokratisasi negara Soviet dalam The Revolution Betrayed (1936). Trotskisme melahirkan Internasional Keempat dan banyak kelompok kecil. Mao Zedong menyesuaikan Marxisme dengan masyarakat petani Tiongkok, menempatkan kaum tani sebagai kekuatan revolusioner utama dan mengembangkan perang rakyat serta konsep “kontradiksi” dalam On Contradiction (1937). Maoisme menginspirasi gerakan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, tetapi juga menghasilkan Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan dengan korban besar. Di Yugoslavia, Tito memisahkan diri dari Moskow pada 1948 dan mengembangkan pengelolaan mandiri pekerja, sedangkan Enver Hoxha di Albania mempertahankan garis keras Stalinis.
Marxisme Barat adalah sebutan bagi tradisi filsafat dan kritik budaya yang berkembang di Eropa Barat dan Tengah, jauh dari kekuasaan negara. Istilah ini dipopularkan Maurice Merleau-Ponty dan dipakai Perry Anderson dalam Considerations on Western Marxism (1976), yang mencatat bahwa para pemikirnya, dari Lukács, Korsch, dan Gramsci hingga Mazhab Frankfurt, Sartre, dan Althusser, beralih dari ekonomi dan strategi politik ke filsafat, estetika, dan budaya setelah gagalnya revolusi di Barat. Lukács menghidupkan reifikasi dan kesadaran kelas, Gramsci mengembangkan hegemoni, dan Mazhab Frankfurt memadukan Marx dengan Freud dan Weber untuk mengkritik industri budaya dan rasionalitas instrumental, termasuk dalam karya Herbert Marcuse. Walter Benjamin, Ernst Bloch, dan Henri Lefebvre memperluas kritik ke seni, harapan, dan kehidupan sehari-hari. Kekuatan tradisi ini adalah kedalaman analisisnya, dan kelemahannya, menurut Anderson, adalah jaraknya dari praktik politik massa.
Marxisme strukturalis, yang dipelopori Louis Althusser, berusaha membersihkan Marxisme dari humanisme dan Hegelianisme. Dalam For Marx dan Reading Capital (1965), Althusser menyatakan bahwa Marx matang mendirikan ilmu baru tentang sejarah dengan konsep seperti cara produksi, formasi sosial, dan determinasi berlapis (overdetermination), dan bahwa subjek manusia bukan pelaku sejarah melainkan efek dari struktur. Pengaruhnya besar pada kajian sosial, tetapi ia dikritik E. P. Thompson dalam The Poverty of Theory (1978) karena menyingkirkan pengalaman dan agensi manusia. Sebaliknya, Marxisme analitis, yang berkembang pada akhir 1970-an di sekitar G. A. Cohen, Jon Elster, dan John Roemer, memakai metode filsafat analitis, teori pilihan rasional, dan teori permainan untuk menyatakan ulang klaim Marx secara jelas dan menguji validitasnya. Mereka sering menolak dialektika dan teori nilai kerja, dan Roemer mengajukan teori eksploitasi berbasis distribusi aset.
Aliran lain berfokus pada dimensi yang kurang diperhatikan Marx. Marxisme feminis, yang dikembangkan Heidi Hartmann, Silvia Federici, dan Lise Vogel, menganalisis kerja reproduktif yang tidak dibayar, hubungan antara kapitalisme dan patriarki, dan perdebatan tentang “sistem ganda”. Teori ketergantungan dan sistem dunia, yang dikembangkan Andre Gunder Frank, Samir Amin, dan Immanuel Wallerstein, mengaitkan keterbelakangan Dunia Ketiga dengan struktur kapitalisme global. Marxisme pascakolonial muncul pada Frantz Fanon, C. L. R. James, Aimé Césaire, dan di Indonesia pada Tan Malaka, yang memadukan analisis kelas dengan pengalaman kolonial. Ekososialisme, yang dikembangkan John Bellamy Foster dan Joel Kovel, memakai konsep “keretakan metabolik” Marx untuk menganalisis krisis ekologis. Pascamarxisme, yang diwakili Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe dalam Hegemony and Socialist Strategy (1985), menolak peran istimewa kelas dan menekankan politik hegemoni yang menghubungkan banyak tuntutan, sedangkan Slavoj Žižek dan Alain Badiou menghidupkan kembali gagasan komunisme dalam bentuk filosofis.
Keragaman itu menimbulkan pertanyaan apakah ada inti yang tetap. Sebagian penafsir, seperti Leszek Kołakowski dalam Main Currents of Marxism, menilai bahwa Marxisme berkembang dari satu sumber yang mengandung benih kekuasaan totaliter, sehingga cabang-cabangnya tak terpisahkan dari akibat politiknya. Pembela membantah bahwa menyalahkan Marx atas Stalin sama seperti menyalahkan Yesus atas Inkuisisi, dan menegaskan bahwa Marx memberi analisis, bukan cetak biru. Pandangan yang lebih netral menyebut bahwa kesamaan minimal yang menyatukan aliran-aliran ini adalah kritik terhadap kapitalisme sebagai sistem yang menghasilkan ketimpangan dan keterasingan, perhatian pada kelas dan hubungan produksi, serta keyakinan bahwa perubahan sosial memerlukan pemahaman material tentang kekuasaan. Setelah 1991, Marxisme kehilangan kekuatan politik tetapi bertahan sebagai alat analisis di universitas, serikat pekerja, dan gerakan sosial, dan krisis keuangan 2008 serta meningkatnya ketimpangan menghidupkan kembali minat terhadapnya, dengan hasil yang beragam dan arah yang belum pasti.
Marxisme bertolak dari Karl Marx, yang pada masa mudanya menyerap filsafat Hegel di Berlin dan kemudian menggesernya dari dunia ide ke dunia kehidupan material. Dalam Economic and Philosophical Manuscripts (1844), yang tidak terbit semasa hidupnya, ia menganalisis keterasingan pekerja dalam kerja upahan, sedangkan dalam The German Ideology (1846), yang ditulis bersama Friedrich Engels, ia merumuskan bahwa bukan kesadaran yang menentukan keberadaan, melainkan keberadaan sosial yang menentukan kesadaran. Puncaknya adalah Das Kapital (1867), analisis panjang tentang komoditas, nilai, dan nilai lebih yang berusaha menunjukkan bagaimana eksploitasi bekerja di balik pertukaran yang tampak adil. Engels, pengusaha tekstil dari Manchester, menopang Marx secara finansial dan intelektual. Lewat The Condition of the Working Class in England (1845) ia menyumbang pengamatan langsung atas kemiskinan buruh, dan lewat Anti-Dühring (1878) serta Socialism: Utopian and Scientific (1880) ia menyusun uraian sistematis yang menjadikan Marxisme dikenal luas.
Generasi berikutnya menafsirkan dan memperdebatkan warisan itu. Karl Kautsky, yang dijuluki “paus Marxisme” pada Internasional Kedua, menyebarkan ortodoksi, sedangkan Eduard Bernstein dalam The Preconditions of Socialism (1899) mengajukan revisi bahwa kapitalisme tidak runtuh seperti diramalkan sehingga sosialisme dapat dicapai lewat reformasi. Rosa Luxemburg menentang revisionisme dalam Reform or Revolution? (1900), menekankan spontanitas massa, dan mengkritik Lenin karena menyingkirkan demokrasi. Vladimir Lenin mengembangkan teori partai pelopor dalam What Is to Be Done? (1902) dan teori imperialisme dalam Imperialism, the Highest Stage of Capitalism (1917), lalu memimpin Revolusi Oktober, dan perpaduan gagasannya dikenal sebagai Marxisme-Leninisme. Leon Trotsky menentang Stalin dengan teori revolusi permanen dan kritik atas birokratisasi dalam The Revolution Betrayed (1936), sedangkan Mao Zedong menyesuaikan Marxisme dengan masyarakat petani Tiongkok dalam tulisan seperti On Contradiction (1937).
Di Eropa Barat, Marxisme berkembang sebagai tradisi filsafat dan kritik budaya. Georg Lukács dalam History and Class Consciousness (1923) menghidupkan konsep reifikasi dan kesadaran kelas, Antonio Gramsci dalam Prison Notebooks mengembangkan konsep hegemoni, dan Mazhab Frankfurt, terutama Theodor Adorno, Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse, memadukan Marx dengan Freud dan Weber untuk mengkritik industri budaya dan masyarakat industri maju. Louis Althusser memberi tafsir strukturalis dalam For Marx (1965) dan menyatakan adanya pemutusan antara Marx muda dan Marx matang. Jean-Paul Sartre dalam Critique of Dialectical Reason (1960) berusaha memadukan Marxisme dan eksistensialisme, dan para pemikir pascakolonial seperti Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth (1961) dan C. L. R. James menerapkannya pada kolonialisme. Dalam pemikiran kontemporer, Fredric Jameson menganalisis budaya kapitalisme akhir, David Harvey menafsirkan ruang dan akumulasi, G. A. Cohen mempertahankan Marxisme dengan metode filsafat analitis dalam Karl Marx’s Theory of History (1978), dan Thomas Piketty menghidupkan perdebatan tentang ketimpangan, sedangkan di Indonesia Tan Malaka merumuskan Marxisme dalam konteks kolonial lewat Madilog (1943).