Ekologi Dalam

Dipublikasikan: 6 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 6 Oktober 2026

Ekologi dalam (deep ecology) adalah aliran filsafat dan gerakan sosial yang berpandangan bahwa alam memiliki nilai pada dirinya sendiri, terlepas dari kegunaannya bagi manusia. Aliran ini menolak cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat segala nilai, dan mengajak manusia melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas. Ekologi dalam lebih tepat disebut filsafat lingkungan dan gerakan nilai, bukan ideologi politik dalam arti sempit, meskipun ia membawa implikasi politik dan ekonomi yang besar.

Istilah ini diperkenalkan oleh filsuf Norwegia Arne Naess pada 1973 melalui artikel yang membedakan gerakan ekologi “dangkal” dan “dalam”. Gerakan yang dangkal dipandang hanya berfokus pada pengendalian pencemaran dan penghematan sumber daya demi kepentingan manusia di negara maju. Gerakan yang dalam dipandang mempertanyakan akar masalah, yakni cara pandang, nilai, dan struktur masyarakat industri. Perkembangan ini dipengaruhi oleh keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan pada abad ke-20, termasuk buku Silent Spring karya Rachel Carson (1962) yang membangkitkan kesadaran publik.

Ekologi dalam memengaruhi gerakan lingkungan radikal, etika lingkungan, dan perdebatan tentang hak alam. Para pendukungnya memandangnya sebagai perubahan cara pandang yang diperlukan untuk menghadapi krisis ekologis. Para pengkritiknya menilai aliran ini sulit diterapkan secara praktis, berpotensi mengabaikan kebutuhan manusia, terutama masyarakat miskin, dan sebagian menuduhnya kurang peka terhadap keadilan sosial.

Pengertian Ekologi Dalam

Ekologi dalam secara umum dipahami sebagai pandangan bahwa semua bentuk kehidupan memiliki nilai intrinsik, yaitu nilai yang tidak bergantung pada manfaatnya bagi manusia, serta bahwa kesejahteraan manusia dan makhluk lain saling terkait dalam sistem ekologis yang utuh. Dari pandangan ini diturunkan tuntutan perubahan mendasar dalam gaya hidup, ekonomi, dan kebijakan.

Istilah “ekologi” berasal dari bahasa Yunani oikos (rumah) dan logos (ilmu), yang dipopulerkan oleh Ernst Haeckel pada abad ke-19 sebagai studi tentang hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya. Sementara itu, kata “dalam” merujuk pada kebiasaan mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar tentang tujuan dan nilai, bukan sekadar mencari solusi teknis. Naess dan George Sessions kemudian merumuskan delapan butir platform sebagai kesepakatan dasar para pendukungnya.

Ekologi dalam perlu dibedakan dari beberapa aliran lain. Antroposentrisme menempatkan manusia sebagai satu-satunya pemilik nilai moral. Konservasionisme dan lingkungan hidup arus utama umumnya menekankan pengelolaan sumber daya secara bijak bagi manusia. Ekofeminisme dan ekologi sosial mengaitkan kerusakan alam dengan dominasi sosial. Ekologi dalam sendiri merupakan rumpun pemikiran yang beragam, dengan tafsir yang berbeda mengenai dasar filosofis dan strategi politiknya.

Ciri-Ciri Ekologi Dalam

Nilai Intrinsik Alam

Nilai intrinsik adalah nilai yang dimiliki sesuatu pada dirinya sendiri, bukan karena berguna bagi pihak lain. Lawannya adalah nilai instrumental, yaitu nilai yang muncul karena sesuatu menjadi alat untuk tujuan lain. Hutan bernilai instrumental bila dihargai karena kayu, cadangan air, atau daya tarik wisatanya. Hutan bernilai intrinsik bila ia layak dilindungi karena keberadaannya sendiri. Butir pertama platform Naess dan Sessions menyatakan bahwa kesejahteraan dan perkembangan kehidupan manusia maupun nonmanusia di bumi bernilai pada dirinya sendiri, dan nilai itu tidak bergantung pada kegunaan dunia nonmanusia bagi tujuan manusia.

Alasan ekologi dalam menekankan nilai intrinsik bersifat strategis sekaligus filosofis. Perlindungan alam yang hanya bertumpu pada manfaat bersifat rapuh, karena manfaat dapat diganti teknologi atau dianggap tidak lagi menguntungkan, dan perlindungan itu runtuh bersamanya. Hilangnya satu spesies yang tidak berguna secara ekonomi tidak akan dianggap persoalan oleh logika manfaat, padahal ekologi dalam menilainya sebagai kerugian moral. Argumen manfaat, seperti potensi obat atau jasa ekosistem, tidak ditolak, tetapi dipandang sebagai alasan tambahan, bukan fondasi.

Para pemikir tidak sepakat tentang makna “intrinsik”. Sebagian menafsirkannya sebagai nilai objektif yang ada di alam walaupun tidak ada makhluk yang menilai. Naess dalam beberapa tulisannya lebih memilih “nilai inheren” yang dipahami sebagai nilai yang tampak dalam hubungan antara manusia dan alam, sehingga tidak sepenuhnya lepas dari pengalaman manusia. Perbedaan ini menyentuh pertanyaan lama dalam etika lingkungan: apakah nilai dapat ada tanpa pihak yang menilai? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan seberapa kuat klaim bahwa alam harus dilindungi.

Konsekuensi praktisnya, kepentingan manusia tidak otomatis menang ketika berbenturan dengan kelestarian ekosistem. Namun, ekologi dalam mengakui bahwa manusia, seperti makhluk lain, memiliki kebutuhan vital yang sah. Yang dipersoalkan adalah campur tangan yang melampaui kebutuhan vital tersebut, misalnya perusakan habitat demi konsumsi berlebihan.

Gagasan ini menghadapi dua keberatan utama. Pertama, sebagian filsuf mempertanyakan apakah entitas tanpa kesadaran atau kepentingan, seperti spesies dan ekosistem, dapat memiliki nilai pada dirinya sendiri. Kedua, tanpa ukuran yang jelas, klaim ini sulit dipakai untuk memutuskan konflik konkret, misalnya antara kebutuhan pangan masyarakat dan perlindungan satu kawasan.

Biosentrisme dan Egalitarianisme Biosferis

Biosentrisme adalah pandangan bahwa kehidupan itu sendiri menjadi dasar pertimbangan moral. Setiap makhluk hidup dipandang memiliki kepentingan untuk bertahan, tumbuh, dan berkembang menurut caranya sendiri, sehingga layak diperhitungkan secara moral. Batasnya bukan kemampuan merasakan sakit, sebagaimana dalam etika hewan, melainkan hidup itu sendiri. Dengan demikian, pohon, serangga, jamur, dan bakteri termasuk dalam lingkup perhatian moral, meskipun tidak memiliki kesadaran. Dasar pemikirannya adalah bahwa organisme hidup memiliki “kebaikan” yang dapat dirugikan atau dimajukan: akar yang terputus, habitat yang hilang, atau tubuh yang tidak mendapat nutrisi jelas merugikan organisme tersebut, terlepas dari ada tidaknya pengalaman subjektif.

Rumusan biosentrisme yang paling sistematis diberikan oleh Paul Taylor dalam Respect for Nature (1986). Taylor berpendapat bahwa setiap organisme adalah “pusat kehidupan yang bertujuan”, yaitu entitas yang secara teratur mengarahkan dirinya pada pemeliharaan diri dan pertumbuhan. Dari pandangan ini, ia menurunkan sikap hormat terhadap alam sebagai sikap moral dasar, serta empat kewajiban: tidak merugikan, tidak mencampuri kebebasan organisme, tidak menipu, dan memulihkan keadilan bila terjadi kerugian. Taylor juga menolak keunggulan bawaan manusia, dengan alasan bahwa klaim manusia lebih bernilai hanyalah prasangka spesies yang tidak dapat dibuktikan secara netral, sebab ukuran keunggulan itu ditentukan oleh manusia sendiri.

Biosentrisme perlu dibedakan dari ekosentrisme. Biosentrisme memusatkan nilai pada individu organisme, sedangkan ekosentrisme memusatkannya pada keseluruhan seperti spesies, ekosistem, dan proses ekologis. Perbedaan ini menghasilkan kesimpulan praktis yang bertentangan. Dalam kasus spesies invasif yang mengancam ekosistem pulau, ekosentrisme dapat membenarkan pemusnahan individu demi keutuhan ekosistem, sedangkan biosentrisme yang ketat akan mempersoalkan pembunuhan tiap individu. Ekologi dalam memuat kedua kecenderungan. Naess lebih sering menekankan relasi dan keutuhan ekosistem, sehingga banyak penafsir menilai pandangannya lebih dekat ke ekosentrisme, meskipun ia tetap memakai bahasa kehidupan individual dalam rumusan platformnya.

Egalitarianisme biosferis adalah prinsip bahwa semua makhluk memiliki hak yang sama untuk hidup dan berkembang dalam kerangka biosfer yang lebih besar. Naess dan Sessions menyebutnya sebagai intuisi dasar, yaitu pengalaman bahwa manusia tidak berhak menganggap hidupnya lebih berharga secara mutlak daripada kehidupan lain, bukan kesimpulan dari argumen formal. Naess mengakui bahwa kesetaraan ini tidak dapat diterapkan secara mutlak, karena setiap makhluk hidup tidak terhindarkan membunuh, memakan, atau mengubah makhluk lain untuk bertahan. Karena itu, ia menambahkan kualifikasi “dalam prinsip”, yang berarti kesetaraan berfungsi sebagai orientasi nilai, sedangkan tindakan nyata selalu menuntut penimbangan atas situasi konkret.

Baca juga :  Ideologi

Untuk menjembatani prinsip dengan praktik, ekologi dalam memakai pembatasan pada kebutuhan vital. Manusia boleh memakai makhluk lain untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, tempat tinggal, dan kesehatan, tetapi tidak untuk keinginan yang melampauinya, seperti perburuan demi hiasan atau penebangan hutan demi konsumsi berlebihan. Naess sengaja membiarkan batas kebutuhan vital longgar, karena bergantung pada iklim, budaya, dan kondisi masyarakat; kebutuhan vital penduduk Arktik tentu berbeda dari penduduk kota tropis. Kelonggaran inilah yang disorot Ramachandra Guha, sebab tanpa urutan prioritas yang jelas, kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat adat mudah terdesak oleh agenda perlindungan alam. Karena itu, tolok ukurnya bukan aturan yang kaku, melainkan kewajiban untuk membenarkan setiap campur tangan terhadap kehidupan lain.

Prinsip ini juga membawa implikasi pada cara manusia memandang kedudukannya. Egalitarianisme biosferis menolak gambaran hierarki, yang menempatkan manusia di puncak dan makhluk lain di bawahnya, dan menggantinya dengan gambaran jaringan, tempat setiap makhluk menempati posisi yang saling bergantung. Gambaran ini sejalan dengan temuan ekologi ilmiah tentang rantai makanan, simbiosis, dan peran spesies kunci. Perubahan cara pandang inilah yang menjadi dasar bagi H3 berikutnya, yakni pandangan relasional tentang diri.

Keterkaitan dan Pandangan Relasional tentang Diri

Ekologi dalam berangkat dari pengamatan ilmu ekologi bahwa makhluk hidup tidak pernah berdiri sendiri. Tumbuhan bergantung pada tanah, air, jamur akar, dan penyerbuk. Hewan bergantung pada tumbuhan, mangsa, dan habitat. Tubuh manusia pun dihuni triliunan mikroorganisme yang ikut menentukan pencernaan dan kekebalan. Naess menyebut cara pandang ini sebagai citra relasional total (relational, total-field image): organisme dipahami sebagai simpul dalam jaringan hubungan, bukan sebagai benda terpisah yang kemudian baru berhubungan dengan lingkungannya. Menurut Naess, hubungan itu bersifat internal, artinya hubungan tersebut ikut membentuk apa yang menjadikan sesuatu itu dirinya. Ikan tanpa air bukan ikan yang pindah tempat, melainkan bukan ikan lagi dalam pengertian yang utuh.

Pandangan ini bertentangan dengan atomisme yang dominan dalam pemikiran modern Barat, yaitu anggapan bahwa dunia terdiri dari individu terpisah yang hubungannya bersifat luar dan bisa dilepas. Descartes memisahkan subjek yang berpikir dari alam yang hanya berupa benda berukuran dan bergerak. Pemisahan ini memudahkan manusia memandang alam sebagai objek yang boleh dikuasai. Ekologi dalam menilai bahwa pemisahan itu keliru secara ilmiah dan berbahaya secara moral, karena manusia yang merasa terpisah dari alam tidak merasakan kerusakan alam sebagai kerugian dirinya.

Dari citra relasional ini, Naess mengembangkan gagasan tentang diri yang meluas. Dalam pandangannya, diri bukan sekadar ego sempit yang terbatas pada tubuh dan kepentingan pribadi. Melalui proses identifikasi, seseorang mulai merasakan kepentingan makhluk lain sebagai bagian dari kepentingannya sendiri. Proses ini bertingkat: dari diri pribadi, ke keluarga dan sahabat, ke komunitas dan bangsa, lalu ke manusia pada umumnya, dan akhirnya ke makhluk hidup lain serta ekosistem. Naess menamainya realisasi-Diri, dengan huruf awal besar untuk membedakannya dari kepuasan ego. Tujuannya adalah kematangan, yaitu kemampuan melihat diri sebagai bagian dari kesatuan yang lebih luas.

Naess sering mengilustrasikan gagasan ini dengan kisah Aldo Leopold yang menyaksikan kematian seekor serigala di depan matanya, dan merasakan bahwa ada sesuatu yang hilang bersama cahaya hijau di mata serigala itu. Bagi Naess, pengalaman semacam ini menunjukkan identifikasi yang terjadi secara spontan, tanpa perhitungan untung rugi. Ia juga menarik perbedaan antara moralitas dan etika kepedulian. Moralitas bertumpu pada kewajiban, yaitu orang berbuat baik karena harus. Kepedulian yang lahir dari identifikasi tidak memerlukan paksaan, sebab orang merawat apa yang ia rasakan sebagai bagian dari dirinya. Naess membandingkannya dengan seseorang yang merawat anggota tubuhnya sendiri tanpa merasa sedang berkorban.

Gagasan realisasi-Diri berakar pada beberapa sumber. Naess banyak dipengaruhi Spinoza, yang memandang semua hal sebagai ekspresi dari satu substansi dan menganggap kebebasan sebagai pemahaman atas keterkaitan itu. Pengaruh lain datang dari Mahatma Gandhi, yang menganggap pencarian kebenaran dan pelayanan kepada semua makhluk sebagai satu kesatuan, serta dari tradisi Timur seperti konsep atman dalam Hindu dan keterkaitan sebab-musabab (pratityasamutpada) dalam Buddhisme. Naess tidak menyatakan bahwa ekologi dalam harus berdasar pada satu ajaran. Ia menyebut sistem filsafat pribadinya sebagai ekosofi T, tempat T berarti Tvergastein, nama pondok pegunungannya, dan mendorong orang lain menyusun ekosofi masing-masing dari landasan yang berbeda, baik agama maupun filsafat.

Pandangan relasional tentang diri ini juga dikritik. Beberapa filsuf, seperti Val Plumwood, menilai bahwa perluasan diri berisiko menghapus perbedaan antara diri dan yang lain, sehingga makhluk lain hanya dihargai sejauh dianggap bagian dari diri, bukan karena kekhasannya sendiri. Ia berpendapat bahwa penyatuan semacam itu justru dapat mengulang logika penguasaan, hanya dengan arah terbalik. Ekofeminis menilai bahwa gagasan ini mengabaikan perbedaan posisi sosial dalam hubungan manusia dengan alam, karena tidak semua manusia memiliki tanggung jawab dan dampak yang sama terhadap kerusakan lingkungan.

Kritik terhadap Masyarakat Industri dan Konsumerisme

Ekologi dalam memandang krisis lingkungan sebagai gejala dari sistem nilai dan struktur ekonomi yang keliru, bukan sekadar akibat pengelolaan yang buruk. Naess membedakan gerakan ekologi dangkal dan gerakan ekologi dalam dari cara keduanya menjawab masalah. Gerakan dangkal menangani pencemaran dan menipisnya sumber daya dengan teknologi yang lebih bersih dan regulasi yang lebih ketat, tanpa mengubah tujuan masyarakat industri. Gerakan dalam menanyakan mengapa produksi dan konsumsi terus dipacu, dan untuk kepentingan siapa. Pertanyaan ini mengarah pada kritik terhadap pandangan bahwa kemajuan identik dengan pertumbuhan ekonomi dan bahwa alam hanyalah bahan baku bagi pertumbuhan itu.

Sasaran pertama kritik ini adalah pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Ukuran seperti produk domestik bruto mencatat penebangan hutan sebagai tambahan pendapatan, tetapi tidak mencatat hilangnya fungsi hutan sebagai penyimpan air dan habitat. Sistem yang bergantung pada pertumbuhan terus-menerus juga berbenturan dengan kenyataan bahwa bumi terbatas. Laporan The Limits to Growth (1972) dari Klub Roma, yang terbit hampir bersamaan dengan artikel Naess, memperkuat argumen ini dengan model yang menunjukkan bahwa konsumsi sumber daya dan pencemaran yang terus naik akan menekan sistem global. Para pendukung ekologi dalam menilai bahwa efisiensi teknologi saja tidak cukup, sebab penghematan per unit sering ditelan oleh bertambahnya jumlah konsumsi.

Sasaran kedua adalah konsumerisme, yaitu pola hidup yang mengukur kebahagiaan dari banyaknya barang yang dimiliki dan dipakai. Devall dan Sessions menyebut kebutuhan manusia yang sebenarnya jauh lebih sederhana daripada keinginan yang dibentuk oleh iklan dan pasar. Keinginan semacam itu tidak pernah terpuaskan karena selalu digantikan oleh keinginan baru, sehingga mendorong ekstraksi bahan dan produksi limbah tanpa akhir. Ekologi dalam menawarkan pembedaan antara standar hidup dan kualitas hidup. Standar hidup diukur dari tingkat konsumsi, sedangkan kualitas hidup diukur dari kedalaman pengalaman, kualitas hubungan, dan kedekatan dengan alam. Naess berpendapat bahwa kualitas hidup dapat naik ketika konsumsi menurun, dan merumuskan sikap ini sebagai hidup sederhana dalam sarana tetapi kaya dalam tujuan.

Sasaran ketiga adalah teknologi dan struktur masyarakat industri. Ekologi dalam tidak menolak teknologi secara umum. Platform delapan butirnya menyerukan perubahan kebijakan yang memengaruhi struktur ekonomi, teknologi, dan ideologi. Yang dikritik adalah teknologi berskala besar yang terpusat, bergantung pada energi tak terbarukan, dan memutus orang dari konsekuensi tindakannya. Sebagai gantinya, aliran ini cenderung mendukung teknologi yang sesuai skala, mudah dikelola komunitas, dan dapat diperbaiki, serta ekonomi lokal yang mengurangi jarak antara produsen dan konsumen. E. F. Schumacher dengan Small Is Beautiful (1973) sering dirujuk sebagai sekutu pemikiran ini.

Baca juga :  Hannah Arendt

Kritik ini juga menyentuh soal jumlah penduduk. Butir keempat platform menyatakan bahwa perkembangan kehidupan manusia dan budaya sesuai dengan penurunan jumlah penduduk yang substansial, dan perkembangan kehidupan nonmanusia menuntutnya. Naess menekankan bahwa penurunan ini harus bertahap dan tanpa paksaan, tetapi butir ini tetap menjadi salah satu bagian paling diperdebatkan. Ramachandra Guha dan para pemikir keadilan lingkungan menunjukkan bahwa beban kerusakan lingkungan global tidak ditanggung merata. Konsumsi per kapita di negara kaya jauh melampaui negara miskin, sehingga memusatkan perhatian pada jumlah penduduk dinilai mengalihkan tanggung jawab dari pola konsumsi kelompok yang paling berlebihan.

Perlindungan Alam Liar dan Keanekaragaman Hayati

Ekologi dalam memberi tempat khusus bagi alam liar (wilderness), yaitu kawasan yang berkembang menurut prosesnya sendiri dengan campur tangan manusia yang minimal. Bagi para pendukungnya, kawasan seperti ini bukan sekadar cadangan sumber daya atau tempat rekreasi, melainkan ruang tempat proses ekologis dan evolusi berjalan tanpa diarahkan manusia. Hutan primer, lahan basah, dan padang rumput yang masih utuh dipandang sebagai ukuran sejauh mana manusia mau menahan diri. Pandangan ini bertumpu pada nilai intrinsik alam: kawasan itu layak dipertahankan bukan karena berguna, melainkan karena keberadaannya sendiri.

Akar gagasan ini berasal dari tradisi penghargaan terhadap alam liar di Amerika Utara. Henry David Thoreau menulis bahwa dalam alam liar terdapat pemeliharaan dunia, dan menganggapnya sumber pembaruan batin. John Muir memperjuangkan perlindungan Yosemite dan ikut mendirikan Sierra Club pada 1892, dengan menekankan keindahan dan nilai spiritual lanskap liar. Aldo Leopold, dalam A Sand County Almanac (1949), menambahkan landasan ekologis lewat etika tanah, yang menyatakan bahwa suatu tindakan benar bila cenderung menjaga keutuhan, stabilitas, dan keindahan komunitas biotik, dan salah bila sebaliknya. Leopold memperluas pengertian komunitas hingga mencakup tanah, air, tumbuhan, dan hewan. Rumusan ini menjadi salah satu rujukan utama etika lingkungan dan dipakai ekologi dalam sebagai dasar moral perlindungan kawasan.

Perlindungan keanekaragaman hayati, atau biodiversitas, mencakup keragaman gen, spesies, dan ekosistem. Platform delapan butir menyatakan bahwa kekayaan dan keragaman bentuk kehidupan memiliki nilai sendiri dan berkontribusi pada kekayaan itu. Para pendukungnya menyoroti laju kepunahan spesies yang jauh melampaui laju alamiah akibat hilangnya habitat, perburuan, spesies invasif, pencemaran, dan perubahan iklim. Bagi ekologi dalam, kepunahan adalah kerugian yang tidak dapat dipulihkan, karena satu spesies yang hilang membawa serta garis evolusi yang telah berlangsung jutaan tahun. Biolog Edward O. Wilson, yang mempopulerkan istilah biodiversitas, memperkuat argumen ini lewat penelitian tentang kepunahan, meskipun ia lebih banyak mendasarkannya pada alasan ilmiah dan kemanusiaan daripada nilai intrinsik semata.

Dalam praktik, gagasan ini mendorong penetapan taman nasional, cagar alam, dan koridor satwa yang menghubungkan kawasan terpisah. Ahli biologi konservasi seperti Michael Soulé dan Reed Noss mengusulkan jaringan kawasan inti, koridor, dan zona penyangga berskala benua melalui program Wildlands Project. Kelompok aksi langsung seperti Earth First!, yang berdiri pada 1980, menambahkan taktik berupa blokade penebangan dan penanaman paku pada pohon sebagai bentuk perlawanan, yang menuai kecaman karena membahayakan pekerja. Gerakan ini juga mendorong pengembalian predator puncak, seperti reintroduksi serigala di Taman Nasional Yellowstone pada 1995, dengan alasan bahwa kehadiran predator menjaga keseimbangan seluruh ekosistem.

Konsep alam liar yang murni menuai kritik tajam. William Cronon dalam esai “The Trouble with Wilderness” (1995) berpendapat bahwa alam liar adalah gagasan buatan budaya, bukan tempat yang benar-benar tanpa manusia. Banyak kawasan yang dianggap perawan sebenarnya telah dibentuk oleh masyarakat adat selama ribuan tahun melalui pembakaran terkendali, perburuan, dan pertanian. Pembentukan taman nasional di Amerika Serikat, dan kemudian di Afrika dan Asia, kerap disertai pengusiran penduduk setempat, sehingga perlindungan alam berjalan beriringan dengan perampasan tanah. Ramachandra Guha menyebut model ini sebagai bentuk lingkungan Barat yang diekspor ke dunia ketiga. Kritik ini mendorong sebagian pendukung ekologi dalam mengakui peran masyarakat adat sebagai penjaga alam dan mendukung pengelolaan kawasan bersama mereka.

Delapan Butir Platform dan Aksi Politik

Platform delapan butir dirumuskan Arne Naess dan George Sessions pada April 1984, ketika keduanya berkemah di Death Valley, California. Rumusan ini dimaksudkan sebagai pernyataan pendek yang dapat diterima oleh orang dari latar belakang filosofis dan religius yang berbeda, baik penganut Buddhisme, Kristen, maupun filsafat sekuler. Naess menyebut tingkat kesepakatan ini sebagai bagian dari “gerakan ekologi dalam”, sedangkan landasan terdalam masing-masing orang, yang disebutnya ekosofi, dibiarkan beragam. Struktur ini sering digambarkan sebagai diagram “apron”, yaitu premis puncak tiap pandangan hidup di bagian atas, platform delapan butir di bagian tengah, dan kebijakan serta tindakan konkret di bagian bawah.

Butir pertama menyatakan bahwa kesejahteraan dan perkembangan kehidupan manusia maupun nonmanusia di bumi memiliki nilai pada dirinya sendiri, dan nilai itu tidak bergantung pada kegunaan dunia nonmanusia bagi tujuan manusia. Butir kedua menyatakan bahwa kekayaan dan keragaman bentuk kehidupan berkontribusi pada terwujudnya nilai-nilai tersebut serta merupakan nilai pada dirinya sendiri. Butir ketiga menegaskan bahwa manusia tidak berhak mengurangi kekayaan dan keragaman itu kecuali untuk memenuhi kebutuhan vital. Tiga butir ini memuat kerangka nilai yang sudah dibahas pada subbagian sebelumnya.

Butir keempat menyatakan bahwa perkembangan kehidupan dan budaya manusia sesuai dengan penurunan jumlah penduduk yang substansial, dan perkembangan kehidupan nonmanusia menuntut penurunan itu. Butir kelima menyatakan bahwa campur tangan manusia terhadap dunia nonmanusia saat ini berlebihan dan situasinya memburuk dengan cepat. Butir keenam menyerukan perubahan kebijakan yang memengaruhi struktur dasar ekonomi, teknologi, dan ideologi, sehingga keadaan yang dihasilkan akan sangat berbeda dari keadaan sekarang. Butir ketujuh menjelaskan bahwa perubahan ideologis terutama berupa penghargaan terhadap kualitas hidup, bukan kepatuhan pada standar hidup yang makin tinggi, serta kesadaran akan perbedaan antara yang besar dan yang agung. Butir kedelapan menyatakan bahwa mereka yang menerima butir-butir tersebut berkewajiban secara langsung maupun tidak langsung untuk berusaha melaksanakan perubahan yang diperlukan.

Butir kedelapan inilah yang menjembatani platform dengan aksi politik. Naess sendiri aktif dalam kampanye, di antaranya aksi damai menentang proyek bendungan Alta di Norwegia pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, tempat ia ikut merantai diri di lokasi pembangunan. Ia banyak terinspirasi oleh Gandhi, sehingga mendukung aksi tanpa kekerasan, yang ia pandang sebagai pilihan yang konsisten dengan sikap hormat terhadap kehidupan. Di Norwegia, gerakan ini juga memengaruhi diskusi kebijakan tentang perlindungan sungai dan kawasan pegunungan.

Di Amerika Serikat, ekologi dalam mengilhami gerakan aksi langsung yang lebih militan. Earth First!, yang didirikan pada 1980 oleh Dave Foreman dan rekan-rekannya, memakai slogan “tidak ada kompromi dalam membela ibu bumi” dan menggunakan blokade, pendudukan pohon, serta sabotase peralatan, yang oleh para pelakunya disebut “monkeywrenching” setelah novel Edward Abbey, The Monkey Wrench Gang (1975). Taktik ini diperdebatkan di dalam gerakan sendiri. Naess menolak kekerasan terhadap manusia, sedangkan sebagian aktivis Earth First! menilai sabotase terhadap properti dapat dibenarkan. Pada 1990, perbedaan pandangan tentang kekerasan, sikap terhadap pekerja, dan isu sosial mendorong sebagian anggota, seperti Judi Bari, mengarahkan gerakan ke aliansi dengan buruh kayu dan keadilan sosial, sementara Foreman keluar dari kelompok.

Dalam ranah hukum dan politik formal, pengaruh ekologi dalam tampak pada gagasan hak bagi alam. Christopher Stone melalui esai “Should Trees Have Standing?” (1972) mengajukan agar pohon, sungai, dan entitas alam lain dapat menjadi pihak dalam gugatan hukum, dan gagasan ini kemudian dijadikan rujukan dalam konstitusi Ekuador 2008 yang mengakui hak alam (Pachamama). Di Selandia Baru, Sungai Whanganui diakui memiliki status badan hukum pada 2017 melalui perjanjian dengan suku Māori. Gerakan partai hijau di Eropa juga menyerap sebagian gagasan ini, terutama kritik pada pertumbuhan, meskipun partai-partai tersebut umumnya lebih pragmatis dan tidak selalu menerima basis filosofis ekologi dalam.

Baca juga :  Friedrich Wilhelm Joseph Schelling

Kritik dan Perdebatan

Kritik paling awal datang dari Murray Bookchin, pendiri ekologi sosial. Dalam esai “Social Ecology versus Deep Ecology” (1987) dan karyanya The Ecology of Freedom (1982), ia berpendapat bahwa akar krisis lingkungan bukan antroposentrisme, melainkan hierarki dan dominasi antarmanusia. Gagasan menguasai alam, menurutnya, lahir setelah manusia terbiasa menguasai manusia lain: kelas atas atas kelas bawah, laki-laki atas perempuan, tua atas muda. Karena itu, menyalahkan “manusia” secara umum menyembunyikan perbedaan tanggung jawab antara korporasi, negara, dan penduduk miskin. Bookchin juga menilai ekologi dalam mencampuradukkan mistisisme dengan ilmu, serta menuduh sebagian pendukungnya, terutama di lingkaran Earth First!, menerima gagasan malthusian yang berbahaya, misalnya komentar bahwa kelaparan di Ethiopia sebaiknya dibiarkan.

Kritik berikutnya datang dari Ramachandra Guha dalam artikel “Radical American Environmentalism and Wilderness Preservation: A Third World Critique” (1989). Guha menunjukkan bahwa ekologi dalam menilai kerusakan lingkungan dari sudut pandang masyarakat Barat yang kaya. Fokus pada alam liar mengabaikan dua penyebab utama kerusakan global: konsumsi berlebihan di negara industri dan militerisme. Di India, perlindungan hutan dan satwa, seperti Project Tiger, menyingkirkan petani dan penggembala yang bergantung pada sumber daya tersebut. Guha menyebut bentuk lingkungan hidup yang dibutuhkan di negara miskin sebagai lingkungan hidup kaum miskin, yang berakar pada perjuangan atas tanah, air, dan hutan, bukan pada pelestarian alam liar demi dirinya sendiri.

Kritik ekofeminis menyasar asumsi dasarnya. Val Plumwood dalam Feminism and the Mastery of Nature (1993) berpendapat bahwa antroposentrisme tidak berdiri sendiri, tetapi bagian dari rangkaian dualisme budaya, seperti akal dan alam, laki-laki dan perempuan, tuan dan budak, yang saling menopang. Menurutnya, ekologi dalam tidak membongkar dualisme tersebut karena memusatkan kritik pada manusia sebagai satu kategori. Karen Warren dan ekofeminis lain menambahkan bahwa pengalaman perempuan dalam kerja perawatan dan pertanian subsisten membentuk hubungan khusus dengan alam yang sering tidak tampak dalam kerangka ekologi dalam.

Dari sisi filsafat, ada keberatan tentang dasar klaim nilainya. Sebagian filsuf menyatakan bahwa dari fakta ekologis tentang keterkaitan makhluk hidup tidak dapat langsung diturunkan kewajiban moral, karena pernyataan tentang apa yang ada tidak otomatis menghasilkan pernyataan tentang apa yang seharusnya. Selain itu, J. Baird Callicott, pembela etika tanah Leopold, mengakui bahwa kesetaraan semua makhluk sulit dipertahankan, dan mengusulkan penataan kewajiban berlapis: kewajiban terhadap sesama manusia tetap ada di samping kewajiban terhadap komunitas biotik. Luc Ferry dalam The New Ecological Order (1995) bahkan mengkritik ekologi dalam sebagai ancaman bagi humanisme dan demokrasi, karena menjadikan alam sebagai sumber hak yang dapat mengalahkan hak manusia.

Kritik lain bersifat ilmiah. Ekologi dalam banyak bersandar pada gambaran alam yang stabil dan seimbang, tetapi ekologi kontemporer cenderung melihat ekosistem sebagai sistem yang dinamis, terganggu secara berkala oleh kebakaran, banjir, dan perubahan iklim. Jika alam tidak pernah berada dalam keseimbangan murni, ukuran yang dipakai untuk menentukan kondisi alamiah yang harus dijaga menjadi kabur. Pembela ekologi dalam menanggapi bahwa nilai perlindungan tidak harus bergantung pada kestabilan, melainkan pada kemampuan proses alamiah berlangsung tanpa gangguan berlebihan.

Sebagian pendukung menanggapi kritik tersebut dengan merevisi posisi. Naess mengakui bahwa platform delapan butir bersifat umum, dan ia mendukung keadilan sosial serta menolak interpretasi yang menyingkirkan kebutuhan masyarakat miskin. Arne Naess dan Sessions menyatakan bahwa platform dirancang agar dapat dipakai bersama gerakan perdamaian, keadilan sosial, dan hak masyarakat adat. Dalam beberapa dekade terakhir, muncul pendekatan yang memadukan perlindungan alam dengan keadilan lingkungan, seperti konservasi berbasis masyarakat dan pengakuan wilayah adat, yang menunjukkan bahwa perdebatan ini mengubah arah gerakan.

Tokoh Ekologi Dalam

Akar pemikiran ekologi dalam dapat ditelusuri ke tradisi penghargaan terhadap alam di Amerika Utara pada abad ke-19. Henry David Thoreau, dalam Walden (1854), menggambarkan kehidupan sederhana di tengah alam sebagai jalan menuju kejernihan batin, sedangkan John Muir memperjuangkan perlindungan alam liar dan ikut mendirikan Sierra Club. Gagasan ini dilanjutkan oleh Aldo Leopold, yang dalam A Sand County Almanac (1949) merumuskan etika tanah dan memperluas pertimbangan moral dari manusia ke seluruh komunitas biotik. Kesadaran publik tentang bahaya kerusakan lingkungan kemudian dibangkitkan oleh Rachel Carson melalui Silent Spring (1962), yang menunjukkan dampak pestisida terhadap ekosistem.

Dari landasan tersebut, Arne Naess, filsuf Norwegia, merumuskan ekologi dalam sebagai gerakan filosofis. Melalui artikelnya pada 1973 dan karyanya Ecology, Community and Lifestyle (1989), ia menguraikan prinsip-prinsip dasar, gagasan realisasi diri yang diperluas, dan pandangan tentang keterkaitan makhluk hidup. Ia banyak terpengaruh oleh Baruch Spinoza dan Mahatma Gandhi, serta oleh tradisi pemikiran Timur. Gagasan Naess dikembangkan di Amerika Serikat oleh George Sessions bersama Bill Devall melalui Deep Ecology: Living as if Nature Mattered (1985), yang memperkenalkan ekologi dalam kepada khalayak yang lebih luas dan menyertakan platform delapan butir. Fritjof Capra turut menyumbangkan perspektif ilmu sistem dan kehidupan dalam The Web of Life (1996), sedangkan Joanna Macy mengaitkan ekologi dalam dengan praktik spiritual dan aksi melalui karya-karyanya seperti World as Lover, World as Self (1991).

Perdebatan seputar ekologi dalam melahirkan sejumlah tanggapan penting. Murray Bookchin dalam The Ecology of Freedom (1982) mengkritiknya dan menawarkan ekologi sosial sebagai alternatif, dengan menyatakan bahwa dominasi atas alam berasal dari dominasi antarmanusia. Dari perspektif keadilan sosial dan Dunia Ketiga, Ramachandra Guha mengajukan kritiknya dalam artikel pada 1989 yang menyoroti dampak pendekatan perlindungan alam liar bagi masyarakat miskin. Di sisi lain, para pemikir etika lingkungan seperti Holmes Rolston III melalui Environmental Ethics (1988) dan Freya Mathews melalui The Ecological Self (1991) menyumbang kerangka teoritis bagi pandangan bahwa alam memiliki nilai intrinsik, sehingga gagasan ini terus berkembang dalam wacana etika lingkungan kontemporer.

Referensi

  • Bookchin, M. (2005). The ecology of freedom: The emergence and dissolution of hierarchy. AK Press.
  • Capra, F. (1996). The web of life: A new scientific understanding of living systems. Anchor Books.
  • Carson, R. (2002). Silent spring. Houghton Mifflin.
  • Devall, B., & Sessions, G. (1985). Deep ecology: Living as if nature mattered. Gibbs Smith.
  • Guha, R. (1989). Radical American environmentalism and wilderness preservation: A Third World critique. Environmental Ethics, 11(1), 71-83.
  • Leopold, A. (1989). A Sand County almanac, and sketches here and there. Oxford University Press.
  • Macy, J. (2007). World as lover, world as self: Courage for global justice and ecological renewal. Parallax Press.
  • Mathews, F. (1991). The ecological self. Routledge.
  • Naess, A. (1973). The shallow and the deep, long-range ecology movement: A summary. Inquiry, 16(1-4), 95-100.
  • Naess, A. (1989). Ecology, community and lifestyle: Outline of an ecosophy (D. Rothenberg, Trans. & Ed.). Cambridge University Press.
  • Rolston, H., III. (1988). Environmental ethics: Duties to and values in the natural world. Temple University Press.
  • Thoreau, H. D. (2004). Walden. Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Abilene Paradox

Next Article

Sigmund Freud

Citation copied!