Filsuf Willard Van Orman Quine

Willard Van Orman Quine

Dipublikasikan: 22 September 2026

Terakhir diperbarui: 6 Oktober 2026

Willard Van Orman Quine (1908–2000), filsuf analitik dan logikawan Amerika Serikat yang secara fundamental mengubah arah filsafat abad ke-20 melalui kritiknya terhadap fondasi empirisisme logis. Berawal dari keterlibatannya langsung dengan Lingkaran Wina dan pemikiran Rudolf Carnap, Quine justru mengembangkan serangkaian argumen yang meruntuhkan asumsi-asumsi dasar yang selama ini dianggap tak tergoyahkan—mulai dari batas tegas antara pernyataan analitik dan sintetik, hingga gagasan bahwa makna dan rujukan bahasa dapat ditentukan secara objektif. Pemikirannya menempatkan epistemologi, logika, dan filsafat bahasa dalam kerangka yang lebih naturalistis dan holistis, dengan pengaruh yang terus membentuk perdebatan filsafat analitik hingga saat ini.

Biografi Willard Van Orman Quine

Willard Van Orman Quine lahir di Akron, Ohio, Amerika Serikat, pada 25 Juni 1908, dan meninggal di Boston, Massachusetts, pada 25 Desember 2000. Ia dikenal secara luas sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh pada abad ke-20, sekaligus logikawan yang memberikan kontribusi mendasar pada logika, filsafat bahasa, epistemologi, filsafat ilmu, dan metafisika. Pengaruhnya membentang jauh melampaui lingkungan akademik Amerika Serikat, menjadikannya salah satu rujukan utama dalam tradisi filsafat analitik pascaperang.

Quine menyelesaikan pendidikan sarjananya di Oberlin College pada 1930 dengan jurusan matematika, sebelum melanjutkan studi doktoral filsafat di Harvard University. Ia meraih gelar doktor hanya dalam waktu dua tahun, pada 1932, di bawah bimbingan Alfred North Whitehead—pencapaian yang mencerminkan kecerdasan dan ketekunannya yang luar biasa sejak usia muda. Setelah menyelesaikan studinya, Quine menerima beasiswa perjalanan yang membawanya ke Eropa, tempat ia berinteraksi langsung dengan para anggota Lingkaran Wina (Wiener Kreis), kelompok filsuf dan ilmuwan yang menjadi pusat gerakan empirisisme logis. Interaksi ini, terutama dengan Rudolf Carnap, sangat memengaruhi arah awal pemikiran filosofis Quine, meskipun gagasan-gagasan Carnap kelak justru menjadi sasaran kritiknya yang paling terkenal dan berpengaruh.

Quine menghabiskan hampir seluruh karier akademiknya di Harvard University, mengajar di sana sejak pertengahan 1930-an hingga masa pensiunnya beberapa dekade kemudian, dan turut membentuk generasi filsuf serta logikawan penting Amerika Serikat, termasuk Donald Davidson dan Daniel Dennett yang pernah menjadi muridnya. Selama Perang Dunia II, Quine sempat bertugas di Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai pemecah kode militer, sebuah pengalaman yang menurutnya turut mempertajam ketertarikannya pada persoalan logika formal dan struktur bahasa. Setelah perang berakhir, ia kembali ke Harvard dan melanjutkan produktivitas akademiknya yang luar biasa hingga masa tuanya.

Sepanjang kariernya, Quine dikenal sebagai penulis yang sangat produktif, dengan gaya penulisan yang padat, presisi, dan sering menggabungkan argumen filosofis dengan notasi logis formal—ciri khas yang membuat tulisannya dihormati sekaligus dianggap menantang untuk dibaca. Esainya “Two Dogmas of Empiricism” (1951) dianggap sebagai salah satu artikel filsafat paling berpengaruh pada abad ke-20, yang secara mendasar mengguncang fondasi empirisisme logis yang sebelumnya mendominasi filsafat analitik. Selain kontribusinya di bidang filsafat, Quine juga dikenal sebagai poliglot yang menguasai banyak bahasa dan gemar melakukan perjalanan keliling dunia, yang menurut sejumlah catatan biografis turut memengaruhi ketertarikannya pada persoalan penerjemahan bahasa dan relativitas makna. Ia terus menulis dan menerbitkan karya hingga usia sembilan puluhan, menjadikannya salah satu filsuf paling produktif sekaligus paling lama berkarya dalam sejarah filsafat analitik Amerika Serikat.

Pemikiran Willard Van Orman Quine

Kritik terhadap Dua Dogma Empirisisme

Esai Two Dogmas of Empiricism (1951) merupakan salah satu tulisan paling berpengaruh dalam sejarah filsafat analitik abad ke-20, dan menjadi titik tolak bagi hampir seluruh proyek filosofis Quine selanjutnya. Esai ini diterbitkan dalam jurnal The Philosophical Review, dan secara langsung menyerang fondasi empirisisme logis (logical empiricism)—mazhab filsafat yang berkembang dari Lingkaran Wina dan sangat dominan dalam filsafat analitik pada paruh pertama abad ke-20, termasuk dianut oleh guru sekaligus rekan dekat Quine sendiri, Rudolf Carnap. Yang membuat esai ini begitu mengguncang adalah karena Quine menyerang bukan dari luar tradisi tersebut, melainkan sebagai seseorang yang memahami betul kerangka berpikir empirisisme logis dari dalam, sehingga kritiknya sulit dipatahkan dengan tuduhan sekadar salah paham.

Dogma pertama yang diserang Quine adalah keyakinan akan adanya perbedaan yang tegas dan prinsipiil antara pernyataan analitik dan pernyataan sintetik. Pernyataan analitik, dalam pemahaman tradisional yang diwarisi dari Kant dan dipertahankan kaum empirisis logis, adalah pernyataan yang benar semata-mata berdasarkan makna kata-kata yang menyusunnya, terlepas dari fakta empiris apa pun—misalnya “semua bujangan adalah laki-laki yang belum menikah”, yang dianggap benar hanya karena makna kata “bujangan” sudah mengandung makna “laki-laki yang belum menikah” di dalamnya. Pernyataan sintetik, sebaliknya, adalah pernyataan yang kebenarannya bergantung pada fakta mengenai dunia, dan karena itu memerlukan verifikasi empiris. Pembedaan ini dianggap sangat fundamental oleh kaum empirisis logis karena menjadi dasar bagi pemisahan antara logika-matematika (yang dianggap analitik dan karena itu pasti benar tanpa perlu pengujian empiris) dengan sains empiris (yang sintetik dan harus diuji terhadap pengalaman).

Quine menyerang pembedaan ini dengan menunjukkan bahwa konsep analitisitas sendiri tidak dapat didefinisikan tanpa terjebak dalam lingkaran definisi yang berputar-putar. Ia menelusuri berbagai upaya untuk mendefinisikan “analitik”—melalui konsep sinonimi, definisi, substitusi salva veritate (dapat disubstitusi tanpa mengubah nilai kebenaran), hingga aturan semantik—dan menunjukkan bahwa setiap upaya tersebut pada akhirnya bergantung pada konsep-konsep lain yang sama-sama memerlukan gagasan analitisitas untuk dijelaskan, sehingga tidak pernah benar-benar memberikan definisi yang berdiri sendiri dan bebas dari lingkaran tersebut. Misalnya, mendefinisikan analitisitas melalui sinonimi mengharuskan kita menjelaskan apa itu sinonimi, dan penjelasan mengenai sinonimi pada gilirannya sering kali kembali mengandaikan konsep analitisitas itu sendiri. Bagi Quine, kegagalan ini bukan sekadar kelemahan teknis yang bisa diperbaiki dengan definisi yang lebih cermat, melainkan indikasi bahwa pembedaan analitik-sintetik itu sendiri adalah dogma metafisik yang tidak berdasar secara empiris—sebuah garis batas yang, dalam kata-kata Quine sendiri, belum pernah berhasil ditarik secara meyakinkan oleh siapa pun.

Dogma kedua yang diserang Quine adalah reduksionisme, yaitu keyakinan bahwa setiap pernyataan bermakna, jika dianalisis dengan tepat, dapat diterjemahkan menjadi suatu konstruksi logis yang tersusun dari istilah-istilah yang merujuk langsung pada pengalaman inderawi (sense data) secara langsung. Keyakinan ini merupakan warisan dari program verifikasionisme, yang menyatakan bahwa makna suatu pernyataan pada dasarnya identik dengan metode verifikasinya terhadap pengalaman inderawi, sehingga setiap pernyataan yang bermakna pada prinsipnya dapat diuraikan menjadi pernyataan-pernyataan dasar mengenai pengalaman langsung. Quine menunjukkan bahwa program reduksionis ini, yang paling ambisius diwujudkan dalam upaya Carnap melalui karyanya Der logische Aufbau der Welt (1928), pada kenyataannya tidak pernah berhasil dilaksanakan secara tuntas untuk satu pun pernyataan ilmiah yang bermakna, bahkan oleh Carnap sendiri.

Sebagai gantinya, Quine mengajukan pandangan alternatif yang kelak dikenal sebagai holisme konfirmasi: pernyataan-pernyataan ilmiah tidak pernah diuji atau diverifikasi secara terisolasi satu per satu terhadap pengalaman, melainkan selalu diuji sebagai satu kesatuan jaringan keyakinan yang saling terkait dan saling menopang. Konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa unit makna sesungguhnya bukanlah pernyataan tunggal, melainkan keseluruhan tubuh sains sebagai satu kesatuan—sebuah gagasan yang secara langsung meruntuhkan basis bagi reduksionisme, karena jika makna dan verifikasi selalu bersifat holistik, maka tidak ada satu pernyataan tunggal pun yang dapat diterjemahkan secara terpisah ke dalam istilah pengalaman inderawi.

Quine menutup esainya dengan sebuah kesimpulan yang jauh melampaui persoalan teknis mengenai analitisitas dan reduksionisme, dan menyentuh langsung pada perbedaan mendasar antara pandangannya dengan tradisi empirisisme sebelumnya. Ia menyatakan bahwa dengan runtuhnya kedua dogma tersebut, batas antara pernyataan yang bersifat spekulatif metafisis dan pernyataan sains alam menjadi jauh lebih kabur dibanding yang diyakini sebelumnya, karena keduanya kini dipahami sebagai bagian dari jaringan keyakinan yang sama, yang sama-sama dapat direvisi berdasarkan pengalaman meskipun dengan tingkat resistensi yang berbeda-beda. Bahkan hukum logika dan matematika, yang selama ini dianggap analitik dan karena itu kebal dari revisi empiris, dalam pandangan Quine pada prinsipnya tetap dapat direvisi apabila tekanan dari pengalaman yang bertentangan cukup besar dan penyesuaian di bagian lain jaringan keyakinan tidak lagi memadai—sebuah klaim yang sangat radikal dan menjadi salah satu argumen paling diperdebatkan dalam keseluruhan karya filosofisnya.

Dampak dari esai ini terhadap filsafat analitik sangat besar dan bertahan lama. Runtuhnya pembedaan analitik-sintetik meruntuhkan salah satu pilar utama yang membedakan filsafat dari sains dalam pandangan empirisisme logis, sekaligus membuka jalan bagi pandangan Quine berikutnya mengenai epistemologi naturalisasi, yaitu gagasan bahwa filsafat pada akhirnya tidak dapat dipisahkan secara tajam dari sains empiris, melainkan merupakan kelanjutan dari proyek yang sama dalam usaha memahami dunia. Karena itu, Two Dogmas of Empiricism sering dianggap sebagai titik balik yang menandai berakhirnya dominasi empirisisme logis dan membuka babak baru dalam filsafat analitik pascaperang, yang lebih menekankan holisme, naturalisme, dan skeptisisme terhadap klaim-klaim kepastian a priori yang sebelumnya dianggap tidak tergoyahkan.

Holisme Konfirmasi (Tesis Duhem-Quine)

Holisme konfirmasi merupakan konsekuensi penting dari kritik Quine terhadap reduksionisme dalam Two Dogmas of Empiricism (1951), dan menjadi salah satu tesis paling berpengaruh dalam filsafat ilmu abad ke-20. Gagasan ini disebut tesis Duhem-Quine, karena memiliki kemiripan mendasar dengan argumen yang jauh sebelumnya diajukan fisikawan dan filsuf sains Prancis, Pierre Duhem, dalam La Théorie physique: Son objet et sa structure (1906). Duhem mengembangkan argumennya secara lebih terbatas dalam konteks fisika, sementara Quine memperluasnya secara lebih radikal hingga mencakup seluruh pengetahuan manusia, termasuk logika dan matematika—kemiripan inilah yang membuat para filsuf sains menggabungkan kedua nama tersebut menjadi satu tesis.

Inti dari holisme konfirmasi adalah penolakan terhadap gagasan bahwa pernyataan ilmiah, terutama hipotesis teoretis, dapat diuji secara terisolasi satu per satu terhadap pengalaman. Pandangan tradisional yang ditolak Quine—verifikasionisme atau falsifikasionisme naif—beranggapan bahwa sebuah hipotesis dapat diuji secara langsung: jika prediksinya terbukti benar melalui eksperimen, hipotesis itu terkonfirmasi; jika gagal, hipotesis itu terbantahkan. Model ini mengandaikan bahwa setiap pernyataan ilmiah memiliki konsekuensi empiris yang bisa diisolasi dan diuji secara independen dari pernyataan lain.

Mengikuti jejak Duhem, Quine menunjukkan bahwa model ini keliru menggambarkan cara kerja sains yang sesungguhnya. Pernyataan ilmiah tidak pernah berhadapan dengan pengalaman secara sendiri-sendiri, melainkan selalu sebagai satu kesatuan (corporate body). Ketika prediksi yang diturunkan dari suatu hipotesis gagal dikonfirmasi eksperimen, kegagalan itu tidak pernah menunjuk secara pasti bagian mana dari sistem keyakinan yang harus disalahkan. Sebabnya, prediksi eksperimental hampir selalu bergantung bukan hanya pada hipotesis yang sedang diuji, melainkan juga pada serangkaian asumsi tambahan—kondisi awal eksperimen, keandalan alat ukur, hukum fisika lain yang dianggap berlaku, bahkan aturan logis dan matematis yang dipakai menurunkan prediksi tersebut. Ketika prediksi gagal, yang dapat disimpulkan secara logis hanyalah bahwa ada kekeliruan di suatu tempat dalam jaringan asumsi itu, tanpa cara untuk menentukan secara pasti bagian mana yang bersalah.

Klaim paling radikal Quine, yang membedakannya dari versi Duhem yang lebih moderat, adalah bahwa pada prinsipnya tidak ada satu pun pernyataan yang sepenuhnya kebal dari revisi—termasuk hukum logika dan matematika, yang selama ini dianggap benar secara mutlak. Ketika sebuah prediksi gagal, kita selalu memiliki kebebasan logis untuk memilih bagian mana dari jaringan keyakinan yang akan direvisi agar sistem kembali selaras dengan pengalaman: merevisi hipotesis yang diuji, merevisi salah satu asumsi tambahan, atau, dalam kasus ekstrem, merevisi hukum logika itu sendiri—sebagaimana diusulkan sebagian fisikawan mengenai logika kuantum non-klasik untuk mengakomodasi fenomena pada level subatomik.

Kebebasan logis untuk merevisi bagian mana pun ini tidak berarti semua pilihan revisi memiliki bobot yang setara. Para ilmuwan cenderung mempertahankan pernyataan yang berada dekat “pusat” jaringan keyakinan—hukum logika dasar, prinsip matematis fundamental—karena merevisinya menimbulkan gangguan yang jauh lebih besar terhadap keseluruhan sistem dibanding merevisi hipotesis spesifik yang berada di “pinggir” jaringan, dekat dengan pengalaman langsung. Prinsip konservatisme pragmatis inilah yang menjelaskan mengapa, meski secara logis tidak ada pernyataan yang sepenuhnya kebal revisi, sains dalam praktiknya tetap memiliki inti keyakinan yang relatif stabil, sementara bagian pinggirannya jauh lebih mudah menyesuaikan diri terhadap temuan baru.

Holisme konfirmasi menopang penolakan Quine terhadap reduksionisme: jika pengujian empiris selalu bersifat holistik, tidak mungkin ada satu pernyataan tunggal yang dapat direduksi secara terpisah ke dalam istilah pengalaman inderawi langsung. Tesis ini juga menjadi dasar bagi metafora jaring keyakinan yang ia kembangkan kemudian, serta membawa persoalan baru bagi filsafat ilmu: karena pilihan mengenai bagian mana yang harus direvisi ketika prediksi gagal tidak sepenuhnya ditentukan oleh logika semata, melainkan juga oleh pertimbangan pragmatis seperti kesederhanaan dan kegunaan, rasionalitas ilmiah dalam pandangan Quine tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari pertimbangan praktis—sebuah gagasan yang kelak turut memengaruhi karya Thomas Kuhn mengenai pergeseran paradigma ilmiah.

Epistemologi Naturalisasi

Quine berangkat dari kegagalan proyek epistemologi tradisional yang telah ia bongkar sendiri dalam Two Dogmas of Empiricism: usaha mencari fondasi pasti dan bebas keraguan bagi pengetahuan manusia, sebagaimana diwarisi dari Descartes dan diteruskan kaum empirisis logis. Salah satu wujud paling canggih dari proyek ini adalah upaya Carnap dalam Der logische Aufbau der Welt (1928), yang berusaha merekonstruksi seluruh pengetahuan empiris—termasuk pernyataan mengenai benda-benda fisik—dari basis pengalaman inderawi murni (sense data) melalui konstruksi logis yang ketat, sedemikian rupa sehingga setiap kalimat mengenai dunia luar dapat diterjemahkan tanpa sisa ke dalam kalimat mengenai pengalaman langsung. Quine menunjukkan bahwa proyek ini gagal bahkan pada tahap yang paling dasar: Carnap sendiri tidak pernah berhasil merumuskan terjemahan yang memuaskan untuk kalimat-kalimat berbentuk disposisional atau bersyarat, misalnya kalimat semacam “kalau ada suatu benda pada jarak tertentu, benda itu akan tampak lebih kecil”—kalimat semacam ini butuh notasi kondisional kontrafaktual yang tidak dapat direduksi ke dalam istilah pengalaman inderawi belaka tanpa mengandaikan sebagian dari teori dunia yang justru ingin dibangun.

Quine membedakan dua sisi dari proyek epistemologi tradisional yang sesungguhnya sedang dikejar Carnap dan para pendahulunya: sisi konseptual dan sisi doktrinal. Sisi konseptual berusaha menjelaskan bagaimana konsep-konsep mengenai dunia—seperti konsep “benda fisik”—dapat dijelaskan atau didefinisikan menggunakan istilah-istilah observasional dan logis-matematis semata. Sisi doktrinal berusaha membenarkan (justify) kebenaran-kebenaran yang kita yakini mengenai dunia berdasarkan bukti observasional, idealnya melalui semacam pembuktian deduktif, sebagaimana diimpikan Hume ketika mencoba menurunkan pengetahuan mengenai dunia luar dari data indera semata. Quine menunjukkan bahwa kedua proyek ini sama-sama gagal: proyek konseptual gagal karena, seperti ditunjukkan kasus Carnap, tidak ada penerjemahan yang benar-benar lengkap dan tanpa sisa; proyek doktrinal gagal lebih dalam lagi, karena hubungan antara pernyataan observasional dan pernyataan mengenai dunia fisik pada dasarnya bersifat induktif, bukan deduktif, sehingga tidak pernah bisa menghasilkan kepastian logis yang diharapkan fondasionalisme.

Dari kegagalan ganda inilah Quine mengajukan pertanyaan yang mengubah arah seluruh disiplin: jika baik proyek konseptual maupun doktrinal terbukti mustahil dilaksanakan, mengapa epistemologi tetap harus dipertahankan sebagai usaha filosofis yang berusaha berdiri di luar dan di atas sains, seolah-olah dapat menilai serta membenarkan sains dari suatu posisi yang lebih fundamental? Jawaban Quine tegas: tidak perlu, dan lebih jauh lagi, usaha semacam itu memang tidak pernah benar-benar mungkin. Ia mengusulkan agar epistemologi dilebur ke dalam psikologi empiris sebagai bab dari sains alam itu sendiri (a chapter of psychology, dan karena itu bagian dari sains alam). Pertanyaan epistemologis yang semula diajukan secara normatif dan a priori—bagaimana pengetahuan seharusnya dibenarkan agar layak disebut sah—digantikan dengan pertanyaan yang bersifat deskriptif dan empiris: bagaimana manusia, sebagai organisme fisik dengan susunan saraf tertentu, sesungguhnya sampai pada teorinya mengenai dunia, berangkat dari rangsangan-rangsangan inderawi terbatas yang mengenai permukaan reseptor tubuhnya.

Quine merumuskan persoalan yang tersisa setelah pergeseran ini sebagai hubungan antara masukan (input) dan keluaran (output): di satu sisi terdapat rentetan rangsangan inderawi yang terbatas dan sekilas, yang diterima seseorang sepanjang hidupnya melalui pancainderanya; di sisi lain terdapat teori mengenai dunia yang jauh lebih kaya, rumit, dan bahkan melampaui apa yang secara langsung teramati—termasuk teori-teori ilmiah canggih mengenai partikel subatomik yang tidak pernah dapat dilihat siapa pun, atau galaksi yang berjarak jutaan tahun cahaya. Kesenjangan antara masukan yang begitu tipis dan keluaran yang begitu melimpah inilah yang, bagi Quine, menjadi teka-teki sesungguhnya di balik apa yang dulu disebut “masalah pengetahuan”—dan teka-teki semacam ini, menurutnya, adalah pertanyaan empiris mengenai mekanisme psikologis dan kognitif manusia, sehingga paling baik dijawab lewat metode ilmiah yang digunakan psikologi: penelitian mengenai persepsi, mekanisme pembelajaran bahasa pada anak, cara manusia membentuk generalisasi dari kemiripan yang mereka rasakan (Quine menyebut ini kemiripan kualitatif bawaan, semacam disposisi biologis untuk mengelompokkan rangsangan yang mirip), dan proses pembentukan konsep secara bertahap dari respons terhadap rangsangan menuju konsep-konsep abstrak yang jauh lebih rumit.

Pergeseran ini segera menuai keberatan yang menurut Quine sendiri wajar dan perlu dijawab langsung: bukankah menggunakan psikologi—yang tidak lain adalah salah satu cabang sains—untuk menjelaskan bagaimana kita memperoleh pengetahuan mengenai dunia, termasuk pengetahuan ilmiah semacam psikologi itu sendiri, adalah sebuah lingkaran yang berputar-putar (circularity)? Bagaimana mungkin sains digunakan untuk menjelaskan dan sekaligus membenarkan sains? Quine menjawab keberatan ini dengan mengatakan bahwa lingkaran semacam itu memang benar terjadi, namun ia tidak lagi menjadi masalah begitu kita meninggalkan ambisi lama epistemologi untuk membenarkan sains dari luar, dari suatu titik pijak yang berdiri di atas atau sebelum sains. Bagi Quine, keberatan mengenai lingkaran itu hanya bermasalah selama kita masih terikat pada cita-cita fondasionalisme Cartesian; begitu cita-cita itu ditinggalkan, lingkaran tersebut berubah menjadi sesuatu yang lumrah dan bahkan tak terelakkan, karena manusia memang tidak pernah memiliki posisi di luar sistem pengetahuannya sendiri untuk menilai sistem itu secara independen. Sains dan akal sehat sehari-hari, karena itu, bukan sesuatu yang perlu dibenarkan dari luar oleh epistemologi filosofis yang berdiri sebagai hakim tertinggi, melainkan justru menjadi satu-satunya alat yang tersedia bagi kita untuk menyelidiki apa pun—termasuk untuk menyelidiki diri kita sendiri sebagai penyelidik yang sedang berusaha memahami bagaimana ia memperoleh pengetahuannya.

Quine memperkuat posisinya dengan analogi kapal Neurath (Neurath’s boat), yang ia pinjam dari filsuf Otto Neurath, salah satu anggota Lingkaran Wina: kita seperti pelaut yang harus memperbaiki kapalnya di tengah laut lepas, tanpa pernah bisa membawa kapal tersebut ke galangan kering untuk membongkarnya sepenuhnya dan membangunnya kembali dari fondasi yang benar-benar baru. Kita dapat mengganti papan demi papan sambil tetap mengapung dan sambil tetap berlayar, namun tidak pernah dapat memeriksa keseluruhan struktur kapal dari luar secara sekaligus, dan tidak pernah dapat berhenti berlayar untuk mengevaluasi seluruh sistem dari titik nol yang netral. Analogi ini merangkum sikap Quine terhadap pengetahuan manusia secara keseluruhan: revisi dan perbaikan keyakinan selalu dilakukan dari dalam sistem keyakinan yang sudah ada, menggunakan sumber daya konseptual dan metode yang sudah kita miliki sebagai bagian dari sains yang sudah berjalan, bukan dari suatu posisi eksternal yang steril dan bebas dari segala pengandaian sebagaimana diandaikan fondasionalisme Cartesian.

Baca juga :  Ad Hominem Fallacy

Pandangan ini menempatkan Quine pada posisi yang kontroversial dan tetap diperdebatkan hingga sekarang, karena tampak mengubah epistemologi dari disiplin normatif—yang menilai keyakinan mana yang rasional dan mana yang tidak—menjadi cabang psikologi deskriptif yang sekadar mencatat bagaimana keyakinan terbentuk, tanpa peduli apakah keyakinan tersebut layak dipercaya. Jaegwon Kim, dalam esainya yang banyak dikutip “What Is ‘Naturalized Epistemology’?” (1988), mengkritik pergeseran ini sebagai pelepasan tanggung jawab paling mendasar epistemologi, yaitu menjelaskan mengapa suatu keyakinan layak disebut rasional atau terbenarkan, bukan sekadar menjelaskan secara kausal bagaimana keyakinan itu muncul dalam kepala seseorang—sebab, menurut Kim, penjelasan kausal semacam itu bisa saja benar sekaligus tidak relevan untuk pertanyaan apakah keyakinan tersebut memang pantas dipercaya. Para pembela Quine, sebaliknya, menekankan bahwa ia tidak bermaksud menghapus dimensi normatif dari epistemologi secara total, melainkan mendasarkannya pada norma-norma yang sudah melekat dalam praktik sains itu sendiri—kesederhanaan, koherensi, daya prediksi, kesesuaian dengan bukti yang lebih luas—sehingga normativitas tidak lenyap begitu saja, melainkan dipahami ulang sebagai bagian dari, bukan berdiri di atas atau sebelum, penyelidikan empiris mengenai dunia. Perdebatan mengenai apakah epistemologi naturalisasi Quine benar-benar bisa menampung dimensi normatif secukupnya, atau justru diam-diam mengandaikan norma yang tidak pernah ia jelaskan asal-usulnya, tetap menjadi salah satu titik perdebatan paling hidup dalam epistemologi kontemporer, dan menjadi latar belakang langsung bagi gagasan Quine berikutnya mengenai naturalisme sebagai penolakan terhadap segala bentuk “filsafat pertama” (first philosophy) yang berusaha berdiri di luar sains.

Naturalisme dan Kesatuan Filsafat-Sains

Naturalisme merupakan payung yang menaungi hampir seluruh proyek filosofis Quine, dan epistemologi naturalisasi yang dibahas sebelumnya sesungguhnya hanya salah satu penerapan dari sikap filosofis yang jauh lebih luas ini. Quine merumuskan naturalisme sebagai penolakan terhadap gagasan adanya “filsafat pertama” (first philosophy)—yaitu suatu titik pijak filosofis yang berdiri di luar dan sebelum sains, dari mana sains itu sendiri dapat dinilai, dibenarkan, atau diberi fondasi. Gagasan filsafat pertama ini memiliki akar panjang dalam sejarah pemikiran Barat, mulai dari upaya Descartes membangun pengetahuan dari kepastian cogito yang bebas keraguan, hingga upaya Kant menyelidiki syarat-syarat kemungkinan pengalaman melalui penyelidikan transendental yang dianggap mendahului dan melampaui sains empiris itu sendiri. Bagi Quine, seluruh ambisi semacam ini keliru sejak asumsi dasarnya, karena mengandaikan adanya posisi istimewa bagi filsafat yang berada di luar jangkauan revisi empiris yang sama-sama berlaku bagi sains.

Sikap naturalis Quine dapat dirumuskan secara ringkas melalui dua komitmen yang saling berkaitan. Pertama, komitmen ontologis: satu-satunya realitas yang diakui adalah realitas fisik yang dipelajari sains alam, tanpa mengandaikan adanya entitas atau ranah pengetahuan lain yang berdiri terpisah dan lebih tinggi derajatnya dibanding apa yang dijangkau metode ilmiah. Kedua, komitmen metodologis: satu-satunya cara sah untuk mencari kebenaran mengenai dunia, termasuk mengenai pikiran dan pengetahuan manusia sendiri, adalah metode yang sama dengan yang digunakan dalam sains alam—pengamatan, hipotesis, pengujian, dan revisi berdasarkan bukti—bukan metode a priori murni yang mengklaim dapat mencapai kepastian tanpa bersandar pada pengalaman sama sekali. Quine merangkum sikap ini dengan menyatakan bahwa filsafat, sejauh ia hendak menyelidiki dunia secara serius, harus dipahami sebagai kelanjutan dari sains, bukan sebagai penilai yang berdiri di atasnya.

Konsekuensi paling langsung dari naturalisme ini adalah penghapusan batas tajam antara filsafat dan sains yang selama berabad-abad diandaikan oleh tradisi Barat. Dalam pandangan tradisional, filsafat dianggap menyelidiki pertanyaan-pertanyaan yang lebih fundamental dan bersifat konseptual—mengenai hakikat pengetahuan, hakikat realitas, hakikat pikiran—yang harus dijawab sebelum dan secara independen dari penyelidikan sains empiris, sebab jawaban-jawaban filosofis inilah yang dianggap menjadi fondasi bagi keabsahan sains itu sendiri. Quine membalik hubungan ini sepenuhnya: baginya, filsafat dan sains berada dalam kontinum yang sama, sama-sama merupakan bagian dari satu upaya besar manusia untuk memahami dan menjelaskan dunia, hanya berbeda dalam tingkat keumuman dan abstraksi pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan fisika mengenai partikel subatomik dan pertanyaan filsafat mengenai apa yang sesungguhnya “ada” (ontologi) sama-sama merupakan pertanyaan mengenai struktur dunia, yang dijawab dengan metode yang pada dasarnya sama, hanya berbeda dalam derajat generalitasnya—filsafat cenderung mengajukan pertanyaan yang lebih umum dan abstrak, sains alam cenderung mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik dan dapat diuji secara langsung melalui eksperimen, namun keduanya tunduk pada standar penilaian yang sama: kesesuaian dengan bukti, kesederhanaan, koherensi dengan keseluruhan tubuh pengetahuan.

Quine sering menggambarkan sikap naturalis ini dengan metafora bahwa filsafat bukanlah menara yang berdiri di luar bangunan sains untuk mengawasinya dari kejauhan, melainkan salah satu lantai atau ruangan di dalam bangunan sains itu sendiri—lantai yang menempati posisi paling abstrak dan paling umum, tempat dipertanyakan hal-hal seperti struktur logis teori-teori ilmiah, komitmen ontologis yang tersembunyi di dalamnya, atau hubungan antara bahasa yang kita gunakan dengan dunia yang ingin kita jelaskan. Namun, sekalipun menempati posisi yang paling abstrak, filsafat tidak pernah benar-benar keluar dari bangunan tersebut untuk berdiri di ruang hampa yang netral; ia tetap terikat pada keseluruhan jaringan keyakinan yang sama yang menopang sains, dan karena itu juga tunduk pada kemungkinan revisi yang sama seperti bagian-bagian lain dari jaringan tersebut, sebagaimana telah dijelaskan melalui holisme konfirmasi.

Naturalisme Quine juga membawa konsekuensi penting bagi cara ia memandang persoalan-persoalan filosofis tradisional yang selama ini dianggap harus dijawab melalui refleksi murni tanpa bantuan sains, seperti persoalan mengenai hakikat pikiran, hakikat makna, atau hakikat rujukan bahasa. Bagi Quine, persoalan-persoalan semacam ini tidak dapat dijawab secara memuaskan hanya melalui introspeksi filosofis atau analisis konseptual yang berdiri sendiri, melainkan harus diselidiki dengan memperhatikan temuan-temuan empiris mengenai perilaku bahasa manusia, mekanisme belajar, dan struktur biologis manusia sebagai organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya melalui rangsangan inderawi. Sikap inilah yang kemudian mengarahkan Quine pada proyeknya mengenai indeterminasi terjemahan dan ketidaktentuan rujukan, yang keduanya didekati bukan melalui spekulasi mengenai makna sebagai entitas mental yang misterius, melainkan melalui analisis perilaku verbal yang dapat diamati sebagai data empiris.

Sikap naturalis Quine ini menuai sejumlah keberatan serius dari para filsuf lain, terutama mengenai apakah naturalisme dapat konsisten mempertahankan dirinya sendiri tanpa jatuh ke dalam suatu bentuk kesombongan berlebihan terhadap sains (scientism), yaitu keyakinan bahwa metode ilmiah adalah satu-satunya jalan sah menuju pengetahuan, padahal keyakinan itu sendiri tampak seperti klaim filosofis yang tidak dapat dibuktikan atau diuji melalui metode ilmiah itu sendiri—sebuah kritik yang menuduh naturalisme Quine diam-diam mengandaikan semacam “filsafat pertama” yang justru ingin ia tolak, hanya dengan nama yang berbeda. Sejumlah filsuf lain, seperti Hilary Putnam yang pada masa awal kariernya merupakan murid dan pendukung dekat Quine, kemudian mengambil jarak dari naturalisme semacam ini karena khawatir pendekatan tersebut terlalu mereduksi persoalan-persoalan normatif—termasuk persoalan etika dan rasionalitas—ke dalam kerangka deskriptif sains yang, menurut Putnam, tidak pernah dapat sepenuhnya menangkap dimensi normatif yang melekat dalam penilaian manusia mengenai benar dan salah, baik dan buruk. Meski demikian, naturalisme Quine tetap menjadi salah satu warisan paling berpengaruh dalam filsafat analitik kontemporer, membentuk arah bagi apa yang kemudian dikenal sebagai filsafat pikiran naturalistik dan epistemologi naturalistik yang berkembang luas sejak akhir abad ke-20 hingga sekarang.

Jaring Keyakinan (Web of Belief) dan Under-determinasi Teori

Jaring Keyakinan (Web of Belief) dan under-determinasi teori adalah dua konsep dalam filsafat sains yang menolak pandangan sederhana bahwa sebuah teori dapat diuji sendirian lalu langsung dinyatakan benar atau salah oleh satu fakta. Gagasan ini berakar pada Pierre Duhem dan kemudian diperluas oleh W. V. O. Quine. Intinya, pengetahuan manusia tidak tersusun dari klaim-klaim yang berdiri terpisah, melainkan seperti jaring yang setiap bagiannya saling terkait: laporan observasi, konsep yang dipakai untuk mendeskripsikan data, prosedur pengukuran, asumsi tentang alat, teori ilmiah, matematika, logika, dan standar penalaran. Karena keterkaitan itu, pengalaman atau data baru tidak biasanya “menabrak” satu teori tunggal, tetapi berhadapan dengan seluruh rangkaian asumsi yang memungkinkan teori tersebut menghasilkan prediksi.

Dalam metafora Quine, bagian pinggir jaring berisi keyakinan yang lebih dekat dengan pengalaman langsung, seperti laporan bahwa suatu instrumen menunjukkan angka tertentu atau bahwa suatu eksperimen menghasilkan pola tertentu. Di bagian tengah terdapat keyakinan yang lebih mendasar dan lebih luas cakupannya, misalnya teori fisika yang mapan, prinsip matematika, atau hukum logika. Bila muncul hasil yang bertentangan dengan prediksi, bagian pinggir biasanya direvisi lebih dulu karena biaya revisinya lebih kecil: ilmuwan mungkin mengecek kesalahan pencatatan, gangguan alat, kondisi awal eksperimen, metode analisis, atau asumsi statistik. Tetapi bila anomali terus berulang, terkonfirmasi melalui berbagai metode, dan tidak dapat dijelaskan oleh masalah lokal, tekanan untuk merevisi bagian yang lebih sentral dari jaring akan meningkat. Jadi, Quine tidak mengatakan semua keyakinan memiliki status yang sama; ia mengatakan bahwa hampir semua keyakinan, pada prinsipnya, dapat direvisi, tetapi tingkat kesulitan dan konsekuensi revisinya berbeda secara drastis.

Tesis Duhem–Quine menjelaskan struktur logis persoalan ini. Ketika seorang ilmuwan menguji teori TTT, ia sebenarnya tidak hanya menguji TTT, tetapi sebuah paket yang mencakup teori utama, hipotesis tambahan, asumsi kondisi awal, teori tentang instrumen, prosedur eksperimen, dan metode pengolahan data. Secara skematis, prediksi observasi dapat ditulis sebagai T+A1+A2+⋯+An⇒OT + A_1 + A_2 + \cdots + A_n \Rightarrow OT+A1​+A2​+⋯+An​⇒O. Jika hasil pengamatan ternyata bukan OOO, yang dapat disimpulkan secara ketat hanyalah bahwa setidaknya satu unsur dalam paket tersebut bermasalah. Data tidak memberi jawaban otomatis apakah teori utama salah, alat ukur tidak akurat, model statistik tidak tepat, atau ada faktor lain yang belum dikendalikan. Ini bukan kelemahan sains, melainkan kondisi nyata dari pengujian ilmiah yang kompleks.

Dari sini muncul under-determinasi teori oleh bukti. Sebuah kumpulan data sering kali dapat dijelaskan oleh lebih dari satu teori, atau oleh teori yang sama dengan kombinasi asumsi tambahan yang berbeda. Misalnya, bila sebuah pengamatan astronomis menyimpang dari prediksi, kemungkinan penjelasannya dapat mencakup kesalahan instrumen, gangguan medium pengamatan, parameter model yang salah, keberadaan objek atau proses yang belum dimasukkan, atau kelemahan teori utama. Bukti yang ada mungkin belum cukup untuk memutuskan secara pasti di antara alternatif-alternatif tersebut. Dengan kata lain, data dapat membatasi teori yang masuk akal, tetapi tidak selalu menentukan satu teori unik yang harus diterima.

Namun, perlu dibedakan antara under-determinasi yang terbatas dan klaim yang sangat radikal. Versi terbatas menyatakan bahwa pada waktu tertentu, dengan bukti yang tersedia, beberapa alternatif masih mungkin bertahan. Ini lazim dalam sains dan justru mendorong riset lanjutan. Versi radikal menyatakan bahwa untuk setiap teori selalu ada teori pesaing yang akan cocok dengan seluruh bukti yang mungkin diperoleh, sehingga bukti tidak pernah dapat membuat satu teori lebih rasional daripada teori pesaingnya. Klaim kedua jauh lebih sulit dipertahankan. Bahwa dua teori belum dapat dibedakan hari ini tidak berarti keduanya tidak akan pernah dapat dibedakan; eksperimen baru, instrumen lebih presisi, prediksi baru, atau pengukuran dari konteks berbeda dapat mengurangi atau bahkan mengakhiri under-determinasi lokal.

Karena itu, konsep ini tidak mendukung relativisme bahwa “semua teori sama-sama benar” atau “semua pendapat setara.” Teori-teori dapat sama-sama kompatibel dengan sebagian data, tetapi tetap berbeda tajam dalam kualitas ilmiahnya. Ilmuwan menilai teori melalui banyak kriteria: ketepatan prediksi, keluasan fenomena yang dijelaskan, konsistensi internal, kesesuaian dengan bukti independen, kesederhanaan, kekuatan penjelasan, kemampuan menghasilkan prediksi baru, produktivitas untuk riset lanjutan, serta jumlah asumsi tambahan yang diperlukan untuk melindunginya dari kegagalan. Teori yang hanya menyesuaikan diri setelah data diketahui, dengan banyak pengecualian khusus, biasanya lebih lemah daripada teori yang membuat prediksi berisiko sebelum pengamatan dilakukan lalu berhasil melewatinya.

Perbedaan penting terletak pada revisi yang produktif dan penambalan ad hoc. Jika sebuah teori gagal lalu dimodifikasi dengan cara yang menghasilkan prediksi baru, dapat diuji secara independen, dan juga menjelaskan anomali lain, revisi itu dapat dianggap ilmiah dan bernilai. Sebaliknya, bila teori selalu diselamatkan melalui asumsi yang kabur, fleksibel, hanya muncul setelah kegagalan, dan tidak membuka kemungkinan untuk dibantah, maka teori tersebut sedang diimunisasi dari kritik. Misalnya, “faktor tersembunyi” tidak otomatis merupakan penjelasan yang buruk; ia menjadi buruk jika tidak dijelaskan secara spesifik, tidak menghasilkan konsekuensi yang dapat diuji, dan dapat dipakai untuk menjawab hasil apa pun.

Karl Popper menekankan bahwa teori ilmiah harus dapat difalsifikasi, tetapi tesis Duhem–Quine menunjukkan bahwa satu hasil eksperimen jarang memfalsifikasi satu teori secara langsung dan mutlak. Ini tidak membuat falsifikasi tidak berguna; justru artinya falsifikasi harus dipahami sebagai proses kritis, bukan sebagai tombol logis otomatis. Ketika anomali berulang dalam banyak eksperimen, bertahan setelah alat diperiksa, muncul melalui metode independen, dan teori saingan mampu menjelaskan data dengan lebih baik serta membuat prediksi baru, maka mempertahankan teori lama menjadi semakin mahal. Pada titik itu, komunitas ilmiah memiliki alasan rasional untuk merevisi atau menggantinya.

Thomas Kuhn menekankan bahwa perubahan teori juga memiliki dimensi sejarah dan sosial: ilmuwan bekerja di dalam paradigma yang menentukan masalah penting, metode yang sah, dan standar solusi yang diterima. Ketika anomali menumpuk, paradigma dapat mengalami krisis dan digantikan oleh paradigma baru. Namun, membaca Kuhn sebagai klaim bahwa perubahan teori murni soal kekuasaan atau selera komunitas adalah penyederhanaan. Paradigma baru tetap dinilai melalui kemampuan menyelesaikan masalah, meningkatkan presisi, memperluas cakupan penjelasan, dan menangani anomali yang tidak dapat diatasi oleh paradigma sebelumnya. Imre Lakatos memberi formulasi yang lebih operasional: program riset bersifat progresif jika perubahan tambahannya menghasilkan prediksi baru yang berhasil dikonfirmasi, tetapi bersifat degeneratif jika perubahan itu hanya dibuat setelah fakta diketahui untuk melindungi inti teori dari masalah.

Nilai praktis dari Web of Belief terletak pada tuntutan untuk membuat asumsi eksplisit. Dalam sebuah debat ilmiah, kebijakan publik, analisis ekonomi, atau strategi bisnis, pihak yang mengatakan “data tidak membuktikan bahwa saya salah” mungkin benar secara sempit, tetapi itu belum cukup. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: asumsi mana yang harus dipertahankan agar posisi tersebut tetap hidup, apakah asumsi itu masuk akal secara independen, apakah posisi itu menghasilkan prediksi yang membedakannya dari alternatif, berapa banyak pengecualian yang dibutuhkan, dan bukti seperti apa yang akan membuatnya ditinggalkan? Jika tidak ada kemungkinan bukti yang dapat mengubah posisi, maka itu bukan ketahanan teoritis, melainkan dogmatisme.

Jadi, Web of Belief menunjukkan bahwa pembenaran pengetahuan bersifat holistik dan revisabel: kita menilai keyakinan sebagai bagian dari sistem yang saling mendukung, bukan sebagai klaim terisolasi. Under-determinasi menunjukkan bahwa bukti sering tidak memberi satu jawaban yang dipaksakan secara deduktif, karena lebih dari satu penataan teori dan asumsi dapat sesuai dengan data. Tetapi pelajaran yang benar bukan bahwa sains tidak objektif atau bahwa semua teori bebas dipilih. Pelajaran yang lebih kuat adalah bahwa rasionalitas ilmiah bersifat komparatif: teori terbaik bukan teori yang kebal dari semua masalah, melainkan teori yang, dibandingkan alternatifnya, menjelaskan lebih banyak, memprediksi lebih baik, membutuhkan lebih sedikit penambalan, tahan terhadap pengujian independen, dan memperbaiki keseluruhan jaring pemahaman dengan biaya konseptual serta empiris yang paling masuk akal.

Indeterminasi Terjemahan

Indeterminasi Terjemahan (indeterminacy of translation) adalah tesis W. V. O. Quine bahwa bukti tentang penggunaan bahasa tidak selalu cukup untuk menetapkan satu terjemahan sebagai satu-satunya terjemahan yang benar. Maksudnya bukan bahwa penerjemahan mustahil, atau bahwa perbedaan bahasa otomatis membuat komunikasi gagal. Quine mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar: anggapan bahwa setiap kata dan kalimat memiliki makna tunggal yang sepenuhnya tetap, lalu makna itu tinggal dipindahkan ke bahasa lain. Menurutnya, dua sistem terjemahan dapat sama-sama menjelaskan seluruh perilaku penutur—kapan mereka menyetujui kalimat, menolak, mengoreksi, bertanya, memberi perintah, atau bereaksi terhadap keadaan tertentu—tetapi tetap menghubungkan ujaran mereka dengan makna dan rujukan yang berbeda. Jika tidak ada bukti tambahan yang membedakan dua sistem itu, maka tidak ada dasar objektif untuk mengatakan bahwa hanya satu di antaranya yang menangkap makna “sebenarnya.”

Quine menjelaskan masalah ini melalui situasi penerjemahan radikal. Bayangkan seorang ahli bahasa berhadapan dengan masyarakat yang bahasanya sama sekali tidak ia pahami. Ia tidak memiliki kamus, penerjemah, atau akses langsung ke isi pikiran penutur. Ia hanya dapat mengamati perilaku dan situasi: apa yang terjadi di sekitar, kapan suatu ujaran muncul, serta bagaimana penutur menerima atau menolak kalimat tertentu. Ketika seekor kelinci muncul dan seorang penutur berkata “gavagai,” dugaan paling alami ialah bahwa kata itu berarti “kelinci.” Namun, menurut Quine, pengamatan tersebut belum membuktikan bahwa itulah satu-satunya arti yang benar. “Gavagai” dapat saja merujuk pada bagian kelinci yang belum dipisahkan, tahap kemunculan kelinci dalam waktu tertentu, atau peristiwa adanya kelinci. Alternatif ini memang terasa tidak wajar bagi kita, tetapi dapat dipertahankan bila penerjemah sekaligus mengatur ulang penerjemahan istilah lain, misalnya kata untuk identitas, jumlah, bagian, dan keberlanjutan objek.

Masalah ini disebut ketaktertelusuran rujukan (inscrutability of reference). Ketika penutur memakai sebuah kata, bukti perilakunya mungkin tidak menentukan dengan pasti apakah kata itu menunjuk benda sebagai satu kesatuan, bagian-bagiannya, kumpulan gejala, atau sesuatu yang lain. Untuk mengetahui bahwa “gavagai” berarti “kelinci,” penerjemah perlu lebih dari satu situasi penunjukan. Ia harus melihat bagaimana kata tersebut dipakai ketika ada satu atau dua kelinci, ketika kelinci bergerak atau mati, ketika bagian tubuhnya dipisahkan, ketika penutur membedakan kelinci yang sama dari kelinci lain, dan ketika mereka mengoreksi penggunaan yang salah. Namun bahkan seluruh rangkaian data itu, menurut Quine, dapat diakomodasikan oleh lebih dari satu skema interpretasi jika aturan bagi istilah lain disusun secara sistematis.

Klaim Quine tidak terbatas pada kata individual. Ia juga menyatakan bahwa dua manual terjemahan dapat berbeda pada tingkat kalimat secara keseluruhan. Keduanya mungkin sama-sama berhasil memperkirakan kapan penutur akan menyetujui atau menolak suatu pernyataan, tetapi menghasilkan terjemahan dengan konsekuensi yang berbeda. Jadi, persoalannya bukan hanya apakah sebuah istilah menunjuk kelinci, bagian kelinci, atau kejadian-kelinci; persoalannya juga menyangkut apakah satu kalimat memiliki kandungan makna tunggal yang dapat dipisahkan dari keseluruhan bahasa dan teori yang mendukungnya.

Dasar pemikiran Quine adalah empirisme dan naturalisme. Ia menolak penjelasan makna yang bergantung pada “isi mental” privat yang seolah dapat diakses langsung oleh penerjemah. Baginya, penerjemahan harus bertumpu pada bukti publik: perilaku verbal, respons terhadap lingkungan, koreksi antarpengguna bahasa, dan pola inferensi dalam percakapan. Tetapi bila semua yang tersedia adalah bukti publik tersebut, sementara beberapa sistem terjemahan dapat menjelaskannya dengan sama baik, maka makna tidak memiliki penentuan tunggal yang melampaui praktik interpretasi. Artinya, penerjemah selalu bekerja dengan sebuah teori tentang bahasa penutur lain, bukan sekadar membaca arti yang sudah tersedia secara transparan.

Gagasan ini sejalan dengan Jaring Keyakinan (Web of Belief) Quine. Arti sebuah kata tidak dapat dipahami secara terpisah dari hubungan kata tersebut dengan kalimat lain, aturan tata bahasa, kebiasaan inferensi, cara menghitung objek, konsep identitas, dan teori penutur tentang dunia. Penerjemahan bukan proses satu kata untuk satu objek, melainkan usaha menafsirkan jaringan penggunaan bahasa secara menyeluruh. Jika penerjemah mengubah cara menerjemahkan satu istilah, ia mungkin perlu menyesuaikan istilah lain agar sistemnya tetap konsisten. Karena itulah bukti penggunaan satu kata saja hampir tidak pernah cukup untuk menentukan makna secara final.

Baca juga :  Epistemologi

Indeterminasi terjemahan juga berkaitan dengan under-determinasi teori. Dalam sains, data yang sama kadang dapat cocok dengan beberapa teori karena setiap teori diuji bersama asumsi tambahan. Dalam penerjemahan, perilaku bahasa yang sama dapat cocok dengan beberapa manual terjemahan karena setiap pilihan arti bergantung pada asumsi tentang rujukan, objek, identitas, waktu, dan logika. Pada kedua kasus, bukti tidak selalu memilih satu sistem secara otomatis. Namun perbandingan ini tidak berarti semua teori atau terjemahan setara. Ia hanya menunjukkan bahwa pilihan rasional melibatkan lebih dari data mentah.

Terjemahan tetap dapat dinilai berdasarkan kriteria yang jelas. Terjemahan yang baik biasanya paling sesuai dengan pola penggunaan penutur, dapat menjelaskan koreksi dan perbedaan konteks, konsisten dengan bagian bahasa lain, tidak memerlukan aturan tambahan yang rumit, dan memungkinkan komunikasi berjalan efektif. Jika “gavagai” diterjemahkan sebagai “kelinci,” lalu terjemahan itu menjelaskan penggunaan kata tersebut dalam berburu, menghitung, membedakan individu, menceritakan peristiwa masa lalu, dan mengajarkan bahasa kepada anak, maka ia jauh lebih unggul secara praktis daripada sistem yang memaksa kita menerjemahkannya sebagai “bagian kelinci yang belum terpisahkan.” Keunggulan ini bukan karena alternatif lain mustahil secara logis, tetapi karena alternatif itu membutuhkan penataan ulang yang lebih rumit dan kurang ekonomis terhadap keseluruhan bahasa.

Di sinilah batas penting tesis Quine. Ia tidak memberikan dasar untuk berkata bahwa semua terjemahan benar, semua tafsir sama kuat, atau kata dapat diberi arti sesuka hati. Terjemahan yang mengabaikan tata bahasa, konteks, sejarah pemakaian, respons penutur, dan fungsi ujaran tetap merupakan terjemahan buruk. Indeterminasi hanya menolak keyakinan bahwa semua bukti akan selalu mengarah pada satu makna final tanpa ruang pilihan interpretatif. Dalam praktik nyata, konteks sosial, koreksi penutur, tujuan percakapan, institusi, serta pengetahuan bersama mempersempit pilihan secara drastis sehingga sebagian besar terjemahan tidak layak dipertahankan.

Tesis ini juga menghadapi kritik. Kritikus menilai Quine terlalu membatasi dasar makna pada perilaku yang dapat diamati. Makna, menurut mereka, turut ditentukan oleh niat penutur, sejarah penggunaan istilah, hubungan kausal dengan objek, aturan komunitas, dan pembagian kerja linguistik. Kata “emas,” misalnya, tidak hanya ditentukan oleh benda-benda kuning yang dilihat penutur, tetapi juga oleh praktik ilmiah dan sosial yang membedakan emas dari logam lain. Jika unsur-unsur sosial dan historis ini dianggap bagian dari fakta tentang bahasa, maka banyak alternatif terjemahan yang tampak setara dalam contoh Quine mungkin tidak lagi benar-benar setara.

Ketidaktentuan Rujukan (Inscrutability of Reference)

Ketidaktentuan Rujukan (Inscrutability of Reference) adalah tesis W. V. O. Quine bahwa tidak selalu ada fakta tunggal, final, dan bebas-kerangka mengenai objek apa yang dirujuk oleh suatu kata. Ini bukan berarti kata-kata tidak memiliki rujukan, penutur tidak pernah berhasil menunjuk sesuatu, atau komunikasi adalah ilusi. Quine mempertanyakan gagasan yang lebih kuat: bahwa setiap kata memiliki hubungan langsung dan sepenuhnya pasti dengan satu objek atau jenis objek di dunia, lalu hubungan tersebut dapat ditemukan tanpa bergantung pada bahasa, teori, kategori, dan cara kita membagi realitas. Dalam penggunaan sehari-hari, kita dengan mudah berkata bahwa kata “kelinci” merujuk pada kelinci. Namun, untuk memahami apa yang sebenarnya terkandung dalam pernyataan itu, kita sudah memakai banyak asumsi: bahwa kelinci adalah satu objek utuh, bahwa objek tersebut tetap sama dari satu waktu ke waktu lain, bahwa ia dapat dibedakan dari bagian tubuhnya, bahwa dua kelinci adalah dua individu, dan bahwa satu kelinci yang terlihat hari ini dapat merupakan kelinci yang sama dengan yang terlihat kemarin. Quine berpendapat bahwa asumsi-asumsi seperti ini merupakan bagian dari sistem konseptual kita; asumsi tersebut membantu bahasa bekerja, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa dunia hanya dapat dibagi dengan satu cara tersebut.

Contoh paling terkenal adalah “gavagai.” Bayangkan seorang ahli bahasa mencoba memahami komunitas yang bahasanya sama sekali asing. Ketika seekor kelinci melintas, seorang penutur lokal berkata “gavagai.” Dugaan paling masuk akal bagi penerjemah adalah bahwa “gavagai” berarti “kelinci.” Akan tetapi, dari perilaku itu saja, tidak dapat dipastikan apakah kata tersebut sungguh menunjuk kelinci utuh, bagian kelinci yang belum dipisahkan, tahap temporal kelinci, kemunculan kelinci, atau suatu kategori lain yang berkaitan dengan kelinci. Bagi kita, kemungkinan seperti “tahap temporal kelinci” terdengar dibuat-buat karena bahasa kita lazim memperlakukan hewan sebagai objek yang bertahan melalui waktu. Namun, Quine menekankan bahwa bukti observasional tidak dengan sendirinya menentukan pembagian ontologis tersebut. Apa yang terlihat hanyalah bahwa penutur menggunakan “gavagai” dalam kondisi tertentu; untuk mengetahui apa yang dianggap sebagai satu objek, satu bagian, satu kejadian, atau satu individu, penerjemah memerlukan sistem interpretasi yang jauh lebih luas.

Penerjemah tentu dapat mengumpulkan data lebih banyak. Ia dapat mengamati penggunaan kata itu saat muncul satu atau dua kelinci, ketika kelinci mati, ketika hanya bagian tubuhnya yang terlihat, ketika kelinci yang sama datang kembali, atau ketika penutur membetulkan orang lain yang memakai istilah tersebut secara keliru. Namun, menurut Quine, bahkan kumpulan data yang sangat kaya belum tentu memaksa satu jawaban unik tentang rujukan. Jika penerjemah memilih untuk tidak menerjemahkan “gavagai” sebagai “kelinci,” ia dapat menyesuaikan penerjemahan kata lain, seperti “sama,” “berbeda,” “satu,” “dua,” “bagian,” “hidup,” “mati,” dan “kembali.” Dengan penyesuaian yang cukup sistematis, ia masih dapat menjelaskan kapan penutur menyetujui atau menolak kalimat tertentu. Karena rujukan suatu istilah bergantung pada cara seluruh bahasa menangani identitas, jumlah, waktu, dan objek, satu kata tidak dapat ditetapkan maknanya hanya dengan menunjuk sesuatu yang hadir di depan mata.

Inilah alasan Quine menyebut rujukan “tidak terselidiki secara tuntas” atau inscrutable. Yang tidak dapat dipastikan bukan apakah penutur berbicara secara teratur, melainkan bagaimana tepatnya kita harus memetakan struktur bahasa mereka ke struktur dunia. Dua skema dapat menghasilkan perilaku linguistik yang sama, tetapi memakai pembagian realitas yang berbeda. Skema pertama mungkin menganggap dunia terdiri dari benda-benda utuh seperti kelinci, pohon, dan batu. Skema kedua dapat menganggap dunia terdiri dari bagian-bagian yang tidak terpisah, potongan proses, atau tahap-tahap temporal. Keduanya mungkin dapat menerjemahkan seluruh praktik bahasa dengan baik bila istilah pendukungnya ditata secara konsisten. Oleh sebab itu, Quine menyatakan bahwa pertanyaan “kata ini benar-benar merujuk kepada apa?” tidak selalu mempunyai jawaban mutlak yang berdiri di luar semua cara berbicara dan berpikir.

Ketidaktentuan rujukan berkaitan erat dengan Indeterminasi Terjemahan, tetapi keduanya tidak identik. Indeterminasi Terjemahan adalah klaim yang lebih luas bahwa dua manual terjemahan dapat sama-sama cocok dengan seluruh perilaku penutur, tetapi menghasilkan terjemahan kalimat yang berbeda secara substantif. Ketidaktentuan Rujukan lebih spesifik: ia menyangkut objek atau entitas yang dianggap ditunjuk oleh suatu istilah. Dua penerjemah dapat sama-sama setuju bahwa penutur menerima kalimat yang, untuk tujuan praktis, diterjemahkan sebagai “Ada kelinci di sana,” tetapi tetap berbeda mengenai apakah istilah yang diterjemahkan sebagai “kelinci” menunjuk individu fisik, bagian-bagian tertentu, atau tahap-tahap kemunculan. Dengan demikian, kalimat dapat memiliki fungsi komunikasi yang hampir sama, sementara analisis tentang objek yang dirujuk oleh kata di dalamnya berbeda.

Gagasan ini juga terhubung dengan relativitas ontologis Quine. Ontologi adalah cara suatu teori menyatakan apa yang ada: apakah dunia terutama terdiri dari benda, sifat, peristiwa, proses, angka, sel, partikel, medan, atau struktur. Quine tidak menolak penggunaan objek-objek tersebut. Ia justru mengakui bahwa kita perlu berbicara tentang objek agar dapat berpikir, berkomunikasi, dan membangun ilmu pengetahuan. Namun, ia menolak anggapan bahwa ada cara tunggal untuk memilih objek yang benar-benar ada tanpa terlebih dahulu memakai bahasa teori tertentu. Dalam percakapan sehari-hari, kita berbicara tentang satu kelinci. Dalam biologi, kita dapat berbicara tentang organisme, organ, sel, atau DNA. Dalam fisika, kelinci dapat dianalisis sebagai susunan partikel, medan, energi, dan proses. Semua deskripsi itu dapat benar dan berguna dalam konteksnya, tetapi tidak otomatis berarti salah satunya adalah satu-satunya daftar objek final yang diberikan dunia secara langsung.

Penting untuk tidak menyalahgunakan tesis ini sebagai relativisme bebas. Quine tidak mengatakan bahwa kata “kelinci” dapat diterjemahkan menjadi “batu,” “kursi,” atau apa pun tanpa konsekuensi. Interpretasi semacam itu akan gagal menjelaskan penggunaan kata dalam banyak situasi: ketika penutur menghitung hewan, membedakan kelinci dari burung, menyebut kelinci bergerak, menceritakan kelinci yang mati, atau memperbaiki kesalahan orang lain. Pilihan rujukan tetap dibatasi oleh pola penggunaan, tata bahasa, inferensi, konteks sosial, dan perilaku penutur. Yang dipertanyakan adalah apakah batas-batas tersebut menghasilkan satu rujukan yang mutlak unik, bukan apakah batas-batas itu ada. Dalam praktik, kita memiliki alasan yang sangat kuat untuk mengatakan bahwa “gavagai” berarti “kelinci,” karena terjemahan itu paling sederhana, paling hemat asumsi, paling konsisten dengan cara penutur berbicara, dan paling efektif untuk komunikasi. Namun, bagi Quine, keunggulan seperti itu bersifat pragmatis dan teoretis, bukan bukti metafisis bahwa tidak mungkin ada skema alternatif yang sama-sama konsisten.

Kritik terhadap Quine biasanya berfokus pada sumber bukti yang ia izinkan. Banyak filsuf berpendapat bahwa rujukan tidak hanya ditentukan oleh respons perilaku yang dapat diamati, melainkan juga oleh niat penutur, sejarah penggunaan kata, hubungan kausal antara kata dan objek, norma komunitas, serta institusi yang mengatur penggunaan istilah. Kata “emas,” misalnya, tidak hanya merujuk pada semua benda kuning yang tampak mirip emas. Ia merujuk pada substansi tertentu karena komunitas bahasa dan sains memiliki prosedur untuk membedakan emas dari pirit, kuningan, atau logam lain. Seorang penutur bisa salah mengenali emas, tetapi kata “emas” yang digunakannya tidak serta-merta berubah rujukan. Kritik ini menyatakan bahwa jika praktik sosial, sejarah, dan hubungan kausal dimasukkan sebagai bagian dari fakta bahasa, maka banyak alternatif rujukan Quine yang tampak setara sebenarnya dapat dibedakan.

Meski begitu, pelajaran Quine tetap bernilai. Ketika kita berdebat tentang apa yang dirujuk oleh istilah seperti “bangsa,” “ras,” “kelas,” “kecerdasan,” “penyakit,” “terorisme,” “hak,” atau “keadilan,” kita sering mengira bahwa objek rujukannya sudah jelas, padahal istilah-istilah tersebut membawa kategori teoretis, kepentingan sosial, dan aturan pengelompokan yang dapat dipersoalkan. Ketidaktentuan Rujukan mengingatkan bahwa masalah bahasa sering bukan sekadar mencari definisi kamus, tetapi memeriksa kerangka yang membuat suatu kategori tampak alamiah dan pasti. Namun, ini bukan alasan untuk menganggap semua definisi atau semua penafsiran setara. Kerangka yang baik harus dinilai dari ketepatan penggunaannya, konsistensi dengan bukti, kemampuan membedakan kasus yang relevan, kegunaan penjelasannya, serta konsekuensi praktis dan moral dari cara ia menggolongkan dunia.

Relativitas Ontologis dan Komitmen Ontologis

Bayangkan kita bertanya, “Sebenarnya apa saja yang ada di dunia ini?” Pertanyaan itu terdengar polos, tetapi Quine menunjukkan bahwa menjawabnya jauh lebih rumit daripada yang kita kira. Dalam esai “On What There Is” (1948), ia mulai dari teka-teki lama: bagaimana kita bisa berkata bahwa Pegasus tidak ada, padahal untuk menyangkalnya kita seolah-olah harus lebih dulu membicarakan sesuatu yang bernama Pegasus? Sebagian filsuf tergoda menjawab bahwa Pegasus pasti “ada” dalam suatu cara, kalau tidak, kalimat penyangkalan itu tak akan bermakna. Quine menganggap jalan ini berlebihan. Menurutnya, kekusutan itu lahir dari cara kita memperlakukan nama seolah selalu menunjuk sesuatu. Ia meminjam gagasan Bertrand Russell bahwa nama seperti “Pegasus” dapat diurai menjadi deskripsi, misalnya “sesuatu yang bersayap, berwujud kuda, dan lahir dari mitos Yunani”, sehingga kalimat “Pegasus tidak ada” hanya berarti tidak ada satu pun benda yang memenuhi deskripsi itu. Teka-teki pun luruh tanpa perlu mengakui bahwa hal-hal yang tidak ada itu tetap “ada” di suatu tempat.

Dari sinilah lahir gagasan komitmen ontologis. Ungkapan Quine yang paling terkenal berbunyi kurang lebih: “ada” berarti menjadi nilai dari sebuah variabel terikat. Kedengarannya teknis, tetapi maksudnya sederhana. Ketika kita menerima suatu teori dan menuliskannya dalam bahasa logika yang rapi, kita akan mendapati kalimat-kalimat berbentuk “ada sesuatu yang sedemikian rupa sehingga…”. Benda-benda yang harus tersedia agar kalimat semacam itu benar itulah yang menjadi tanggungan ontologis teori tersebut. Jadi komitmen ontologis bukan soal apa yang secara samar-samar kita yakini, melainkan apa yang sungguh dituntut oleh apa yang kita katakan. Seorang ahli biologi yang menyatakan bahwa ada spesies-spesies yang bisa saling kawin silang, misalnya, berkomitmen pada keberadaan spesies sebagai entitas, mau ia sadari atau tidak. Seorang ahli fisika yang memakai matematika dalam teorinya berkomitmen pada bilangan dan himpunan, karena tanpa itu teorinya tak bisa dirumuskan. Di sini Quine juga mengajarkan kejujuran intelektual: kita tidak bisa mengambil manfaat sebuah teori lalu berpura-pura tidak mengenal isi dan konsekuensinya. Yang diperiksa adalah teorinya, bukan kata-kata yang kebetulan kita ucapkan sehari-hari. Karena itu, bagi Quine, pertanyaan tentang apa yang ada paling baik dijawab dengan menengok teori terbaik yang kita punya, terutama teori ilmiah, lalu melihat apa yang ditanggungnya.

Namun Quine tidak berhenti di situ. Beberapa tahun kemudian, dalam pemikirannya tentang bahasa dan penerjemahan, ia menemukan keretakan yang lebih dalam. Dalam Word and Object (1960) ia mengajak kita membayangkan seorang ahli bahasa yang tiba di tengah suku yang bahasanya sama sekali asing. Suatu hari seekor kelinci berlari melintas, dan seorang penutur berseru, “Gavagai!” Ahli bahasa itu tentu mencatat: “kelinci.” Tetapi Quine bertanya, apa yang membuat catatan itu lebih tepat daripada “potongan-potongan kelinci yang menyatu”, “tahap sesaat dari kehidupan seekor kelinci”, atau “kelincian yang sedang hadir”? Semua tafsir itu cocok dengan setiap gejala perilaku yang bisa diamati, sebab dalam situasi yang sama, siapa pun yang melihat kelinci juga melihat semua hal itu sekaligus. Tidak ada kilasan pengalaman yang bisa membedakannya. Quine menyebut keadaan ini ketaktertelusuran rujukan: apa persisnya yang dirujuk sebuah kata tidak dapat dipastikan hanya dari bukti perilaku.

Dari sini lahirlah relativitas ontologis. Quine menunjukkan bahwa kita bisa memetakan seluruh isi dunia ke isi dunia lainnya lewat suatu fungsi pengganti, dan setelah itu semua kalimat kita tetap benar serta semua pengamatan kita tetap sama. Artinya, pertanyaan “objek apa yang sebenarnya dirujuk oleh kata ini?” tidak punya jawaban mutlak. Ia hanya punya jawaban relatif terhadap sebuah kerangka rujukan, yaitu bahasa latar yang kita pakai sebagai patokan penerjemahan. Perbandingannya dengan koordinat dalam fisika: kita tidak bisa mengatakan posisi sebuah titik secara mutlak, hanya relatif terhadap sistem koordinat yang dipilih. Sebagian orang mengira ini berujung pada keraguan yang melumpuhkan, seolah-olah tak ada yang bisa dikatakan tentang dunia. Quine tidak bermaksud begitu. Ia justru berpendapat bahwa dalam bahasa ibu kita sendiri, rujukan tampak jelas karena kita menerima bahasa itu apa adanya, tanpa mempertanyakan fondasinya setiap kali berbicara. Kata “kelinci” dalam percakapan sehari-hari kita tidak bermasalah. Masalah baru muncul ketika kita mencoba berdiri di luar semua bahasa untuk menanyakan rujukan secara mutlak, dan Quine menegaskan bahwa tempat berpijak semacam itu memang tidak ada.

Bila kedua gagasan ini disandingkan, terlihat bahwa keduanya saling melengkapi dan saling mengoreksi. Komitmen ontologis memberi kita alat untuk menimbang apa yang dituntut oleh sebuah teori, sedangkan relativitas ontologis mengingatkan bahwa tuntutan itu selalu dibaca dari dalam suatu kerangka. Kita bisa berkata bahwa teori fisika berkomitmen pada elektron, tetapi cara mengartikan “elektron” itu sendiri bergantung pada bahasa dan teori latar yang kita pakai untuk memahaminya. Quine tidak menjadikan hal ini alasan untuk menyerah pada relativisme yang serba boleh. Ia tetap seorang naturalis yang percaya pada ilmu pengetahuan, hanya saja ia menolak klaim bahwa ada sudut pandang ilahi yang memungkinkan kita mengintip dunia tanpa perantaraan bahasa dan teori. Kita selalu berpikir dari dalam jaring keyakinan kita, dan jaring itu dapat diperbaiki bagian demi bagian, tetapi tidak pernah bisa kita tinggalkan sepenuhnya.

Ada sisi manusiawi dalam pelajaran ini. Kesadaran bahwa ontologi bersifat relatif membuat kita lebih rendah hati saat berhadapan dengan cara pandang orang lain, sebab apa yang tampak sebagai “kenyataan” bagi satu komunitas bahasa tidak bisa begitu saja dinilai sebagai satu-satunya kenyataan yang sah. Sementara itu, gagasan komitmen ontologis menjaga kita agar tidak longgar dalam berpikir: siapa pun yang berbicara harus siap menanggung apa yang secara logis terkandung dalam ucapannya. Keduanya bersama-sama mengajarkan sikap yang jarang kita jumpai. Kita perlu cukup yakin untuk berbicara tentang dunia, dan cukup rendah hati untuk mengakui bahwa kita melihatnya dari suatu tempat tertentu.

Lanskap Gurun Ontologis (Parsimoni Ontologis)

Dalam “On What There Is”, Quine mengaku punya selera estetis yang jarang dibicarakan filsuf: ia menyukai lanskap gurun. Ia mengucapkannya sambil menyindir sebuah pandangan yang menurutnya menjadikan alam semesta sesak oleh penghuni. Sindiran itu tertuju pada tokoh rekaannya, Wyman, yang mewakili filsuf-filsuf pendukung keberadaan hal-hal yang belum atau tidak terwujud. Menurut Wyman, si “laki-laki gemuk yang mungkin berdiri di ambang pintu itu” harus punya semacam status ada, kalau tidak, kita tak bisa membicarakannya. Quine menggambarkan dunia ala Wyman sebagai kampung kumuh yang padat oleh yang serba mungkin, dan ia merasa tidak betah tinggal di sana. Gurun yang ia dambakan adalah dunia yang lengang: isinya hanya sesuatu yang benar-benar perlu ada.

Ketidakbetahan itu bukan sekadar soal selera, sebab ada masalah nyata di balik kepadatan tadi. Bayangkan laki-laki gemuk yang mungkin di ambang pintu itu, lalu laki-laki botak yang mungkin di ambang pintu yang sama. Apakah keduanya orang yang sama, atau dua sosok berbeda? Berapa banyak lelaki mungkin yang muat di sana? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak punya jawaban yang masuk akal, dan dari kebuntuan itu Quine menarik semboyan yang terkenal: tidak ada entitas tanpa identitas. Sesuatu baru layak dianggap ada bila kita punya cara yang jelas untuk menyatakan kapan ia sama dan kapan ia berbeda dari yang lain. Dunia yang dipenuhi hal-hal samar semacam itu bukan hanya tidak elok, tetapi juga membuat pikiran kita kehilangan pegangan.

Di sinilah prinsip parsimoni bekerja. Warisan lamanya kita kenal sebagai pisau cukur Occam, yang menganjurkan agar kita tidak melipatgandakan hal-hal tanpa perlu. Quine menerimanya dengan ketegasan yang khas, tetapi ia juga jujur mengakui bahwa pisau itu tidak selalu tajam. Ia menyebut persoalan yang dihadapi sebagai jenggot Plato, yang kusut dan liat sehingga sering menumpulkan mata pisau setiap kali orang mencoba mencukurnya. Tumpulnya pisau itu masuk akal, karena kata-kata sehari-hari kita penuh dengan istilah yang tampak menunjuk pada sesuatu yang bukan benda: sifat, makna, proposisi, bilangan. Mencukur habis semuanya bukan pekerjaan gampang, dan Quine sendiri tidak mengira ia bisa melakukannya sekali sapu.

Yang menarik, Quine bukan pengagum kekosongan demi kekosongan. Parsimoni baginya bukan hukum yang berlaku sendirian, melainkan satu di antara beberapa nilai yang kita timbang ketika memilih teori, di samping kesederhanaan, kekuatan menjelaskan, dan kecocokan dengan pengalaman. Kita mengurangi isi dunia selama teori kita masih bisa bekerja dengan baik. Kalau sebuah entitas ternyata sungguh tak tergantikan bagi teori terbaik kita, kita harus rela menerimanya, betapapun ganjilnya ia bagi indra. Karena alasan itu, Quine yang mendambakan gurun tetap membiarkan beberapa pohon tumbuh di dalamnya. Ia mengakui himpunan, sebab matematika yang dipakai ilmu alam tak dapat berdiri tanpanya. Ia bahkan berpendapat bahwa bilangan bisa dipahami sebagai jenis himpunan, sehingga daftar penghuninya tidak perlu panjang: benda-benda fisik dan himpunan, kira-kira itu saja. Sedangkan makna, atribut, proposisi, dan hal-hal yang serba mungkin ia anggap tidak mendapat tempat, karena belum ada yang berhasil memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan benar-benar memerlukannya.

Baca juga :  Edmund Husserl

Sikap ini punya sisi yang layak dipikirkan lebih jauh. Quine menyadari bahwa keputusan tentang apa yang dimasukkan ke dalam daftar isi dunia pada akhirnya bersifat pragmatis, bukan perintah dari kenyataan yang berdiri sendiri. Benda-benda fisik pun, katanya, kita terima sebagai posit yang berguna untuk menata pengalaman, tidak berbeda derajatnya dengan cara ilmuwan mengandaikan adanya entitas tak kasatmata untuk menjelaskan gejala. Maka lanskap gurun itu lebih tepat dibaca sebagai disiplin berpikir ketimbang klaim tentang bagaimana dunia ini sebenarnya. Ia mengajak kita bertanya dengan jujur, setiap kali menambahkan sesuatu ke dalam ontologi: apakah benda ini sungguh dibutuhkan, atau hanya menyenangkan hati kita? Pertanyaan itu berlaku di luar filsafat juga. Dalam hidup sehari-hari kita pun sering menimbun penjelasan yang tak menjelaskan apa-apa, dan kadang justru dengan membuang yang berlebihan, hal yang penting terlihat lebih jelas.

Ekstensionalisme dan Skeptisisme terhadap Logika Modal

Ekstensionalisme adalah pandangan bahwa nilai kebenaran sebuah kalimat hanya ditentukan oleh objek yang dirujuk dan kumpulan benda yang dicakup predikatnya, bukan oleh cara objek itu dideskripsikan. Salah satu cirinya adalah berlakunya prinsip substitusi: jika dua ungkapan merujuk pada objek yang sama, keduanya dapat saling menggantikan tanpa mengubah nilai kebenaran kalimat. Misalnya, karena Cicero dan Tullius adalah orang yang sama, kalimat “Cicero fasih berpidato” dan “Tullius fasih berpidato” pasti bernilai sama. Ciri lainnya adalah predikat yang berlaku bagi anggota yang sama dapat saling menggantikan, seperti “makhluk berjantung” dan “makhluk berginjal”. Logika predikat standar dan teori himpunan bersifat ekstensional, sebab dua himpunan dianggap identik apabila anggotanya sama. Quine memandang bahasa semacam ini sebagai bahasa yang paling tepat bagi ilmu pengetahuan karena kriteria kebenaran dan identitasnya jelas.

Komitmen Quine pada ekstensionalisme berkaitan erat dengan prinsip yang telah dibahas sebelumnya, yaitu tidak ada entitas tanpa identitas. Himpunan memiliki kriteria identitas yang tegas, yakni keanggotaannya. Makna, atribut, dan proposisi tidak memilikinya. Atribut “berjantung” dan “berginjal” berlaku pada makhluk yang sama, tetapi tidak ada kesepakatan mengenai kapan dua makna dapat dianggap sama. Dengan demikian, bahasa ekstensional tidak memerlukan entitas-entitas intensional tersebut, dan hal ini sejalan dengan preferensi Quine terhadap ontologi yang sedikit.

Masalah muncul ketika prinsip substitusi diterapkan pada logika modal, yaitu logika yang memuat operator seperti “niscaya” dan “mungkin”. Quine menyebut gejala ini kekeruhan rujukan (referential opacity). Contohnya, kalimat “Sembilan niscaya lebih besar daripada tujuh” benar. Karena sembilan sama dengan banyaknya planet dalam tata surya, substitusi menghasilkan “Banyaknya planet niscaya lebih besar daripada tujuh”. Kalimat ini salah, sebab jumlah planet secara kebetulan saja sembilan dan dapat saja berbeda. Objek yang dirujuk tetap sama, tetapi nilai kebenaran berubah ketika cara menyebutnya diganti. Karena itu, konteks modal tidak ekstensional, dan Quine menyimpulkan bahwa logika modal tidak dapat diperlakukan sebagai bagian dari bahasa dasar ilmu pengetahuan.

Keberatan Quine menjadi lebih serius ketika kuantifikasi dimasukkan ke dalam konteks modal. Dalam Word and Object ia memberi contoh seorang pesepeda yang juga matematikawan. Sebagai matematikawan, ia niscaya berakal tetapi tidak niscaya berkaki dua. Sebagai pesepeda, ia niscaya berkaki dua tetapi tidak niscaya berakal. Karena ia satu orang yang sama, kita tidak dapat memastikan apakah orang itu sendiri niscaya berakal atau berkaki dua, kecuali dengan mengakui bahwa sebagian sifat dimiliki suatu benda secara esensial dan sebagian lain secara kebetulan, tanpa bergantung pada deskripsi yang dipakai. Pandangan ini disebut esensialisme Aristotelian, dan Quine menolaknya. Dalam esainya “Three Grades of Modal Involvement” (1953), ia membedakan tiga tingkat keterlibatan dengan modalitas. Tingkat pertama memperlakukan “niscaya” sebagai predikat kalimat, misalnya “kalimat ini analitik”, dan ini dapat diterima. Tingkat kedua memperlakukannya sebagai operator yang melekat pada kalimat, dan ini sudah bermasalah. Tingkat ketiga adalah kuantifikasi ke dalam konteks modal, seperti “ada sesuatu yang niscaya lebih besar daripada tujuh”, dan inilah yang paling bermasalah karena menuntut esensialisme.

Selain itu, Quine menilai gagasan kenicayaan bergantung pada gagasan keanalitikan, yaitu kebenaran yang semata-mata bersumber dari makna. Dalam “Two Dogmas of Empiricism”, ia berargumen bahwa pembedaan analitik-sintetik belum pernah dijelaskan secara memuaskan. Ia juga menilai bahwa sistem modal C. I. Lewis berangkat dari pencampuran antara penggunaan dan penyebutan ekspresi. Ketika Ruth Barcan Marcus dan Saul Kripke mengembangkan semantik dunia-dunia mungkin, Quine mengakui kegunaannya sebagai alat formal, tetapi mempertanyakan bagaimana suatu individu di satu dunia dapat diidentifikasi sebagai individu yang sama di dunia lain. Baginya, persoalan identitas lintas dunia tersebut mirip dengan masalah entitas mungkin yang ia kritik dalam “On What There Is”, sehingga semantik ini belum menjawab keberatan yang mendasar.

Keberatan serupa muncul pada kalimat tentang sikap proposisional, seperti keyakinan. Dalam kalimat “Ralph percaya bahwa Ortcutt adalah mata-mata”, nama “Ortcutt” tidak dapat begitu saja diganti dengan ungkapan lain yang merujuk pada orang yang sama, karena Ralph mungkin tidak mengetahui bahwa kedua ungkapan itu merujuk pada satu orang. Quine mengembangkan analisis ini dalam esainya “Quantifiers and Propositional Attitudes” (1956). Perlu dicatat bahwa Quine tidak melarang pemakaian idiom modal dan intensional dalam percakapan sehari-hari. Posisinya adalah bahwa idiom tersebut tidak layak dijadikan dasar bagi bahasa ilmu pengetahuan yang ketat, dan bahwa siapa pun yang memakainya perlu menyadari beban filosofis yang menyertainya.

Behaviorisme Semantik dan Kritik terhadap Makna Mentalistik

Behaviorisme semantik adalah pendekatan Quine terhadap makna yang berpijak pada satu premis: bahasa adalah seni sosial yang dipelajari melalui isyarat yang dapat diamati bersama. Seorang anak tidak dapat melihat isi kepala orang tuanya. Ia belajar berbahasa dari kata-kata yang diucapkan dalam situasi tertentu, dari persetujuan atau koreksi orang di sekitarnya, dan dari respons yang dapat dilihat siapa pun. Karena itu, kata Quine, apa pun yang dapat kita sebut makna harus dapat dijelaskan dari perilaku verbal dan disposisi untuk berperilaku. Dalam Pursuit of Truth ia merumuskan bahwa dalam psikologi seseorang boleh memilih menjadi behavioris atau tidak, tetapi dalam linguistik tidak ada pilihan lain. Perlu dicatat bahwa ini adalah behaviorisme metodologis dalam kerangka naturalisme. Quine tidak menyangkal adanya kehidupan batin. Ia hanya berpendapat bahwa data yang sah bagi teori bahasa haruslah data yang tersedia secara publik.

Dari premis itu, Quine mengkritik apa yang ia sebut mitos museum dalam “Ontological Relativity” (1968). Menurut mitos ini, makna adalah benda-benda mental yang dipajang dalam pikiran seperti koleksi museum, sedangkan kata-kata hanyalah label yang ditempelkan padanya. Berkomunikasi, dalam gambaran ini, berarti memilih label yang tepat agar pendengar menemukan benda yang sama di museumnya sendiri. Quine menolak gambaran tersebut dengan dua alasan. Pertama, tidak ada cara mengecek apakah isi museum dua orang itu sama, sehingga klaim tentang kesamaan makna tidak dapat diuji. Kedua, entitas-entitas mental itu tidak memiliki kriteria identitas, sehingga bertentangan dengan prinsip “tidak ada entitas tanpa identitas”. Ia mengikuti John Dewey yang berpendapat bahwa makna bukanlah keberadaan psikis, melainkan sifat perilaku. Kita memahami kata “kucing” bukan karena ada citra tertentu di kepala kita, melainkan karena kita tahu kapan dan bagaimana memakainya secara tepat.

Sebagai gantinya, Quine memperkenalkan konsep makna stimulus dalam Word and Object (1960). Makna stimulus sebuah kalimat bagi seorang penutur terdiri dari dua himpunan: rangsangan yang membuatnya menyetujui kalimat itu dan rangsangan yang membuatnya menolaknya. Konsep ini bekerja paling baik pada kalimat observasi seperti “Kelinci” atau “Hujan”, yaitu kalimat yang dijawab penutur berdasarkan apa yang sedang dialaminya dan yang disepakati oleh hampir semua penutur yang menyaksikan kejadian yang sama. Namun jangkauannya terbatas. Kalimat teoretis seperti “Elektron memiliki muatan negatif” tidak memiliki asosiasi langsung dengan rangsangan tertentu, karena kalimat itu hanya teruji bersama seluruh jaringan teori di sekelilingnya. Hal ini sejalan dengan holisme yang ia bela dalam “Two Dogmas of Empiricism”, yaitu bahwa unit pengujian empiris adalah sistem keyakinan secara keseluruhan, bukan kalimat yang berdiri sendiri. Dengan demikian, gagasan tentang makna sebagai sesuatu yang dimiliki setiap kalimat secara individual menjadi sulit dipertahankan.

Konsekuensi paling terkenal dari pendekatan ini adalah tesis ketaktentuan penerjemahan. Quine membayangkan penerjemahan radikal, yakni seorang ahli bahasa yang harus menyusun kamus dari bahasa yang sama sekali asing tanpa bantuan penerjemah maupun kamus. Bukti yang dimilikinya hanyalah perilaku penutur dan situasi di sekitarnya. Dari bukti itu, ia dapat menyimpulkan kalimat-kalimat observasi, tetapi untuk menerjemahkan kata dan kalimat yang lebih kompleks ia harus menyusun apa yang disebut Quine hipotesis analitik, yaitu asumsi-asumsi tentang bagaimana bagian-bagian kalimat dipetakan ke bahasanya sendiri. Asumsi-asumsi ini melampaui bukti perilaku. Akibatnya, dapat disusun dua manual terjemahan yang sama-sama cocok dengan seluruh disposisi verbal penutur, tetapi saling bertentangan dalam menerjemahkan kalimat tertentu. Quine menegaskan bahwa ini berbeda dari ketaktentuan bukti dalam ilmu alam, yang masih mengandaikan ada fakta yang belum diketahui. Dalam penerjemahan, tidak ada fakta yang dapat menentukan manual mana yang benar. Ia juga menekankan bahwa penerjemahan radikal dimulai dari rumah sendiri, sebab menafsirkan tetangga yang sebahasa pada dasarnya juga bergantung pada asumsi yang tidak terbukti oleh perilaku.

Tesis ini berkaitan dengan pandangan Quine tentang idiom intensional, misalnya “percaya bahwa”, “ingin agar”, dan “bermaksud”. Mengikuti Franz Brentano, ia menyimpulkan bahwa idiom-idiom ini tidak dapat direduksi ke dalam kosakata ilmu yang ekstensional. Pilihannya ada dua: menerima otonomi kosakata intensional sebagai sesuatu yang terpisah dari sains, atau menerima ketaktentuan makna. Quine memilih yang kedua. Ia tidak melarang penggunaan idiom itu dalam kehidupan sehari-hari, tetapi berpendapat bahwa idiom tersebut tidak menunjuk pada fakta yang dapat dipelajari ilmu.

Pandangan ini menuai kritik yang serius. Noam Chomsky berpendapat bahwa Quine keliru mengabaikan struktur bawaan yang memungkinkan manusia menguasai bahasa, dan bahwa ketaktentuan yang Quine temukan sama saja dengan ketaktentuan dalam teori ilmiah mana pun, sehingga tidak istimewa. John Searle dan sejumlah filsuf lain menilai bahwa penutur memiliki pengetahuan langsung tentang maksud mereka sendiri, dan bahwa mengabaikannya berarti membuang data yang nyata. Sebagian pembela Quine menjawab bahwa ia justru tidak menolak peran pikiran, melainkan menolak anggapan bahwa pikiran memiliki isi yang pasti dan dapat dibaca terlepas dari penafsiran. Terlepas dari siapa yang lebih meyakinkan, kontribusi Quine tetap jelas. Ia memaksa teori makna untuk menjelaskan kapan dan atas dasar bukti apa kita boleh mengatakan bahwa dua ungkapan bermakna sama.

Fisikalisme

Fisikalisme adalah pandangan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam dunia pada akhirnya ditentukan oleh keadaan fisik, dan bahwa fisika merupakan ilmu yang paling mendasar dalam menjawab pertanyaan tentang isi realitas. Istilah ini berasal dari Otto Neurath dan Rudolf Carnap di lingkaran Wina, yang memakainya untuk menyatakan bahwa bahasa fisika dapat menjadi bahasa universal ilmu pengetahuan. Quine, yang belajar dari Carnap, mewarisi istilah itu tetapi mengubah isinya. Baginya fisikalisme bukan tesis tentang reduksi semantik, sebab ia menolak reduksionisme sebagai dogma kedua empirisme. Fisikalisme Quine adalah tesis ontologis yang tumbuh dari naturalismenya: jika ilmu alam adalah sumber pengetahuan terbaik kita dan fisika adalah cabang yang paling dasar, maka ontologi yang layak dipercaya adalah ontologi yang diakui fisika. Ia lebih suka istilah fisikalisme daripada materialisme, karena fisika modern berbicara tentang medan dan energi, bukan hanya tentang materi dalam pengertian lama. Rumusannya yang terkenal dalam “Facts of the Matter” (1977) menyatakan bahwa tidak ada peristiwa apa pun, sekecil kedipan mata atau munculnya sebuah pikiran, yang terjadi tanpa perubahan pada keadaan mikrofisika. Ia mengakui bahwa hampir mustahil menentukan perubahan mana yang terjadi dalam kasus tertentu, dan menyebut rumusan itu sebagai keyakinan yang masuk akal, bukan hasil pembuktian.

Fisikalisme ini tidak berarti bahwa benda-benda fisik diterima begitu saja sebagai fakta yang tak dipersoalkan. Pada bagian akhir “Two Dogmas of Empiricism”, Quine menyatakan bahwa benda-benda fisik dan dewa-dewa Homerus sama-sama diterima sebagai posit budaya, dan secara epistemologis keduanya setara. Perbedaannya hanya pada derajat kemanfaatan: benda fisik terbukti lebih efektif untuk menata arus pengalaman ke dalam struktur yang dapat dikelola. Dalam Word and Object, ia menguraikan bagaimana anak-anak memperoleh gagasan tentang benda yang bertahan lintas waktu melalui proses belajar bahasa, bukan sebagai bawaan yang pasti. Posisi ini tampak paradoks, tetapi konsisten dengan seluruh pemikirannya. Karena kita selalu berpikir dari dalam teori terbaik yang kita punya, kita menganggap benda fisik itu nyata, sambil tetap sadar bahwa status realitasnya bersumber dari peran benda tersebut dalam teori, bukan dari akses langsung ke dunia. Dengan demikian, fisikalisme Quine berjalan bersama pandangannya tentang relativitas ontologis dan tidak bertentangan dengannya.

Pada tahun 1970-an, Quine mengembangkan gagasan ini lebih jauh dalam “Whither Physical Objects?” (1976) dan “Things and Their Place in Theories” (1981). Ia mengusulkan bahwa benda fisik dipahami sebagai isi materi dari suatu wilayah ruang-waktu, betapapun tersebar atau terputus-putus wilayah itu. Karena setiap titik ruang-waktu dapat ditunjuk dengan empat bilangan koordinat, benda fisik dapat diidentifikasi dengan himpunan kuadruplet bilangan, dan bilangan itu sendiri dapat direduksi menjadi himpunan murni. Hasilnya adalah ontologi yang sangat hemat, yang pada akhirnya hanya memuat himpunan. Perlu dipahami bahwa Quine tidak menyatakan bahwa benda-benda sesungguhnya adalah bilangan. Reduksi ini merupakan penerapan fungsi pengganti, sehingga ia justru memperkuat tesis relativitas ontologis: yang penting adalah struktur teori, bukan identitas objek yang mutlak. Hasil ini juga memperlihatkan ciri khas ontologi Quine. Ia seorang fisikalis mengenai hal-hal konkret, tetapi tetap menerima objek abstrak berupa himpunan, karena matematika yang diperlukan fisika tidak dapat dirumuskan tanpanya. Argumen ini kemudian dikenal sebagai argumen indispensabilitas Quine-Putnam.

Fisikalisme juga menopang tesis ketaktentuan penerjemahan yang telah dibahas sebelumnya. Dalam “On the Reasons for Indeterminacy of Translation” (1970), Quine menegaskan bahwa ketaktentuan itu tetap ada sekalipun seluruh fakta fisik telah diketahui, termasuk semua disposisi perilaku verbal penuturnya. Karena tidak ada perbedaan dalam dunia tanpa perbedaan fisik, dua manual terjemahan yang cocok dengan seluruh fakta fisik itu tidak dapat dikatakan berbeda dalam kebenarannya, sehingga tidak ada fakta yang menentukan manual mana yang benar. Dari sini pula terlihat sikap Quine terhadap pikiran. Ia memandang keadaan mental sebagai keadaan fisik, sehingga tidak menerima adanya wilayah realitas mental yang terpisah. Dalam hal ini pandangannya sejalan dengan monisme anomal Donald Davidson, yaitu bahwa peristiwa mental adalah peristiwa fisik tetapi kosakata mental tidak dapat direduksi ke kosakata fisika. Idiom seperti “percaya” dan “bermaksud” tetap boleh dipakai karena kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi Quine tidak menganggapnya sebagai penunjuk fakta yang dapat menjadi bahan ilmu yang ketat.

Pandangan ini mendapat sejumlah kritik. Yang paling mendasar adalah persoalan tentang makna “fisik” itu sendiri, yang dikenal sebagai dilema Hempel. Jika “fisik” berarti apa yang dinyatakan fisika saat ini, fisikalisme kemungkinan salah karena fisika masa kini hampir pasti akan direvisi. Jika berarti apa yang dinyatakan fisika yang ideal di masa depan, fisikalisme menjadi terlalu kosong karena isinya tidak dapat ditentukan. Quine cenderung memilih tanduk pertama, yaitu mengambil fisika terbaik saat ini sebagai patokan yang dapat direvisi, dan hal itu sejalan dengan sikap naturalisnya bahwa tidak ada filsafat pertama yang berdiri di atas sains. Kritik lain menyoroti ketegangan antara fisikalisme dan penerimaan himpunan, yang bersifat abstrak dan tidak menempati ruang-waktu. Sementara itu, para filsuf seperti John Searle menilai bahwa perlakuan Quine terhadap idiom mental terlalu menyingkirkan pengalaman sadar dan intensionalitas yang tampak nyata bagi setiap penutur. Bagi pembelanya, Quine menawarkan gambaran yang konsisten tentang cara filsafat dapat bekerja bersama ilmu tanpa mengklaim otoritas di atasnya.

Karya Willard Van Orman Quine

  • A System of Logistic (1934)
  • Mathematical Logic (1940)
  • “Designation and Existence” (1939)
  • Elementary Logic (1941)
  • Methods of Logic (1950)
  • “On What There Is” (1948)
  • “Two Dogmas of Empiricism” (1951)
  • “Three Grades of Modal Involvement” (1953)
  • From a Logical Point of View (1953)
  • “Quantifiers and Propositional Attitudes” (1956)
  • Word and Object (1960)
  • Set Theory and Its Logic (1963)
  • The Ways of Paradox and Other Essays (1966)
  • “Ontological Relativity” (1968)
  • Ontological Relativity and Other Essays (1969)
  • “Epistemology Naturalized” (1969)
  • Philosophy of Logic (1970)
  • “On the Reasons for Indeterminacy of Translation” (1970)
  • The Web of Belief (bersama J. S. Ullian, 1970)
  • The Roots of Reference (1974)
  • “Whither Physical Objects?” (1976)
  • “Facts of the Matter” (1977)
  • Theories and Things (1981)
  • “Things and Their Place in Theories” (1981)
  • The Time of My Life: An Autobiography (1985)
  • Quiddities: An Intermittently Philosophical Dictionary (1987)
  • Pursuit of Truth (1990)
  • From Stimulus to Science (1995)

Referensi

  • Chomsky, N. (1969). Quine’s empirical assumptions. Synthese, 19(1–2), 53–68.
  • Davidson, D. (1970). Mental events. Dalam L. Foster & J. W. Swanson (Eds.), Experience and theory (hlm. 79–101). University of Massachusetts Press.
  • Hempel, C. G. (1969). Reduction: Ontological and linguistic facets. Dalam S. Morgenbesser, P. Suppes, & M. White (Eds.), Philosophy, science, and method: Essays in honor of Ernest Nagel (hlm. 179–199). St. Martin’s Press.
  • Kripke, S. A. (1963). Semantical considerations on modal logic. Acta Philosophica Fennica, 16, 83–94.
  • Quine, W. V. (1948). On what there is. The Review of Metaphysics, 2(5), 21–38.
  • Quine, W. V. (1951). Two dogmas of empiricism. The Philosophical Review, 60(1), 20–43.
  • Quine, W. V. (1953a). From a logical point of view: Nine logico-philosophical essays. Harvard University Press.
  • Quine, W. V. (1953b). Three grades of modal involvement. Dalam Proceedings of the XIth International Congress of Philosophy (Vol. 14, hlm. 65–81). North-Holland.
  • Quine, W. V. (1956). Quantifiers and propositional attitudes. The Journal of Philosophy, 53(5), 177–187.
  • Quine, W. V. (1960). Word and object. MIT Press.
  • Quine, W. V. (1966). The ways of paradox and other essays. Random House.
  • Quine, W. V. (1968). Ontological relativity. The Journal of Philosophy, 65(7), 185–212.
  • Quine, W. V. (1969). Ontological relativity and other essays. Columbia University Press.
  • Quine, W. V. (1970a). On the reasons for indeterminacy of translation. The Journal of Philosophy, 67(6), 178–183.
  • Quine, W. V. (1970b). Philosophy of logic. Prentice-Hall.
  • Quine, W. V. (1976). Whither physical objects? Dalam R. S. Cohen, P. K. Feyerabend, & M. W. Wartofsky (Eds.), Essays in memory of Imre Lakatos (hlm. 497–504). D. Reidel.
  • Quine, W. V. (1979). Facts of the matter. Dalam R. W. Shahan & C. Swoyer (Eds.), Essays on the philosophy of W. V. Quine (hlm. 155–169). University of Oklahoma Press.
  • Quine, W. V. (1981). Theories and things. Belknap Press of Harvard University Press.
  • Quine, W. V. (1990). Pursuit of truth. Harvard University Press.
  • Quine, W. V., & Ullian, J. S. (1970). The web of belief. Random House.
  • Searle, J. R. (1987). Indeterminacy, empiricism, and the first person. The Journal of Philosophy, 84(3), 123–146.

Citation

Previous Article

Niccolò Machiavelli

Next Article

Alfred North Whitehead

Citation copied!