Filsuf Simone de Beauvoir

Simone de Beauvoir

Dipublikasikan: 28 Oktober 2026

Terakhir diperbarui: 28 Oktober 2026

Simone de Beauvoir (1908–1986), filsuf, novelis, dan esais Prancis yang menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam eksistensialisme dan teori feminis abad kedua puluh. Bersama Jean-Paul Sartre, ia merumuskan etika kebebasan yang berangkat dari keyakinan bahwa manusia tidak lahir dengan hakikat yang tetap, melainkan menjadi dirinya lewat pilihan dan tindakan. Karya utamanya, Le Deuxième Sexe (1949), memperlihatkan bahwa kedudukan perempuan bukan takdir biologis melainkan hasil konstruksi sosial, dan rumusannya yang terkenal bahwa seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan, membuka jalan bagi analisis gender modern. Berbeda dari banyak pemikir sezamannya, Beauvoir menggabungkan refleksi filosofis dengan fiksi, memoar, dan studi tentang usia tua, kematian, serta moralitas yang menekankan tanggung jawab terhadap kebebasan orang lain. Pembahasan berikut disusun secara tematik untuk membantu pembaca memahami konsep-konsep kunci tersebut secara bertahap, lengkap dengan konteks argumentasi dan keterkaitan antargagasan dalam keseluruhan proyek filosofisnya.

Biografi Simone de Beauvoir

Simone Lucie Ernestine Marie Bertrand de Beauvoir lahir pada 9 Januari 1908 di Paris, dari keluarga borjuis Katolik yang sedang menurun secara ekonomi. Ayahnya, Georges de Beauvoir, adalah pengacara yang gemar teater dan sempat bercita-cita menjadi aktor; ibunya, Françoise Brasseur, seorang perempuan saleh dari keluarga bankir yang membesarkan Simone dan adiknya, Hélène, dengan disiplin keagamaan yang ketat. Kebangkrutan keluarga setelah Perang Dunia Pertama membuat Georges tidak lagi mampu menyediakan mas kawin bagi putri-putrinya. Beauvoir kemudian menyadari bahwa satu-satunya jalan mandiri baginya adalah pendidikan dan pekerjaan, dan ayahnya sendiri pernah berkata bahwa ia akan bekerja karena tidak ada mas kawin. Ia belajar di Cours Désir, sekolah Katolik khusus perempuan, dan sejak remaja kehilangan imannya, sebuah keputusan yang ia pertahankan seumur hidup.

Beauvoir menempuh studi matematika, sastra, dan filsafat di Institut Catholique dan Institut Sainte-Marie, lalu belajar filsafat di Sorbonne. Pada 1929 ia mengikuti ujian agrégation dalam filsafat, ujian paling bergengsi bagi calon pengajar di Prancis. Ia lulus di peringkat kedua, tepat di bawah Jean-Paul Sartre, dan pada usia dua puluh satu tahun menjadi peserta termuda yang pernah lulus ujian itu. Di lingkungan ujian itulah ia berkenalan dengan Sartre, dan keduanya memulai hubungan yang berlangsung hingga kematian Sartre pada 1980. Mereka menolak pernikahan dan hidup bersama secara resmi tidak pernah; mereka membuat perjanjian “cinta yang diperlukan” sambil mengizinkan hubungan lain yang “kebetulan”, dengan kesepakatan untuk saling jujur. Pengaturan ini, yang kelak banyak dibahas, menimbulkan ketegangan dan luka pada keduanya, dan Beauvoir sendiri kemudian mengakui bahwa ia tidak selalu menjalaninya dengan ringan.

Beauvoir mengajar filsafat di sekolah menengah di Marseille, Rouen, dan Paris dari 1931 hingga 1943. Pada masa pendudukan Jerman ia diberhentikan dari jabatan mengajar setelah keluarga seorang murid melaporkannya, dan sejak itu ia hidup dari menulis. Novel pertamanya, L’Invitée (Perempuan yang Tinggal, 1943), mengolah ketegangan dalam hubungan segitiga dan persoalan kesadaran akan orang lain. Ia menyusul dengan Le Sang des autres (1945) dan Tous les hommes sont mortels (1946), serta esai filosofis Pyrrhus et Cinéas (1944) dan Pour une morale de l’ambiguïté (1947), yang menandai upayanya merumuskan etika eksistensialis yang berbeda dari Sartre. Setelah Pembebasan, bersama Sartre, Maurice Merleau-Ponty, dan lainnya ia ikut mendirikan majalah Les Temps modernes pada 1945, yang menjadi forum utama intelektual kiri Prancis.

Karya yang mengubah hidupnya terbit pada 1949, yaitu Le Deuxième Sexe (Jenis Kelamin Kedua), kajian dua jilid tentang posisi perempuan dalam sejarah, biologi, mitos, dan kehidupan sehari-hari. Buku itu terjual dengan cepat sekaligus memicu kecaman keras. Gereja Katolik memasukkannya ke dalam daftar buku terlarang, dan para kritikus, termasuk tokoh sastra seperti François Mauriac, menyerangnya sebagai tidak senonoh. Beauvoir menerima banyak surat kebencian, tetapi buku itu juga berangsur-angsur menjadi teks dasar bagi gelombang kedua feminisme pada 1960-an dan 1970-an. Ia sendiri baru mengidentifikasi diri secara terbuka sebagai feminis pada awal 1970-an, ketika ia ikut dalam gerakan pembebasan perempuan Prancis, menandatangani Manifesto 343 untuk melegalkan aborsi pada 1971, dan ikut memimpin kelompok Ligue du droit des femmes.

Pada 1954 Beauvoir menerima Prix Goncourt untuk novel Les Mandarins, yang menggambarkan lingkaran intelektual kiri Prancis pascaperang dan hubungannya dengan penulis Amerika Nelson Algren. Ia menulis pula catatan perjalanan, termasuk tentang Amerika dan Cina, serta empat jilid memoar yang dimulai dengan Mémoires d’une jeune fille rangée (1958), karya yang mengisahkan masa muda dan pembentukan dirinya. Dalam La Vieillesse (Usia Tua, 1970) ia menganalisis penuaan sebagai kenyataan sosial yang disembunyikan masyarakat, dan dalam Une mort très douce (1964) ia mencatat kematian ibunya. Secara politik ia mendukung gerakan antikolonial, termasuk kemerdekaan Aljazair, dan mengkritik penyiksaan oleh tentara Prancis.

Pada tahun-tahun terakhir, Beauvoir merawat Sartre yang sakit dan nyaris buta, kemudian menulis La Cérémonie des adieux (1981) tentang kematian pasangannya. Ia meninggal pada 14 April 1986 di Paris karena radang paru-paru, dan dimakamkan di Pemakaman Montparnasse di samping Sartre. Hingga kini ia dikenang bukan hanya sebagai pendamping Sartre, tetapi sebagai pemikir yang menyusun sendiri etika kebebasan dan analisis tentang penindasan terhadap perempuan.

Pemikiran Simone de Beauvoir

Eksistensialisme dan Kebebasan sebagai Titik Tolak

Beauvoir tidak memulai filsafatnya dari teori tentang masyarakat atau perempuan, melainkan dari pertanyaan yang lebih dasar: apa artinya menjadi manusia yang hidup dan harus memilih? Pertanyaan ini ia warisi dari lingkungan intelektual Prancis tahun 1930-an, tempat fenomenologi Edmund Husserl, filsafat eksistensi Martin Heidegger, dan pembacaan Hegel yang dipopulerkan Alexandre Kojève menjadi bahan perbincangan utama. Bersama Sartre dan Merleau-Ponty, ia ikut membentuk apa yang kemudian dinamai eksistensialisme Prancis. Namun ia selalu menegaskan bahwa gagasannya berkembang dalam percakapan, bukan sebagai salinan dari Sartre, dan dalam wawancara-wawancara kemudian ia menyatakan bahwa Sartrelah yang lebih banyak berutang padanya dalam hal etika.

Tesis dasar eksistensialisme yang ia pegang adalah bahwa eksistensi mendahului esensi (l’existence précède l’essence). Sebuah pisau kertas dibuat setelah pembuatnya membayangkan fungsinya, sehingga hakikatnya sudah ada sebelum bendanya. Manusia tidak demikian. Tidak ada rancangan ilahi atau kodrat tetap yang menentukan seseorang akan menjadi apa. Seseorang lebih dahulu ada, menjumpai dirinya di dunia, dan baru kemudian mendefinisikan dirinya lewat tindakan. Dalam kerangka ini, kebebasan bukan sifat tambahan yang dimiliki manusia di samping sifat lain, melainkan struktur keberadaannya sendiri. Manusia, kata Sartre dalam rumusan yang diterima Beauvoir, “dikutuk untuk bebas”: ia tidak dapat menghindari keharusan memilih, sebab menolak memilih pun adalah pilihan.

Beauvoir menekankan sisi lain dari kebebasan ini dalam Pyrrhus et Cinéas (1944), esai pertamanya. Judulnya merujuk pada percakapan antara raja Pyrrhus dan penasihatnya Cineas: Pyrrhus berencana menaklukkan satu negeri demi negeri, dan Cineas terus bertanya apa yang akan ia lakukan sesudahnya, hingga Pyrrhus mengaku akan beristirahat. Cineas menyimpulkan bahwa ia bisa beristirahat sekarang juga. Beauvoir memakai kisah ini untuk menunjukkan bahwa tindakan manusia tidak dapat dibenarkan oleh tujuan akhir yang tetap, sebab setiap tujuan yang tercapai langsung menjadi titik tolak proyek berikutnya. Manusia terus-menerus melampaui dirinya menuju sesuatu yang belum ada. Ia menyebut gerak ini proyek (projet): kebebasan hanya nyata sejauh ia mengarah pada dunia lewat tindakan.

Dari sini muncul pembedaan antara kebebasan ontologis dan kebebasan konkret yang menjadi ciri khas pemikiran Beauvoir. Kebebasan ontologis, yang dimiliki setiap manusia sebagai makhluk yang sadar, tidak bisa dicabut. Namun kebebasan ini baru berarti bila diwujudkan dalam tindakan nyata, dan di sinilah situasi (situation) ikut menentukan. Seseorang bebas, tetapi ia bebas di dalam suatu situasi: tubuh yang ia miliki, keluarga tempat ia lahir, kelas sosial, zaman, dan keadaan ekonomi. Faktor-faktor ini bukan sebab yang menentukan pilihannya, tetapi juga bukan sekadar latar netral. Mereka membuka sebagian kemungkinan dan menutup yang lain. Seorang budak dan seorang tuan sama-sama bebas secara ontologis, tetapi ruang tindakan yang tersedia bagi keduanya sangat berbeda. Perbedaan inilah yang kelak menopang analisisnya tentang perempuan: ia tidak mengatakan perempuan kehilangan kebebasan, tetapi bahwa situasi yang dibentuk masyarakat menyempitkan peluang kebebasan itu diwujudkan.

Bagian ini menunjukkan di mana Beauvoir mulai menjauh dari Sartre awal. Dalam L’Être et le néant (1943), Sartre cenderung menekankan kebebasan sebagai sesuatu yang hampir mutlak, sehingga bahkan seorang tahanan tetap bebas menentukan sikapnya. Beauvoir menerima bahwa kesadaran tidak dapat dipenjara, tetapi ia menolak bahwa itu cukup. Baginya, kebebasan yang tidak punya sarana untuk terwujud hampir tak bermakna, dan penindasan sering justru bekerja dengan merampas sarana itu. Karena itu kebebasan, bagi dia, tidak berhenti pada kesadaran individual. Ia mengandaikan dunia sosial yang memungkinkan orang lain juga mengejar proyeknya. Pernyataan ini akan menjadi dasar etikanya, yang dibahas pada pokok berikutnya: kebebasanku, katanya, mengandaikan kebebasan orang lain, dan aku tidak dapat menghendaki kebebasanku sendiri tanpa menghendaki kebebasan mereka.

Titik tolak eksistensialis ini juga menjelaskan mengapa Beauvoir menolak penjelasan yang memberi manusia hakikat tetap, baik yang bersifat biologis, psikologis, maupun historis. Setiap penjelasan semacam itu, menurutnya, berpotensi menjadi cara untuk menyangkal kebebasan: bila perempuan, misalnya, dianggap memiliki kodrat tertentu, maka tidak ada ruang untuk mempertanyakan peran yang dibebankan padanya. Kecurigaan terhadap esensi inilah yang menggerakkan Le Deuxième Sexe. Namun ia juga tidak menjadikan kebebasan sebagai kemauan murni yang melayang bebas dari tubuh dan dunia. Dari fenomenologi Merleau-Ponty ia mengambil gagasan bahwa kesadaran selalu berwujud dalam tubuh, sehingga kebebasan dijalani lewat tubuh yang nyata, dengan segala keterbatasannya. Perpaduan antara kebebasan yang tak bersyarat dan situasi yang membatasi inilah yang ia sebut ambiguitas manusia, tema yang menjadi pokok pembahasan etikanya.

Etika Ambiguitas (Pour une morale de l’ambiguïté)

Pour une morale de l’ambiguïté terbit pada 1947, di tengah suasana Prancis pascaperang yang menuntut jawaban moral setelah pendudukan, kolaborasi, dan kekerasan massal. Pada masa itu eksistensialisme sering dituduh sebagai filsafat keputusasaan yang membenarkan segala tindakan. Beauvoir menulis buku ini untuk membantah tuduhan tersebut dan menunjukkan bahwa dari titik tolak kebebasan dapat dirumuskan etika yang tegas. Ia mengajukan bahwa etika semacam itu hanya mungkin bila manusia tidak melarikan diri dari kenyataan paling mendasar tentang dirinya sendiri, yaitu ambiguitas.

Ambiguitas, dalam pengertiannya, bukan ketidakjelasan atau kebimbangan. Ia menunjuk pada kondisi manusia yang secara bersamaan adalah subjek yang bebas dan objek di dunia, makhluk yang transenden dan sekaligus terikat pada tubuh dan situasi, individu yang unik dan bagian dari kolektif, makhluk yang sadar akan kematiannya tetapi terus merencanakan masa depan. Sepanjang sejarah, kata Beauvoir, para filsuf berusaha menghapus ketegangan ini dengan memilih salah satu kutubnya. Rasionalisme dan idealisme menaikkan manusia menjadi roh murni yang melampaui tubuh dan sejarah, sedangkan materialisme dan determinisme menurunkannya menjadi benda yang digerakkan sebab-sebab. Kedua jalan ini, menurutnya, adalah cara menghindari beban kebebasan. Etika yang jujur harus menerima bahwa manusia tidak dapat didamaikan dengan dirinya, dan bahwa justru dari ketegangan itulah kebebasan memperoleh maknanya.

Dari sini Beauvoir menyatakan bahwa kebebasan adalah sumber semua nilai. Dunia tidak menyediakan nilai yang sudah jadi, sehingga nilai muncul hanya lewat tindakan manusia yang memberi arti pada dunia. Konsekuensinya, tindakan yang menyangkal kebebasan sendiri adalah absurd, sebab ia meruntuhkan satu-satunya dasar yang dapat memberi nilai pada apa pun. Namun kebebasan yang bernilai bukan sekadar kebebasan yang dijalankan sembarangan. Beauvoir menegaskan bahwa kebebasan, untuk menghendaki dirinya sendiri secara konsisten, harus menghendaki kebebasan orang lain. Ia menulis bahwa menghendaki diri bebas berarti sekaligus menghendaki orang lain bebas. Alasannya bersifat eksistensial: proyek-proyek saya memerlukan dunia yang di dalamnya orang lain dapat menerima, melanjutkan, dan memberi arti pada tindakan saya. Kebebasan yang dikelilingi orang-orang yang dirampas kebebasannya akan hampa, sebab tidak ada yang dapat melampaui dan memanfaatkan apa yang saya kerjakan.

Untuk menggambarkan cara orang menjalani, atau menghindari, kebebasan, Beauvoir menyusun tipologi sikap moral. Ia menyebut orang kekanak-kanakan (le sérieux) yang menerima nilai-nilai sebagai sesuatu yang sudah tertulis dan mutlak, sehingga bergantung pada dunia orang dewasa yang menetapkan segalanya. Berikutnya orang sub-manusia (le sous-homme) yang menolak kebebasan karena takut, dan karenanya jatuh ke dalam kepasifan, sebagaimana tampak pada mereka yang berkata bahwa mereka hanya menjalankan perintah. Lalu orang serius (l’homme sérieux) yang menyerahkan diri pada suatu tujuan tertinggi, seperti negara, kelas, atau ideologi, dan memandang segalanya, termasuk manusia, sebagai sarana bagi tujuan itu. Ia juga membahas orang nihilis, yang menyadari bahwa nilai tidak ada tetapi menyimpulkan bahwa tidak ada yang berarti, sehingga menolak dunia secara keseluruhan; orang petualang, yang menikmati tindakan demi tindakan itu sendiri tanpa peduli akibatnya; dan orang gila (le passionné), yang menenggelamkan diri dalam satu objek hasrat sampai mengabaikan kebebasannya. Seluruh tipe ini, katanya, adalah cara melarikan diri dari ambiguitas. Hanya sikap yang menerima kebebasan dan kerentanannya sekaligus yang disebutnya kebebasan genuin.

Beauvoir memberi perhatian khusus pada pertanyaan tentang kekerasan dan penindasan, karena di sinilah teorinya diuji. Bila kebebasan orang lain adalah syarat kebebasanku, apakah aku boleh pernah membatasi kebebasan mereka? Jawabannya hati-hati. Ia tidak mengajarkan pasifisme mutlak. Dalam situasi penindasan, katanya, orang yang menindas telah lebih dahulu menolak kebebasan korbannya, sehingga melawannya, bahkan dengan kekerasan, dapat menjadi cara membuka kembali kebebasan itu. Namun ia menolak anggapan bahwa tujuan membenarkan segala cara. Tindakan yang mengorbankan manusia konkret demi tujuan abstrak melanggar prinsip dasar etikanya, sebab kebebasan satu orang tidak dapat dijadikan alat murni bagi kebebasan orang lain. Ia mengakui bahwa dalam praktik tidak jarang tindakan harus memilih di antara pilihan yang sama-sama tragis, dan etikanya tidak menjanjikan solusi bersih. Karena itu ia menekankan tanggung jawab: setiap pilihan harus dijalani dengan kesadaran penuh atas harga yang dibayar orang lain.

Etika ini memperlihatkan perbedaan Beauvoir dari Sartre awal. Sartre dalam L’Être et le néant menggambarkan hubungan dengan orang lain sebagai konflik, ketika tatapan orang lain menjadikanku objek. Beauvoir tidak menyangkal adanya konflik, tetapi ia menegaskan kemungkinan hubungan timbal balik, tempat dua kebebasan saling mengakui dan saling memperkaya. Selain itu, bila Sartre sering terdengar menempatkan kebebasan sebagai fakta ontologis yang tak terhapus, Beauvoir menuntut agar kebebasan itu dirawat dan diperluas lewat tindakan dan lembaga sosial. Gagasan ini kelak ia kembangkan dalam analisisnya tentang posisi perempuan, dan menjadi landasan bagi pokok mengenai penindasan dan kebebasan orang lain.

Imanensi dan Transendensi

Dua istilah ini menjadi pasangan konseptual yang menopang hampir seluruh analisis Beauvoir, dan tanpa keduanya Le Deuxième Sexe sulit dipahami. Ia meminjam keduanya dari kosakata filsafat Eropa, terutama Hegel dan Sartre, lalu memberinya muatan eksistensial yang konkret. Transendensi (transcendance) adalah gerak manusia melampaui keadaannya sekarang menuju sesuatu yang belum ada: merencanakan, menciptakan, memulai, mengubah dunia. Imanensi (immanence) adalah kebalikannya: keadaan terkurung dalam apa yang sudah ada, mengulang tanpa membuka kemungkinan baru, bertahan hidup tanpa melangkah ke luar. Bagi Beauvoir, kehidupan manusia yang utuh bergerak di antara keduanya, tetapi martabat kebebasan terletak pada kemampuan melampaui.

Pembedaan ini tidak datang dari udara kosong. Dalam Pyrrhus et Cinéas dan Pour une morale de l’ambiguïté ia sudah menyatakan bahwa manusia adalah proyek, makhluk yang terus-menerus melemparkan dirinya ke depan. Namun manusia juga memiliki tubuh yang makan, tidur, melahirkan, dan menua, serta menjalani kebutuhan yang harus diulang tanpa henti. Beauvoir tidak menganggap sisi ini buruk atau rendah. Memelihara kehidupan adalah syarat setiap proyek, dan imanensi, dalam takaran tertentu, tak terhindarkan. Persoalan muncul ketika imanensi tidak lagi menjadi dasar bagi transendensi, melainkan menjadi satu-satunya ruang gerak yang tersedia bagi seseorang. Ia menyebut keadaan itu “kemandekan” (stagnation): hidup yang hanya mengurus, mengulang, dan merawat, tanpa kesempatan menjadikannya batu loncatan menuju sesuatu yang lain.

Di sinilah Beauvoir menempatkan inti analisisnya tentang perempuan. Dalam pembagian kerja yang dikenal sejarah, katanya, laki-laki mengambil peran transendensi: berburu, berperang, membangun, memerintah, menulis, menafsirkan. Perempuan dibebani pekerjaan imanensi: melahirkan, menyusui, memasak, membersihkan, merawat, tugas yang hasilnya segera lenyap dan harus diulang esok hari. Ia memberi gambaran yang tajam tentang kerja rumah tangga sebagai perjuangan Sisifus: debu dibersihkan hanya untuk kembali, makanan dimasak hanya untuk dimakan. Pekerjaan itu tidak menghasilkan benda tahan lama atau proyek yang dapat dibanggakan. Ia penting bagi kelangsungan hidup, tetapi masyarakat tidak memberinya nilai, karena nilai diberikan pada tindakan yang mempertaruhkan hidup, bukan yang menjaganya. Menurut Beauvoir, laki-laki dihormati karena berani menaruh nyawa pada ukuran gagasan dan kekuasaan, sedangkan perempuan yang memberi kehidupan hanya dianggap menjalankan fungsi alami.

Pembagian ini kemudian dipetakan pada citra tentang jenis kelamin. Laki-laki diasosiasikan dengan roh, akal, dan sejarah, perempuan dengan tubuh, alam, dan sifat yang berulang. Beauvoir menunjukkan bahwa asosiasi ini bukan fakta netral, melainkan hasil perumusan sepihak yang kemudian tampak seperti kodrat. Karena imanensi dipasangkan pada perempuan dan transendensi pada laki-laki, perempuan didefinisikan sebagai makhluk yang pada dasarnya terikat pada tubuh dan rumah, sedangkan laki-laki diizinkan mendefinisikan diri lewat karya dan gagasan. Dalam kerangka etika ambiguitas, ini adalah bentuk penindasan yang spesifik: ia tidak mencabut kebebasan ontologis perempuan, tetapi mengurung kebebasan itu dalam situasi tempat ia sulit diwujudkan.

Penting diperhatikan bahwa Beauvoir tidak menyalahkan perempuan karena terjebak dalam imanensi. Ia menegaskan bahwa kurungan itu dibangun oleh keadaan: pendidikan yang berbeda sejak kecil, pembatasan hukum, ketergantungan ekonomi, serta tekanan untuk menikah dan melahirkan. Namun ia juga menyebut bahwa perempuan kadang menerima kurungan itu karena ia menawarkan keamanan. Menjadi imanen berarti dilindungi dari risiko pilihan dan kegagalan, dan sebagian perempuan menyerahkan kebebasannya demi kenyamanan itu. Ia menyebut hal ini sebagai bentuk itikad buruk, tema yang dibahas pada pokok tersendiri. Dengan demikian ia menjaga keseimbangan: penindasan nyata dan struktural, tetapi korbannya tidak sepenuhnya pasif.

Pasangan konsep ini juga menjelaskan arah pembebasan yang ia bayangkan. Pembebasan bukan berarti perempuan meninggalkan tubuh atau merendahkan pekerjaan merawat, melainkan bahwa keduanya dapat dijalani tanpa mengurung. Bila pekerjaan imanen dibagi secara adil dan dihargai, dan bila perempuan memiliki akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan publik, maka mereka dapat bergerak dalam kedua ranah, sebagaimana laki-laki. Beauvoir bahkan menganjurkan agar laki-laki turut mengalami sisi imanen kehidupan, sehingga kedua jenis kelamin sama-sama menjalani ambiguitas, bukan membagi dua kutubnya.

Baca juga :  Konsekuensialisme

Pembedaan ini memicu beberapa keberatan. Sejumlah pembaca feminis menilai bahwa Beauvoir terlalu memuliakan transendensi ala laki-laki dan merendahkan pengalaman keibuan dan perawatan yang bagi mereka menyimpan nilai tersendiri. Etika kepedulian, misalnya dalam tulisan Carol Gilligan dan Nel Noddings, menuntut penghargaan baru terhadap kerja merawat, bukan sekadar pembebasan darinya. Kritik lain menyatakan bahwa tipologi itu mengandaikan model kebebasan yang individualistis, dan bahwa sebagian bentuk imanensi, seperti kehidupan keluarga atau komunitas, tidak sekadar kemandekan. Tetapi gagasan bahwa nilai sebuah kerja bergantung pada pengakuan sosial, dan bahwa pembagian kerja yang tampak alami sering menopang ketimpangan, tetap menjadi salah satu sumbangan analitis Beauvoir yang paling bertahan.

Diri dan Yang Lain (Le Même et l’Autre)

Di halaman-halaman pembuka Le Deuxième Sexe, Beauvoir mengajukan pertanyaan yang tampak sederhana: mengapa laki-laki dapat berbicara tentang dirinya tanpa menyebut jenis kelaminnya, sedangkan perempuan selalu didefinisikan sebagai perempuan? Seorang laki-laki tidak pernah memulai dengan menyatakan bahwa ia seorang laki-laki, sebab ia menganggap dirinya mewakili manusia pada umumnya. Perempuan, sebaliknya, selalu diberi label khusus. Beauvoir menyimpulkan bahwa laki-laki adalah Subjek, Yang Mutlak, sedangkan perempuan adalah Yang Lain (l’Autre). Laki-laki mendefinisikan perempuan bukan sebagai makhluk yang berdiri sendiri, melainkan menurut hubungannya dengan laki-laki: perempuan tidak ditentukan oleh dirinya, tetapi oleh apa yang bukan laki-laki. Ia mengutip rumusan Aristoteles bahwa perempuan adalah perempuan karena kekurangan sifat tertentu, dan Santo Thomas yang menyebutnya “laki-laki yang cacat”.

Pasangan Yang Sama dan Yang Lain (le Même et l’Autre) tidak ia ciptakan dari nol. Ia mengambilnya dari Hegel, terutama dialektika tuan dan hamba dalam Phänomenologie des Geistes, dan dari pembacaan Hegel oleh Kojève yang populer di Prancis. Dalam kerangka itu, kesadaran baru mengenal dirinya ketika berhadapan dengan kesadaran lain, dan setiap kesadaran cenderung menetapkan diri sebagai yang esensial sambil menjadikan kesadaran lain sebagai yang tidak esensial. Beauvoir juga merujuk Lévi-Strauss, yang menunjukkan bahwa dalam masyarakat primitif pun kelompok mendefinisikan dirinya dengan membedakan diri dari kelompok lain. Ia mengamati bahwa pembedaan ini tampaknya menyatu dengan pikiran manusia: “kami” dan “mereka”, penduduk asli dan orang asing, memerlukan pihak lawan agar identitas terbentuk.

Namun ia segera menunjukkan bahwa kasus perempuan berbeda dari kelompok-kelompok lain. Orang Yahudi, orang kulit hitam, dan proletariat adalah minoritas yang memiliki sejarah tertentu: ada saat ketika mereka belum tertindas, atau ada peristiwa tertentu yang menyebabkan ketergantungan mereka. Perempuan tidak punya sejarah semacam itu. Ia tidak menjadi bagian dari kelompok kecil, karena ia setengah umat manusia. Tidak ada momen historis yang dapat ditunjuk sebagai awal penundukannya, dan tidak ada solidaritas yang terbentuk dari tempat dan pekerjaan bersama, sebab perempuan tersebar di antara laki-laki, hidup serumah dengan mereka, terikat oleh kepentingan ekonomi, status sosial, dan hubungan pribadi. Karena itu perempuan lebih mudah merasa solider dengan laki-laki dari kelasnya sendiri daripada dengan perempuan dari kelas lain. Inilah sebabnya hubungan antara kedua jenis kelamin, menurutnya, bukan hubungan dua kelompok yang setara. Ia menyebutnya bukan hubungan timbal balik dua pihak yang saling mengakui, melainkan hubungan yang bersifat satu arah: laki-laki menjadi pihak yang menentukan, perempuan pihak yang ditentukan.

Mengapa pembalikan timbal balik yang terjadi dalam Hegel tidak terjadi di sini? Dalam dialektika tuan dan hamba, hamba pada akhirnya memperoleh kemandirian lewat kerjanya, dan hubungan itu bergerak menuju pengakuan timbal balik. Beauvoir menjelaskan bahwa perempuan, dalam banyak masyarakat, tidak menempati posisi hamba yang bekerja dan mengubah dunia, melainkan posisi yang dijaga dalam imanensi, sebagaimana dibahas pada pokok sebelumnya. Ia juga menyebut bahwa perempuan sering terlibat dalam menerima keadaan itu. Bagi perempuan ada kemudahan tertentu: bila ia menerima menjadi Yang Lain, ia dibebaskan dari beban memilih dan mempertaruhkan diri, dan dilindungi oleh laki-laki yang bertanggung jawab atas kebutuhannya. Ketergantungan ini menggoda karena menghindarkannya dari risiko kebebasan, tetapi hasilnya adalah ia hidup tanpa menjadi subjek, sebuah tema yang berkaitan dengan itikad buruk.

Pembedaan Subjek dan Yang Lain ini juga menjelaskan ciri mitos tentang perempuan, yang dibahas pada pokok lain: karena perempuan diposisikan sebagai Yang Lain, ia menjadi tempat laki-laki memproyeksikan harapan dan ketakutannya, mulai dari ibu pemberi kehidupan hingga penggoda yang berbahaya. Perempuan tidak digambarkan sebagaimana dirinya, tetapi sebagaimana laki-laki membutuhkannya. Karena Yang Lain bersifat misterius, ia diselimuti kesan “misteri perempuan” yang sebenarnya hanya menyatakan bahwa laki-laki tidak berusaha memahami perempuan dari sudut pandang perempuan sendiri.

Beauvoir tidak menganggap penetapan Yang Lain ini mutlak atau tak dapat diubah. Ia menunjukkan bahwa kesadaran lain selalu dapat membalik: orang yang ditetapkan sebagai Yang Lain dapat menegaskan dirinya sebagai subjek dan, pada gilirannya, menetapkan pihak lain sebagai Yang Lain. Jalan menuju pembebasan, dalam kerangkanya, adalah pengakuan timbal balik, ketika masing-masing pihak diakui sebagai subjek sekaligus sesama. Karena itu tujuan pembebasan bukan pembalikan dominasi, melainkan hubungan antara dua kebebasan yang saling mengakui.

Konsep ini memicu beberapa kritik. Sebagian pembaca, termasuk feminis kulit hitam dan pascakolonial seperti bell hooks dan Gayatri Spivak, menilai bahwa kerangka Beauvoir mengandaikan perempuan Barat kelas menengah sebagai contoh universal, sehingga mengabaikan bahwa perempuan juga dapat menjadi pihak yang menetapkan Yang Lain bagi perempuan lain berdasarkan ras dan kelas. Judith Butler menilai bahwa penggunaan kategori “perempuan” sebagai satu kelompok masih mengandaikan kesatuan yang perlu dipertanyakan. Dari kalangan lain, ada keberatan bahwa pembedaan Subjek dan Yang Lain terlalu bergantung pada skema Hegelian yang bersifat konflik, sehingga kurang memberi tempat pada bentuk hubungan yang tidak berpola dominasi. Meski demikian, rumusan bahwa perempuan didefinisikan menurut laki-laki, bukan menurut dirinya, tetap menjadi salah satu alat analisis paling dasar dalam teori gender.

Perempuan sebagai “Jenis Kelamin Kedua” (Le Deuxième Sexe)

Beauvoir menulis buku ini dalam waktu sekitar dua tahun, antara 1946 dan 1949, dan menerbitkannya dalam dua jilid: Les Faits et les mythes (Fakta dan Mitos) pada Juni 1949, disusul L’Expérience vécue (Pengalaman Hidup) pada November tahun yang sama. Ia mengaku semula tidak berniat menulis tentang perempuan. Ia hendak menulis tentang dirinya, lalu sadar bahwa pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah apa artinya menjadi perempuan. Sebagian bab awal dimuat lebih dulu di Les Temps modernes, dan kehebohan yang menyusul segera memperlihatkan bahwa ia menyentuh sesuatu yang selama ini dihindari. Dalam beberapa pekan buku itu terjual puluhan ribu eksemplar, dan sampai kini Le Deuxième Sexe tetap salah satu buku filsafat paling banyak dibaca abad kedua puluh.

Judul itu sendiri adalah tesis. Menyebut perempuan “jenis kelamin kedua” berarti menyatakan bahwa dalam tatanan yang ada, laki-laki menempati posisi pertama dan menjadi patokan, sedangkan perempuan berada di urutan berikutnya, didefinisikan menurut laki-laki. Hal ini sejalan dengan pembedaan Subjek dan Yang Lain yang dibahas pada pokok sebelumnya. Namun Beauvoir menegaskan bahwa kedudukan kedua itu bukan kodrat. Pertanyaan yang ia ajukan adalah bagaimana sebuah keadaan yang tampak alami bisa tercipta, dan mengapa ia bertahan. Ia menolak jawaban yang berhenti pada pernyataan bahwa perempuan memang berbeda, sebab perbedaan itu sendiri harus dijelaskan, bukan dijadikan penjelasan.

Jilid pertama menyusun jawaban lewat tiga lapis kajian. Pertama, “Takdir”, yang memeriksa apa yang dikatakan biologi, psikoanalisis, dan materialisme historis tentang perempuan. Kedua, “Sejarah”, yang menelusuri kedudukan perempuan dari masyarakat primitif, Yunani dan Roma, abad pertengahan, hingga zaman modern, dengan perhatian pada hukum, kepemilikan, dan pembagian kerja. Ketiga, “Mitos”, yang mengurai bagaimana sastra, agama, dan imajinasi kolektif, dengan contoh dari Montherlant, D. H. Lawrence, Breton, Claudel, dan Stendhal, membentuk citra perempuan sebagai ibu, kekasih, penggoda, atau misteri. Tiga lapis ini bertujuan menunjukkan bahwa tidak satu pun penjelasan tunggal cukup, dan bahwa kedudukan perempuan merupakan hasil pertemuan banyak faktor yang dibahas pada pokok masing-masing.

Jilid kedua berpindah dari struktur ke pengalaman. Judulnya mengacu pada pengalaman yang dijalani (le vécu), istilah yang ia ambil dari fenomenologi, dan di sini ia mengikuti perempuan sepanjang hidupnya: masa kanak-kanak, tempat anak perempuan diajari menjadi “perempuan”; masa remaja dengan perubahan tubuh dan tuntutan sosial; inisiasi seksual; perkawinan; keibuan; kehidupan sosial; hingga usia tua. Ia juga menempatkan bab-bab tentang perempuan lesbian, pelacur, dan perempuan “narsis, cinta, dan mistik”. Tiga bab akhir membahas perempuan mandiri dan kemungkinan pembebasan. Cara bercerita jilid kedua lebih dekat pada fenomenologi: Beauvoir memakai catatan harian, novel, studi klinis, dan pengamatan sehari-hari untuk memperlihatkan bagaimana tubuh dan situasi dialami dari dalam.

Metode keseluruhannya khas. Ia memakai kerangka eksistensialis, yakni kebebasan, situasi, dan ambiguitas, sebagai lensa, lalu memadukannya dengan temuan biologi, antropologi, sejarah, dan psikologi pada zamannya. Ia tidak menyajikan diri sebagai pengamat netral. Ia menyatakan sejak awal bahwa perspektifnya terbentuk dari pengalaman perempuan yang punya kesempatan belajar dan menulis, dan bahwa keterlibatan itu bukan cacat tetapi syarat bagi pemahaman. Meski demikian, ia kadang menggeneralisasi dari lingkungannya sendiri, yaitu perempuan borjuis Prancis, dan di sinilah kritik belakangan menemukan sasaran.

Buku ini juga membangun argumen tentang bagaimana ketimpangan bertahan. Beauvoir menunjukkan bahwa perempuan kekurangan alat untuk bersatu: mereka tidak punya sejarah bersama, tidak punya wilayah sendiri, dan hidup tersebar di antara laki-laki, sehingga perlawanan terhadap kedudukan kedua sulit terorganisasi. Ia juga menekankan peran ekonomi. Selama perempuan bergantung secara materiel pada laki-laki, kebebasan formal yang diberikan hukum, seperti hak pilih, belum cukup. Karena itu jalan pembebasannya, menurut dia, melalui pekerjaan yang dibayar, pendidikan, dan hak atas tubuh sendiri, termasuk kontrasepsi dan aborsi. Pada saat yang sama ia skeptis terhadap anggapan bahwa pekerjaan saja akan membebaskan, sebab banyak perempuan menjalankan pekerjaan yang melelahkan sambil tetap memikul beban rumah tangga.

Penerimaan buku ini sejak awal terbelah. Kaum konservatif dan Gereja menyerangnya. Dari kiri, kaum komunis menuduhnya terlalu borjuis, sementara sebagian eksistensialis menganggapnya sekadar penerapan Sartre. Camus dikabarkan jengkel pada bagian yang ia anggap menghina laki-laki Prancis. Di Amerika, terjemahan awal oleh H. M. Parshley (1953) memotong sebagian isi dan menyederhanakan istilah filsafatnya, sehingga selama puluhan tahun pembaca berbahasa Inggris membaca versi yang kurang tepat sampai terjemahan baru oleh Constance Borde dan Sheila Malovany-Chevallier pada 2009. Bagi gelombang kedua feminisme, buku ini menjadi sumber rumusan dasar, dan Betty Friedan serta Kate Millett banyak mengutip atau terpengaruh olehnya, meski Beauvoir sendiri menolak sebagian arah gerakan itu.

Sebagian keberatan terhadap buku ini ditujukan pada selektivitasnya. Pembaca pascakolonial dan feminis kulit hitam menilai bahwa ia mengabaikan perbedaan ras dan kelas di antara perempuan. Pembaca lain menilai bahwa ia terlalu merendahkan tubuh perempuan dan keibuan, sedangkan pengkritik dari teori queer menunjuk bahwa pembedaan antara jenis kelamin biologis dan gender yang kerap dikaitkan dengannya sebenarnya tidak pernah tegas dalam teksnya. Ada pula keberatan bahwa kajian sejarah dan antropologinya sudah usang. Namun sebagai upaya pertama menyatukan filsafat, sejarah, dan pengalaman sehari-hari dalam satu analisis tentang penindasan perempuan, Le Deuxième Sexe tetap menjadi titik rujukan utama.

“Orang Tidak Dilahirkan sebagai Perempuan, melainkan Menjadi Perempuan”

Kalimat ini membuka jilid kedua Le Deuxième Sexe (1949): On ne naît pas femme: on le devient. Beauvoir tidak menaruhnya sebagai semboyan, melainkan sebagai kesimpulan dari jilid pertama, setelah ia memeriksa biologi, psikoanalisis, materialisme historis, dan sejarah, lalu mendapati bahwa tidak satu pun dari semuanya menetapkan bahwa perempuan harus menjadi seperti yang ia jumpai di masyarakatnya. Kalimat itu muncul sebagai pernyataan tentang sebab: tidak ada takdir biologis, psikis, atau ekonomi yang menentukan sosok yang dibentuk manusia betina di dalam masyarakat. Peradaban secara keseluruhanlah yang menghasilkan makhluk yang berada di antara laki-laki dan kasim, yang disebut perempuan.

Untuk memahami kalimat itu perlu dibedakan dua hal yang kerap dicampur. Beauvoir tidak menyangkal bahwa ada tubuh perempuan dan bahwa tubuh itu punya ciri biologis, seperti haid, kehamilan, dan menyusui. Yang ia sangkal adalah bahwa ciri-ciri ini sendiri menetapkan nasib, kedudukan, atau watak. Tubuh, dalam kerangka eksistensialis yang ia pakai, adalah situasi, bukan hakikat. Ia adalah cara kita memegang dunia dan titik tolak proyek kita, tetapi artinya baru terbentuk ketika dihayati dalam suatu masyarakat yang memberinya nilai. Haid, misalnya, tidak punya makna terpisah dari cara budaya memperlakukannya sebagai tanda aib, kecemasan, atau kedewasaan. Karena itu “menjadi” perempuan adalah proses penghayatan tubuh dalam situasi sosial tertentu, bukan pelepasan dari tubuh.

Kata kerja “menjadi” (devenir) memegang peran sentral. Ia menunjuk pada proses panjang pembentukan yang dimulai sejak kanak-kanak. Beauvoir menguraikannya dalam bab tentang masa kanak-kanak di jilid kedua: bayi laki-laki dan perempuan, katanya, awalnya mengalami dunia dengan cara yang serupa, tetapi segera diperlakukan berbeda. Anak laki-laki didorong aktif, berani, mandiri, dan menemukan dirinya lewat tindakan dan permainan. Anak perempuan diberi boneka, dilatih berhias, diajari menunggu dan menyenangkan orang lain, dan diperkenalkan pada gagasan bahwa nilainya terletak pada penampilan serta kesediaannya dipilih. Anak perempuan lalu belajar melihat dirinya sebagai objek tatapan, bukan sebagai pelaku. Lewat pengulangan kecil seperti itulah “keperempuanan” dibentuk, sehingga ketika dewasa ia tampak seperti sifat alami.

Penekanan pada proses ini berkaitan langsung dengan tema kebebasan dan situasi. Karena perempuan juga adalah kebebasan, proses pembentukan itu tidak pernah sepenuhnya berhasil memadamkan dorongan untuk bertindak dan melampaui. Beauvoir menggambarkan ketegangan batin pada remaja perempuan: ia ingin menjadi subjek yang menaklukkan dunia, tetapi masyarakat menyuruhnya menjadi objek yang menarik. Pada titik inilah sebagian perempuan menerima peran yang ditawarkan, dan sebagian memberontak. Dengan demikian kalimat itu tidak berarti perempuan hanyalah cetakan pasif. Ia berarti bahwa apa yang disebut keperempuanan adalah hasil interaksi antara kebebasan individu dan tekanan sosial, dan karena sifatnya “menjadi”, ia dapat diubah.

Kalimat ini sering dibaca sebagai awal pembedaan antara seks dan gender, yang kemudian dirumuskan secara eksplisit oleh ilmuwan seperti Robert Stoller dan feminis gelombang kedua. Pembacaan itu memiliki dasar, tetapi para ahli Beauvoir mengingatkan agar tidak dibaca terlalu langsung. Beauvoir sendiri tidak memakai istilah gender, dan ia tidak membagi dua secara tegas antara tubuh biologis dan peran sosial. Baginya tubuh selalu dihayati lewat makna, sehingga yang biologis tidak pernah murni terlepas dari yang sosial. Judith Butler, dalam Gender Trouble (1990), menjadikan kalimat ini titik tolak: bila gender adalah sesuatu yang dijadikan, maka tidak ada alasan menganggap bahwa menjadi perempuan harus berarti memiliki tubuh betina, dan ia mengajukan bahwa gender adalah performans yang diulang. Namun pembaca seperti Toril Moi menilai bahwa Butler meninggalkan fenomenologi tubuh yang menjadi ciri Beauvoir.

Frasa itu juga menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang “membentuk”. Beauvoir tidak menunjuk satu pelaku. Pembentukan dilakukan serentak oleh orang tua, sekolah, agama, sastra, hukum, ekonomi, dan bahkan oleh perempuan itu sendiri, yang ikut menafsirkan dan menerima peran. Ia tidak menyebutnya konspirasi laki-laki. Ia menyebutnya sistem, yang bertahan karena banyak pihak mendapat keuntungan atau kenyamanan darinya, dan karena tampil sebagai hal yang wajar. Pembongkaran sistem ini pun tidak hanya soal menyadarkan perempuan, melainkan mengubah kondisi material dan hukum yang menopangnya, termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hak atas tubuh.

Sebagian keberatan datang dari kubu yang melihat kalimat ini terlalu konstruktivis dan menyingkirkan peran biologi. Pengkritik dari feminisme perbedaan, seperti Luce Irigaray, menilai bahwa Beauvoir mengambil model laki-laki sebagai norma kemanusiaan dan menganggap menjadi perempuan sebagai kekurangan yang harus diatasi, sehingga nilai khas pengalaman perempuan hilang. Kritik lain menyoroti bahwa “perempuan” yang dibicarakan terlalu seragam, dan bahwa proses menjadi perempuan berlangsung berbeda menurut ras, kelas, dan budaya. Namun rumusan bahwa kategori yang tampak alami ternyata hasil pembentukan sejarah, dan karena itu terbuka bagi perubahan, tetap menjadi salah satu pernyataan paling berpengaruh dalam teori feminis.

Kritik terhadap Biologi, Psikoanalisis, dan Materialisme Historis sebagai Penjelasan tentang Perempuan

Bagian pertama jilid pertama Le Deuxième Sexe, berjudul “Takdir”, adalah tempat Beauvoir menguji tiga penjelasan besar yang pada zamannya dipakai untuk menerangkan mengapa perempuan berada di posisi kedua. Ia memeriksa biologi, psikoanalisis, dan materialisme historis satu per satu, dan metode yang sama ia pakai pada ketiganya: mengakui apa yang benar dalam setiap penjelasan, lalu menunjukkan bahwa penjelasan itu berhenti sebelum sampai pada pertanyaan yang sesungguhnya. Sikap ini penting, sebab ia tidak menolak ketiganya sebagai omong kosong. Ia menolak anggapan bahwa salah satunya, sendirian, dapat menetapkan nasib perempuan.

Pada biologi, ia memulai dengan uraian panjang tentang jenis kelamin di dunia hewan, mulai dari organisme bersel satu, serangga, hingga mamalia, dengan merujuk penelitian pada masanya. Hasil pengamatannya mengecewakan bagi mereka yang mencari dasar tunggal: di berbagai spesies, hubungan antara jantan dan betina sangat beragam, dan tidak ada pola yang memperlihatkan bahwa betina otomatis tunduk. Pada manusia, ia mengakui perbedaan nyata. Perempuan mengalami haid, kehamilan, persalinan, dan menyusui, dan tubuhnya sering lebih lemah dalam hal kekuatan otot dan tenaga fisik rata-rata dibanding laki-laki. Ia tidak menyangkal fakta itu. Yang ia persoalkan adalah lompatan dari fakta ke makna. Kekuatan otot hanya penting dalam masyarakat yang menghargai kekerasan fisik, dan kehamilan hanya menjadi beban bila masyarakat tidak menyediakan perlindungan dan pembagian kerja yang adil. Ia menulis bahwa tubuh bukan benda yang menetapkan segalanya, melainkan situasi, dan arti sebuah fakta biologis selalu ditetapkan oleh nilai yang diberikan kepadanya. Karena itu biologi dapat menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh, tetapi tidak dapat menjelaskan mengapa kemampuan melahirkan dihitung sebagai kekurangan, sedangkan kemampuan berburu atau berperang dihitung sebagai kehormatan.

Kritik terhadap psikoanalisis lebih tajam, sebab ia menilai teori ini menyodorkan penjelasan yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya mengandaikan hal yang harus dijelaskan. Beauvoir menghargai sumbangan Freud karena menempatkan seksualitas dalam perkembangan psikis dan memperlihatkan bahwa masa kanak-kanak membentuk dewasa. Namun ia menunjukkan bahwa Freud merumuskan perkembangan anak perempuan menurut model laki-laki. Kompleks Oedipus dan kecemburuan terhadap penis (Penisneid) dijelaskan seolah-olah anak perempuan menyadari bahwa ia kekurangan sesuatu. Menurut Beauvoir, rasa iri itu tidak ditujukan pada organ, melainkan pada hak dan kebebasan yang menyertai kedudukan laki-laki dalam masyarakat. Gadis kecil mengamati bahwa saudara laki-lakinya diberi kebebasan lebih, dihargai lebih, dan dilindungi dari tuntutan menyenangkan orang lain, lalu mengaitkan keuntungan itu dengan penis, karena itulah tanda yang tampak. Ia juga mengkritik Alfred Adler, yang menjelaskan perilaku dari hasrat akan kekuasaan, karena Adler pun tidak bertanya mengapa kekuasaan dimiliki sebagian orang dan bukan lainnya. Pada Jung, ia keberatan terhadap pembicaraan tentang arketipe yang tampak abadi. Keberatan umumnya sama: psikoanalisis menaruh sebab dalam struktur batin yang dianggap universal, padahal struktur itu sendiri terbentuk dalam situasi sosial yang dapat berubah.

Ia mengajukan keberatan metodologis yang lebih mendasar. Psikoanalisis, katanya, menerangkan perilaku manusia dengan dorongan dan trauma sehingga kebebasan tidak diberi tempat. Bagi eksistensialis, manusia bukan hasil mekanis dari dorongan, melainkan makhluk yang menafsirkan dan memilih arti dari pengalamannya. Ia tidak menolak bahwa ada dorongan tak sadar, tetapi ia menegaskan bahwa tindakan seseorang tidak dapat dijelaskan semata-mata dengan masa lalunya, sebab seseorang terus-menerus menafsir ulang dan melampaui masa lalu itu lewat proyeknya. Karena itu penjelasan yang berhenti pada Oedipus tidak menjelaskan mengapa Oedipus itu sendiri berlangsung dalam keluarga patriarkal.

Baca juga :  Protagoras

Terhadap materialisme historis, sikapnya paling simpatik, meski tetap kritis. Ia mengutip Engels dalam Der Ursprung der Familie, des Privateigentums und des Staats (1884), yang menyatakan bahwa kekalahan perempuan secara historis bermula dari munculnya kepemilikan pribadi dan pewarisan, ketika laki-laki menguasai harta dan membutuhkan keturunan yang sah. Beauvoir mengakui bahwa Engels memahami hal penting: kedudukan perempuan berkaitan erat dengan kerja dan kepemilikan, dan pembebasan perempuan memerlukan keikutsertaan dalam produksi. Namun ia menunjukkan celah. Engels tidak menjelaskan mengapa kepemilikan pribadi harus jatuh ke tangan laki-laki, dan mengapa perempuan menjadi bagian dari harta itu, bukan pemiliknya. Penjelasan itu sekadar mengandaikan pembagian kerja menurut jenis kelamin tanpa menjelaskan asal-usulnya. Ia juga menolak anggapan bahwa penindasan perempuan akan lenyap secara otomatis begitu kapitalisme digantikan sosialisme. Menurutnya, perbedaan antara kelas dan jenis kelamin tidak dapat disamakan: perempuan tidak membentuk kelas yang punya kepentingan sendiri dan terpisah dari laki-laki, sehingga hubungan mereka lebih dekat dan lebih rumit daripada hubungan antara kelas pekerja dan pemilik modal.

Dari ketiga pemeriksaan itu Beauvoir menarik kesimpulan metodologis yang menjadi dasar seluruh bukunya. Pertanyaannya tidak boleh dijawab dengan mencari satu sebab. Yang diperlukan adalah mengamati bagaimana fakta biologis, pengalaman psikis, dan kondisi ekonomi dihayati dan diberi arti dalam situasi tertentu, sebab semuanya ditafsirkan oleh kebebasan yang hidup di dalamnya. Dengan begitu ia membuka jalan bagi analisis historis tentang kedudukan perempuan dan bagi kajian tentang mitos, yang dibahas pada pokok berikutnya. Kritik atas bagian ini datang dari berbagai arah. Biolog dan antropolog menilai bahwa sebagian data biologisnya sudah usang. Psikoanalis menuduh bahwa ia membaca Freud terlalu sempit, dan feminis psikoanalitik seperti Juliet Mitchell dan Nancy Chodorow menunjukkan bahwa psikoanalisis dapat dipakai untuk menjelaskan pembentukan gender tanpa menetapkan nasib. Meski begitu, cara Beauvoir menimbang setiap penjelasan, mengakui bagian benarnya sambil menolak klaim tunggalnya, tetap menjadi contoh yang baik tentang bagaimana menyusun argumen yang tidak jatuh ke determinisme.

Mitos Keperempuanan dan Konstruksi Sosial Gender

Bagian ketiga jilid pertama Le Deuxième Sexe, “Mitos”, dibuka dengan pengamatan yang jarang dibuat para pendahulunya: hampir semua yang pernah ditulis tentang perempuan ditulis oleh laki-laki, dan hasilnya bukan gambaran perempuan sebagaimana adanya, melainkan cermin tempat laki-laki memantulkan kebutuhan, harapan, dan ketakutannya sendiri. Beauvoir menyebut kumpulan citra ini mitos, dan ia memakai kata itu dengan makna khusus. Mitos bukan sekadar dongeng keliru yang bisa dibantah dengan fakta. Ia adalah cerita yang mengklaim kebenaran abadi, bersifat total, dan menyatu dengan cara masyarakat memandang dirinya sehingga hampir tidak tampak sebagai cerita. Karena itu membongkarnya tidak cukup dengan menunjukkan bahwa perempuan nyata tidak sesuai citra tersebut, sebab mitos justru menafsirkan ketidaksesuaian itu sebagai cacat perempuan, bukan cacat mitosnya.

Ia menelusuri akar mitos dari struktur Subjek dan Yang Lain yang telah dibahas pada pokok sebelumnya. Bila laki-laki menetapkan diri sebagai yang esensial, perempuan menjadi tempat segala sesuatu yang tidak ia akui dalam dirinya atau yang ia dambakan di luar dirinya. Dari sinilah lahir kontradiksi yang menandai semua mitos tentang perempuan: ia bisa menjadi sumber kehidupan sekaligus kematian, kesucian sekaligus godaan, alam yang menyuburkan sekaligus hutan yang menelan. Beauvoir menunjukkan bahwa tubuh perempuan dalam banyak kebudayaan dikaitkan dengan alam, dan alam bagi manusia berarti dua hal yang berlawanan: ibu yang memberi makan dan kekuatan buta yang mengancam. Ketakutan manusia pada kelahiran, pembusukan, dan kematian dipindahkan ke tubuh perempuan, yang melahirkan dan karenanya dianggap dekat dengan semua proses itu. Ibu menjadi objek pemujaan sekaligus kecurigaan, dan kekasih menjadi objek hasrat sekaligus ancaman.

Beauvoir kemudian menguji mitos melalui sastra. Ia membaca Montherlant, yang memandang perempuan sebagai makhluk rendah yang menghalangi laki-laki mencapai kebesaran; D. H. Lawrence, yang mengagungkan perempuan sebagai pendukung vitalitas laki-laki; Breton, yang menjadikan perempuan sebagai jalan menuju yang ajaib dan tak terduga; Claudel, yang menempatkannya sebagai pelayan kehendak ilahi; dan Stendhal, satu-satunya yang menurut dia melihat perempuan sebagai manusia yang setara dan bebas. Dari perbandingan itu tampak bahwa setiap pengarang menaruh pada perempuan hal yang ia perlukan: rekan, penghalang, penyelamat, atau pelengkap. Perempuan tidak pernah menjadi subjek yang berbicara tentang dirinya. Ia bahkan, tulis Beauvoir, menjadi lebih mudah dipuja ketika tidak diberi kesempatan membuktikan dirinya sebagai manusia nyata.

Satu mitos yang ia soroti khusus adalah “keabadian keperempuanan” atau “yang abadi feminin” (l’éternel féminin), gagasan bahwa ada hakikat perempuan yang tidak berubah lintas zaman, yang terbukti dalam sifat seperti kelembutan, intuisi, dan kerelaan berkorban. Beauvoir membongkarnya dengan menunjuk bahwa sifat-sifat itu persis yang dibutuhkan masyarakat dari perempuan pada waktu tertentu, dan bahwa pembicaraan tentang hakikat selalu muncul tepat ketika perempuan mulai menuntut hak. Ia membandingkannya dengan wacana tentang “jiwa Negro” atau “karakter Yahudi” yang dipakai untuk membenarkan penindasan: menunjuk hakikat adalah cara membekukan manusia hidup menjadi benda yang dapat diperlakukan. Mitos tidak hanya menggambarkan perempuan, tetapi menyuruhnya berperilaku sesuai gambaran itu, dan penyimpangan dihukum sebagai ketidakwajaran.

Dari sini terhubung pembahasan tentang konstruksi sosial gender. Beauvoir tidak memakai istilah itu, tetapi analisisnya mendahuluinya. Mitos bekerja lewat institusi dan kebiasaan: buku bacaan anak, pendidikan, hukum perkawinan, iklan, mode, dan percakapan sehari-hari. Seorang anak perempuan tidak membaca teori tentang keperempuanan; ia menyerap mitos lewat cerita putri yang menunggu diselamatkan, lewat nasihat agar bersikap manis, lewat pujian pada penampilannya. Karena mitos terjalin dengan pengalaman sehari-hari, perempuan ikut mempercayainya dan berusaha memenuhinya, dan sebagian menemukan kebanggaan serta perlindungan dalam peran itu. Beauvoir menegaskan bahwa ini bukan kebodohan, melainkan strategi masuk akal dalam dunia yang menghukum kemandirian perempuan. Namun harganya adalah keterasingan dari diri sendiri, sebab perempuan belajar melihat dirinya dengan mata yang dipinjam dari laki-laki.

Beauvoir juga memperhatikan bagaimana mitos menutupi ketimpangan nyata dengan bahasa pujian. Perempuan dikatakan “dipuja”, “dilindungi”, dan “ditinggikan”, sementara hak hukum, ekonomi, dan kebebasan geraknya dibatasi. Idealisasi ibu rumah tangga menghalalkan pekerjaan tanpa upah, dan kepercayaan bahwa perempuan secara alami penuh kasih membebaskan masyarakat dari kewajiban menyediakan layanan perawatan. Dengan kata lain, mitos memiliki fungsi: ia mengubah hubungan kuasa menjadi kodrat dan membuat perlawanan tampak sebagai pelanggaran terhadap tatanan alam.

Pembongkaran ini tidak berarti ia ingin menghapus semua citra atau puisi tentang perempuan. Ia mengharapkan hubungan baru antara kedua jenis kelamin yang berdasarkan pengakuan timbal balik, sehingga mitos kehilangan fungsinya. Bila perempuan menjadi subjek yang bebas, ia akan berhenti menjadi misteri, dan laki-laki akan belajar menemukan manusia nyata di balik citra. Beauvoir bahkan membayangkan kemungkinan bahwa kehidupan akan lebih kaya, sebab hubungan antarmanusia tidak lagi diwarnai proyeksi.

Sebagian keberatan menyasar metodenya. Pengkritik menilai bahwa pembacaannya atas sastra terlalu selektif dan bahwa ia mengambil pengarang laki-laki Prancis tertentu sebagai wakil seluruh budaya. Yang lain menunjukkan bahwa ia kurang memperhatikan mitos yang diproduksi perempuan sendiri atau yang berbeda menurut ras dan kelas. Sementara itu feminis psikoanalitik dan pascastrukturalis, termasuk Butler, mengembangkan gagasan bahwa citra tentang perempuan tidak sekadar menutupi realitas, tetapi ikut menciptakan subjek yang dianggapnya. Meski demikian, analisis Beauvoir tentang bagaimana kebudayaan menyulap kuasa menjadi kodrat tetap menjadi salah satu pintu masuk paling kuat untuk memahami konstruksi sosial gender.

Perempuan dalam Perkawinan, Keibuan, dan Kehidupan Sehari-hari

Jilid kedua Le Deuxième Sexe membawa pembaca dari analisis struktur ke ruang yang paling akrab: rumah. Di bagian berjudul “Situasi”, Beauvoir memeriksa tiga pengalaman yang oleh masyarakat dianggap sebagai takdir perempuan, yaitu perkawinan, keibuan, dan pekerjaan rumah tangga. Ia memulai dari pengamatan sosiologis yang lugas. Selama berabad-abad perkawinan adalah nasib yang diwajibkan bagi perempuan, sedangkan bagi laki-laki ia hanya salah satu cara menata hidup. Laki-laki menikah untuk melengkapi eksistensinya, sedangkan perempuan menikah untuk memperoleh eksistensi sosial. Gadis yang tidak menikah dianggap gagal, dan ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa kebahagiaan, status, dan keamanan ekonominya bergantung pada pilihan seorang suami. Karena itu, kata Beauvoir, perkawinan sering dimasuki bukan sebagai pertemuan dua kebebasan, melainkan sebagai transaksi yang timpang, tempat perempuan menukar kemandirian dengan perlindungan.

Ketimpangan itu, menurut analisisnya, terpatri dalam struktur perkawinan itu sendiri. Hukum Prancis pada masa itu masih menempatkan suami sebagai kepala keluarga, dan baru pada 1938 serta 1965 sebagian ketentuan yang mengekang istri dicabut. Suami memikul fungsi produktif dan mewakili keluarga di dunia luar, sedangkan istri diberi tugas memelihara. Beauvoir menyatakan bahwa pembagian ini membuat istri hidup melalui perantara: ia mengambil nama suaminya, mengikuti kariernya, dan menilai dirinya dari keberhasilan keluarga. Ia juga menunjukkan paradoks perkawinan sebagai institusi. Ia mewajibkan dua orang yang menurut keadaan harus saling mengisi untuk mencintai melalui kewajiban, sehingga hasrat dan keakraban terkikis oleh rutinitas dan kewajiban hukum. Perselingkuhan, kebosanan, dan kemarahan terpendam adalah gejala wajar dari institusi yang menuntut cinta sebagai tugas.

Dalam bab keibuan, Beauvoir menjalankan salah satu pembongkaran paling berani. Ia menolak anggapan bahwa naluri keibuan adalah dorongan bawaan yang pasti dimiliki setiap perempuan. Ia mengamati bahwa sikap perempuan terhadap kehamilan sangat beragam: ada yang merasa bahagia, ada yang cemas, ada yang membenci. Perasaan itu, katanya, ditentukan oleh keseluruhan situasi, yaitu keadaan ekonomi, hubungan dengan pasangan, kesehatan, dan pandangan tentang tubuh sendiri, bukan oleh kodrat. Ia menggambarkan kehamilan sebagai pengalaman ambigu: tubuh menjadi tempat berlangsungnya proses yang tidak sepenuhnya dikuasai, perempuan merasa diperkaya sekaligus dirampas. Karena itu ia membela hak perempuan memutuskan sendiri apakah dan kapan ingin hamil, dan menyebut kontrasepsi dan aborsi sebagai syarat kebebasan. Pada 1949 pembicaraan terbuka tentang aborsi jauh dari lazim, dan keberaniannya menimbulkan kemarahan.

Ia juga mengkritik pemujaan terhadap ibu. Citra ibu yang penuh pengorbanan, katanya, membebani perempuan dengan tuntutan sempurna, sementara anak dijadikan pembenaran seluruh hidup ibu. Ibu yang tidak menemukan arti lain dalam hidupnya cenderung menjadikan anaknya sebagai miliknya, menumpahkan ambisi dan frustrasi kepadanya, dan karena itu hubungan ibu dan anak dapat dipenuhi kemarahan yang disembunyikan di balik kasih sayang. Beauvoir tidak menyalahkan ibu, tetapi menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang menutup jalan lain bagi perempuan, keibuan sering menjadi satu-satunya tempat ia mencari kekuasaan dan makna. Ia membedakan keibuan yang dipilih secara bebas, yang dapat memperkaya, dari keibuan yang dipaksakan, yang menjadi kurungan.

Pada kehidupan sehari-hari, ia menaruh perhatian pada kerja rumah tangga, sebagaimana telah disinggung dalam pokok imanensi. Pekerjaan membersihkan, memasak, dan merapikan adalah perjuangan melawan debu dan kekacauan yang tidak pernah menang. Hasilnya segera hilang, sehingga tidak meninggalkan jejak yang dapat dibanggakan. Pekerjaan itu juga menyendiri: ia dilakukan di balik pintu tertutup, tanpa kolega, tanpa pengakuan, dan tanpa batas jam kerja. Beauvoir menulis bahwa ibu rumah tangga melawan kotoran seolah melawan musuh, dan karena perang itu tak berujung, ia mudah menjadi pahit. Ia mencatat bahwa kerumitan tugas-tugas ini jarang dihitung sebagai kerja, padahal keluarga tidak dapat hidup tanpanya. Pengamatannya mendahului perdebatan feminis tahun 1970-an tentang kerja domestik tanpa upah.

Bab-bab ini juga memuat potret kehidupan sosial perempuan borjuis: kunjungan, percakapan basa-basi, pakaian, dan kewajiban menjaga penampilan. Beauvoir melihat di dalamnya cara perempuan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh tiadanya proyek. Karena tidak memiliki tempat untuk mengejar tujuan di dunia, ia menaruh energinya pada hal-hal kecil, pada hubungan sosial, dan pada pengelolaan citra. Ia tidak mengejek kegiatan itu, tetapi menunjukkan bahwa ia lahir dari situasi yang mempersempit kebebasan. Kebahagiaan yang dijanjikan perkawinan, ia simpulkan, jarang terwujud, dan banyak perempuan memasuki usia paruh baya dengan perasaan telah mengorbankan hidupnya demi sesuatu yang tidak memberi balasan yang setara.

Beauvoir tidak menolak perkawinan atau keibuan secara prinsip. Ia menyatakan bahwa keduanya dapat bermakna bila dijalani antara dua pihak yang setara secara ekonomi dan hukum, bila keputusannya bebas, dan bila perempuan tetap memiliki proyek dan pekerjaan di luar rumah. Tanpa syarat itu, institusi tersebut mengurung. Kritik terhadap bagian ini beragam. Sejumlah feminis menilai bahwa gambarannya terlalu muram dan meremehkan kepuasan nyata yang dirasakan banyak ibu. Pembaca lain menunjuk bahwa pengamatannya terbatas pada perempuan borjuis Prancis, padahal perempuan kelas pekerja dan perempuan non-Eropa mengalami perkawinan dan keibuan dengan cara yang berbeda. Betty Friedan melanjutkan sebagian analisis ini dalam The Feminine Mystique (1963), dan perdebatan tentang kerja domestik, keibuan, dan kesetaraan dalam rumah tangga masih berlanjut sampai sekarang.

Itikad Buruk (Mauvaise foi) dan Penerimaan Penindasan

Istilah mauvaise foi berasal dari Sartre, yang merumuskannya dalam L’Être et le néant (1943) sebagai cara kesadaran menipu dirinya sendiri: seseorang mengetahui bahwa ia bebas, tetapi bertindak seolah-olah ia hanyalah benda yang dikendalikan keadaan. Contoh Sartre yang terkenal adalah pelayan kafe yang menjalani perannya begitu kaku hingga ia seakan-akan sepenuhnya identik dengan peran itu. Beauvoir mengambil konsep ini, tetapi ia memakainya dengan cara yang lebih sosial. Bagi Sartre, itikad buruk tampak sebagai kegagalan individu menanggung kebebasannya. Bagi Beauvoir, persoalannya tidak berhenti di situ, sebab ia bertanya mengapa sebagian kelompok manusia diberi begitu banyak alasan untuk melarikan diri dari kebebasan, dan mengapa pelarian itu tampak masuk akal bagi mereka.

Dalam Le Deuxième Sexe, itikad buruk perempuan tidak dimulai dari kelemahan watak, melainkan dari tawaran yang disodorkan situasi. Sejak kecil perempuan diajari bahwa ia akan dipilih, dilindungi, dan dinafkahi. Peran istri dan ibu menyediakan identitas yang sudah jadi, lengkap dengan aturan, pujian, dan rasa aman. Menerima peran itu berarti dibebaskan dari risiko menentukan sendiri arah hidup, dari kemungkinan gagal, dan dari kesendirian orang yang harus bertanggung jawab atas pilihannya. Beauvoir menyebut ini godaan untuk menjadi objek: perempuan dapat menyerahkan keputusan kepada laki-laki dan berlindung di balik anggapan bahwa memang begitulah kodratnya. Dalam kerangka etika ambiguitas, ini adalah cara menyangkal salah satu kutub kondisi manusia, yakni kebebasannya sebagai subjek, dengan menyatakan diri sebagai benda.

Bentuk-bentuknya beragam dan Beauvoir menguraikannya dalam bab tentang perempuan narsis, perempuan yang jatuh cinta, dan perempuan mistik. Perempuan narsis menjadikan dirinya sendiri sebagai satu-satunya proyek, mengagumi citranya karena dunia luar tertutup baginya. Perempuan yang jatuh cinta menyerahkan seluruh keberadaannya kepada seorang laki-laki yang dipujanya sebagai penyelamat, sehingga hidupnya hanya bermakna lewat pengakuan sang kekasih. Beauvoir memandang cinta jenis ini sebagai bentuk perhambaan sukarela, dan ia membedakannya dari cinta otentik, yaitu hubungan dua kebebasan yang saling mengakui sebagai sesama subjek. Perempuan mistik mencari penyatuan dengan sesuatu yang mutlak sehingga ia tidak perlu memikul kebebasannya sendiri. Dalam tiga kasus itu ada pola yang sama: kebebasan tidak dipadamkan, melainkan dialihkan ke objek lain yang diharapkan memberi makna tanpa usaha.

Namun Beauvoir menolak membaca itikad buruk sebagai kesalahan perempuan semata. Ia menulis bahwa penindasan bekerja dengan cara yang licik: ia tidak hanya menghalangi, tetapi menawarkan kompensasi. Perempuan yang tunduk menerima pujian, perlindungan, dan kekuasaan tidak langsung lewat pengaruhnya pada suami dan anak. Kekuasaan semacam itu nyata, tetapi bergantung pada kehendak orang lain dan rapuh. Karena itu ia membedakan antara tanggung jawab dan kesalahan. Perempuan bertanggung jawab atas caranya menanggapi situasi, sebab ia tetap bebas menafsirkannya. Tetapi situasinya dibangun sedemikian rupa sehingga memilih kebebasan jauh lebih mahal baginya daripada bagi laki-laki: ia menghadapi cemoohan, kesepian, hambatan ekonomi, dan risiko dianggap tidak wajar. Dalam situasi seperti itu, ia menyatakan, tidak adil menuntut kepahlawanan dari semua orang, tetapi juga tidak benar menganggap penyerahan sebagai pilihan netral.

Gagasan ini membawa Beauvoir pada kesimpulan yang tidak mudah dicerna. Penindasan, katanya, hanya dapat bertahan secara luas bila sebagian korbannya ikut menopangnya. Laki-laki memegang kekuasaan, tetapi sistem itu bergantung pada kerja sama, sering tanpa disadari, dari mereka yang diuntungkan secara kecil-kecilan, seperti perempuan yang mengajarkan putrinya menjadi penurut atau yang menilai perempuan lain menurut ukuran laki-laki. Beauvoir tidak menyebutnya pengkhianatan, melainkan akibat dari ketergantungan: orang yang seluruh keamanannya bergantung pada satu tatanan akan membela tatanan itu. Dari sini ia menyimpulkan bahwa pembebasan menuntut dua hal sekaligus, yakni perubahan kondisi material dan hukum, serta kesediaan perempuan untuk menolak tawaran kenyamanan yang mengikat.

Karena itu ia menjadikan kemandirian ekonomi sebagai syarat nyata untuk keluar dari itikad buruk. Selama perempuan hidup dari nafkah orang lain, pilihan untuk menolak peran tradisional hanyalah slogan. Pekerjaan memberinya penghidupan sekaligus sarana untuk mengejar proyek sendiri, sehingga menjadi subjek tidak lagi berarti mempertaruhkan kelangsungan hidup. Namun ia menambahkan bahwa pekerjaan saja tidak otomatis menghapus itikad buruk, sebab perempuan yang bekerja pun dapat tetap mencari penyelamat dalam diri pasangan atau menjadikan kariernya sekadar pelengkap. Pembebasan batin, katanya, membutuhkan kesediaan menjalani ambiguitas: menerima bahwa kebebasan mengandung risiko dan bahwa tidak ada pihak yang dapat menjamin makna hidup seseorang.

Konsep ini mengundang keberatan. Sebagian pembaca menilai bahwa penggunaan itikad buruk berisiko menyalahkan korban, karena menempatkan sebagian beban pada perempuan yang pilihannya sangat dibatasi. Kritikus lain, termasuk feminis kulit hitam dan pascakolonial, menunjukkan bahwa tawaran perlindungan yang dibicarakan Beauvoir lebih berlaku bagi perempuan borjuis, sebab bagi banyak perempuan miskin dan terjajah, bekerja dan menanggung beban keluarga bukan pilihan tetapi keharusan, dan masalahnya justru kurangnya perlindungan. Meski begitu, upaya Beauvoir menghubungkan kegagalan menanggung kebebasan dengan struktur sosial yang menawarkannya tetap menjadi salah satu pembacaan paling subur atas konsep Sartre.

Perempuan Mandiri dan Jalan menuju Pembebasan

Bab penutup jilid kedua Le Deuxième Sexe berjudul “Perempuan yang Mandiri” (La femme indépendante), dan di sana Beauvoir berpindah dari diagnosis ke pertanyaan praktis: apa yang terjadi ketika seorang perempuan bekerja, menghidupi dirinya sendiri, dan menolak definisi yang ditawarkan masyarakat? Jawabannya tidak optimistis begitu saja. Ia mengakui bahwa pada 1949 perempuan Prancis telah memperoleh hak pilih sejak 1944, boleh bekerja, dan secara formal setara di hadapan banyak hukum, tetapi kesetaraan formal itu belum menghasilkan kebebasan konkret. Hak yang diberikan di atas kertas, katanya, tetap abstrak selama kondisi ekonomi, pendidikan, dan adat tidak berubah. Karena itu bab ini justru mengamati dengan teliti kesulitan yang dihadapi perempuan yang sudah melangkah keluar dari rumah.

Kesulitan pertama adalah beban ganda. Perempuan yang bekerja di luar rumah tetap diharapkan memikul pekerjaan domestik dan pengasuhan, sehingga kebebasan yang dimenangkan di tempat kerja dibayar dengan kelelahan di rumah. Beauvoir menunjukkan bahwa pekerjaan sering diberikan kepada perempuan dengan upah lebih rendah dan kesempatan promosi lebih sempit, sehingga kemandirian ekonomi yang diperoleh tidak sepenuhnya menjamin kemandirian pribadi. Ia juga mengamati kontradiksi batin yang dialami perempuan terpelajar: ia dituntut berhasil seperti laki-laki, tetapi masih diharapkan tetap menarik, lembut, dan bersedia dipilih. Menjadi “perempuan sejati” dan menjadi pribadi yang berprestasi dirasakan sebagai dua tuntutan yang saling menarik. Beauvoir tidak menyebut ketegangan ini kelemahan perempuan, melainkan akibat dari situasi tempat dua tatanan nilai bertabrakan.

Baca juga :  George Berkeley

Dari analisis itu ia menegaskan bahwa kemandirian ekonomi adalah syarat yang diperlukan tetapi tidak cukup. Pekerjaan memberi perempuan sarana untuk hidup tanpa menggantungkan diri pada nafkah orang lain, dan karenanya membebaskannya dari keharusan menikah demi bertahan. Namun pembebasan sungguhan menuntut perubahan lain: pendidikan yang tidak membedakan anak perempuan dan laki-laki, pengakuan hukum atas hak atas tubuh termasuk kontrasepsi dan aborsi, pembagian kerja rumah tangga yang adil, serta fasilitas pengasuhan anak yang memungkinkan ibu tetap mengejar proyeknya. Ia juga menekankan perubahan sikap: laki-laki perlu belajar memperlakukan perempuan sebagai sesama subjek, dan perempuan perlu melepaskan kebiasaan mencari penyelamat. Dalam kerangka etika ambiguitas, tujuan akhirnya adalah hubungan antara dua kebebasan yang saling mengakui, bukan pembalikan dominasi.

Beauvoir menutup buku dengan gambaran tentang masa depan yang ia harapkan. Ia membayangkan bahwa bila perempuan diberi kesempatan nyata untuk mengembangkan diri, perbedaan jenis kelamin tidak akan lenyap, tetapi tidak lagi menetapkan hierarki. Laki-laki dan perempuan akan tetap berbeda secara tubuh, dan hubungan di antara mereka tetap mengandung ketegangan serta keajaiban, namun berlangsung dalam persaudaraan, bukan dalam penguasaan. Ia mengutip Marx bahwa hubungan paling alami antara manusia dengan manusia adalah hubungan laki-laki dengan perempuan, lalu menyatakan bahwa ukuran kemajuan manusia terletak pada sejauh mana hubungan itu bebas dari penindasan. Kalimat penutupnya mengajak agar kedua jenis kelamin, di balik perbedaan alami mereka, menegaskan secara tegas persaudaraan mereka.

Dalam bab ini Beauvoir juga bersikap jujur tentang peran dirinya sendiri sebagai perempuan terpelajar yang relatif beruntung. Ia mengakui bahwa ia tidak mewakili semua perempuan, dan bahwa banyak perempuan menghadapi hambatan yang jauh lebih berat. Karena itu ia menolak gagasan bahwa pembebasan dapat dicapai lewat usaha individu semata. Ia menyatakan bahwa perempuan memerlukan perubahan struktur ekonomi dan sosial, dan pada waktu penulisan ia masih berharap bahwa sosialisme akan membuka jalan. Di kemudian hari, terutama sejak awal 1970-an, ia menyadari bahwa perubahan struktur tidak otomatis menghapus sikap patriarkal dan bergabung dengan gerakan perempuan, menegaskan bahwa perjuangan perempuan perlu diorganisasi tersendiri.

Beberapa keberatan telah diajukan. Sebagian pembaca menilai bahwa gambaran Beauvoir tentang perempuan mandiri terlalu bertumpu pada pekerjaan profesional ala laki-laki, sehingga mengabaikan nilai pekerjaan perawatan dan komunitas yang dijalani banyak perempuan. Pembaca lain menunjukkan bahwa ia meremehkan hambatan struktural yang berbeda bagi perempuan miskin, perempuan kulit berwarna, dan perempuan di negara jajahan, yang bagi mereka bekerja tidak selalu berarti pembebasan. Namun daftar syarat yang ia susun, yakni kemandirian ekonomi, hak atas tubuh, pendidikan setara, dan pembagian kerja domestik, tetap menjadi kerangka yang banyak dipakai dalam diskusi tentang kesetaraan gender.

Penindasan dan Kebebasan Orang Lain

Dalam Pour une morale de l’ambiguïté (1947), Beauvoir mengajukan tesis yang menjadi poros etikanya: kebebasanku tidak dapat berdiri sendiri, sebab ia mengandaikan kebebasan orang lain. Ia mengemukakannya sebagai argumen eksistensial, bukan sekadar anjuran moral. Setiap proyekku memerlukan dunia tempat orang lain dapat menerima, melanjutkan, dan memberi arti pada apa yang kukerjakan. Sebuah karya yang tidak pernah dibaca, sebuah gagasan yang tidak pernah ditanggapi, sebuah penemuan yang tidak dapat dipakai siapa pun, kehilangan kemampuan melampaui diri. Maka bila aku merampas kebebasan orang lain, aku sedang memotong dahan tempat kebebasanku sendiri bertumpu. Dari sini ia menyimpulkan bahwa menghendaki diri bebas berarti sekaligus menghendaki orang lain bebas.

Penindasan, dalam kerangka ini, adalah usaha menjadikan kebebasan orang lain sebagai alat bagi tujuanku. Beauvoir tidak menganggap penindas sebagai monster yang kebetulan jahat. Ia melihat penindasan sebagai cara memperlakukan sesama manusia seolah-olah mereka benda, yaitu menyangkal bahwa mereka adalah subjek yang mampu menentukan arah hidupnya. Karena kebebasan ontologis tidak dapat dicabut, penindasan tidak benar-benar menghapusnya. Yang dilakukan penindas adalah menutup ruang tempat kebebasan itu dapat diwujudkan: menghalangi pendidikan, memutus akses ekonomi, membatasi gerak, atau menanamkan keyakinan bahwa korbannya memang pantas berada di posisi rendah. Dengan begitu kebebasan korban tetap ada, tetapi dipaksa berputar dalam lingkaran sempit, dan Beauvoir menyebut keadaan itu situasi yang diubah menjadi kurungan.

Ia membedakan dua jenis hubungan dengan penindasan. Ada orang yang ditindas dan menyadarinya, dan ada orang yang dibuat percaya bahwa keadaannya wajar. Kelompok kedua mendapat perhatian khusus, karena penindasan paling efektif bukan yang dipaksakan dengan kekerasan terus-menerus, melainkan yang diterima sebagai kodrat. Anak-anak, budak yang dibesarkan dalam perbudakan, dan perempuan yang dididik menerima perannya hidup dalam dunia yang tampak sudah selesai, sehingga mereka tidak mengenal pilihan lain. Beauvoir menyebut keadaan ini sebagai dunia yang “diberikan”, tempat nilai-nilai tampak turun dari langit. Pembebasan baru mungkin ketika dunia itu dikenali sebagai buatan manusia, sehingga dapat diubah.

Dari sini muncul pertanyaan yang sulit: bolehkah menggunakan kekerasan untuk melawan penindasan? Jawaban Beauvoir hati-hati. Ia menolak pasifisme mutlak, karena membiarkan penindasan berlangsung berarti ikut menopangnya. Bila penindas telah lebih dulu menyangkal kebebasan korbannya, perlawanan, bahkan yang keras, dapat menjadi cara membuka kembali kebebasan itu. Namun ia segera menambahkan batas. Tujuan tidak otomatis membenarkan cara, dan tindakan yang memperlakukan manusia konkret sebagai sarana semata bagi cita-cita masa depan mengulang kesalahan yang hendak dilawan. Ia mengingatkan bahwa orang yang menindas atas nama kebebasan nanti, seperti pada sebagian gerakan revolusioner, menjadikan manusia sekarang sebagai korban demi manusia yang belum ada. Ia mengakui bahwa dalam praktik orang kadang harus memilih di antara jalan yang sama-sama pahit, dan karena itu etikanya menuntut tanggung jawab, bukan kepastian.

Beauvoir juga menekankan bahwa penindasan tidak hanya merugikan korban, tetapi juga merusak yang menindas. Orang yang hidup dari kerja dan ketundukan orang lain terbiasa memandang sesama sebagai alat, dan ia kehilangan kemampuan melihat mereka sebagai pihak yang dapat memberi pengakuan sungguh-sungguh. Ia menjadi tuan yang dikelilingi benda, bukan sesama. Pengakuan hanya bernilai bila datang dari pihak yang bebas, dan penindas, dengan merampas kebebasan lawannya, juga merampas kemungkinan diakui secara bermakna. Gagasan ini kelak ia terapkan pada relasi laki-laki dan perempuan dalam Le Deuxième Sexe: laki-laki yang memperlakukan perempuan sebagai Yang Lain yang tunduk kehilangan hubungan setara yang mungkin menjadi sumber pengayaan baginya.

Dari prinsip ini ia menurunkan sikap terhadap orang yang tidak bertindak. Netralitas, katanya, bukan posisi yang bersih. Orang yang mengetahui adanya penindasan dan membiarkannya ikut bertanggung jawab, karena kebebasannya sendiri sedang dipakai untuk memilih diam. Pada saat yang sama ia tidak menuntut setiap orang menjadi pahlawan. Ia menuntut kejernihan: mengakui bahwa pilihan, termasuk pilihan untuk tidak memilih, mempunyai akibat bagi orang lain. Dalam konteks sejarah ia merujuk pengalaman pendudukan Jerman dan kolaborasi, ketika banyak orang menyerahkan diri pada dalih ketertiban atau kewajiban.

Konsep ini mengundang keberatan. Sebagian pembaca menilai argumen bahwa kebebasanku mengandaikan kebebasan orang lain kurang meyakinkan secara logis, sebab seseorang tampaknya dapat memenuhi proyeknya sambil menindas orang lain. Beauvoir menjawab dengan argumen tentang pengakuan, tetapi pengkritik menganggapnya lebih bersifat moral daripada ontologis. Sebagian lain mempertanyakan batas kekerasan yang ia izinkan, yang tidak dirumuskan dengan kriteria tegas. Meski demikian, penghubungan antara kebebasan pribadi dan kebebasan sesama menjadikan etika Beauvoir salah satu usaha paling awal dalam eksistensialisme untuk merumuskan tanggung jawab sosial yang konkret.

Usia Tua dan Kritik terhadap Pengabaian Sosial (La Vieillesse)

Pada 1970, ketika berusia enam puluh dua tahun, Beauvoir menerbitkan La Vieillesse (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The Coming of Age), kajian setebal lebih dari lima ratus halaman yang ia sebut sebagai buku yang paling berat ia tulis. Ia memulainya dengan pengakuan bahwa topik ini adalah tabu. Masyarakat berbicara tentang masa kanak-kanak, remaja, dan kedewasaan dengan leluasa, tetapi usia tua diselimuti kesunyian yang canggung. Ia membaca kesunyian itu sebagai gejala: orang tua mengingatkan yang muda pada nasib yang akan mereka alami, sehingga lebih mudah menyingkirkannya dari pandangan. Beauvoir memandang pengabaian ini sebagai persoalan etis dan politis, bukan sekadar urusan perasaan pribadi.

Buku itu disusun sejajar dengan Le Deuxième Sexe, dan cara kerjanya serupa. Jilid pertama menelaah usia tua dari luar: biologi penuaan, kajian antropologi tentang kedudukan orang tua di masyarakat primitif, dan sejarah perlakuan terhadap mereka dari masa ke masa. Jilid kedua menelaah usia tua dari dalam, yaitu pengalaman yang dijalani (le vécu): bagaimana orang tua mengalami tubuh, waktu, ingatan, kerja, seksualitas, dan hubungan dengan dunia. Dengan dua sudut ini ia ingin menunjukkan bahwa usia tua tidak dapat direduksi menjadi fakta biologis. Ia adalah situasi, sebagaimana halnya menjadi perempuan, dan maknanya ditentukan oleh cara masyarakat memperlakukan mereka yang menjalaninya.

Temuan sejarah dan antropologinya menunjukkan variasi yang besar. Pada beberapa masyarakat, orang tua dihormati sebagai penjaga pengetahuan dan tradisi; pada yang lain, terutama ketika sumber daya langka, mereka ditinggalkan atau dibiarkan mati. Beauvoir menyimpulkan bahwa perlakuan terhadap orang tua mengikuti kepentingan ekonomi dan struktur kekuasaan, bukan kebajikan atau kodrat. Dalam masyarakat modern ia melihat pola yang konsisten: orang dihargai selama ia produktif, dan ketika kekuatan kerjanya menurun, ia dianggap beban. Pensiun yang kecil, perumahan yang buruk, dan isolasi di panti bukan kebetulan, melainkan akibat logika yang mengukur nilai manusia dari kegunaannya. Ia menyebut perlakuan ini sebagai skandal yang membongkar kemunafikan peradaban yang mengaku menghormati manusia. Karena itu ia berpendapat bahwa kehidupan orang tua tidak dapat dibaiki dengan amal atau belas kasihan, sebab masalah mereka adalah masalah seluruh sistem yang memperlakukan manusia sebagai alat produksi. Ia menulis bahwa untuk membuat usia tua dapat diterima, orang harus mengubah seluruh masyarakat, bukan sekadar menambah subsidi.

Pada bagian pengalaman, Beauvoir menunjukkan bahwa usia tua dihayati sebagai sesuatu yang datang dari luar. Seseorang menyadari bahwa ia tua lewat tatapan dan perlakuan orang lain, bukan lewat pengalaman batin langsung, sebab dalam batin ia tetap merasa sama. Ia merujuk pada gagasan bahwa kita tidak mengalami usia tua, melainkan menemukannya sebagai kenyataan yang ditunjukkan orang lain. Pengalaman ini menimbulkan keterasingan: orang melihat dirinya sebagai Yang Lain, sebagaimana perempuan dalam kerangka Le Deuxième Sexe. Ia juga menguraikan perubahan hubungan dengan waktu. Bagi orang muda masa depan terbuka luas, bagi orang tua masa depan menyempit sementara masa lalu menumpuk, sehingga proyek menjadi sulit dirumuskan. Di sini kebebasan berhadapan dengan batas yang nyata, dan Beauvoir menegaskan bahwa satu-satunya jalan agar usia tua tidak menjadi kemunduran adalah terus memiliki proyek yang bermakna, entah berupa pekerjaan, kegiatan sosial, atau penciptaan.

Ia memberi perhatian pada ketimpangan kelas dalam penuaan. Orang kaya dapat mempertahankan kesehatan, ruang, dan lingkaran sosialnya, sehingga usia tua baginya sering menjadi kelanjutan. Orang miskin menjalaninya sebagai kemerosotan yang dipercepat oleh kerja berat bertahun-tahun, gizi buruk, dan ketiadaan perawatan. Karena itu bagi buruh, katanya, usia tua datang lebih awal dan lebih keras. Ia juga menyinggung perempuan tua, yang sering mengalami kerugian ganda karena nilai sosial mereka dikaitkan pada kecantikan dan kesuburan.

Hubungan buku ini dengan etika ambiguitas jelas. Usia tua menempatkan manusia di hadapan keterbatasan tubuh dan kefanaan, tetapi tidak menghapus statusnya sebagai subjek. Masyarakat yang mengurung orang tua dalam imanensi, memberinya kebutuhan hidup minimum tanpa kesempatan bertindak, menyangkal kebebasan mereka sebagaimana ia menyangkal kebebasan perempuan. Menghendaki kebebasan orang lain, seperti dibahas pada pokok sebelumnya, juga berarti menghendaki agar orang tua diberi ruang melanjutkan proyeknya.

Buku ini mengundang beberapa keberatan. Sebagian pembaca menilai nadanya terlalu muram dan menekankan kemunduran, sehingga kurang memberi tempat pada pengalaman penuaan yang kaya dan pada kemampuan banyak orang tua menemukan makna baru. Pengkritik lain menunjukkan bahwa analisis kelasnya mengandalkan data Prancis dan Eropa tahun 1960-an, sehingga perlu disesuaikan bagi masyarakat dengan struktur keluarga dan pensiun yang berbeda. Namun kajiannya yang menghubungkan penuaan dengan ekonomi politik merintis bidang gerontologi kritis, dan gagasan bahwa kualitas sebuah peradaban tampak dari cara ia memperlakukan yang paling rentan tetap menjadi rujukan dalam diskusi tentang kebijakan lansia.

Kematian, Kefanaan, dan Pengalaman Hidup

Bagi Simone de Beauvoir, kematian dan kefanaan berkaitan erat dengan cara manusia mengalami kehidupan sebagai sesuatu yang terbatas, terbuka, dan tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Manusia tidak memilih untuk dilahirkan, tidak dapat menentukan seluruh kondisi yang membentuk kehidupannya, dan pada akhirnya harus menghadapi kematian. Namun, keterbatasan tersebut tidak serta-merta membuat kehidupan kehilangan makna. Justru karena waktu manusia terbatas, pilihan, hubungan, dan tindakan memperoleh bobot tertentu. Kehidupan bukan sekadar rentang biologis antara kelahiran dan kematian, melainkan pengalaman yang dijalani melalui proyek, keterlibatan dengan orang lain, serta usaha memberikan arah pada keberadaan diri.

Pemikiran ini berhubungan dengan pandangan eksistensialis Beauvoir mengenai kebebasan yang selalu berlangsung dalam situasi konkret. Manusia memang memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, tetapi kebebasan itu tidak pernah mutlak. Tubuh, kondisi sosial, sejarah, usia, dan keberadaan orang lain membatasi sekaligus membentuk kemungkinan yang tersedia. Kesadaran akan kematian memperlihatkan secara tajam bahwa tidak semua kemungkinan dapat diwujudkan. Seseorang mungkin memiliki cita-cita yang belum tercapai, hubungan yang belum terselesaikan, atau perubahan yang ingin diperjuangkan, tetapi kefanaan membuat waktu untuk mewujudkannya tidak tak terbatas. Kesadaran tersebut dapat menimbulkan kecemasan, penyesalan, atau rasa kehilangan, tetapi juga mendorong manusia untuk menilai kembali bagaimana ia menggunakan waktu yang dimilikinya.

Dalam Pyrrhus et Cinéas (1944), Beauvoir membahas persoalan tindakan manusia, tujuan, dan kebutuhan untuk melampaui keadaan yang telah dicapai. Sebuah proyek tidak memperoleh makna hanya karena berhasil memenuhi keinginan pribadi; maknanya juga berkaitan dengan kemungkinan yang dibukanya bagi kehidupan selanjutnya dan bagi orang lain. Tindakan manusia selalu bergerak menuju masa depan yang belum pasti. Akan tetapi, kematian menghadirkan batas bagi gerak tersebut: individu tidak dapat menguasai masa depan secara keseluruhan ataupun memastikan bahwa semua hasil tindakannya akan bertahan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana seseorang seharusnya bertindak ketika hasil akhirnya tidak dapat dijamin. Bagi Beauvoir, ketidakpastian bukan alasan untuk menarik diri dari kehidupan, sebab kebebasan justru diwujudkan melalui keterlibatan dalam dunia yang tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan.

Kefanaan juga memiliki dimensi relasional. Manusia tidak hidup sebagai kesadaran yang terisolasi, melainkan membangun makna melalui hubungan dengan individu lain yang juga memiliki kebebasan, harapan, dan keterbatasan. Kematian seseorang dapat mengakhiri kehadirannya secara langsung, tetapi pengaruhnya mungkin terus berlangsung melalui ingatan, karya, keputusan, atau perubahan yang ditinggalkannya. Meskipun demikian, keberlanjutan pengaruh tersebut tidak menghapus kehilangan. Orang yang ditinggalkan tidak dapat sepenuhnya menggantikan kehadiran individu yang telah meninggal, dan makna yang diberikan kepada kehidupan seseorang setelah kematiannya tidak sepenuhnya berada dalam kendali orang tersebut. Di sini, kefanaan memperlihatkan bahwa manusia bergantung pada dunia bersama, tetapi tidak pernah dapat memastikan bagaimana dunia itu akan mengingat atau menafsirkan keberadaannya.

Persoalan ini menjadi lebih kompleks ketika Beauvoir membahas hubungan antara usia, tubuh, dan pengalaman hidup dalam La Vieillesse (The Coming of Age, 1970). Penuaan bukan semata-mata proses biologis yang berlangsung secara alami, melainkan juga pengalaman yang dibentuk oleh cara masyarakat memperlakukan orang lanjut usia. Tubuh yang menua dapat mengubah kemampuan seseorang, mempersempit pilihan, dan membuat kematian terasa semakin dekat. Namun, penderitaan pada usia lanjut tidak dapat dijelaskan hanya melalui perubahan fisik. Masyarakat yang menilai manusia berdasarkan produktivitas, daya tarik tubuh, atau kegunaan ekonominya dapat menjadikan usia tua sebagai sumber keterasingan. Orang lanjut usia berisiko diperlakukan seolah-olah telah kehilangan nilai sosial, meskipun mereka tetap memiliki pengalaman, keinginan, dan hubungan yang bermakna. Analisis Beauvoir memperlihatkan bahwa pengalaman kefanaan selalu berlangsung di dalam kondisi sosial tertentu; cara manusia menghadapi keterbatasan hidup turut dipengaruhi oleh pengakuan atau pengabaian yang diterimanya dari masyarakat.

Kesadaran akan kematian juga tidak otomatis membuat manusia menjadi bijaksana atau menghargai kehidupan. Kematian dapat mendorong seseorang untuk bertindak lebih bertanggung jawab, tetapi dapat pula menimbulkan keputusasaan, penyangkalan, atau keinginan menguasai orang lain demi meninggalkan warisan yang dianggap abadi. Beauvoir menolak anggapan bahwa makna hidup dapat diperoleh dengan menghapus ketidakpastian melalui suatu tujuan mutlak yang membenarkan segala tindakan. Upaya mengabadikan diri melalui kekuasaan, kejayaan, atau pengorbanan orang lain justru dapat meniadakan kebebasan yang membuat kehidupan manusia bernilai. Proyek seseorang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kebebasan orang lain, bukan sebagai alasan untuk menjadikan mereka alat bagi ambisi pribadi.

Dalam Pour une morale de l’ambiguïté (The Ethics of Ambiguity, 1947), Beauvoir mengembangkan pandangan bahwa manusia harus menerima ambiguitas keberadaannya: ia sekaligus bebas dan terbatas, mampu membentuk makna tetapi tidak mampu menguasai seluruh akibat tindakannya. Kematian memperjelas ambiguitas tersebut karena manusia harus bertindak tanpa memiliki jaminan bahwa kehidupannya akan menghasilkan penyelesaian yang sempurna. Nilai suatu tindakan tidak semata-mata ditentukan oleh apakah hasilnya bertahan selamanya. Perjuangan melawan penindasan, pemeliharaan hubungan, dan usaha memperluas kebebasan dapat tetap bermakna meskipun pelakunya tidak akan menyaksikan seluruh hasilnya. Yang penting bukan mencapai keabadian, melainkan bagaimana seseorang menggunakan kebebasannya dalam keadaan yang nyata dan bagaimana tindakannya memengaruhi kemungkinan hidup orang lain.

Pandangan Beauvoir tentang kematian dan kefanaan, pada akhirnya, tidak menawarkan penghiburan bahwa segala sesuatu akan memperoleh makna abadi. Ia mengarahkan perhatian pada kehidupan konkret yang sedang berlangsung, pada keterbatasan yang tidak dapat dihapus, serta pada tanggung jawab yang muncul karena manusia hidup bersama orang lain. Kematian membatasi waktu, tetapi tidak menentukan terlebih dahulu nilai dari setiap tindakan. Makna kehidupan harus terus dibentuk melalui pilihan dan keterlibatan, meskipun tidak ada kepastian bahwa semua harapan akan terwujud atau semua usaha akan dikenang. Kefanaan bukan persoalan yang dapat diselesaikan sekali untuk selamanya, melainkan kondisi yang membuat cara manusia menjalani kehidupan menjadi persoalan etis yang tidak dapat dihindari.

Karya Simone de Beauvoir

  • L’Invitée (1943)
  • Pyrrhus et Cinéas (1944)
  • Le Sang des autres (1945)
  • Pour une morale de l’ambiguïté (1947)
  • L’Amérique au jour le jour (1948)
  • Le Deuxième Sexe (1949)
  • Les Mandarins (1954)
  • Privilèges (1955)
  • La Longue Marche (1957)
  • Mémoires d’une jeune fille rangée (1958)
  • La Force de l’âge (1960)
  • La Force des choses (1963)
  • Une mort très douce (1964)
  • Les Belles Images (1966)
  • La Femme rompue (1967)
  • La Vieillesse (1970)
  • Tout compte fait (1972)
  • Quand prime le spirituel (1979)
  • La Cérémonie des adieux (1981)

Referensi

  • Beauvoir, S. de. (1944). Pyrrhus et Cinéas. Gallimard.
  • Beauvoir, S. de. (1947). Pour une morale de l’ambiguïté. Gallimard.
  • Beauvoir, S. de. (1949). Le deuxième sexe. Gallimard.
  • Beauvoir, S. de. (1954). Les mandarins. Gallimard.
  • Beauvoir, S. de. (1964). Une mort très douce. Gallimard.
  • Beauvoir, S. de. (1970). La vieillesse. Gallimard.
  • Beauvoir, S. de. (1972). Tout compte fait. Gallimard.
  • Beauvoir, S. de. (1981). La cérémonie des adieux. Gallimard.
  • Gilleard, C. (2022). Aging as otherness: Revisiting Simone de Beauvoir’s Old Age. The Gerontologist, 62(2), 286–292.
  • Kritzman, L. D. (2021). Simone de Beauvoir, the paradoxical intellectual. PMLA, 136(1), 135–142.
  • Morgan, A. (2008). Simone de Beauvoir’s ethics of freedom and absolute evil. Hypatia, 23(4), 75–89.
  • Parker, E. A. (2015). Singularity in Beauvoir’s The Ethics of Ambiguity. The Southern Journal of Philosophy, 53(1), 1–16.
  • Svenaeus, F. (2024). Flourishing while withering: An explication and critique of Simone de Beauvoir’s phenomenology of aging. Continental Philosophy Review, 57, 547–564.
  • Woodward, K. (2018). Rereading Simone de Beauvoir’s The Coming of Age. Age, Culture, Humanities: An Interdisciplinary Journal, 3, 191–206.

Citation

Previous Article

Jean-Jacques Rousseau - Kontrak Sosial | Review & Ebook

Next Article

Franz Kafka - Proses | Review & Ebook

Citation copied!